Happiness For You

Happiness For You
68 Mengakhiri Hubungan



Pada pagi hari dikeesokan harinya, Kei menelepon Erika untuk menanyakan keadaannya.


Kei : "Apakah kamu baik-baik saja?"


Erika: "Ya, aku baik. Maafkan aku atas kejadian kemarin pagi. Aku terlalu terbawa emosiku hingga aku menamparnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia lebih tenang atau masih bersikap kasar kepadamu?"


Kei : "Jangan khawatir, Erika. Justru sepertinya aku harus berterima kasih padamu karena telah membuat hubungan kami menjadi baik. Adikku telah menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf padaku. Dia sudah jauh lebih tenang dan bersikap baik kepadaku, tidak lagi kasar atau marah-marah."


Erika : "Baguslah kalau begitu."


Kei : "Terima kasih Erika telah membuatnya sadar sehingga dia mau membuka hatinya untuk menerimaku dan tidak lagi marah padaku.


Erika : "Tidak masalah Kak Kei. Hanya saja sekarang sulit bagiku untuk menghadapinya dan bertemu dengannya lagi. Dia pasti marah dan benci padaku. Aku juga merasa sangat bersalah kepadanya."


Kei : "Jangan khawatir Erika, dia tidak marah kepadamu. Dia juga sangat mencintaimu jadi tidak mungkin kalau dia membencimu hanya karena hal kemarin yang kamu perbuat padanya. Bagaimana denganmu? Sepertinya kamu yang marah padanya. Apakah kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu itu yang tidak mau lagi peduli padanya?"


Erika : "Sejujurnya aku memang merasa sangat marah dan kecewa padanya. Sikapnya itu sungguh keterlaluan padamu dan ... Kak Kei ... aku ..." Erika tampak ragu dengan apa yang ingin diucapkannya.


Kei : "Ya, Erika. Ada apa?"


Erika : "...." Erika masih terdiam.


Kei: "Jangan takut padaku. Aku tidak apa, katakan saja. Ada apa?"


Erika : "Kak Kei, maafkan aku atas sikap burukku padamu selama ini. Aku telah salah padamu dan aku sangat menyesal telah menuduhmu ..." suara Erika terdengar seperti sedang terisak dan menangis.


Kei : "Erika, jangan bersedih. Aku tidak pernah menyalahkanmu dan aku juga telah memaafkanmu. Lagipula yang terjadi diantara kita adalah sebuah masa lalu yang tak perlu diungkit lagi. Sekarang, yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan adikku. Katakan yang sejujurnya padaku, bagaimana perasaanmu terhadap adikku? Apakah kamu masih mencintainya?"


Erika : "Tentu saja. Walaupun dia telah mengecewakanku dan membuatku marah, tetapi hatiku tetap tidak berubah."


Kei : "Bagus, kalau begitu aku ingin meminta tolong padamu."


Erika : "Apa itu Kak Kei? Katakan saja, aku pasti akan membantumu."


Kei : "Tapi ini berhubungan dengan adikku. Apakah kamu benar-benar akan membantuku?"


Erika : "Mm ... kalau begitu Kakak katakan dulu nanti baru aku akan mempertimbangkan jawabannya."


Kei : "Seharian ini aku sedang ada urusan dan aku meninggalkannya seorang diri di rumah sakit. Walaupun dia sudah besar, tetapi aku tetap mengkhawatirkannya. Karena dia telah mengalami koma selama hampir 2 minggu sehingga otot-otot tubuhnya menjadi kaku dan masih lemah. Dia memiliki kesulitan untuk menggerakkan anggota tubuhnya dan tidak bisa beraktivitas dengan normal. Sehingga aku memerlukan bantuanmu untuk menemaninya. Setidaknya di siang hari saat jam makan untuk membantunya memakan makan siangnya."


Erika : "Mmm ... tapi ...." Erika tampak ragu. Karena sejujurnya ia masih tidak berani untuk bertemu dengan Rey.


Kei : "Tidak apa Erika kalau kamu tidak bisa. Aku tahu kamu pasti belum siap untuk berhadapan dengannya."


Erika : "Lalu bagaimana dengan adikmu?" Erika merasa bimbang dan juga khawatir.


Kei : "Mungkin aku akan mencari seorang temanku yang wanita lainnya untuk membantu menyuapinya. Baiklah kalau begitu, aku sudahi dulu percakapan ini. Maaf telah menganggu waktumu."


