Happiness For You

Happiness For You
69 Terlanjur tersakiti



Saat Erika ingin membuka pintu, tiba-tiba pintunya didorong oleh seseorang dari luar. Dan orang itu adalah Kei yang sedang bersama seorang wanita cantik.


"Erika, ada apa? Mengapa kamu menangis?" Kei langsung terkejut dan berpikir buruk kalau saja telah terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Dengan panik ia langsung memanggil nama adiknya dan melihat kearahnya. "Ken ...!" Setelah melihat adiknya dalam keadaan baik-baik saja, ia kembali pada Erika.


"Erika, katakan padaku apa yang terjadi." Namun Erika mendiamkannya. Sehingga Kei pun dengan terpaksa menyeretnya masuk kembali dengan pelan yang juga dibantu oleh wanita yang datang bersamanya dengan merangkul tubuhnya dan tubuh Erika pun terseret ikut masuk bersamanya.


Masih dengan memegangi tangannya, Kei bertanya pada adiknya. "Ken! Jelaskan padaku apa yang terjadi barusan." Rey juga mendiamkannya.


"Apakah kamu memarahinya dan mengusirnya? tanya Kei lagi. "Ken, mengapa kamu berbuat seperti itu padanya. Itu membuatku jadi merasa tak enak dan bersalah pada Erika karena aku sendirilah yang memintanya untuk datang menemanimu dan membantu menyuapimu. Apa yang telah kamu lakukan itu salah, minta maaflah kepadanya." Kei menduga bahwa adiknya itu masih marah atas apa yang Erika perbuat padanya kemarin pagi sehingga ia masih belum mau bertemu Erika dulu dan mengusirnya.


Rey memandangi kakaknya sejenak dan memandang kearah Erika. Walaupun kenyataannya tidak seperti yang kakaknya duga, tetapi Rey mendiamkannya dan tidak berusaha untuk meluruskannya karena dia tidak mau kakaknya mengetahui yang sebenarnya terjadi. Kalau ia meminta Erika untuk melupakannya dan kembali pada kakaknya. Rey juga teringat pada ucapan Erika tadi yang mengatakan bahwa ucapan maafnya itu tidak bisa membuat lukanya sembuh. Tetapi Rey tetap menuruti perintah kakaknya untuk mengucapkan perkataan maafnya.


"Maaf -" Namun Erika segera memotong ucapannya itu.


"Tidak Kak Kei, jangan menyuruhnya meminta maaf. Karena ini bukan salahnya tetapi salahku yang terlalu bodoh dan senang jika tersakiti. Sehingga aku berkali-kali kembali mendatanginya dan berkali-kali juga tersakiti." Saat mengucapkan kalimatnya itu, airmata Erika kembali mengalir keluar.


"Mmm ... sepertinya aku datang kemari di saat yang kurang tepat." Ucap wanita yang tadi datang bersama Kei. Ia merasa canggung dan kikuk melihat apa yang sedang terjadi diantara mereka. Apalagi melihat tangisan Erika yang cukup membuat hatinya terenyuh.


"Bella?" tanya Rey dengan terkejut. Ia baru menyadari kehadiran Bella disitu saat mendengar suara Bella yang sedang berbicara.


"Hai Rey, bagaimana keadaanmu?" sapa Bella dengan ramah sambil melambaikan jemari tangannya kepada Rey. "Kamu tahu aku sangat mengkhawatirkanmu tetapi aku senang sekarang kamu sudah bangun dari tidur panjangmu dan juga telah sembuh dari penyakitmu. Apalagi kakakmu, dia terlihat sangat mengkhawatirkan dirimu dengan sangat berlebihan." ucap Bella sambil melirik dan mengedipkan sebelah matanya dengan usil pada Kei untuk meledeknya.


"Bella, ssttt ...." Kei memberi isyarat pada Bella untuk diam. Lalu mereka berdua saling melontarkan senyuman.


Erika cukup terkejut melihat keakraban wanita itu dengan Kei yang terlihat sedang saling menggoda satu sama lain dan juga pada Rey yang seperti telah mengenalnya sejak lama bahkan mengetahui tentang penyakitnya. Kemudian ia menatap dan memandangi wajah wanita itu dan merasa kalau wajah perempuan itu pernah dilihatnya sebelumnya. Tetapi ia tidak bisa ingat kapan dan dimana ia pernah melihatnya.


