
"Berhenti!" Teriak Kei pada Rey saat mereka sudah berada di luar ruangan. Tetapi Rey tidak menghiraukannya, ia tetap melangkahkan kakinya untuk berjalan pergi. "Ken, kubilang berhenti!" Rey tetap tidak menggubrisnya. Kemudian Kei lebih memperlebar dan mempercepat langkahnya untuk meraih tangan Rey dan memeganginya agar Rey menghentikan langkahnya. Dengan terpaksa Rey pun menghentikan langkahnya dan berdiri terdiam seperti mematung. Kei kembali berjalan untuk mendekati Rey sehingga wajah mereka pun saling berhadapan.
"Ken, apakah saat ini kamu marah padaku karena telah menggagalkanmu?" Tanya Kei padanya.
"Tidak, aku hanya kecewa ... Lagipula apakah aku berhak untuk melakukan itu padamu? Kamu adalah seorang bos besar di hotel dan restoran ini sehingga kamu berhak memberikan penilaianmu sesukamu."
Sesungguhnya Rey tidak hanya merasa kecewa pada kakaknya, namun ia juga marah kepadanya. Tetapi kakaknya itu bukan hanya sebagai seorang bos besar saja, melainkan juga sebagai seorang kakak yang telah berkorban begitu banyak terhadap dirinya sehingga ia dapat kembali hidup dan tersembuhkan dari penyakitnya. Jadi Rey pun sadar diri kalau ia tidak berhak untuk marah melainkan dirinya malah berhutang pada kakaknya jadi ia harus menjadi seorang adik yang penurut serta mengikuti kemauan kakaknya.
"Apa kamu tahu alasan mengapa aku menggagalkanmu?"
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang kutahu hanyalah kenyataan bahwa karir dan impianku yang baru kumulai ini telah digagalkan oleh kakakku sendiri." Rey diam sebentar dan menatap kakaknya dengan tatapan kecewa. "Tetapi walaupun kamu telah menggagalkan audisiku, aku tetap tidak akan menyerah dan melepaskan mimpiku. Karena aku percaya dengan kemampuanku dan juga di luar sana masih ada banyak restoran elit lainnya yang akan menghargai kemampuanku dan mau menerimaku untuk memulai karirku di sana." lanjut Rey lagi.
"Aku tahu bahwa saat ini kamu sedang sangat marah kepadaku tetapi kamu menahannya karena kamu masih merasa berhutang budi padaku yang telah menyelamatkan dirimu dan itu membuatmu berpikir kalau kamu tidak berhak melawan atau menentangku." Kei menatap Rey untuk melihat dan menunggu reaksinya. Walaupun Rey hanya diam saja, tetapi dari pergerakan dan tatapan matanya yang sedikit mendelik ke kanan menunjukkan kalau ucapan Kei tersebut benar.
"Ken, berhentilah berpikir dan bersikap seperti itu. Hal yang kulakukan ini bukanlah karena aku ingin membuatmu kecewa dan marah padaku. Apalagi menghancurkan karir dan impianmu, aku tidak pernah ada niatan seperti itu terhadapmu. Aku juga tidak pernah ingin mengatur atau mengekangmu.
Lagipula kalau kamu memang ingin bekerja di sini, kamu bisa memintanya padaku bukannya dengan diam-diam mengikuti audisi dan menyusahkan dirimu sendiri. Aku pasti akan memberimu jabatan dan posisi yang tinggi sehingga kamu tidak perlu melakukan pekerjaan yang berat dan melelahkan.
Kamu tahu, mengapa aku menggagalkanmu? itu karena aku tidak mau kamu melakukan pekerjaan yang berat dan melelahkan seperti itu. Dengan kondisi tubuhmu yang seperti itu, aku takut dan khawatir kalau kamu akan terlalu memaksakan tubuhmu untuk bekerja lebih keras yang bisa membuatmu sakit lagi. Jadi mengertilah ketakutan dan kecemasanku ini."
