Happiness For You

Happiness For You
59 Berkumpulnya Kakak Adik



Saat ini Rey merasakan rasa sakit mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Ia lalu melepaskan pegangannya pada pundak Kei agar bisa merebahkan tubuhnya dengan duduk di lantai dan menyandarkannya pada kotak-kotak besar yang ada didekatnya. Kei ikut membantunya.


"Apa kamu masih bisa bertahan?" Tanya Kei yang sedang duduk berjongkok sambil mengamati dengan penuh perhatian dan juga kekhawatiran wajah Rey yang nampak pucat dan kesakitan.


Rey memberinya sebuah anggukan. "Aku sudah terbiasa mendapat luka seperti ini ... Bagaimana denganmu?" Tanya Rey padanya sambil mengarahkan pandangan matanya ke lengan Kei yang berdarah karena terkena goresan peluru.


"Ini hanya luka goresan kecil saja. Keadaanmu lah yang lebih mengkhawatirkan." Kei lalu berdiri berputar dengan pandangan mata yang mengikuti untuk mencari cara bagaimana agar mereka bisa keluar dari gudang itu.


"Kalau kamu ingin keluar dari tempat ini ... lewat situ ..." Rey menunjuk ke salah satu sisi dinding, tepatnya pada sebuah lubang angin yang terpasang di sana.


Kei melihat ke arah yang Rey tunjuk. Lubang angin itu memang memiliki ukuran yang pas untuk tubuh seseorang agar bisa masuk ke dalamnya. Mereka hanya perlu berusaha sedikit untuk melepaskan besi lubang angin yang terpasang sehingga memberi celah.


"Tapi bagaimana denganmu?" Tanya Kei yang menyadari tempat itu cukup tinggi dan akan sulit bagi Rey yang mendapat dua luka tembak di punggungnya untuk memanjat atau melompat.


"Jangan pedulikan aku. Targetnya memang adalah diriku jadi yang seharusnya terkurung di sini hanyalah aku seorang. Kamu tidak ada hubungannya."


Kei menatap marah kepada Rey. Dia lalu ikut duduk di sampingnya dan berbicara lagi.


"Hentikanlah pikiran egoismu itu yang tak pernah mempedulikan apa yang orang lain rasakan dan jangan sok kuat dengan menanggung semuanya sendirian. Anggaplah diriku ini yang adalah seorang kakak. Seharusnya akulah yang bertanggung jawab untuk melindungimu dan aku tak mungkin pergi meninggalkanmu seorang diri di sini." Kei menatap tajam ke arah Rey. Rey memalingkan wajahnya dari tatapan Kei dan tidak meladeni ucapannya.


Suasana menjadi hening dengan masing-masing dari mereka saling berkutat pada pikiran mereka sendiri. Rey merasa segan dan bersalah terhadap kakaknya atas sikapnya selama ini yang membenci dan mendendam padanya juga berkali-kali membohonginya dan tidak mau mengakui kalau dia adalah adiknya. Sedangkan Kei berpikir kalau ternyata selama ini Rey telah membencinya sehingga dia tidak mau membuatnya marah dengan mengusik atau mengganggunya lagi.


Semakin lama Rey merasa luka ditubuhnya makin terasa sakit. Tubuhnya sudah sangat lemas dan matanya serasa berat. Ingin rasanya dia membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya itu agar dia dapat tertidur dan mengistirahatkan tubuhnya dari rasa sakitnya. Dia lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya sambil berusaha untuk dapat tertidur.


Kei melihat gerakan Rey saat ia menyandarkan kepalanya dan terlihat semakin melemah.


"Apa kamu masih dalam keadaan baik, Ken ...?" Kei bertanya dan memanggil Rey dengan nama kecilnya. Ia terlihat sedikit ragu saat melakukannya, ketika menyebutkan nama itu pada Rey.


Kesadaran Rey sudah hampir menghilang saat ia mendengar nama kecilnya disebut oleh kakaknya. Ia lalu membuka matanya perlahan dan menoleh kearah kakaknya yang sedang duduk disebelah kanannya. "Bolehkah aku memanggilmu dengan nama itu?" Tanya Kei lagi padanya.


Rey tidak menjawabnya tetapi ia memejamkan matanya yang mulai tampak berkilauan untuk menahan airmatanya agar tak tumpah keluar. Ketika ia memejamkan matanya, ia merasakan desiran hangat yang menjalar di pipinya. Kemudian ia membuka kembali matanya dan dengan perlahan ia menyunggingkan bibirnya dan bibirnya pun bergetar karena tangis tertahannya itu.


"Kenn ...," panggil Kei lagi. "Adik kecilku ...." Tanpa berusaha menutupi, air mata Kei langsung menetes keluar dari matanya. Walau Kei sedang menangis tetapi bibirnya mengembangkan senyuman karena hatinya sedang merasakan kegembiraannya yang dapat kembali bersatu dengan adiknya.