"Iya, sekarang aku sudah sembuh dari penyakitku berkat kakakku. Terima kasih kamu sudah mau datang menjengukku. Ngomong-ngomong, kamu juga kenal dengan kakakku? Pantas saja dia tahu kalau waktu itu kita hanya berpura-pura saja...." Rey memelankan suaranya sehingga terdengar seperti sedang menggumam dan ia juga sedikit melirik ke arah Erika.


"Mmm ... saat itu dia belum mengenalku. Tetapi aku sudah mengenalnya." Lalu Bella berjalan menghampiri Erika yang tadi dilirik Rey dan mengambil tangannya untuk menyalaminya.


"Hai Erika, perkenalkan namaku Bella. Apa kamu masih ingat padaku?" tanyanya dengan sedikit menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Erika cuma menggeleng.


"Coba kamu lihat lagi dengan lebih jelas." Lalu Bella memberinya seulas senyuman yang sama seperti yang waktu itu ia berikan pada Erika. Senyuman sensual dan menggoda seorang gadis nakal yang sengaja dipamerkan kepada seorang wanita lainnya karena kekasihnya telah berhasil dia rebut.


"Apakah kamu si pelakor itu?" tanya Erika tanpa menyaring lagi perkataannya karena keterkejutan dan juga kemarahannya setelah mengingat sosok wanita itu. Yang lalu membuat semua orang yang ada disitu terdiam dan langsung mengarahkan pandangannya pada wajah Bella dalam diam.


"Erika, jaga mulutmu! Jangan hina dia dan jangan kurang ajar terhadapnya!" Teriak Rey beberapa detik kemudian dengan agak kencang, memarahinya.


Berbarengan dengan itu, Bella juga berbicara.


"Hahaha ... Kamu lucu sekali kalau sedang marah karena cemburu." tawa Bella masih ingin menggodanya.


Mungkin karena profesinya yang sebagai seorang model dan artist, sehingga Bella tidak terpengaruh dengan pandangan mereka bertiga yang sedang tertuju padanya. Wajahnya juga nampak biasa saja, tidak malu ataupun marah dengan ucapan Erika yang menuduhnya sebagai pelakor. Dan itu dikarenakan dia sendiri tahu bahwa dirinya bukanlah seorang pelakor seperti yang dituduhkan kepadanya.


Rey pun merasa bersalah pada Bella.


"Bella, maafkan aku dan maafkan dia juga atas tuduhan kasarnya."


"Tidak apa Rey, santai saja. Aku hanya takut kalau itu tadi menyinggung dan melukai perasaan kekasihku dan membuatnya salah paham." ucap Bella sambil menoleh ke arah Kei.


"Erika, dia bukanlah pelakor. Dia adalah kekasih baruku." Kei ikut berbicara untuk membersihkan nama baik Bella.


"Apa?!" Kini, Erika dan Rey yang tanpa sengaja berteriak secara berbarengan.


"Kak Kei, jelaskan padaku apa maksud pernyataanmu itu. Dia?" Rey bertanya pada kakaknya sambil menyipitkan matanya dan jarinya menunjuk ke arah Bella. "Bagaimana bisa kamu sedang menjalin hubungan dengannya? Itu tidak mungkin, sulit bagiku untuk mempercayainya ... Katakan padaku, sejak kapan kalian mulai berkencan?" tanyanya lagi memburu kakaknya.


"Rey, jangan berkata seperti itu. Kamu membuatku tersinggung dan juga malu." ucap Bella.


"Maaf Bella, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja ... aku pikir itu tidak mungkin ...."


"Itu ... mmm ... kupikir kamu dan dia... mmm ... bukankah kamu seharusnya bersama ...." Rey kebingungan dan kesulitan mengucapkan perkataannya. Ia takut apa yang diucapkannya salah dan membuat ketiga orang itu jadi saling salah paham.


"Kamu pikir seharusnya aku sedang bersama Erika?" tanya Kei langsung ke intinya. Rey dan Erika langsung memandangi Kei secara bersamaan.