"Hhh ... jadi selamanya kakak akan selalu menganggap dan memperlakukanku sebagai seorang pria yang lemah yang bahkan untuk melakukan pekerjaan kecil yang aku sukai saja membuatmu cemas dan takut ... " Mata Rey memerah dan tatapannya seperti menunjukkan perasaannya yang terluka. "Kakaklah yang seharusnya mengerti bagaimana perasaanku. Apa kakak tahu, dengan sikapmu yang seperti itu maka kamu telah melukai perasaan dan harga diriku."
Ternyata apa yang Kei katakan itu semakin membuat Rey marah karena ia merasa kakaknya telah meremehkannya dan selalu mengganggap dirinya sebagai seorang pria yang lemah. Dan sebagai seorang lelaki dewasa yang berkarakter kuat dan keras kepala, dianggap lemah adalah hal yang menyakitkan yang juga membuat harga dirinya menjadi terluka.
"Lalu bagaimana dengan perasaan dan harga diriku? Dengan sikapmu yang mengikuti audisi ini secara diam-diam tanpa meminta ijin dariku terlebih dahulu atau memberitahuku sebelumnya. Apakah kamu pernah menganggapku sebagai kakakmu? Pernahkah kamu memikirkan posisiku yang sebagai pemilik hotel dan restoran ini yang tiba-tiba mendapati adikku sedang bersusah payah sendiri mengikuti sebuah audisi demi dipekerjakan di restoran yang adalah milik kakaknya yang bahkan juga bisa menjadi miliknya sendiri .....!"
"Ha ...?!" Rey mendengus tak percaya dengan ucapan kakaknya. Dia lalu berkata, "Tapi aku juga bukan seorang pecundang yang hanya bisa mengandalkan kakaknya hanya demi mendapatkan sebuah pekerjaan kecil dan sepele seperti itu. Aku memnag dengan sengaja melakukan hal itu, yang secara diam-diam mengikuti audisi karena aku bermaksud untuk menjadikannya sebuah kejutan bagimu jika nantinya aku diterima bekerja di sini. Itulah mengapa aku memilih untuk bekerja di restoranmu ini."
"...." Kei terdiam ketika mendengar jawaban Rey tersebut.
Rey lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan kakaknya.
Rey menghentikan langkahnya untuk berbalik dan berkata,
"Berhentilah mencemaskan dan mengkhawatirkan diriku. Sadarilah kalau aku ini adalah seorang pria yang sudah dewasa dan bukan lagi adik kecilmu yang masih balita. Satu hal lagi, janganlah kamu menyuruh orang-orangmu itu untuk mengikuti atau memata-mataiku lagi. Atau aku akan benar-benar pergi dan menghilang darimu." Lalu Rey kembali melanjutkan langkahnya. Kei pun terpaksa hanya berdiam diri dan tidak berusaha untuk
menghentikan atau mengejarnya.
Sejak keluar dari rumah sakit 2 bulan lalu, Rey pindah keluar dari rumahnya dan tinggal bersama kakaknya di apartemen mewah miliknya. Tapi saat ini ia merasa tidak ingin pulang ke sana karena ia sedang ingin menyendiri untuk menenangkan dirinya. Jadi ia pun berjalan pulang menuju ke rumahnya. Sama halnya dengan apa yang Kei rasakan, ia juga ingin menenangkan diri dan pikirannya agar ia dapat berpikir lebih jernih mengenai masalah adiknya ini. Sehingga Kei langsung kembali ke kantornya. Ia juga menuruti ancaman Rey dengan tidak membuntuti atau memata-matai nya lagi.
Setelah sampai di rumahnya, Rey langsung masuk ke kamarnya dan duduk dengan berdiam diri di sana sambil termenung. Dia kembali memikirkan segala yang telah terjadi padanya pagi ini. Selama ini Rey adalah seorang pria dewasa yang sudah terbiasa hidup sendiri dan memiliki kebebasan atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Sekarang dengan hadirnya seorang kakak dalam hidupnya tentunya banyak memberikan beberapa perubahan. Dengan dirinya yang berjiwa bebas dan lebih suka menyendiri, tentunya ia memiliki ego yang besar. Ketika menghadapi perubahan-perubahan yang muncul secara mendadak dan harus dia alami di dalam kehidupannya itu, maka terkadang ia pun merasa berat dan sulit menerimanya.
