Happiness For You

Happiness For You
85 Bertemu Orang Tua Erika 2



Sebenarnya Rey sudah merasa lututnya sakit dan kakinya keram. Belum lagi memar dibahunya juga ikut menambah rasa sakit ditubuhnya.


"Nak, sebaiknya kamu bangunlah dulu. Kamu tahu, Ayah Erika itu orang yang sangat keras tabiatnya. Kamu tidak akan menang melawannya. Lebih baik sekarang kamu bangun dan menyerah saja. Tetapi kalau kamu masih belum mau menyerah juga, maka kamu masih bisa datang lagi besok untuk menghadapinya lagi."


"Tidak Tante, saya tidak akan menyerah. Saya akan terus memohon seperti ini hingga Paman mau memaafkan dan memberi ijinnya. Tante, bagaimana denganmu? Apakah Tante mau memaafkan saya dan memberi ijin Tante agar saya bisa bersama dengan putri Tante?"


"Nak, sebenarnya pada awalnya Tante tidak menyukaimu dan juga marah terhadapmu. Namun Erika sudah menceritakan dan menjelaskan semuanya. Jadi Tante tahu apa yang kamu lakukan hanyalah kesalahpahaman saja. Kamu tidaklah bersalah karena kamu memang tidak pernah menculik atau membawanya kabur. Melainkan dia sendiri yang memaksamu untuk membawanya pergi. Bahkan kamu juga telah beberapa kali menyelamatkannya." Rey mengangguk dan tersenyum pada ibu Erika dengan wajahnya yang masih bersedih.


"Apalagi sekarang setelah melihat wajahmu yang tampan dan juga senyummu yang tulus itu. Jujur, Tante menjadi menyukaimu. Hanya Ayah Erika saja yang keras kepala yang masih terus menyalahkan dirimu dan menganggapmu buruk karena identitasmu yang seorang gangster."


Wajah Rey sudah berpeluh dan lutunya semakin terasa sakit dan kakinya keram. Ia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sehingga ia tidak dapat fokus mendengar setiap perkataan yang diucapkan oleh ibu Erika.


"Nak Rey, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu sudah memucat. Sebaiknya kamu berdiri, jangan memaksa dirimu seperti ini. Tante takut dan khawatir melihat keadaanmu."


"Aku baik-baik saja Tante, aku masih bisa bertahan. Tante jangan khawatir."


Seandainya saja Kei melihat apa yang sedang dilakukan adiknya dan


yang sedang dialami adiknya itu, dia pasti akan sangat marah besar terhadap mereka.


Erika mondar mandir dengan gelisah di kamarnya. Sudah 20 menit berlalu sejak ia meninggalkan Rey ke kamarnya.


Ibu Erika pergi meninggalkan Rey sendirian untuk mencari ayah Erika dan berbicara dengannya.


"Ayah, anak muda itu sepertinya sudah terlihat kelelahan karena terus dalam posisi berlututnya. Ayah sebaiknya keluar menemuinya untuk menyuruhnya bangun dan berhenti berlutut. Aku takut dia tidak kuat bertahan dan pingsan di rumah kita. Lagipula memangnya Ayah tidak luluh melihat usaha dan kegigihannya?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan dia bersama putri kita."


"Tetapi mengapa ayah berkeras seperti itu? Bukankah dia sudah meminta maaf dan juga mau berusaha untuk menebus kesalahannya? Lagipula kita juga sudah tahu, selama ini dia tidak pernah melakukan hal buruk yang selalu kita tuduhkan kepadanya. Dia bahkan telah berkali-kali menyelamatkan anak kita."


"Tetapi dia seorang gangster. Kamu tahu kan apa itu artinya. Bagaimana buruk dan gelapnya kehidupan yang dijalaninya itu?"


"Ayah, kurasa sebaiknya kita keluar dulu. Aku merasa khawatir dan cemas dengan keadaannya. Biarkan kita memikirkan masalah itu nanti lagi saja."


Ayah dan Ibu Erika lalu kembali mendatangi Rey. Ibu Erika terkejut melihat Rey yang wajahnya semakin pucat dan sudah basah karena keringatnya. Tetapi dia masih tetap bertahan dalam posisinya itu walaupun dari wajahnya tampak ia sudah kelelahan.


"Nak Rey, apa kamu baik-baik saja?" Ibu Erika bertanya dengan memegangi tubuhnya.


"Tante ...." panggilnya lirih. "Aku tidak apa-apa." Jawabnya dengan suara lemah. Seandainya bahu Rey tidak sedang memar, keadaannya mungkin tidak akan selemah ini.


