
Kejadian pada beberapa menit yang lalu, Erika berlari keluar dari rumah Rey dengan sangat kencang. Ia terus berlari tanpa mempedulikan apapun juga. Dibelakangnya, Kei ikut berlari berusaha untuk mengejarnya. Tetapi Kei terlambat. Erika sudah berlari hingga ke jalanan dan tubuhnya tertabrak oleh sebuah motor yang sedang melintas. Pengendara motor itu terkejut karena telah menabrak tubuh seseorang. Ia pun segera mengerem motornya dan mengeluarkan suara berdecit yang sangat kencang.
"Erika ...!" Teriak Kei kencang saat melihat kejadian tersebut. Tubuh Erika terpental dengan kepala yang membentur aspal jalanan.
Kei segera menghampiri tubuh Erika yang tergelatak di atas aspal jalanan dengan kepala yang berdarah. Ia membawa tubuh Erika ke dalam pangkuannya. Wajah Erika nampak pucat dan ia meringis kesakitan dengan lemah.
Rey telah tiba di luar rumahnya. Ia segera melepaskan tubuhnya dari mereka dan berdiri terdiam. Lalu ia mendapati Erika sedang dalam keadaan terbaring dipangkuan kakaknya dengan kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya yang berdarah-darah. Erika melihat sosok Rey yang sedang berdiri di depan rumahnya dan matanya kembali berlinangan airmata. Sesaat kemudian Erika memejamkan matanya, pingsan.
Rey seperti mendapat serangan jantung saat melihat mata Erika menutup. Gelombang rasa sakit menyerang dadanya. Rey mencengkram dadanya kuat karena dadanya terasa sangat nyeri. Lalu cairan darah termuncrat keluar dari mulutnya.
"Erika ...." gumamnya pelan dan langsung terjatuh tak sadarkan diri. Dokter segera menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai jalanan.
Dokter segera mengecek kondisi Rey. Dia melihat matanya, detak jantungnya serta memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan Rey. Dokter mendapati kesadaran Rey menurun dengan denyut nadi yang melemah. Kemudian dokter memompa dada Rey dengan kedua tangannya hingga Rey dapat bernafas dengan normal kembali.
Dokter Steve masuk ke kamar Rey untuk menelepon rumah sakit dan meminta dua mobil ambulans untuk datang. Setelah itu dia kembali keluar dengan membawa peralatan medisnya. Ia kembali memasangkan masker oksigen di wajah Rey dan segera setelahnya dia menghampiri Erika.
Sebelum memeriksa keadaan Erika, Dokter Steve memperkenalkan dirinya terlebih dahulu pada Kei.
"Perkenalkan, nama saya Steve. Saya adalah seorang dokter dan saya merupakan dokter pribadi dari Reyhan. Ijinkan saya untuk memeriksakan keadaan Nona ini."
"Baik, Dok. Silahkan." Dokter lalu mengecek keadaan Erika. "Dokter ...," panggil Kei menginterupsi Dokter Steve yang sedang memeriksa Erika. "Apa yang terjadi dengannya? Dan bagaimana kondisinya?" Kei tidak bisa menunda lagi untuk menanyakan keadaan Rey karena dirinya sungguh terkejut saat melihat Rey muntah darah dan pingsan. Sehingga ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya dan juga mencemaskannya.
Dokter Steve mendiamkannya sejenak karena dia belum selesai memeriksa kondisi Erika. Setelah selesai dokter pun menjelaskannya.
"Saat ini dia mengalami shock karena benturan keras dibagian kepalanya sehingga ia menjadi tidak sadarkan diri. Tetapi kondisinya cukup stabil. Sambil menunggu mobil ambulans datang, saya akan memberinya cairan untuk mensterilkan lukanya dan menahan agar darahnya tidak terus mengalir keluar."
Karena terlalu mencemaskan keadaan Rey, dia sampai lupa menanyakan keadaan Erika yang baru mengalami kecelakaan.
"Terima kasih Dokter. Lalu bagaimana dengannya? Apa yang terjadi hingga ia mengalami muntah darah? Dan siapakah wanita itu?" Kei kembali mencecar Dokter Steve dengan pertanyaan yang banyak.
Dokter Steve menghela nafasnya dan menjawab, "Maaf, saya tidak ikut campur masalah pasien. Saya hanya akan memberitahumu kondisinya. Rey mengalami muntah darah karena shock melihat keadaan Erika. Dan sekarang dia sedang dalam keadaan koma."
"Apa mungkin dia bisa sampai koma hanya karena itu? Maksudku, dia adalah seorang pria yang terlihat kuat dan dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi tiba-tiba ia terlihat seperti sangat lemah dan mengalami muntah darah hingga koma ...."
Disela pertanyaan yang Kei ajukan, bunyi sirine mobil ambulans mulai terdengar dan semakin jelas.
Dokter menjawab pertanyaan Kei.
"Sebenarnya tubuhnya tidak sekuat seperti yang terlihat dan sudah daritadi bahkan sebelum kejadian ini dia tidak dalam keadaan baik-baik saja."