Seorang teman wanita lainnya yang akan menyuapi Rey? Mmm ... Erika membatin dalam hatinya.


Erika : "Kak Kei ...." panggil Erika buru-buru sebelum Kei menutup teleponnya.


Kei : "Ya ...?" tanya Kei sambil mengulas sebuah senyuman dari bibirnya. Sepertinya Kei sengaja mengatakan akan mencari teman wanita lainnya untuk menyuapi adiknya.


Erika : "Kupikir ... ini juga bisa menjadi sebuah kesempatan bagiku untuk berbicara baik-baik dengannya sekaligus memperbaiki kesalahanku dan menghilangkan kemarahannya terhadapku."


Kei : "Jadi, apakah kamu sudah tidak marah padanya dan mau datang untuk menemaninya siang ini?"


Erika mengangguk.


Kei : "Erika?" tanya Kei lagi karena tidak ada jawaban dari Erika.


Erika : "Ehmm iya." jawab Erika tersadar kalau Kei tidak bisa melihat anggukannya.


Kei : "Baiklah, terima kasih Erika."


Taktik Kei berhasil. Akhirnya Erika mau menemani adiknya serta tidak marah lagi pada adiknya.


***


Erika telah sampai di rumah sakit dan sekarang sedang berdiri di depan kamar Rey. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Erika berdiri sejenak di depan kamar untuk mengatur nafasnya dan membuat dirinya menjadi lebih tenang. Kebetulan di dalam sana sedang ada seorang perawat yang sedang berbicara dengan Rey dan Erika bisa mendengar percakapan mereka dari luar sana. Erika lalu menunggu sampai suster itu keluar ruangan barulah ia akan masuk. Karena Erika takut Rey masih marah padanya dan akan memarahinya di depan perawat itu yang nantinya membuat malu dirinya.


"Apakah kamu yakin bisa memakan makananmu sendiri, Tuan Rey?" ucap suster itu dengan sedikit berteriak karena suster itu sedang berdiri di dekat pintu seperti ingin keluar dari ruangan dan berjarak cukup jauh dari Rey.


"Iya aku bisa. Jangan khawatirkan aku." jawab Rey juga dengan suara yang agak kuat agar suster perawat bisa mendengarnya.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Maafkan aku tidak bisa membantumu karena mendadak ada panggilan darurat tersebut."


"Tidak masalah, Sus."


Perawat itu lalu membuka pintunya dan berpapasan dengan Erika yang sedang berdiri di balik pintu di luar ruangan. Ia lalu memberinya senyum sambil menahan pintunya tetap membuka dan mempersilahkan Erika untuk masuk ke dalam ruangan dulu sebelum ia keluar dari ruangan. Erika pun membalas senyumannya dan masuk ke dalam ruangan.


"Terima kasih." ucap Erika dengan pelan dan ramah. Suster itupun mengangguk sambil masih tersenyum padanya.


Ketika sudah berada di dalam ruangan, Erika melihat Rey yang sedang berusaha menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Sepertinya ia terlihat sangat kesulitan karena otot tangannya kaku dan masih lemah sehingga ia harus menggunakan kedua telapak tangannya. Tetapi tetap saja tangannya tidak kuat untuk membawa sendok itu tinggi ke mulutnya dan terlepas dari tangannya saat baru sedikit saja terangkat. Lalu Rey pun berusaha lagi.


"Hai .... " sapa Erika setelah melihat Rey sudah mulai putus asa. Ia lalu berjalan mendekatinya dan ingin membantunya. Sepertinya Rey tidak menyadari saat Erika masuk ke dalam ruangannya tadi sehingga ia terkaget ketika melihat keberadaan Erika di sana. Ia langsung meletakkan kedua tangannya diatas meja dan diam saja, tidak lagi berusaha untuk mencoba. Rey juga tidak membalas sapaan Erika tadi.


Erika tidak mempedulikan diamnya itu dan tetap berjalan menghampirinya.


"Sini biar kusuapi .... "


"Rey, jangan .... " ucap Erika. "Jangan marah lagi kepadaku. Aku minta maaf karena telah memarahimu dan menamparmu dengan sangat keras kemarin."


"Tidak, aku tidak marah kepadamu karena hal itu."