Belum lagi dengan dirinya yang mengetahui kenyataan bahwa keberadaan dirinya itu ternyata akan selalu membuat kakaknya cemas dan khawatir karena kondisi tubuhnya. Hal yang sama seperti yang ibunya perlakukan terhadapnya. Jadi jika dia harus mengalami lagi hal seperti itu, lalu apa bedanya dengan kehidupannya yang dulu yang membuatnya menjadi seorang yang dingin dan selalu menutupi perasaannya karena harus menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan yang ia mau melainkan hanya menurut dan mengikuti mereka yang selalu takut dirinya menjadi sakit.
Setelah pikirannya sudah agak tenang, Rey ingin menikmati dan merayakan dirinya yang bisa pulang kembali ke rumahnya sendiri dan merasakan kebebasannya. Saat ini ia sedang merasa senang karena akhirnya ia dapat memperoleh kembali kebebasannya dan melakukan apapun yang ia mau. Kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri. Lalu ia pun membuka pintu kulkas untuk mengecek ada persediaan bahan makanan apa saja di sana yang bisa ia gunakan untuk memasak. Tetapi ketika ia membuka kulkasnya, ia mendapati bahwa kulkasnya itu kosong, tidak ada isi sama sekali. Rey pun tersadar kalau itu adalah sesuatu yang wajar karena sudah lebih dari sebulan dia tidak pernah pulang untuk mengecek atau mengurus rumahnya ini.
Rey pun mengeluarkan hp nya dari saku celananya untuk menghubungi anak buahnya, yaitu Ryo dan Sato karena ia ingin menyuruh mereka untuk segera datang ke rumahnya dengan membawakannya makanan dan beberapa belanjaan lainnya yang ia butuhkan. Tetapi sedetik kemudian, ia kembali teringat kalau dirinya sudah bukan bos mereka lagi dan juga sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan mereka karena dia sudah keluar dari kehidupannya yang sebagai seorang gangster.
Dengan sedikit kesal dan bersungut Rey kembali berjalan kamarnya. Saat berjalan keluar dari dapur, matanya terarah pada sebuah kamar tidur yang terletak di dekat dapurnya dan itu membuatnya kembali teringat akan Erika, wanita yang pernah tinggal bersamanya di rumah ini dan menempati kamar itu yang kemudian menjadi seorang wanita yang sangat spesial di dalam hatinya. Tetapi kini, hubungannya dengan Erika pun telah berakhir. Mereka sudah tidak lagi saling berhubungan.
Dengan langkah gontai, Rey kembali berjalan ke kamarnya dan langsung menghempas tubuhnya ke atas kasur dengan penuh kekesalan. Saat ini dia telah memperoleh kembali kebebasannya dan bisa kembali ke kehidupan lamanya. Tetapi ia telah kehilangan segala hal yang dulu dimilikinya, orang-orang yang dulu selalu bersamanya dan mengisi kehidupannya, orang-orang yang ia cintai dan kasihi, sekarang mereka semua sudah berada jauh darinya dan dia sudah tak bisa berhubungan dengan mereka lagi. Dan itu semua juga akibat ulahnya sendiri yang telah memutuskan hubungan dengan mereka.
Tiba-tiba dirinya merasa hampa dan kosong, seperti ada sesuatu yang telah hilang dari dalam dirinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya merasa senang karena dapat terbebas dari kakaknya dan bisa menikmati waktu kesendirinya, namun kini dia sudah merasa kesepian serta merasa tidak menyukai lagi kehidupannya yang hanya seorang diri saja.
Kemudian ia menjadi teringat akan sosok kakaknya, yang ternyata selama ini dengan begitu setia menemani dan mendampinginya disaat ia melewati hari-hari sulitnya. Kakaknya yang juga begitu perhatian dan peduli kepadanya bahkan selalu melindunginya dan memberinya kasih sayang yang begitu besar. Belum lagi kakaknya itu harus banyak mengalami kesulitan dan penderitaan karena dirinya.
Kini pikiran Rey pun melayang dan membawanya kembali pada ingatannya 2 bulan lalu setelah ia berhasil selamat dari sebuah tragedi yang terjadi di hidupnya itu.
***