Bunyi sirine ambulans semakin jelas terdengar yang menandakan bahwa mereka telah sampai.
"Mobil ambulans telah sampai. Sebaiknya kita bergegas membantu para petugas untuk membawa mereka." Kei ingin menahan dokter untuk bertanya lebih lanjut, tetapi tidak jadi dan menuruti perkataan dokter.
Kedua mobil ambulans itu telah dalam posisi parkir. Lalu beberapa petugas ambulans turun dan berpencar. Sebagian petugas menuju ke arah Erika dan sebagian lainnya menuju ke tempat Rey. Setelah petugas ambulans mengangkat tubuh Erika ke ranjang, Kei kembali beralih ke arah Rey dan mengamatinya. Ia masih merasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Selain itu, perasaannya menjadi kalut. Ada rasa ketakutan serta perasaan sedih yang ia rasakan di hatinya.
"Anda akan ikut mengantar pasien ini atau tidak?" tanya petugas medis yang membawa Erika pada Kei.
"Iya, aku ikut." Kei lalu naik ke mobil ambulans tersebut.
Mobil ambulans itu melaju pergi dengan menyusul dibelakangnya mobil ambulans satunya lagi yang membawa Rey. Kedua mobil ambulans itu menuju ke rumah sakit yang sama.
***
Setibanya di rumah sakit, Erika langsung dibawa ke ruang operasi untuk menjalankan operasi dibagian kepalanya.
Kei menanti di luar ruang operasi dengan cemas. Ia lalu teringat akan Rey yang juga ikut dibawa oleh mobil ambulans ke rumah sakit ini. Tetapi ia tidak melihat saat brankar ambulans yang membawa Rey melewatinya. Kei lalu menanyakannya pada petugas jaga di depan.
"Pak, dimanakah pasien satu lagi yang baru juga tiba dengan mobil ambulans?"
"Maaf Pak, saya tidak melihat ada pasien lain yang baru tiba dengan mobil ambulans selain keluarga bapak tadi." jawab petugas tersebut.
"Biasanya pasien yang dibawa dengan mobil ambulans akan masuk melewati pintu ini kan?" tanyanya lagi.
"Tidak juga Pak. Itu tergantung kondisi pasien."
"Baiklah, terima kasih."
"Baik Pak."
Kei lalu menuju resepsionis untuk menanyakannya. Namun resepsionis juga tidak mengetahuinya karena belum ada data masuk tentang pasien tersebut. Akhirnya Kei teringat akan Dokter Steve yang adalah dokter pribadi Rey. Ia lalu menanyakan tentang profil Dokter Steve dan mendapat informasi bahwa Dokter Steve adalah seorang dokter spesialis di bidang onkologi.
Selesai bertanya, Kei kembali ke ruang tunggu tempat Erika dioperasi. Ia berjalan dengan langkah yang gontai karena sambil memikirkan keadaan Rey yang mungkin sedang menderita suatu penyakit yang mematikan.
Di ruang tunggu, sudah ada orangtua Erika yang datang. Mereka tampak cemas dan mereka segera menghampiri Kei untuk bertanya.
"Kei, ceritakan bagaimana kejadiannya." tanya ibu Erika.
Kei memilih setiap kalimat yang ia ucapkan dengan hati-hati saat menceritakannya karena ia tidak mau orangtua Erika menjadi marah pada Rey yang kondisinya saat ini juga belum ia ketahui dengan jelas. Selain itu ia juga tidak mau mereka cemas dengan berlebihan.
Sehingga Kei hanya memberi sedikit gambaran bahwa Erika sedang berlari dan kurang berhati-hati hingga menabrak pemotor yang lewat.
Setelah kurang lebih 2 jam Erika dioperasi, dokter pun keluar ruangan dan menjelaskan kondisi Erika. Erika mengalami pendarahan diotaknya tapi itu tidak terlalu berbahaya. Para tim dokter juga sudah selesai mengoperasinya dengan sukses. Jadi mereka hanya perlu menunggunya sadar. Walau begitu, kondisi Erika masih lemah karena operasi yang baru saja ia jalani dan juga ada kemungkinan Erika masih mengalami shock akibat kecelakaan yang dialaminya tadi. Jadi ia harus beristirahat dulu dengan baik dan tanpa gangguan. Sehingga ia belum boleh dijenguk hingga esok pagi. Jika mau menengoknya, maka mereka hanya bisa melihatnya dari luar ruangan saja melalui layar kaca.
"Paman dan tante sebaiknya kalian pulang saja. Biarkan aku yang menemani Erika. Dokter juga sudah berpesan bahwa ia tidak bisa dijenguk dulu sementara hingga esok pagi. Aku akan segera menghubungi kalian jika Erika telah sadar." ucap Kei pada Ayah dan Ibu Erika. Mereka pun menurutinya untuk pulang ke rumah mereka.
Erika telah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang pasien dirawat. Kei menemaninya dengan tidur di ruang tunggu yang ada di luar ruangan.
***