Happiness For You

Happiness For You
17 Alice



Sudah beberapa hari Kei dan Kabuto memantau rumah Rey untuk mengamati setiap pergerakan yang terjadi di sekitar rumahnya. Namun, rumah itu terlihat sepi dan tanpa aktivitas. Tidak ada satupun orang yang keluar masuk.


Hal ini tentu saja merupakan pengaturan Rey yang sudah mengetahuinya. Dia melarang anak buahnya untuk datang ke rumahnya. Bahkan dia sendiri tidak pernah melangkahkan kakinya keluar rumah. Dengan melihat rekaman cctv rumahnya, Rey telah menemukan siapakah pemilik mobil hitam tersebut.


Selama itu pula Erika terkurung di dalam rumahnya. Dia melakukan aksi mogok dengan tidak mau makan ataupun minum dan juga tak mau berbicara. Air mata terus menetes di pipinya. Tetapi tentu saja Rey tidak hanya tinggal diam dengan aksi mogok Erika tersebut. Dia memaksa Erika agar mau makan dan minum.


"Jangan bodoh dengan menyiksa dirimu seperti itu. Lihatlah dirimu menjadi pucat dan lemah. Makanlah makananmu atau aku akan memasukkan makanan ini secara paksa ke dalam mulutmu." Erika hanya diam saja dan tak mempedulikan ucapan Rey. Dia bahkan tak menatap Rey sedikitpun.


"Aku bisa menggunakan berbagai cara yang kasar untuk memaksamu makan dan aku serius dengan ucapanku." Erika masih tetap tak bergeming.


"Baiklah, sepertinya aku harus membantumu makan dengan menggunakan mulutku.." Rey berbicara dengan senyuman menggoda yang sengaja dibuatnya untuk menakuti Erika.


Akhirnya Erika mengalihkan pandangannya kepada Rey dan memelototinya. Lalu, dengan sangat terpaksa ia mengambil piring makanannya dan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Anak pintar." Rey membelai rambut Erika. "Begini baru benar. Bukankah kalau kamu sakit kamu sendiri yang akan menderita. Tetapi, kalau tubuhmu sehat maka kamu akan memiliki tenaga yang bisa kamu gunakan untuk melawanku." Rey kembali memamerkan senyumannya. Kini senyuman manis itu terasa palsu dan menjijikan bagi Erika.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah. Rey segera bangkit berdiri untuk melihat dari monitor siapa tamunya yang datang itu.


"Alice..?!" Gumamnya dengan terkejut. Sebelum keluar untuk membukakan pintu, Rey kembali ke kamar Erika.


"Dengar, aku kedatangan seorang tamu. Kamu harus tetap diam di dalam kamarmu dan jangan keluar. Jangan berbuat yang macam-macam apalagi berpikir untuk kabur."


Selesai bicara, Rey bergegas pergi membukakan pintu rumahnya.


"Rey.." Seorang wanita cantik berbadan mungil dengan kulit putih dan mata sipit langsung memeluk Rey dengan gembira.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu denganmu."


Rey mendongakkan kepalanya untuk melihat keadaan di luar rumahnya. Sepi. Tidak ada apapun di sana, mobil hitam yang biasa terparkir di sebrang rumahnya juga tak terlihat.


"Masuklah." Ucap Rey untuk mempersilahkan Alice masuk ke dalam rumahnya. Alice menggandeng lengan Rey dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan senang.


"Mengapa kamu tidak datang menemuiku? Padahal aku sudah pulang sejak dua hari yang lalu." Tanya Alice.


"Maaf Alice, aku sedang tak enak badan."


"Ahh benar, ayah bilang kamu terluka dan masih dalam proses pemulihan. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu masih merasa sakit?"


"Sudah baikan."


"Ini, aku bawakan kamu sup ayam untuk menambah stamina sehingga tubuhmu bisa kembali sehat. Aku bantu hangatkan untukmu ya." Alice lalu berjalan ke dapur.


Sesampainya di sana, bukannya menyiapkan sup ayam melainkan ia celingak celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


"Kamu sedang mencari apa?" Tanya Rey yang mengikutinya.


"Ehmm.. kamu tau kan aku tidak pernah memasak. Jadi aku tidak bisa menghidupkan kompor dan kupikir aku bisa meminta tolong pelayanmu untuk membantuku.."


