
"Bukankah kamu bilang Alice bisa membuat Erika pergi dari rumah itu? Tapi apa hasilnya? Erika masih tetap berada di rumah itu bahkan jadi terluka karenanya." Terdengar suara Kei yang sedang menelepon seseorang. "Sebaiknya kita hentikan saja semua rencanamu itu. Aku rasa lebih baik aku memberitahukan kepada orangtua Erika keadaan yang sebenarnya dan menggunakan jalur yang benar dengan melaporkannya ke pihak yang berwenang." Selesai berbicara, Kei memutuskan jaringan teleponnya.
Kabuto yang adalah lawan bicara Kei, menjadi geram dan marah. Bukan saja strateginya gagal, tetapi aliansinya pun marah dan memutuskan hubungan ini.
"Sepertinya aku harus bergerak cepat dan segera bertindak sendiri." gumamnya dengan geram.
***
Kondisi Erika sudah membaik. Luka bakarnya sudah hampir sembuh. Walaupun dia sudah mau makan dan minum seperti biasa, tetapi dia masih tetap tidak mau berbicara sepatah kata pun. Rey pikir keadaan ini cukup baik baginya.
Tetapi pagi ini berbeda. Saat Rey sedang sarapan di ruang makan, Erika mendatanginya dan berkata, "Persediaan makanan di kulkas sudah tinggal sedikit. Bolehkah aku pergi berbelanja?" Erika berbicara tanpa menatapnya.
"Kamu sudah tahu kan kalau aku sedang mengurungmu. Tentu saja aku tidak akan mengijinkannu untuk pergi."
"Bukankah kamu mengurungku akibat kesalahanku yang teledor hingga membuat orang asing masuk ke rumahmu. Mau sampai kapankah kamu akan mneghukumku dengan mengurungku terus-terusan seperti ini?"
"Itu terserah padaku." Erika mulai merasa jengkel. Sudah beberapa hari dia bertahan dengan hanya berdiam diri. Tetapi dia menyadari pria ini bukanlah tandingannya. Kekerasan tidak bisa digunakan untuk melawannya. Erika berpikir untuk mencoba cara yang lembut dan memelas.
"Aku mohon. Kamu bisa menugaskan anak buahmu untuk menjagaku. Aku janji aku tidak akan macam-macam." Erika memohon padanya secara lembut dan halus.
Melihat Erika yang mau berbicara lagi dan juga memohon padanya seperti itu, Rey pun akhirnya mau mengijinkannya. Rey bepikir walaupun Erika mencoba untuk kabur tidaklah mudah baginya untuk melakukannya karena ada anak buahnya yang menjaga dan mengawasinya.
"Aku akan memilihkan sayur dan buah-buahan yang segar untukmu." ucap Erika dengan ceria saat akan pergi.
"Hmm.." Rey hanya menggumam, tetapi dalam hatinya dia merasa senang.
Erika memang tidak berniat untuk kabur. Setidaknya bukan sekarang. Dia harus bermain cantik dengan mengambil hati Rey dan membuatnya percaya padanya. Setelah Rey percaya dan mengijinkannya untuk bebas berpergian kemanapun dengan mudah, barulah dia akan mencari waktu yang tepat untuk kabur.
Setibanya di pasar, Erika merasa senang. Kesenangannya itu karena akhirnya ia mendapat kebebasan. Ia bisa keluar dari rumah dan menikmati udara segar di luar. Dia berjalan dengan setengah berlari untuk masuk ke dalam area pasar. Ryota dan Sato yang menemaninya ikut segera berlari mengejarnya.
"Hahaha.. Kalian tenang saja, aku tidak akan kabur. Aku hanya sudah tidak sabar ingin segera masuk dan melihat-lihat keramaian di pasar. Karena selama ini aku sudah sangat bosan sekali hanya melihat bos mu yang bertampang dingin dan menyeramkan itu."