"Aku tahu kamu sedang marah dan aku bisa melihatnya dari sikap dan wajahmu."


"Aku hanya merasa kesal dan marah dengan diriku sendiri."


"Mengapa? Karena tanganmu yang lemah dan tak bertenaga? Itu wajar, karena kamu tak sadarkan diri selama 2 minggu jadi otot-ototmu pasti mengalami kekakuan dan juga menjadi lemah. Nanti juga kamu akan sembuh jika sudah diterapi."


Rey memandangnya sejenak dan kembali membuang mukanya. Ia lalu bertanya tanpa memandang ke arah Erika.


"Untuk apa kamu datang kemari? Pulanglah, kamu tidak perlu mempedulikan diriku. Aku bisa sendiri."


"Aku tahu kamu masih marah kepadaku. Sungguh, maafkan-"


"Sudah kukatakan aku tidak marah kepadamu." Rey membentaknya dengan kasar, kemudian ia menyesalinya dan berkata lagi dengan suara yang lebih lembut. "Jadi jangan meminta maaf lagi kepadaku."


"Lalu mengapa sikapmu begitu kasar dan dingin kepadaku?"


"Karena aku tidak mau kakakku melihat keberadaanmu yang hanya berdua saja denganku saat ini yang nantinya akan membuatnya salah paham dan menjadi sedih."


Erika menganga membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Jadi karena itu?" Lalu Erika membuang mukanya dan memejamkan matanya berusaha mengalihkan perasaan sedih dan kekecewaannya. Kemudian ia membuka kembali matanya, menghela nafasnya panjang, lalu berkata,


"Jangan khawatir, kakakmu yang meneleponku dan memintaku untuk datang menemanimu karena dia sedang ada urusan dan harus pergi meninggalkanmu." Mata Erika memerah dan basah karena merasa hatinya hancur atas sikap Rey yang seperti menolaknya. Ia hanya berdiri mematung di posisinya dengan wajah yang ia alihkan ke samping agar dirinya dan Rey tidak dapat saling bertatap muka.


"Kalau kamu masih mau berada di sini untuk menemaniku maka duduklah." Ucap Rey padanya dengan canggung karena merasa bersalah.


Erika mendiamkannya. Dia sebenarnya ingin sekali pergi meninggalkannya, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Selain karena Kei meminta bantuannya, juga karena ia merasa tak tega untuk meninggalkannya sendirian. Apalagi dirinya melihat sendiri kalau Rey kesulitan ketika menyendokkan makanannya dan tidak bisa untuk memakan makanannya sendiri.


Erika bisa merasakan kalau Rey sedang mengamatinya dan menanti jawabannya. Kemudian Erika mengusap matanya dan menatap kearahnya.


"Kalau kamu masih mau aku berada di sini untuk menemanimu, maka biarkan aku menyuapimu." Suasana hening. Rey tidak menjawabnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dan memanggilkan perawat lain untuk membantumu makan." ucap Erika lagi sambil beranjak pergi.


"Jangan ... Duduklah." cegah Rey dan langsung memintanya untuk duduk.


Erika lalu berjalan mendekatinya dan duduk dibangku yang ada di dekat ranjangnya. Ia lalu mengambil sendok dan mulai menyuapinya. Rey makan dalam diam dan begitu juga Erika yang hanya diam sambil menyuapinya makan. Tetapi pikiran mereka masing-masing saling terhubung. Karena mereka sama-sama teringat akan kenangan di awal pertemuan mereka yang pada saat itu Erika juga menyuapi Rey yang sedang sakit.


Lalu mata mereka tak sengaja saling bertemu dan saling tahu apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Kesedihan. Dan mereka saling menundukkan wajah untuk menghindari tatapan mata masing-masing.


"Aku sudah kenyang." Ucap Rey saat Erika sudah menyuapinya beberapa sendok makanan.


"Kamu sedang tidak nafsu makan atau karena makanannya kurang kamu sukai?"


"Keduanya." Jawab Rey.


"Kalau begitu cepatlah sembuh agar kamu bisa memasak sendiri makanan yang kamu sukai." Rey mengangguk dan Erika memberinya senyuman yang sanagt manis. Yang tanpa disadari, Rey pun ikut tersenyum membalas senyuman Erika tersebut. Setiap melihat senyuman di wajah Erika, hati Rey pasti akan menjadi senang dan secara refleks ia akan ikut tersenyum juga. Sesaat kemudian, mereka berdua sama-sama terdiam lagi.