Kalau saja Bella benar-benar adalah kekasih baru Kei dan tidak mengenal mereka, mungkin saat ini Bella sudah tersinggung dan marah karena merasa bahwa Kei tidak mencintainya melainkan mencintai wanita lain yang bernama Erika itu. Untung saja ini cuma sebuah pertunjukkan yang sengaja Kei siapkan dengan meminta tolong padanya untuk membantunya menyamar sebagai kekasihnya didepan adiknya dan Erika. Kei sengaja membuat pertunjukkan itu agar Rey tidak merasa bersalah padanya dan mau menjalin hubungannya kembali bersama dengan Erika.


"Kamu telah salah paham. Untung saja aku sudah pernah menceritakannya pada kekasihku yang sebenarnya bahwa aku memang pernah mencintai Erika tetapi perasaanku itu sekarang telah berubah sejak aku melihat dan mengenalnya." Kei berhenti berbicara sejenak untuk melemparkan seulas senyuman menggodanya pada Bella dan Bella membalas dengan juga memberikan senyumannya yang menggoda. Kemudian Kei melanjutkan omongannya.


"Ken, aku tahu kalau di malam itu kamu cuma berpura-pura selingkuh dengan Bella didepan Erika karena saat melihat Bella, aku seperti merasa pernah melihatnya sebelumnya."


Erika masih saja terkejut ketika mendengar kebenaran itu walaupun ia sudah pernah menduganya kalau mereka hanya berpura-pura saja. Ia lalu melirikkan tatapannya pada Rey dan ternyata Rey juga sedang menatapnya. Lalu Rey melemparkan tatapannya ke sisi lain.


"Jadi aku mencari tahu tentang identitasnya. Kemudian aku mendatanginya dan menanyakan kebenarannya. Ternyata kalian memang sudah berteman sejak lama dan saling dekat, bahkan kamu sampai mau memberitahukannya tentang penyakitmu itu. Kemudian selama kamu dalam keadaan koma dan dirawat di rumah sakit, Bella beberapa kali datang untuk menjengukmu dan terkadang ia pun ikut menemaniku ketika aku sedang sendirian menjagamu. Mulai sejak itulah kami menjadi dekat." Selesai mendengar penuturan Kei, Erika dan Rey menjadi saling terdiam dan berkutat pada pikiran masing-masing.


Aku telah sangat bersalah pada Erika dengan menyuruhnya kembali pada kakakku dan membuatnya kembali tersakiti hingga berlinangan airmata sampai seperti itu. Kalau saja aku tahu hal ini lebih awal. Tetapi apakah kakakku benar-benar menyukai Bella atau ia hanya berpura-pura saja agar dia tidak menjadi orang ketiga diantara kami dan membuat kami harus berpisah? ucap Rey dalam hatinya.


Erika juga memiliki suara di dalam hatinya dan beginilah isi hatinya. Mengapa jadi seperti ini? Lalu apakah aku dan dia ...? Tetapi, hatiku telah terlanjur ia sakiti dan kali ini aku sulit untuk memaafkan dan menerimanya kembali. Lagipula aku bukan bola yang bisa seenaknya dipermainkan dan dilempar kesana kemari. Selama ini, dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku yang selalu ia sakiti dan diperlakukan dengan seenak hatinya dengan dioper kesana kemari seperti bola saja. Lalu, apakah disaat ia ingin kembali padaku, maka aku harus menerimanya kembali?


"Ken ..." panggil Kei padanya.


"Iya?" tanya Rey. Ken mengarahkan matanya kearah Erika sebagai kode agar Rey segera bertindak pada Erika.


"Maaf aku harus pergi." Tiba-tiba Erika berpamitan dan segera beranjak pergi dari situ.


"Erika ...!" Rey memanggilnya.


Erika menghentikan langkahnya namun ia tidak menoleh padanya. "Jangan pergi" ucap Rey lagi kepadanya. Namun Erika tidak mau menghiraukannya, ia lalu melangkahkan kakinya kembali untuk berjalan pergi.


"Rey ...!" Teriak Bella saat melihat Rey yang memaksa turun dan terjatuh. Bella dan Kei segera menghampiri Rey untuk menolongnya.