Air mata Rey pun ikut mengalir keluar dan terdengar suara isak tangis keluar dari mulutnya. "Kakak .... " ucap Rey membalas panggilan kakaknya.


Kei langsung meraih tubuh Rey dan memeluknya. Kei lupa akan keadaan punggung Rey yang sedang terluka.


"Aaghhh .... " Teriak Rey dengan suara lemah dan kesakitan.


"Maafkan aku ..." Kei langsung melepaskan pelukannya. "Astaga ... Ken ...! Darahmu banyak sekali .... " Kei berteriak histeris saat mendapati tangannya basah dan berlumuran darah Rey yang berasal dari punggungnya yang terluka yang tadi dipegang olehnya ketika memeluknya. Kei juga baru menyadari kalau luka tembak dipunggung Rey sudah mengeluarkan darah yang banyak hingga membasah dibajunya.


"Apakah daritadi kamu menahan rasa sakitmu?" Tanya Kei penuh kecemasan. Kei melihat wajah Rey semakin memucat dan mulai basah karena peluhnya. Kening Rey berkerut karena kernyitannya yang sedang berusaha menahan sakitnya." Jangan menahannya ... Tidakkah kamu memiliki obat atau sesuatu untuk menghilangkan rasa sakitmu?" Tanya Kei panik dan penuh kekhawatiran.


Dengan tangan yang bergemetar, Rey merogoh saku celananya untuk mengeluarkan plastik obatnya. Kei membantunya dengan mengambil sendiri plastik itu dari sakunya, membukanya dan mengeluarkan sebutir obat. Tetapi tiba-tiba tangan dingin Rey menahannya.


"Ada apa?" Tanya Kei kebingungan.


Rey merebut plastik obatnya dan tiba-tiba rasa sakit menyerangnya kembali. Dengan rasa sakit yang bertubi-tubi. Karena rasa sakit yang biasa menyerangnya yang berasal dari penyakitnya juga kembali muncul. Rey sampai menjatuhkan tubuhnya dan membaringkannya ke lantai agar dapat meringkuk untuk menahan kesakitannya. Dengan matanya yang sedang terpejam, Rey menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan ia mencengkram telapak tangannya sendiri serta mencengkram plastik obat yang tadi dipegangnya dengan salah satu tangannya. Wajahnya memerah dan otot-otot di lehernya tampak menonjol karena kesakitannya.


Membuat Kei mengeri dan semakin ketakutan melihatnya.


"Ken ... berikan obatmu ... cepat ...!"


"Janji apa?"


"Tidak mendonorkan sumsummu ..." ungkap Rey sambil membuka matanya dan menatap wajah kakaknya. Wajahnya semakin memucat dan ia benar-benar tampak kesakitan.


"Apa?! Jangan bodoh, berikan obatmu ..." Kei berusaha merebutnya tetapi Rey semakin memperkuat cengkramannya dan juga semakin terlihat kesakitan.


"Tidak, sebelum kamu berjanji ..." ucapnya dengan suara lirih.


"Baiklah ... baiklah aku berjanji. Sekarang, cepat berikan obatnya."


Akhirnya Rey membuka telapak tangannya yang sedang mencengkram dan plastik obatnya terlepas. Dengan segera Kei mengeluarkan sebutir obat dan memasukkannya ke dalam mulut Rey. Lalu Kei menyandarkan kepala Rey di atas pangkuannya dan Rey memejamkan matanya. Perlahan wajah Rey menjadi agak tenang dengan sisa-sisa nafasnya yang masih sedikit memburu. Sepertinya rasa sakit yang dirasanya sudah berkurang banyak.


"Apakah kamu takut jika aku akan seperti ibu yang pergi meninggalkanmu setelah mendonorkan sumsumku? Tenang Ken, aku janji aku akan baik-baik saja karena mendonorkan sumsum tidaklah berbahaya bagi si pendonor." Sambil berbicara, Kei mengusap kepala dan kening Rey dengan lembut. Sepertinya Rey telah jatuh terlelap dalam tidurnya dan nafasnya juga sudah kembali bergerak dengan normal.


Tetapi tiba-tiba wajah Rey kembali nampak gelisah ditengah tidurnya yang lelap itu. "Ken, ada apa?" Tanya Kei ketika melihat wajah Rey yang sedang beegerak-gerak tidak tenang. Rey merasa ada suatu sensasi aneh yang sedang menjalar disekitar dadanya dan membuat dadanya tak nyaman seperti ada perasaan yang mengganjal dan membuatnya merasa sangat mual. Sesuatu itu terus memaksa dan mendesak keluar dari mulutnya.


