
Hp Ryota berbunyi. Itu adalah panggilan telepon dari Rey yang memerintahkan mereka untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Mereka lalu berjalan masuk dan berdiam diri di ruang depan. Ryota dan temannya yang berkacamata yang selalu bersebelahan dan berdampingan, melihat ke sekeliling ruangan. Biasanya bos mereka akan menunggu kedatangan mereka disitu. Karena bosnya tidak suka dan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke rumahnya selain di ruang depan. Hal itu juga yang membuat mereka takjub saat melihat keberadaan Erika di dalam rumah ini bahkan sampai membukakan pintu untuk mereka.
Erika menyadari bahwa mereka sedang mencari sosok bos mereka yang tak terlihat di ruang itu. Erika lalu memberitahu mereka. "Dia..ada di ruang..keluarga" Erika berkata takut-takut.
Rombongan itu berjalan masuk ke dalam, dengan Erika mengikuti dari belakang. Tetapi setelah berada di ruang tengah, Erika memisahkan diri dari mereka. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur yang tadi telah dia gunakan untuk tidur. Erika memutuskan untuk segera pergi dari rumah ini.
Sebelum pergi, Erika membereskan dan merapihkan kamar tersebut agar Rey bisa kembali menggunakan kamarnya untuk berbaring dan beristirahat dengan lebih nyaman dibanding berbaring di sofa. Selesai merapihkan kamar, Erika memasukkan handphone miliknya ke dalam tasnya yang berukuran mini, kemudian menyampirkan tali tasnya ke bahu kanannya dan berjalan keluar kamar.
Di waktu yang bersamaan, rombongan anak buah Rey yang sudah tiba di ruang tamu, langsung terkejut saat melihat kondisi bosnya yang sedang berbaring di sofa dengan tubuh dan wajah yang terluka parah.
"Bos.!"
"Bos..."
Hampir secara serempak mereka memanggil-manggil bosnya. Tetapi hanya Ryota yang berani untuk berdiri lebih dekat padanya untuk bertanya pada bosnya. Sedangkan yang lain, segera berdiri secara berjajar ke belakang untuk berbaris dengan rapih dalam 2 barisan.
"Bos..? Apa yang terjadi padamu? Siapa mereka yang berani memukulimu hingga menjadi seperti ini?" Ryo bertanya dengan geram, ingin rasanya segera menemukan orang yang telah memukuli bosnya untuk membalas perbuatan mereka dengan menghajar dan mematahkan tulang mereka hingga memiliki luka yang lebih parah dari bosnya itu.
"Ryo, aku tidak apa-apa. Mereka hanya preman-preman kecil yang mudah untuk ditangani. Setelah tubuhku pulih kembali, aku sendirilah yang akan membereskan mereka." Walaupun Rey berbicara dengan nada dingin dan matanya menggelap, tetapi tidak terlihat ada kemarahan di sana. Karena sesungguhnya, Rey ingin membebaskan dan melepaskan para pelaku pengeroyokan itu.
Rey yang mengetahui siapa dalang dari peristiwa pengeroyokan ini dan apa motif dibaliknya, merasa tidak ada habisnya jika dendam ini terus dibalaskan yang akan kembali berulang. Karena pelakunya adalah seniornya sendiri dan Rey tidak mau perselisahan antara dirinya dengan seniornya itu malah berujung menciptakan malapetaka bukan hanya bagi dirinya dan gengnya, mainkan berujung menciptakan malapetaka bagi jaringan yang termasuk dalam kelompok besar mafia yang mereka naungi.
Tuan Yoshiro, Bos besar mereka, yang sekaligus adalah ayah angkatnya selalu berpesan dan melarang adanya konflik internal karena itu akan merugikan seluruh anggota kelompok mereka termasuk ayah angkatnya. Selama puluhan tahun, ayah angkatnya berjuang dengan bersusah payah untuk membentuk dan mengumpulkan anggota yang solid dan saling setia kepada sesama anggota. Sehingga kelompok mafia mereka bisa menjadi besar dan paling ditakuti saat ini. Jadi, Rey tidak ingin kelompok mereka itu menjadi hancur dan rusak hanya karena dendam pribadinya saja.