"Ayah, ayo cepat maafkan dia dan beri ijinmu."


Ayah Erika tampak gusar tetapi dia juga tidak tega melihat kondisi Rey yang seperti sudah hampir pingsan. Lalu akhirnya ia pun memberi maaf dan ijinnya.


"Baiklah, aku memaafkanmu dan memberikan ijinku padamu untuk bisa bersama dengan putriku."


Rey menatap Ayah Erika dan langsung tersenyum dengan senang.


"Terima kasih, Paman."


"Ayo, bangunlah, Nak." Ibu Erika membantunya untuk berdiri tetapi kaki Rey keram sehingga ia kesulitan untuk berdiri dan hampir saja terjatuh. Belum lagi tubuhnya yang tinggi sehingga ibu Erika agak kewalahan. Ayah Erika pun akhirnya ikut turun tangan untuk membantu memapahnya ke sofa didekatnya.


Ibu Erika memberinya minum dan begitu perhatian padanya. Ia mengambil beberapa helai tisu dan memberikan pada Rey untuk mengelap peluhnya.


"Tante panggilkan Erika dulu ya."


Erika segera berlari keluar dan langsung merangkul pundak Rey dengan begitu erat.


"Rey ..."


"Akh ...." Rey mengaduh pelan.


"Ada apa Rey?" Tanya Erika panik.


"Tidakk .... " Rey menggeleng. Erika membuka lebar kerah baju Rey dan mengintip ke dalam bahunya.


"Bahumu sedang terluka?" Rey mengangguk.


"Bagaimana bisa?"


"Kecelakaan kecil saat aku bekerja."


"Ohh ... tapi sepertinya memarmu cukup besar."


"Tidak apa, itu sudah hampir membaik. Kakakku sudah membantu mengobatinya kemarin malam."


"Kalau begitu, aku akan mengobatinya lagi. Tunggu aku ambilkan obatnya dulu."


Saat Erika sudah mengambil obat dan ingin mengolesinya, Erika menjadi bingung karena itu berarti Rey harus membuka pakaian atasnya. Ayah dan Ibu Erika yang masih ada disitu melihatnya. Ibu nya pun menatap ayahnya sambil tertawa. Kemudian, ayahnya maju dan menawarkan diri untuk membantu mengolesinya.


"Sini, berikan pada Ayah." Erika menatap bingung dan dengan takut-takut memberikan obatnya pada ayahnya.


"Paman, biar aku sendiri saja ..."


"Tidak apa. Ayo kita ke ruang kerjaku. Sekalian ada yang ingin kubicarkakan  padamu."


"Bukalah baju atasanmu itu." Perintah Ayah Erika padanya setelah mereka berada di ruang kerjanya. Rey menurutinya. Mereka lalu duduk di sofa yang ada disitu.


Ayah Erika cukup terkejut ketika melihat punggung Rey yang memiliki tato berbentuk naga yang berukuran cukup besar dan juga dua bekas luka tembak yang masih belum terlalu lama sembuh. Ia menduga bahwa luka itu terjadi akibat insiden yang baru-baru ini terjadi dan melibatkan putrinya yang ikut diculik.


Ia lalu bertanya padanya,


"Apakah kamu tahu mengapa aku melarangmu berhubungan dengan anakku?"


"Karena aku pria brengsek yang sering menyakitinya dan membuat hatinya terluka?"


Rey memberinya sebuah anggukan.


"Sekarang, melihat bahumu yang terluka seperti ini pasti karena kamu berkelahi lagi. Dengan keadaanmu yang selalu dalam bahaya dan selalu terlibat dalam perkelahian karena dirimu adalah seorang gangster, apakah kamu dapat menjamin keselamatan putriku jika dia bersamamu?" Ayah Erika telah selesai mengolesi salepnya pada memar di bahu Rey.


Rey membalikkan tubuhnya agar menghadap ke Ayah Erika. Ayah Erika menatapnya dengan tatapan yang melembut dan tidak lagi dengan penuh emosi serta kemarahannya. Rey juga menatapnya dan mendengarkan dalam diam.


"Aku bisa melihat dan merasakannya kalau kamu sangat menyayangi putriku dan dengan tulus mencintainya. Kamu juga seorang yang berkemauan keras dan gigih. Namun memikirkan identitasmu yang sebagai seorang gangster, membuatku takut dan khawatir akan keselamatan putriku. Oleh karena itu, aku minta padamu untuk menjauhi putriku.