Rey terbangun dan langsung membuka matanya lebar lalu sesaat kemudian mulutnya memuntahkan cairan darah berwarna merah pekat. Kemudian ia merasa dadanya semakin bertambah sakit dan ia merasa seperti kehilangan kendali akan tubuhnya. Lalu kegelapan datang meliputinya dan menenggelamkan kesadarannya. Tangan yang tadi menahan muntahan darahnya terjatuh lemas ke lantai.


Kei menatap terkejut dan sangat ketakutan melihatnya. Ia sangat sadar kalau kondisi Rey saat ini benar-benar buruk. Kei berusaha membangunkannya dan tidak mau membiarkannya dalam keadaan tertidur karena takut kesadarannya akan terbawa pergi untuk selama-lamanya.


"Kenn ... bangun Ken ... jangan tertidur ... kumohon, bangunlah ...."  teriaknya dengan menepuk-nepukkan pipinya pelan untuk membangunkan Rey yang terpejam matanya. Tangannya gemetar dan air matanya terus mengalir ketika memohon-mohon pada adiknya itu agar dapat terbangun.


Di ambang kesadarannya, Rey masih dapat mendengar suara panggilan kakaknya yang sedang membangunkannya. Perlahan Rey mulai dapat kembali merasakan kesadarannya. Dengan sangat lemah dan perlahan, ia membuka matanya dan menatap kakaknya. Tatapannya terlihat sayu dan sangat lemah.


"Kakak ..., " panggilnya dengan suara yang sangat pelan. "Biarkan aku tidur ... aku merasa sangat lelah ... " ucapnya dengan mata yang terus berkedip dengan lemah.


"Bertahanlah sebentar. Jangan tidur. Kumohon Ken, tetaplah membuka matamu ..."


Rey menuruti permintaan kakaknya dengan berusaha memaksa matanya agar terus membuka dan dalam keadaan sadar.


Lalu Kei mengajaknya berbicara agar membuatnya terus dalam keadaan tersadar.


"Ken ... apa kamu masih ingat sewaktu kecil dulu aku sering memangkumu seperti sekarang ini untuk membuatmu tertidur." Rey memberinya senyum kecil untuk meresponnya. Tetapi dengan segera senyumnya menghilang digantikan dengan kernyitan diwajahnya karena kesakitan.


"Apakah sangat sakit?" Rey menggeleng pelan. Kemudian Kei melanjutkan pembicaraannya. "Tetapi saat ini aku malah terus membangunkanmu dan tidak mengijinkanmu untuk tidur ..." Kei berbicara dengan bersedih. "Ken, kamu harus kuat dan bertahan ... Kakak tahu selama ini kamu menderita. Setelah kita keluar dari sini aku akan mengobati luka dan penyakitmu. Lalu setelah sembuh, aku akan memberimu kehidupan baru yang dipenuhi kebahagiaan untuk menebus semua penderitaan yang telah kamu alami. Jadi jangan menyerah dan berikan aku kesempatan untuk memberimu kebahagiaan."


Rey hanya diam. Ia tahu bahwa selama ini kakaknya tidaklah bersalah padanya bahkan kakaknya juga telah menderita. Dirinya pun merasa sangat menyesal karena telah membenci kakaknya dan menaruh dendam terhadapnya. Rey merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf pada kakaknya. Dan ia merasa kalau ia harus melakukannya sekarang juga, apalagi saat ini ia merasa tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Ia takut jika tidak mengucapkannya sekarang juga, maka kelak tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menyampaikan permohonan maafnya itu kepada kakaknya. Rey pun berusaha untuk mengucapkan permintaan maafnya kepada kakaknya.


"K-kka ..." Rey membuka mulutnya ingin memanggil kakaknya namun ia mengalami kesulitan untuk melakukannya karena tubuhnya sudah sangat lemah dan tak bertenaga bahkan hanya untuk berbicara saja. Tetapi ia memaksa lagi untuk berbicara. "Kka ... kak ...," panggilnya.


Mata Kei berlinangan air mata saat melihat Rey yang sangat kesusahan ketika memanggilnya. Dengan memaksakan dirinya tersenyum Kei menjawab, "Ken, simpan tenagamu dan jangan memaksa untuk berbicara ...."


Rey menggeleng pelan. Ia lalu menggerakkan tangannya dan mengarahkannya ke atas berusaha untuk menggapai wajah kakaknya karena ia ingin menyentuhnya. Kei segera meraih tangan Rey yang sudah begitu terasa dingin dan membantunya meletakkan di pipinya.


Rey menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum dan ia kembali berusaha melanjutkan perkataan maafnya.


"Mm-maaf ... kan ... a-ku ...." ucap Rey lagi dengan suara yang benar-benar pelan hingga hampir tak terdengar dan semakin menghilang. Namun Kei dapat mendengarnya dan juga dari pergerakan mulutnya. Wajahnya lalu mengernyit dengan lemah dan perlahan matanya menutup dan tidak membuka lagi. Tangannya yang menyentuh pipi Kei terlepas dan terjatuh dipangkuannya.


***