"Apakah bos sudah tahu siapa pelakunya?" Rey menggangguk. "Lalu, apakah alasan mereka melakukan penyerangan dan pengeroyokan disaat bos sedang sendirian? Apakah karena wanita itu?" Kebetulan saat itu Erika sedang berjalan melintasinya dan rombongannya. Erika lalu berhenti di paling belakang barisan mereka dan berdiri di sana seperti sedang bersembunyi.
Rey mendongakkan kepalanya ke arah belakang barisan untuk melihat sosok Erika. Lalu para anak buahnya yang berbaris di belakang menggeser sedikit tubuh mereka dan sosok Erika pun dapat terlihat.
Rey telah melupakan keberadaan Erika dan sekarang dirinya kembali teringat dengan kehadiran wanita itu yang ternyata masih belum pergi dari rumahnya.
Ternyata ia masih ada di sini. Berarti..dia telah mengetahui identitasku, pikir Rey dalam hatinya.
Rey memandangnya dengan tatapan menyelidiki. Ia ingin tahu apa yang dipikirkan wanita itu setelah mengetahui identitas dirinya yang adalah seorang gangster. Seharusnya Rey tidak perlu mempedulikan akan apa yang Erika pikirkan. Karena memang biasanya dia seperti itu, cuek dan tak peduli.
Tetapi, Rey mengetahui bahwa wanita itu sangat penakut dan juga memiliki wajah yang selalu penuh ekspresi. Jadi ia penasaran dan tertarik untuk melihat yang terjadi pada wanita itu saat ini. Menyadari wanita itu bersembunyi di belakang anak buahnya, sepertinya dia memang sedang ketakutan. Karena rombongan anak buahnya itu berbadan besar dan bertato yang pasti terlihat menyeramkan bagi gadis kecil mungil seperti dirinya. Tetapi, mengapa dia masih berlama-lama disini dan tidak segera pergi saja dari rumahnya.
Sekilas mata mereka saling bertatap-tatapan dan membuat mereka sama-sama merasa canggung. Kemudian keduanya saling mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menghindari tatapan satu sama lainnya.
"uhukk..uhukk.." Tiba-tiba Rey merasa tubuhnya terasa dingin seperti meriang dan ada rasa tak nyaman yang mengganggu di tenggorokannya sehingga membuatnya terbatuk-batuk.
Rey terbatuk dengan sangat pelan sehingga anak buah Rey tidak menyadari Rey yang terbatuk. Selain itu mereka semua juga sibuk memperhatikan Erika yang membuat mereka terpesona karena kecantikannya.
Sedangkan Erika yang kembali memperhatikan Rey, menyadari Rey yang terbatuk-batuk. Bagi Erika ini adalah kesempatan baginya untuk menghindari tatapan mereka semua yang saat ini matanya tertuju pada dirinya hingga membuatnya merasa canggung dan juga ketakutan. Juga kesempatan untuk berada didekat Rey agar ia bisa berpamitan padanya. Sehingga Erika berinisiatif untuk mengambilkannya segelas air minum.
"Aku..ambilkan minum untukmu.." Erika berbicara sambil matanya menatap Rey sebentar dan segera berjalan melewati mereka untuk pergi ke dapur.
"Tidak, dia tidak ada hubungannya." Rey berbicara dengan suara parau.
"Uhukk.." Selesai bicara, Rey terbatuk lagi.
Erika memberanikan diri menyentuh dahi Rey. Rey yang sedang minum refleks bergerak mundur menghindarinya. Tetapi tangan Erika sudah berhasil menyentuh dahinya. Dahi Rey memang terasa panas, sudah dapat dipastikan tubuh Rey sedang mengalami demam saat ini.
"Kamu..demam.. kupikir kamu perlu ke rumah sakit." Rey menatapnya dengan marah dan kesal, baginya wanita ini terlalu lancang dan berani kepadanya. Berani menyentuh dahinya dan mengaturnya untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi Rey berusaha menahan diri untuk tidak marah karena saat ini ada banyak anak buahnya. Rey tidak mau anak buahnya berpikir buruk tentang Erika karena itu dapat membahayakannya.