"Pelayan? Aku tidak memilikinya. Sini biar aku saja yang melakukannya."


"Tapi yang kudengar kalau.. " Alice diam sejenak karena merasa ragu untuk melanjutkan. "kalau kamu sekarang tinggal berdua dengan seorang pelayan wanita." Kemudian Alice melanjutkannya tanpa ragu. Dia berpikir tak perlu takut dan sebaiknya ia langsung saja mempertanyakan kebenaran akan hal ini. Toh itu memang tujuannya datang ke rumahnya. Untuk menyelidiki apakah benar rumor yang ia dengar itu.


Rey mengambil sup ayam dari tangan Alice. Namun Alice mencegahnya.


"Jangan percaya dengan apa yang kamu dengar. Selama ini kamu telah mengenalku dan juga tahu bahwa aku lebih suka hidup sendiri. Jadi mana mungkin aku memiliki pelayan yang tinggal bersamaku."


Alice menyipitkan matanya dan menatap tak percaya padanya.


"Uhukk.." Terdengar suara seseorang yang terbatuk.


Alice pun segera mencari sumber suara dan menemukannya. Suara itu berasal dari kamar tamu yang ternyata adalah suara Erika yang terbatuk. Padahal Erika sudah berusaha menahan batuknya tetapi tenggorokannya menjadi semakin gatal dan tak tertahankan.


Alice terkejut menemukan ada seorang wanita di kamar tamu. Begitu juga Erika yang terkejut karena Alice mendapati dirinya.


"Di..dia siapa?" tanya Alice dengan suara bergetar karena marah.


Rey juga tampak marah. Dia terpaksa berbohong. "Dia keponakan dari salah seorang kenalanku. Kenalanku itu menitipkannya padaku selama beberapa hari karena dia sedang mencari pekerjaan dan membutuhkan tempat tinggal." Rey berhasil mengarang cerita dengan lancar.


Alice memicingkan matanya seperti tak percaya. Ia melihat kamar itu tertata rapih dengan interior yang cocok bagi perempuan. Selain itu juga terdapat lemari pakain dan beberapa perlengkapan lainnya yang juga terlihat kewanitaan.


"Sudah berapa lama kamu tinggal disini dan untuk berapa lama?" tanya Alice pada Erika berusaha menyelidiki.


Erika menatap Rey berusaha mencari jawaban.


"Baru kemarin dan dia hanya akan tinggal sampai akhir pekan ini saja." Rey pun menjawabnya.


"Baiklah. Kalau begitu, bisakah kamu membantuku menghangatkan sup yang kubawa ini?" Erika mengangguk dan mengambil sup tersebut. "Kami akan menunggumu di ruang makan." Alice pun pergi dengan menggandeng lengan Rey. Dia bermaksud untuk menyudahi kecurigaannya.


Erika telah selesai menghangatkan supnya dan membawanya untuk disajikan kepada mereka.


"Tolong tuangkan juga untuk kami." Alice berbicara layaknya seorang majikan kepada pelayannya. Rey hanya bisa menahan rasa marahnya dengan menggenggam telapak tangannya dengan erat.


Alice mengulurkan tangannya untuk mengambil mangkuknya saat Erika akan menuangkan sup nya dan tangannya menyenggol tangan Alice. Sendok yang berisi sup panas itu tumpah mengenai tangan mereka berdua.


"Auchh.." Alice berteriak kesakitan. Erika juga merasa sakit tetapi ia berusaha menahannya.


"Ma..maaf.."


"Kamu.." Alice yang marah hendak memukul Erika.


"Alice kamu tak apa-apa?" Rey buru-buru memegang tangan Alice yang terluka dan meniupinya dengan penuh perhatian.


"Kamu.. Pergilah kembali ke kamarmu!" Rey menghardik Erika untuk mengusirnya tanpa memedulikan tangannya yang juga terluka dan mulai melepuh.


Sebenarnya mereka berdua mengetahui bahwa luka yang dialami Erika lebih serius karena sup panas itu tumpah dan mengenai tangan Erika sedangkan tangan Alice yang hanya terkena cipratannya saja.


Tetapi, Rey tahu bahwa Alice sengaja melakukannya untuk melampiaskan kekesalan dan kecemburuannya pada Erika. Rey juga tahu kalau Alice sedang mengetesnya. Siapakah yang akan lebih dibela olehnya. Alice atau wanita itu. Jika ia lebih membela Erika, maka nasib Erika akan lebih buruk. Alice pasti akan semakin memburunya dan ingin mencelakainya lebih parah lagi. Jadi lebih baik sekarang ini ia membiarkan Erika merasakan sedikit penderitaan ini.