Mereka berdua pun ikut tertawa mendengar ucapan Erika. Walaupun Erika sedang menjelek-jelekkan bos mereka, tetapi mereka bisa merasakan perasaan bosan Erika. Karena mereka sangat mengenal bos mereka yang dingin dan kaku itu. Pastilah sangat bosan jika harus berhadapan dengan bosnya selama beberapa hari.
Karena Ryota pintar dalam memilih daging dan ikan, sedangkan Erika tidak suka ke area itu karena berbau dan kotor mereka pun berpisah. Dengan Erika bersama Sato pergi ke area sayur dan buah-buahan. Tanpa mereka sadari, di kejauhan ada beberapa orang yang diam-diam mengikuti mereka.
Erika dan Sato sudah selesai berbelanja, mereka lalu berjalan keluar. Tiba-tiba sekelompok pria berbaju hitam yang daritadi mengikuti mereka datang menyergap mereka. Salah satu dari mereka memukul pundak Sato dari belakang dan yang lain membekap mulut Erika dengan saputangan yang sudah diberi obat bius yang membuat Erika pingsan seketika. Kemudian mereka membawa Erika pergi dan meninggalkan Sato yang tersungkur pingsan di luar pasar.
Dari kejauhan, Ryo melihatnya ia pun segera mengejar mereka.
"Hei apa yang kalian lakukan?" teriaknya sambil berlari. Namun dia tidak berhasil mengejarnya. Rombongan itu telah pergi dengan membawa Erika. "Sato.. Sato bangunlah.. Apa yang terjadi?"
"Ryota.." Sato terbangun dan melihat di sekelilingnya. "mana nona Erika?" tanyanya panik.
"Gawatt.." teriak Ryota panik. "Aku akan menelepon bos dulu"
"Bos..Maafkan kami bos, nona Erika.."
"Ada apa dengannya? Apakah dia kabur?"
"Tidak, dia...dia dibawa pergi oleh sekelompok orang.."
"Apa?!!" Rey nampak terkejut dan marah saat mendengarnya. "Lalu apa yang kalian lakukan? Cepat kejar mereka."
"Ba..baik Bos.." Ryota menutup panggilannya.
"Ayo Sato, kejar mereka.."
***
Sato dan Ryota kehilangan jejak dari mobil minibus yang membawa Erika pergi. Mereka lalu berhenti di depan sebuah gudang yang berukuran cukup luas. Letak gudang tersebut cukup terpencil dan sangat sepi. Mereka menduga bahwa komplotan itu membawa Erika ke gudang ini.
"Halo Bos" Sato mengangkat panggilan telepon yang berasal dari Bos nya.
"Kami kehilangan jejak mereka. Ta..tapi kami menemukan ada sebuah gudang berukuran besar yang nampak sepi dan kosong didekat sini."
"Baiklah, kirimkan aku posisi letak gudang tersebut."
Dengan cepat Rey mengemudikan mobilnya ke lokasi tempat gudang itu berada. Setibanya di lokasi, Rey menelepon anak buahnya. "Kalian berjaga saja di luar. Biar aku sendiri yang mengeceknya."
"Baik Bos."
Rey turun dari mobilnya dan berjalan perlahan sambil mengawasi daerah sekitar gudang tersebut. Gudang itu berukuran besar dan sangat luas dengan begitu banyak tumpukan dus dan kotak-kotak penyimpanan. Gudang itu terlihat sepi. Pandangan Rey menyapu seluruh ruangan itu. Tetapi dia tidak menemukan satu orang pun di sana.
Setelah mengitari hampir seluruh isi gudang, Rey lalu memutuskan untuk keluar. Wajahnya nampak cemas dan juga penuh kemarahan. Anak buah Rey segera turun dari mobil untuk menghampirinya.
"Bagaimana Bos?" tanya Sato.
Rey hanya memelototi mereka dengan marah. "Kita telah tertipu. Mereka tidak membawa Erika ke sini."