Rey lalu berbicara dengan malas sehingga suaranya terdengar pelan seperti menggumam, "Jangan ikut campur dengan urusanku. Mengapa kamu masih disini. Segeralah pulang ke rumahmu..." Rey membuang mukanya menghadap ke sisi yang berlawanan dengan Erika selesai berbicara.
Erika terdiam sejenak. Hatinya terasa sedih dan juga tersinggung, karena secara tak langsung Rey sedang mengusirnya. Walaupun sebenarnya Erika memang sudah ingin pergi sejak tadi. Tetapi ia tak menyangka pria itu benar-benar sudah tak tahan dengannya hingga menyuruhnya segera pulang dan memalingkan wajahnya karena tidak mau melihatnya walau hanya sebentar saja. Erika merasa seolah-olah dirinya tak diinginkan.
Sebenarnya, tadi Erika sedang menunggu dan mencari waktu yang tepat untuk berpamitan dengan Rey. Maka dari itu dia berdiri diam di belakang barisan anak buahnya, menanti kesempatan untuk berbicara. Lalu ketika Rey terbatuk, Erika berpikir dengan mengambilkan dan membawakannya minuman, maka dia akan memiliki kesempatan untuk mendekati pria itu dan berpamitan dengannya. Tetapi karena tubuh Rey terasa sangat panas, Erika menjadi khawatir padanya. Dan beginilah akhirnya.
Erika membuang rasa peduli dan kekhawatirannya atas kondisi Rey, dia bangun berdiri dari duduknya dan berkata, "Baiklah, aku akan pergi sekarang juga" Saat berbicara, dirinya lebih merasa sedih ketimbang marah karena telah diusir dan harus pergi meninggalkan pria itu dan rumahnya. Erika melanjutkan ucapannya, "Aku sudah membereskan kamarmu sehingga kamu bisa kembali ke kamarmu sekarang juga. Terima kasih karena telah menolongku dan meminjamkan kamarmu untukku." Selesai bicara, Erika langsung membalikkan badannya membelakangi Rey dan melangkah pergi keluar ruangan.
Saat melangkah pergi, Erika semakin merasa sedih dan ingin menangis.
Ini tidak bisa dikatakan sebagai perpisahan, kan? Mereka baru saja bertemu beberapa jam, tidak saling mengenal satu sama lain bahkan tidak saling mengetahui nama masing-masing. Tetapi mengapa hatinya terasa berat dan sedih seperti sedang mengalami perpisahan?
"Tunggu..." Rey berteriak setelah Erika berjalan beberapa langkah seolah seperti sedang menahan kepergiannya.
"..." Rey terdiam sejenak. Dia berharap Erika akan berbalik menghadapnya. Tetapi, Erika tidak melakukannya. Erika yang sudah hampir menangis, hanya mampu untuk berhenti dan berdiri membeku di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun kepadanya, takut kalau airmatanya akan turun.
Kemudian terbesit dalam benak Erika, apakah pria itu menyesal karena telah mengusirnya dan kini pria itu ingin menahan serta memintanya untuk jangan pergi dari rumahnya? Apa yang sebaiknya dia lakukan kalau memang benar pria itu ingin menahannya?
"Kamu..melupakan tasmu." Rey asal berbicara karena kebetulan dia melihat tas Erika ada didekatnya. Membuat Erika menjadi kesal saat mendengar alasan dia memanggilnya dan merasa pria itu hanya ingin mempermainkan dirinya saja. Setelah membuat dirinya berharap penuh bahwa pria itu akan menahannya kemudian harapan itu seolah dilempar hingga meluncur jatuh ke bawah dan hancur begitu saja.
Erika memang melupakan tasnya yang tadi ia letakkan di atas sofa di samping Rey saat dia mengecek tubuh Rey. Tetapi menahannya yang sudah sangat malu karena dia usir hanya karena sebuah tas? Sungguh menjengkelkan. Apa dia tidak bisa menyuruh anak buahnya saja untuk mengantarkan tasnya itu kepadanya.
