Happiness For You

Happiness For You
39 Kesepakatan Yang Sesungguhnya



Setibanya di rumah, Rey langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur yang ada di dalam kamarnya. Dan Rey langsung tertidur atau mungkin tidak sadarkan diri. Karena saat terbangun, ia melihat tangannya sedang diinfus dan juga terdapat masker oksigen yang terpasang di hidungnya. Selain itu Rey juga melihat ada sosok dokter Steve di dalam kamarnya.


"Dokter ...." panggilnya dengan suara yang lirih.


"Rey, kamu sudah sadar." Rey baru tahu kalau ia telah pingsan tadi. Rey seperti terlonjak kaget dan langsung memandang ke sekeliling ruangan.


"Tenang, ini di dalam kamar rumahmu." Lalu Rey memasang wajah lega. Tadinya ia berpikir kalau ia sedang berada di rumah sakit.


Rey melepaskan masker oksigen dari mulutnya karena ia ingin berbicara.


"Apa yang terjadi denganku?"


"Kondisi kesehatan tubuhmu menurun drastis dan keadaanmu sekarang cukup memburuk. Tahukah kamu, kamu telah membuatku takut. Tadi saat tiba di rumahmu, aku menemukan dirimu berbaring dengan tidak merespon ketika aku membangunkanmu. Setelah kuperiksa, ternyata kadar oksigen dalam darahmu sangat rendah dan kesadaranmu hampir saja melayang. Selain itu tubuhmu juga menjadi lemah karena asupan makan kamu kurang. Untung saja aku tidak datang terlambat."


"Sudah berapa lama aku pingsan?"


"Kurasa sekitar 3 jam."


"Siapa yang menghubungimu untuk datang kemari?"


"Ryo ... dia khawatir melihat kondisimu dan memintaku untuk datang memeriksamu."


Suasana hening sejenak.


"Rey, kamu harus dirawat di rumah sakit sekarang juga. Jangan menundanya lagi."


"Tidak Dok, untuk saat ini aku masih bisa bertahan disini."


"Apakah kamu mau menunggu hingga dirimu dalam keadaan koma baru mau dibawa ke rumah sakit?"


"Tidak, hanya untuk hari ini saja. Aku belum bisa ke sana karena aku masih ada urusan yang perlu kuselesaikan dulu di sini."


"Jangan bersikap keras kepala seperti itu. Aku doktermu dan aku lebih tahu akan kondisi tubuhmu."


"Kumohon, jangan paksa aku ...."


"Rey, banyak orang yang sayang dan peduli padamu. Jangan membuat kami khawatir karena keras kepala mu itu."


"Aku tahu itu. Tapi aku hanya butuh beberapa jam di hari ini saja."


"Apakah urusanmu itu harus dilakukan hari ini juga dan kamu tidak bisa untuk menundanya?"


Rey memberi Dokter anggukan.


"Baiklah, kalau begitu terserah padamu. Aku hanya bisa mengikuti apa maumu." Setelah dokter selesai berbicara, Rey kembali tertidur.


Beberapa menit kemudian, ia kembali terbangun.


"Dokter, aku ingin meminta bantuan darimu."


"Katakan, apa itu. Aku akan berusaha membantumu sebisa mungkin."


Rey lalu membisikkannya sesuatu. Setelah mendengar permintaan Rey, dokter pun terkejut.


"Apa ...?! Tidak mungkin aku membantumu untuk hal seperti itu ...."


"Tenang Dok. Aku telah menyiapkan hal lainnya. Dokter cukup membantuku agar aku bisa tetap terlihat sehat dan dalam keadaan sadar serta membuat rasa sakitku menghilang selama itu."


Dokter terdiam dan memandanginya dengan pandangan yang terlihat seperti orang yang sedang kesusahan.


"Rey, kamu harus bisa memahami kondisi tubuhmu saat ini. Lihatlah, demammu sudah mencapai suhu yang cukup tinggi saat ini." Dokter menunjukkan angka suhu yang tertera pada termometer pada tangannya. "Kesadaranmu juga tidak stabil, selama beberapa jam kedepan kamu mungkin akan beberapa kali kehilangan kesadaranmu. Sebaiknya kamu beristirahat saja dengan baik dan jangan banyak berpikir apalagi melakukan suatu hal yang akan menghabiskan energimu."


"Kumohon Dokter Steve, aku sangat memerlukan bantuanmu. Ini adalah terakhir kalinya aku merepotkanmu. Aku janji."


Dokter menghela nafasnya panjang dan kuat. Ia tidak bisa berbuat apalagi selain menuruti permintaan Rey padanya.


"Kamu memang seorang yang keras kepala. Apa yang kamu mau, tidak bisa ditolak dan harus dituruti. Dan aku pun hanya bisa mengusahakan untuk membantumu semampuku. Tapi aku tidak mau terlibat dengan urusanmu. Jadi, disaat itu aku hanya akan bersembunyi dan tidak mau melakukan apapun. Aku akan keluar hanya jika terjadi sesuatu yang genting pada dirimu."