Akhirnya Alice pulang setelah Rey memakan habis sup ayam yang dibawanya. Segera setelah Alice pulang, Rey mendatangi kamar Erika.


"Erika apa kamu baik-baik saja?" tanya Rey tanpa menutupi rasa cemasnya. Namun Erika tak menghiraukannya. Dia sedang duduk dengan posisi meringkuk pada lututnya. Wajahnya terlihat pucat dan berpeluh. Rey mengecek kulit melepuh yang ada di telapak tangan kanannya dan meraih tangannya untuk mengolesinya dengan salep. Erika hanya diam dan menurut saat Rey memegang tangannya untuk mengobatinya. Saat Rey mengolesinya dengan salep, Erika refleks menarik tangannya karena merasa sakit.


"Apakah sakit?" tanya Rey. Namun Erika hanya diam saja dan berusaha menahan sakitnya. Melihat sikap Erika yang seperti itu, hati Rey semakin diliputi rasa bersalah terhadapnya.


Tak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa Erika. Saat Dokter Steve masuk ke dalam rumah Rey, Kei yang sedang mengintai dari dalam mobil melihatnya.


"Siapakah dia?" tanya Kei pada Kabuto.


"Dia adalah dokter pribadi Rey."


"Apakah pria itu sakit? Atau mungkin Erika yang sedang sakit?" tanya Kei curiga.


"Kupikir itu bukan kekasihmu. Selama ini kita tidak pernah melihat ada yang keluar masuk dari rumah itu, ini pasti karena si tuan rumah sedang sakit. Jangan khawatir, kekasihmu baik-baik saja." Kabuto berusaha menenangkan Kei.


Beberapa menit kemudian, terlihat seseorang keluar rumah. Bukan seorang dokter, melainkan orang yang sedang mereka tunggu-tunggu yaitu Rey. Segera mereka bersiap-siap untuk mengikutinya. Ternyata Rey pergi dengan berjalan kaki. Kei pun turun dari mobil dan diam-diam mengikutinya.


Setelah berjarak cukup jauh dari rumahnya, Rey menghentikan langkahnya dan berteriak, "Keluarlah!"


"Ternyata kamu cukup pintar bisa mengetahui keberadaanku." jawab Kei.


"Bodoh. Apakah kamu senang dengan apa yang telah kamu perbuat pada kekasihmu?"


"Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya? Apakah dia sedang sakit dan karena itu ada dokter yang datang ke rumahmu?"


"Hhh, sungguh bodoh. Aku tidak tahu itu idemu atau bukan yang mengirim Alice datang ke rumahku. Tidakkah kamu berpikir kalau Alice akan mencelakainya?"


"Katakan padaku, apa yang terjadi pada kekasihku?"


"Bukankah kamu orang yang sangat hebat dan berkuasa, mengapa tidak kamu gunakan kekuatanmu itu untuk masuk ke rumahku dan mengeceknya sendiri apa yang terjadi padanya."


Bukk.


Sebuah pukulan keras menghantam wajah Kei.


"Ini balasan atas pukulanmu padaku waktu itu. Dan ini barulah permulaan. Tunggu dan lihatlah pembalasan dendamku selanjutnya."


"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa yang kamu mau? Mengapa kamu terus mengusikku dan kekasihku?"


"Karena kekasihmu barang yang bagus. Dan aku menyukainya untuk menjadikannya milikku. Aku tidak mau dia dihancurkan oleh pria dengan reputasi buruk sepertimu keluargamu."


"Apa maksud perkataanmu itu? Jangan hina keluargaku. Mereka orang baik dan sangat terhormat."


"Ohh ya? Apakah ayahmu tidak pernah menghancurkan nasib seorang wanita? Terutama kakekmu."


Kei terdiam. Dia berusaha mencerna ucapan Rey. Siapa wanita yang pernah ayah dan kakeknya hancurkan? Apa mungkin keluarganya pernah mengusik pria itu dengan merebut atau melukai kekasihnya?


"Siapa kamu..?" Saat Kei tersadar dari lamunannya, Rey telah menghilang dari pandangannya.


***