Memang pada awalnya Rey berteriak menahannya karena menyesali sikapnya yang kasar pada Erika dan ingin memberi kesan yang baik sebelum wanita itu pergi. Rey ingin beramah tamah dengan menanyakan namanya dan menawarkan anak buahnya untuk mengantarkannya pulang. Selain itu, Rey juga ingin mengucapkan terima kasih padanya karena telah membantu mengobatinya. Tetapi karena respon Erika yang kaku dan diam seperti itu, dia jadi mengurungkan niatnya.
Rey berpikir mungkin bagi Erika pertemuan mereka ini merupakan suatu kemalangan dan pengalaman yang sangat mengerikan. Bisa segera bebas darinya merupakan hal yang sangat diinginkan wanita itu. Lagipula dengan latar belakang kehidupan mereka yang berbeda, lebih baik baginya untuk tidak menanyakan hal apapun mengenai wanita itu atau melakukan suatu interaksi apapun lagi padanya.
Walau dalam hati kecilnya Rey berharap dapat melihat wajah wanita itu untuk yang terakhir kalinya agar dapat benar-benar mengingat wajahnya. Tanpa sadar, Rey merasakan ada suatu perasaan aneh yang mengganjal dihatinya. Seperti perasaan sedih dan berat untuk melihat wanita itu pergi begitu saja meninggalkannya. Rey sendiri merasa bingung dengan apa yang dia rasakan. Padahal sebelumnya, dia ingin Erika segera pergi dari rumahnya karena dirinya yang suka sendirian merasa terganggu dengan kehadirannya. Selain itu, dia juga merasa tidak baik bagi Erika untuk berlama-lama berada di dekat mereka yang adalah kumpulan gangster yang sangat berbahaya dan menakutkan.
Pertemuan yang singkat, tetapi sungguh berkesan dihatinya. Ini pertama kali dalam hidupnya, Rey bisa merasakan perasaan seperti ini pada seorang wanita.
Sedangkan bagi Erika, dia merasa malu untuk menghadap ke pria yang telah mengusirnya itu. Selain itu, Erika juga tidak berani untuk berbalik atau merespon ucapannya karena airmatanya sudah berkumpul di kelopak bawah matanya dan hampir mengalir keluar. Jika dia berbalik atau membuka mulutnya untuk sedikit saja bersuara, pasti air matanya tak terbendung lagi dan langsung jatuh mengalir membasahi pipinya. Jadi Erika memilih untuk berdiri membeku dan diam saja. Dia memang memiliki hati yang lemah dan gampang menangis.
Rey mengarahkan anak buahnya untuk memberikan tas itu pada Erika. Erika mengambil tasnya dan melanjutkan langkahnya pergi keluar dari rumah Rey. Rey menatapi kepergian Erika dan masih berharap semoga suatu saat mereka bisa bertemu lagi dalam momen yang lebih baik dan memiliki kesempatan untuk menanyakan nama serta berkenalan dengannya.
Rey merasa tubuhnya yang demam semakin tidak nyaman, dia ingin dapat segera berbaring sambil meringkuk diatas kasurnya yang lebar dengan selimut hangat menutupi tubuhnya. Lalu Rey segera bangun berdiri dalam satu gerakan cepat, melupakan badannya yang sedang lemas dan terasa sakit. Tetapi tubuhnya terlalu lemah dan tak bertenaga sehingga tidak kuat untuk menahan dirinya saat berdiri. Seketika tubuhnya terjatuh lemas ke lantai dengan kesadaran yang makin memudar dan akhirnya menghilang membuatnya tidak tahu dan tidak merasakan apa-apa lagi.
"Bos.."
"Bos...!" Beberapa anak buah Rey berteriak memanggil namanya karena terkejut melihat bos mereka yang tiba-tiba terjatuh pingsan ke lantai. Ryo segera bergegas menghampiri dan menyangga kepala Rey agar tidak terbentur ke lantai. Anak buah Rey segera berdatangan menghampirinya dan menggotong tubuhnya menuju ke kamarnya.
Mendengar teriakan itu, Erika menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Hatinya serasa diremas melihat tubuh Rey yang lemas dan dalam keadaan pingsan sedang digotong oleh beberapa anak buahnya. Erika menatapnya dengan sedih dan cemas. Tetapi kemudian ia berbalik dan melanjutkan langkah kakinya untuk pergi.
***