"Baik, Dokter. Terima kasih karena kamu masih bersedia berada disisiku untuk merawat dan membantuku." Dan kesadaran Rey kembali menghilang.


Di sisi lain, di rumah Erika, terlihat Erika sedang sibuk mempercantik dirinya karena malam ini ia memiliki janji makan malam bersama dengan Rey di sebuah restoran favoritnya yang ada di Jakarta. Saat ini dia sedang menggelung rambutnya untuk membuat rambutnya tampak bergelombang.


Sedangkan Rey masih berbaring dan dalam keadaan lemah. Kesadarannya hilang muncul tanpa bisa diprediksi. Disela tidurnya, Rey tampak gelisah dan terlihat kesakitan.


"Rey ...," Dokter mendekatinya dan berkata dengan pelan di telinganya. "Rey apa kamu masih bisa bertahan?"


Rey membuka matanya sebentar dan menutupnya lagi.


"Dokter ..." panggilnya masih dengan mata yang terpejam. "Jam berapa sekarang?"


"Jam 6 sore. Rey, kondisimu semakin memburuk. Apa kamu yakin kamu tetap akan melakukannya?" Rey memberinya anggukan lemah. "Sepertinya aku harus menyuntikan obat yang bisa membuatmu tertidur dengan tenang."


"Jangan ... Aku harus tetap terjaga sampai malam nanti." Rey berbicara dengan suara lirih dan dengan wajah yang meringis kesakitan.


Saat dokter ingin memberinya sebuah suntikan, Rey segera mencegahnya dengan menghempas jarum suntik yang sudah menempel dikulitnya dan siap dimasukkan ke dalam tubuhnya. Hingga jarum itu menggores kulitnya dan ia mengernyit kesakitan.


"Tenang Rey, nanti aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya. Sekarang kamu memerlukan suntikan ini." Rey menurutinya dan dokter kembali menyuntiknya. Seketika Rey langsung tertidur lelap. Dokter Steve menghela nafasnya dengan berat melihat kondisi Rey yang tampak menderita tetapi dirinya masih saja tetap keras kepala memaksakan diri untuk bertahan dirawat di rumahnya saja dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.


***


Jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Erika sudah memakai gaunnya dan wajahnya juga sudah selesai dirias. Ia sudah siap berangkat. Hatinya senang mengingat makan malam yang ia lakukan kemarin bersama dengan Rey. Malam ini juga mereka akan makan malam berdua lagi.


Kemudian Erika berpamitan dengan orangtuanya dan pergi dengan diantar oleh supirnya. Ia telah sampai di depan sebuah restoran yang telah mereka janjikan. Restoran itu cukup berkelas dan merupakan salah satu restoran favoritnya. Sudah sejak lama dia ingin bisa mengunjungi restoran ini dengan pasangannya. Restoran ini memang selalu ramai dikunjungi oleh sepasang kekasih. Hingga setiap pasangan yang datang harus mengantri karena tempat duduk yang mereka siapkan juga tidak terlalu banyak. Begitu juga dengan saat ini. Restoran itu tampak ramai dan sudah ada beberapa pasangan yang sedang berdiri mengantri untuk mendapatkan tempat duduk mereka.


Erika berdiri celingak celinguk melihat ke sekeliling mencari pasangannya. Dia tidak mau ikut mengantri disaat masih sendirian sedangkan tamu yang lainnya adalah pasangan. Sungguh garing dan aneh rasanya.


Karena tidak menemukan orang yang dicarinya, Erika menjadi gelisah. Ia melihat jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 7 malam lewat 5 menit. Lalu, seorang pelayan wanita mendatanginya.


"Permisi, Nona. Pasangan anda sudah menunggu di dalam." ucap pelayan wanita itu padanya sambil menunjuk ke arah dalam.


"Terima kasih." jawab Erika dengan tersenyum ramah kepada pelayan tersebut.


Erika berjalan menuju meja yang tadi ditunjuk oleh si pelayan. Di sana terlihat ada seorang pria yang sedang duduk dengan wajah yang tertutupi buku menu. Dengan tersenyum senang Erika mempercepat langkahnya.


Pria itu menurunkan buku menunya dan Erika terkejut saat mendapati bahwa pria itu adalah Kei Takahiro. Erika masih berpikir positif. Mungkin kebetulan kak Kei juga sedang makan disini.


"Hai Erika.."


"Kak Kei ... kebetulan sekali, kamu juga sedang punya janji dengan seseorang di sini?" tanya Erika sambil celingak celinguk mencari teman kencannya itu.


"Iya ... dan seseorang itu adalah kamu, Erika."


"Apa maksudnya itu? Apa Rey yang mengajakmu untuk ikut bergabung dengan kita?"


"Tidak, hanya kita berdua saja sebagai pasangan. Sepertinya setelah makan malam ini selesai, aku harus berterima kasih padanya karena telah membantuku untuk membuat janji makan malam ini denganmu."


Erika menggeleng. Airmata mulai mengalir keluar dari matanya. "Tidak ... itu tidak mungkin ... Ternyata kalian telah bersekongkol untuk menipu dan mengkhianatiku ...!" Erika langsung berlari pergi dari restoran itu meninggalkannya.