Aku tahu cara kekerasan tidak bisa berlaku bagimu, jadi aku bersedia menggunakan cara halus dengan merendahkan diriku dan memohon -"


"Paman ... " cegah Rey segera sebelum ayah Erika mengatakan permohonannya padanya. "Aku tahu akan kekhawatiran dan ketakutan yang Paman rasakan. Tetapi sebelumnya, aku ingin menjelaskan dulu pada Paman bahwa lukaku ini bukan karena berkelahi. Selain itu, aku sudah terbebas dari kehidupanku yang kelam dan penuh kegelapan itu."


"Jadi maksudmu, kamu sudah bukan seorang gangster lagi?" Rey memberinya anggukan. "Lalu bagaimana dengan luka memar ini?"


"Aku mengalami kecelakaan kecil saat bekerja."


"Apa pekerjaanmu sekarang hingga bisa mendapat luka memar seperti itu?"


"Aku seorang koki dan luka memar ini kudapat karena kurang berhati-hati saat menyusun barang-barang digudang sehingga salah satu dus yang cukup berat terjatuh dan menimpaku."


"Berarti hidupmu cukup berat juga karena harus melakukan pekerjaan berat seperti itu. Mengenai status gangstermu itu, apa mungkin kamu bisa dengan begitu mudah melepasnya dan bisa benar-benar terbebas dari orang-orang itu?"


"Ya, berdasar peraturan masih bisa tetapi harus menjalani hukuman."


"Hukuman? Pasti itu hukuman yang berat dan kamu berhasil melewatinya? Karena yang kudengar biasanya itu sulit untuk keluar dari kehidupan mereka apalagi dalam keadaan hidup dan baik-baik saja seperti dirimu."


Rey hanya memberinya senyum dan tidak menjawabnya.


"Tetapi, mengapa dulu kamu ikut bergabung menjadi anggota mereka dan mengapa sekarang kamu keluar?"


Rey terdiam sejenak. Ia sedang kebingungan dan kesulitan untuk menjawab pertanyaan ayah Erika karena itu terlalu rumit dan kompleks untuk diceritakan.


"Ehmm ... itu memiliki cerita yang cukup panjang." Jawab Rey sedikit ragu.


"Maaf, aku terlalu banyak bertanya dan membuatmu bingung."


"Tidak Paman, itu wajar. Aku menyadari diriku memang terlalu memiliki banyak rahasia kelam dan juga bermasalah." Ayah Erika mengangguk kecil menyetujui dengan wajah yang tampak serius dan penasaran ingin mendengar jawabannya.


"Baiklah, aku akan menceritakan secara singkat saja. Begini, dulu saat aku remaja, aku pernah secara kebetulan menolong seorang anak remaja perempuan yang sedang diculik. Yang ternyata perempuan itu adalah putri dari ketua mafia. Kemudian ketua mafia itu mengangkatku menjadi anaknya. Lalu aku pun secara tidak langsung bergabung dan menjadi bagian dari mereka." Wajah ayah Erika masih tampak serius seperti ingin terus mendengarkan Rey yang sedang berbicara. Rey lalu melanjutkannya.


"Tetapi sebenarnya itu bukan kehidupan yang kumau. Sehingga ketika akhirnya aku berkesempatan untuk menemukan kakakku dan mendapatkan kembali identitasku, maka aku memutuskan untuk keluar dari kehidupan tersebut dan menjalani kehidupan baruku sebagai orang biasa."


Ayah Erika masih terdiam mendengarkan omongan Rey dan Rey juga tidak memiliki sesuatu hal lagi untuk diceritakan. Kemudian setelah hening beberapa saat, ayah Erika kembali bertanya, "Apakah pemimpin mafia yang juga ayah angkatmu itu adalah Tuan Yoshiro, seorang ketua mafia yang paling ditakuti?"


"I-iya ..." jawab Rey ragu-ragu karena dia tidak mau ayah Erika semakin kaget dan merasa ngeri mendengar kenyataan yang terlalu banyak dan menakutkan baginya. "Tapi Tuan Yoshiro adalah seorang mafia yang baik. Walaupun ia tampak menakutkan dan ditakuti banyak orang. Tetapi dia tidak sejahat apa yang orang pikirkan."


"Hmm ... kamu sepertinya sedang membelanya. Apa mungkin karena kamu sangat menyayanginya?"


"Tidak, Paman. Aku bukan bermaksud membelanya aku hanya ingin agar Paman tidak merasa takut ataupun ngeri mendengar apa yang kuceritakan pada Paman tentangnya."