Sato dan Ryota saling berpandangan dengan terkejut. "Bagaimana ini?" gumam Sato pada Ryota.
Ryota hanya mengangkat bahunya, tidak tahu. Lalu mereka memandang ke arah bos mereka dengan takut. Kemudian bos mereka pergi meninggalkan gudang tersebut dan mereka mengikutinya.
Tepat di belakang gudang, terdapat sebuah rumah. Dari dalam rumah tersebut Kabuto mengintip keluar melalui jendela. Dia melihat mobil Rey dan anak buahnya yang telah pergi. Dia pun tersenyum menyeringai dengan penuh kemenangan. Sepertinya rencananya kali ini akan sangat sukses.
Di dekat pria itu berdiri, terlihat Erika yang sedang dalam posisi duduk bersandar di sebuah kursi kayu. Ia sudah tersadar dari pengaruh obat bius yang diberikan padanya tadi saat di pasar. Erika terus berteriak dan meronta berusaha melepaskan dirinya. Namun tangan dan kakinya terikat dengan seutas tali. Begitu juga mulutnya yang ditutup dengan menggunakan plester agar suara teriakannya tak dapat terdengar keluar.
Kabuto mengenakan penutup wajah dikepalanya dan mengeluarkan hp dari sakunya. Kemudian Kabuto menelepon Rey dengan nomor yang tersembunyi sehingga Rey tidak dapat mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Halo?" terdengar suara Rey menjawab panggilan telepon tersebut.
"Tuan Rey, jika kamu ingin menyelamatkan wanita itu, datanglah ke alamat ini sore nanti."
"Siapa ini?"
"Siapa aku tidak penting. Yang terpenting adalah kamu datang tepat waktu dan sendirian."
"Siapa wanita yang kamu maksud? Dan mengapa aku harus menyelamatkannya?"
"Hmm.. Baiklah, dengarkan ini."
"Bicaralah. Katakan sesuatu pada bosmu itu."
"Bosku? Dia adalah penculikku. Apa kalian pikir dia mau datang untuk menyelamatkanku? Mengapa.."
Si penelepon langsung menutup mulut Erika lagi. "Diam dan jangan berbicara sembarangan.."
"Kalian sudah dengar sendiri kan? Aku tidak akan menyelamatkannya karena dia tidaklah penting bagiku." Rey berbicara dari sebrang telepon.
"Benarkah kamu tidak akan peduli padanya? Bagaimana kalau aku melakukan ini padanya.."
Plakk. Si penelepon menampar wajah Erika. Rey mendengar suara teriakan Erika yang tertahan karena mulutnya ditutup. Tetapi Rey segera mematikan panggilan telepon itu.
Erika mendengar apa yang Rey katakan dari sebrang telepon. Rey juga adalah penculiknya. Mana mungkin dia menyelamatkan dirinya dari penculik lain. Walaupun dalam hatinya dia tahu Rey tidak akan datang menyelamatkannya, tetapi tetap saja Erika merasakan kesedihan di dalam hatinya. Apalagi ketika Rey mematikan teleponnya. Dia pun mulai merasa takut dan menangis.
Dalam hatinya dia bertanya-tanya, mengapa dia selalu mengalami hal buruk seperti ini. Padahal selama ini dia selalu berbuat baik dan tak memiliki musuh. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahan yang telah diperbuatnya hingga mengalami penculikan berkali-kali. Lantas sekarang, siapakah yang akan datang untuk menyelamatkannya?
Si penelepon merasa marah dan geram. Dia tak menyangka kalau Rey benar-benar pria berhati dingin. Bahkan seorang wanita yang telah tinggal lama dengannya pun tidak ia pedulikan. Usahanya kembali sia-sia. Tetapi tentu saja dia tidak akan tinggal diam membiarkan apa yang telah dia lakukan menjadi sia-sia. Dia lalu berencana untuk menelepon Kei dan meminta sejumlah uang sebagai tebusan agar ia melepaskan kekasihnya tersebut.
***