"Erika ...!" Kei segera berdiri dan berlari mengejarnya. "Erika berhenti!" Kei berhasil mengejar Erika dan menarik tangannya. Mereka sedang berada di luar restoran, tepatnya di area parkir restoran. "Mau pergi ke mana kah kamu?"


"Aku mau ke rumah Rey. Aku harus menemuinya sekarang juga."


"Tidak, kamu tidak boleh bertemu dengannya lagi. Lupakan dia ... Dia tak pantas untukmu."


"Berdasar apa kamu mengatakan seperti itu bahwa dia tidak pantas untukku? Apa karena latar belakangnya atau pekerjaannya yang seorang gangster?"


"Keduanya ... dan juga beberapa hal lainnya. Kamu tahu, dia telah mengkhianatimu. Yang kamu katakan bahwa aku dan dia telah bersekongkol untuk menipumu itu adalah benar. Itu kami lakukan agar kamu mau kembali pada orangtuamu dan juga kembali padaku."


"Kak Kei, jangan keterlaluan. Kalau saja kamu mengetahui latar belakang dirinya yang sebenarnya, maka kamu pasti akan menyesalinya. Masa bodo dengan yang kamu katakan, aku tak peduli. Apapun itu aku harus bertemu dengannya sekarang juga. Aku yakin ada sesuatu yang sedang terjadi padanya sehingga membuatnya melakukan hal seperti ini padaku."


"Erika, sadarlah! Jangan menjadi seorang wanita bodoh yang terus tertipu dan dipermainkan oleh pria brengsek sepertinya. Bukalah matamu."


"Lepaskan aku!"


"Mengapa kamu begitu ngotot ingin bertemu dengannya dan bukannya marah ataupun kecewa dengannya?"


"Karena aku percaya padanya."


"Percaya padanya? Walau kamu telah mendengar kesepakatan yang terjadi diantara kita, apa kamu masih akan tetap percaya padanya?"


"Kesepakatan? Aku tahu kesepakatan kalian itu, dia telah memberitahuku. Tetapi kesepakatan itu hal yang baik bukan. Bahwa setelah dia membawaku pulang kembali pada orangtuaku, maka orangtuaku akan memberikan ijin pada kami untuk masih bisa saling bertemu."


"Haha ... itukah kesepakatan yang ia katakan padamu? Kamu memang telah dibutakan oleh rasa cintamu terhadapnya. Bahkan kebohongan yang ia katakan padamu pun begitu kamu percayai. Hmm tapi dia pintar juga membuat kebohongan seperti itu setidaknya itu adalah hal baik yang bisa membawamu pulang kembali kepada orangtuamu tanpa perlu untuk memaksamu."


"Jadi itu adalah sebuah kebohongan? lalu apa sebenarnya kesepakatan yang terjadi diantara kalian?"


"Baiklah, aku akan mengatakannya. Pada awalnya kupikir, ini akan menyakitkan bagimu jika kamu mendengarnya. Jadi aku berencana untuk menyembunyikannya. Tetapi kenyataan memang tidak baik untuk selalu ditutupi dan lebih baik seseorang hidup penuh kesakitan karena sebuah kenyataan daripada terus terbuai dalam kebodohan yang ia percayai dan akhirnya menjadi tersesat."


"Benar yang kamu katakan, maka itu cepatlah beritahu aku. Aku sudah siap mendengar kenyataan yang mungkin pahit dan menyakitkan itu.


Sebelum mengatakannya, Kei menghela nafasnya dan menatap Erika dengan tatapan sendu.


"Apa kamu masih ingat dengan keributan kami waktu di Villa Alisha? Bahwa villa itu adalah milik ibu kandungku, dan aku ingin mengambilnya kembali. Dan bukan hanya villa itu saja, melainkan semua warisan peninggalan yang ibuku berikan untuknya. Tetapi dia, demi agar tetap bisa memiliki harta kekayaan yang merupakan warisan dari mendiang ibuku itu, dia mengembalikan dirimu padaku. Baginya harta dan kekayaan lebih berharga daripada dirimu."


"Tidak, itu tidak seperti itu. Pasti ada alasan lainnya ia melakukan kesepakatan seperti itu denganmu. Aku tahu itu. Jika dia memang gila harta dan kekayaan, maka dia ...."


"Erika, percaya padaku. Dia hanyalah seorang pria brengsek yang telah mempermainkan dirimu. Dia mengembalikanmu padaku karena dia ingin mencampakkan dirimu. Dia bahkan mengatakan kalau ia sudah bosan denganmu dan juga lelah harus bertengkar denganku karena dirimu. Dia menyuruhku untuk membawamu pergi jauh darinya dan jangan mengusiknya lagi."


"Tidak, aku hanya akan mempercayai apa yang dikatakannya. Jika memang seperti itu, maka aku harus mendengarnya langsung dari mulutnya."


"Baiklah, kalau itu maumu. Maka aku akan membawamu bertemu dengannya agar kamu bisa menanyakan dan mendengar perkataannya langsung dari mulutnya."


***