"Maafkan aku." Tiba-tiba Rey mengucapkan permintaan maafnya pada Erika. Erika hanya mendiamkannya dan ketika Rey berbicara lagi, ia mulai menangis. "Maafkan aku karena telah berbuat kasar kepadamu tadi. Maafkan aku juga karena perkataan kasarku padamu kemarin. Maafkan aku yang telah mempermainkanmu dan menjadikanmu sebagai alat untukku membalaskan dendamku pada kakakku. Maafkan aku yang -"


"CUKUP!" teriak Erika. "Apa kamu pikir aku ke sini karena ingin mendengarkan permintaan maafmu itu padaku?"


"Iya itu benar. Karena aku memang berhutang maaf yang sangat banyak kepadamu. Aku berhutang beribu maaf dan mungkin hingga berjuta maaf padamu. Dan aku tahu, itu juga masih belum cukup untuk menebus semua kesalahanku padamu."


"Tidak, jangan berkata seperti itu. Aku telah memaafkanmu bahkan tanpa perlu kamu mengucapkannya kepadaku. Karena aku mencintaimu dan aku dapat memahami serta menerima semua kesalahan yang telah kamu perbuat padaku sebelum ini."


"Erika, aku tahu ini sulit bagimu, tetapi ini adalah yang terbaik bagi kita bertiga. Jadi, maafkan aku karena harus menyakitimu lagi. Aku berharap kamu benar-benar melakukan apa yang kamu katakan padaku kemarin pagi."


Erika menatap bingung pada Rey karena ucapannya itu.


"Apa maksud ucapanmu itu?" tanyanya dengan bingung.


Rey memandanginya dengan tatapan yang melembut dan berkata, "Tak usah mempedulikanku lagi. Kembalilah pada kakakku dan lupakanlah aku."


Erika membelalakkan matanya membesar hingga membulat sempurna. Airmatanya tak bisa dibendung lagi dan langsung bertumpahan keluar dengan deras seperti keran air yang bocor.


Rey mengusap airmatanya yang bertumpahan dan berkata, "Erika, jangan menangis. Aku mohon padamu. Maafkanlah aku .... "


Namun Erika menepis tangannya dan menarik nafasnya panjang agar ia bisa berbicara. Lalu dengan sesenggukan dan suara yang terputus-putus, ia berkata,


"Kamu pikir ... dengan ucapan maafmu ... itu ... kamu bisa ... membuat ... luka dihatiku ... sembuhhh ....."


Hati Rey ikut merasa sedih dan juga perih melihat wanita yang dicintainya mengeluarkan airmata dengan begitu deras saat berada didekatnya dan itu semua karena perbuatannya sendiri pula. Ingin sekali ia memeluk wanita yang sedang menangis didepannya itu dan menghabisi dirinya sendiri.


"Erika ... Pukullah aku dan tampar aku sesukamu." Dengan bersusah payah Rey meraih tangan Erika untuk memukuli wajahnya dengan tangan Erika itu. Erika menarik tangannya agar terlepas darinya.


"Atau kamu bisa menusukku dengan pisau tajam dan tusuklah langsung ke jantung-"


Plakk! Erika menamparnya lagi namun pelan saja. "Mengapa tidak kamu saja yang melakukannya padaku? Tusuk hatiku dengan pisau tajammu sehingga luka dihatiku ini bisa menghilang dan tergantikan dengan luka tusukan darimu yang juga membekas di situ sehingga aku dapat selalu mengingatnya dan tidak lagi memikirkanmu." teriak Erika padanya. Lalu Erika berlari pergi meninggalkannya dengan airmatanya yang berlinangan.


Tubuh Rey terjatuh lemas mendengar ucapan Erika kepadanya dan dadanya terasa sesak.


Dengan segala perjuangan dan pengorbanan yang Erika lakukan terhadapnya selama pria yang dicintainya itu dalam keadaan kritis dan koma, dan kini pria itu mengatakan untuk kembali kepada kakaknya dan melupakannya.


Apakah dia pikir hatiku ini hanyalah hiasan belaka dan diriku hanyalah sebuah boneka yang bisa dibuat main secara bergiliran. ucap Erika dalam hatinya dengan marah.


***