"Biarkan aku berjalan sendiri." Rey memaksakan otot kakinya yang masih lemah untuk berdiri dan berjalan. Dengan susah payah ia berjalan dengan langkah kakinya yang gontai dan sempoyongan apalagi kakinya itu belum kuat untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Rey kembali hampir terjatuh, tetapi Erika ternyata sudah berbalik ke arahnya dan segera berjalan cepat untuk mendekatinya dan menahan tubuh Rey agar tidak jatuh.


"Mengapa kamu selalu bersikap bodoh dengan selalu menyakiti dirimu sendiri?" Erika bertanya dengan nada kesal kepadanya.


"Maafkan aku atas semua perkataan kasarku padamu tadi. Aku sungguh menyesal telah kembali menyakitimu lagi. Aku tahu permintaan maafku tidak berguna, karena itu aku pantas untuk menyakiti diriku sendiri untuk membayar perbuatan burukku itu kepadamu." Erika diam saja, tidak menanggapi ucapannya. "Tetapi kalau kamu tetap tidak bisa memaafkanku, maka aku pun bersedia untuk lebih menyakiti diriku lagi hingga kamu mau memaafkan aku." Tambahnya.


Erika memandangnya sejenak, lalu dengan mata yang mulai berkilauan ia berkata, "Tetapi hatiku sudah terlanjur kamu hancurkan hingga menjadi remuk dan berkeping-keping. Dan itu adalah mustahil bagiku untuk membuatnya utuh kembali seperti sedia kala."


Jantung Rey langsung serasa seperti baru saja dilemparkan keluar dari tubuhnya saat mendengar ucapan Erika tersebut. Rey lalu menatapnya dengan sedih dan hati yang memerih.


"Baiklah aku mengerti, maafkan aku. Kamu boleh pergi dan aku tidak akan mengganggumu lagi atau memaksamu untuk memaafkan aku." Lalu Rey berusaha berjalan kembali ke kasurnya. Kakaknya dan Bella segera membantunya dengan memapahnya. Dan Erika membalikkan badannya untuk berjalan pergi keluar tanpa menoleh sedikitpun kepada Rey. Sedangkan Rey terus memandangi sosok Erika, berharap ia mau menghentikan langkahnya dan berbalik kepadanya. Namun sosok Erika semakin menghilang dari pandangannya.


Setelah itu, Rey hanya bisa duduk dengan termenung meratapi Erika yang benar-benar marah dan pergi meninggalkannya.


"Ken, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kei dengan khawatir pada adiknya yang sedang duduk terdiam dengan pandangan matanya yang terasa hampa. Rey tersenyum pada kakaknya dan berkata, "Aku tidak apa-apa, jangan mengkhawatirkanku. Saat ini aku ingin sendiri. Sebaiknya Kakak mengajak Bella pergi keluar untuk menikmati waktu kebersamaan kalian di tempat yang lebih menyenangkan."


Kei merasa cukup kecewa, ternyata rencana dan skenario yang telah dibuatnya tidak berjalan sesuai dengan yang ia harapkan. Adiknya dan Erika malah jadi bertengkar hebat seperti itu. Tetapi ia juga cukup tahu kalau adiknya keras kepala dan tidak mau untuk menunjukkan perasaan sedihnya didepan orang lain sehingga ia berpikir untuk membiarkan Rey sendirian dan tidak mengganggunya. Ia lalu menuruti adiknya dengan mengajak Bella pergi.


"Baiklah kalau begitu, kami akan pergi. Tapi kamu harus segera menghubungiku atau pihak rumah sakit jika ada sesuatu yang terjadi padamu."


Rey memberinya anggukan sambil berkata, "Jangan terlalu mengkhawatirkan diriku. Kalian pergilah bersenang-senang."


"Rey kami pergi dulu." Ucap Bella berpamitan sambil melambaikan tangannya dan dibalas Rey dengan memberinya sebuah senyuman.


Setelah mereka pergi, Rey masih terus diam dalam posisi duduknya sambil termenung memikirkan hubungannya dengan Erika yang sepertinya telah benar-benar berakhir. Hingga sampai malam harinya ia masih terus memikirkannya dan tidak dapat tertidur.


***