"Apakah dia juga sangat menyayangimu? Kudengar dari Erika, dia meminta bantuan dari ayah angkatmu untuk  menyelamatkanmu saat kasus penembakan yang terjadi padamu itu."


"Benar, Paman, ayah angkatku yang telah menyelamatkanku. Tetapi Paman jangan khawatir. Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan ayah dan anak. Dia telah memutuskan hubungan kami saat aku keluar." Saat mengatakannya, terlihat sekilas ada kesedihan di mata Rey. "Jadi jangan khawatir ini akan mempengaruhi hubunganku dengan Erika." Rey mengetahui ketakutan dan kekhawatiran ayah Erika, yang berarti bahwa putrinya itu secara tidak langsung berkaitan dengan sang ketua mafia tersebut karena menjalin hubungan dengan seorang anak angkat dari mafia.


"Ternyata kamu pintar juga. Kamu bisa mengetahui apa yang kutakutkan dan kukhawatirkan." Rey kembali hanya memberinya seulas senyuman dan tidak mengatakan apapun.


"Kamu tahu, melihat aksimu tadi mengingatkanku akan sosok seseorang yang kukenal. Dia adalah ayah dari Bosku."


Bahu Rey langsung menegang mendengar apa yang Ayah Erika katakan.


"Namanya Ryuu Takahiro." Mata Rey langsung membesar dan membulat sempurna karena keterkejutannya. Tanpa disangkanya, airmatanya akan langsung tumpah keluar begitu nama mendiang ayahnya disebut didepannya.


"Nak, ada apa? Mengapa kamu menangis?" 


Rey langsung mengusap airmatanya.


"Tidak, Paman." Jawabnya sambil menggeleng.


"Apakah kamu mengenalnya?"


Airmata Rey kembali mengalir keluar. Dengan suara lirih Rey menjawab, "Dia ... dia ayahku ...." dan airmatanya kembali berlinangan lagi. Ia buru-buru mengusapnya dan berusaha menahan kesedihannya.


Ayah Erika juga tak kalah terkejutnya saat mendengar jawaban Rey.


"Ka-kamu ... kamu adiknya Kei?" Rey mengangguk mengiyakan.


"Astaga, Nak. Mengapa kamu tidak mengatakannya daritadi padaku? Pantas tadi Erika menyebut Kei dan mengatakan ia akan marah padaku."


"Maaf aku tidak mengatakannya, tapi aku ingin Paman memandang dan menerima diriku yang seutuhnya bukan karena pengaruh dari kakakku atau keluargaku."


"Aku mengerti. Kamu memang berkarakter dan sangat menyerupai ayahmu."


"Apakah Paman sangat dekat dengan ayahku?"


"Tentu saja, aku dulu adalah asisten pribadinya. Nak, ayahmu sangat kehilanganmu dan ibumu. Saat kalian menghilang, ayahmu sangat sedih hingga ia menjadi sakit-sakitan. Aku ingat dulu ketika melihat Erika, ayahmu pasti akan teringat dengan anak bungsunya. Dia sering berkata 'Seandainya aku tahu dimana anakku berada, aku akan menjodohkannya dengan putrimu.'. Karena usiamu dengan Erika sepantaran. Ternyata apa yang diinginkannya terwujud. Kalian dapat saling mengenal dan saling mencintai." Wajah Rey tampak merenung dan sedih. Selama ini ia tidak pernah melihat dan mengenal sosok ayahnya. Dia hanya pernah bertemu dengan ayahnya saat masih sangat kecil dan ia sudah tidak mengingatnya lagi.


"Lalu mengapa dia tidak pernah berusaha mencari istri dan anaknya yang menghilang itu?" Rey bertanya dengan wajah merenungnya dan tatapan yang memandang jauh ke arah depannya.


"Karena kakekmu adalah sosok yang sangat berpengaruh dan berkuasa. Dia adalah seorang yang sangat keras dan seorang yang tidak dapat kamu tentang perintahnya. Bayangkan itu seperti menghadapi dirimu dan kakakmu sekaligus. Sedangkan menghadapimu sendiri saja aku sudah kewalahan. Apalagi bagi ayahmu yang saat itu sedang lemah dan sakit-sakitan. Selain itu dia juga memikirkan nasib kalian yang mungkin akan lebih buruk jika ia tetap memaksa menentang perintah ayahnya."


Wajah Rey kini berubah menjadi penuh kemarahan dan tidak suka terhadap kakeknya.


***