Happiness For You

Happiness For You
Sesosok Ayah



"Alice ... apakah ..." Rey menanyakan tentang ayah angkatnya, dan Alice mengetahui maksud Rey.


"Rey, lihat dibelakangmu. Tuh." Alice mengarahkan Rey untuk melihat ke arah belakangnya.


Rey pun mengikuti arahannya dengan membalikkan badannya ke sisi belakangnya dan ia kembali mendapati sebuah kejutan lainnya. Kejutan yang snagat membuatnya semakin merasa haru dan juga merasakan kegembiraannya. Karena akhirnya ia dapat melihat dan melepas rindunya dengan ayah angkatnya yang telah sangat dirindukan dan sangat ingin dilihatnya.


"A-ayah ... Mm ... maksudku Tuan Yoshiro"


"Rey ... lama tak berjumpa denganmu." Tuan Yoshiro lalu berjalan sambil tersenyum ke arahnya dan memberinya sebuah pelukan. Rey membalas pelukan tersebut dan ia merasa sangat terharu sampai ingin menangis rasanya.


"Duduklah."


"Tidak Ay ... Tuan Yoshiro, seorang chef dilarang ikut duduk bersama tamunya."


"Baiklah, aku mengerti. Wajahmu semakin segar dan tampan saja, Nak."


"Mm ... Tuan juga." Rey tampak canggung dan kikuk saat memanggil ayah angkatnya dengan sebutan lain.


"Rey, kamu bisa untuk memanggilku ayah lagi kalau kamu mau."


"Ta-tapi ... bukankah berdasarkan peraturan kita telah putus hubungan ...."


"Iya, memang benar. Tetapi tidak ada aturan juga yang melarangku dan tidak memperbolehkanku untuk mengangkatmu sebagai anakku lagi." Rey benar-benar merasa terharu kali ini hingga matanya meneteskan setitik airmatanya.


"Ayah ... " panggilnya lagi dengan wajahnya yang menyendu. "Apakah ayah dalam keadaan baik dan sehat?"


"Iya Nak, ayah baik dan sehat."


"Ayah ... " panggilnya lagi.


Tuan Yoshiro lalu tersenyum padanya sambil menepuk pundak Rey dengan pelan dan ke-bapak-an. Mereka kembali hanya terdiam dengan saling menatap penuh haru.


"Ayah, sepertinya Ayah belum memakan makanan Ayah." Ucap Rey sambil melihat ke arah piring makanan yang ada di depan Tuan Yoshiro.


"Iya, tadi Ayah keluar sebentar karena ada urusan yang perlu diselesaikan."


"Sepertinya makanan itu sudah dingin dan citarasa nya telah berubah. Sebaiknya aku menggantikannya dengan yang baru -"


"Tidak, Nak. Ayah tidak masalah memakan makanan yang telah menjadi dingin ini. Karena ini adalah makanan pertamamu yang kamu sajikan untukku sebagai seorang chef."


"Iya, Ayah ...." Rey kembali merasa terharu karena ayah angkatnya begitu menghargai karya masakannya itu. Selama ini ayah angkatnya memang selalu mendukung impiannya. Dia bahkan yang memasukkan Rey untuk bisa bersekolah dan belajar di jurusan seni kuliner dan juga membiayainya. Tuan Yoshiro benar-benar menganggap dan memperlakukan Rey sebagai anaknya sendiri. Dia juga sangat ingin Rey menggantikannya dan meneruskan posisinya yang sebagai ketua mafia pada seluruh anggota kelompoknya yang termasuk dalam jaringan kekuasaannya.


"Maaf menginterupsi Anda yang adalah tamu terhormat kami, tetapi saat ini Reyhan sedang bekerja dan tidak bisa untuk berlama-lama di sini menemani kalian." Tiba-tiba Pak Hadi sudah berada diantara mereka untuk menyusul Rey dan sekarang ia ingin membawa Rey kembali ke dapur.


"Maaf, Ayah aku harus kembali bekerja. Jaga kesehatan Ayah." Pesan Rey pada ayahnya dan ayahnya tersenyum lalu menjawab, "Iya, nak. Kamu juga, jaga kesehatanmu dan selalu sehat." Rey memberinya sebuah anggukan.


"Bye Rey. Semangat bekerjanya." Rey mengangguk. "Bye, Alice."


"Bye, Bos." Lalu Rey melambaikan tangannya pada mereka semua dan berjalan pergi meninggalkan mereka.


Sebenarnya kedatangan Tuan Yoshiro ke restoran mereka adalah undangan dari Kei yang secara khusus memintanya untuk datang dan bertemu dengan adiknya. Tetapi Kei memintanya untuk merahasiakan hal tersebut dari adiknya. Kei juga menceritakan pada Tuan Yoshiro mengenai kemungkinan kondisi kesehatan yang akan terjadi pada adiknya. Sehingga Tuan Yoshiro Rey pun kembali ingin menjadikan Rey sebagai anak angkatnya. Namun Alice dan para anak buahnya tidak mengetahui tentang hal tersebut. Mereka hanya mengikuti dan menuruti ajakan Tuan Yoshiro saja.


Saat sudah berada di area dapur, paman Hadi bertanya dengan berbisik padanya, "Aku tak menyangka kamu bisa kenal dan berhubungan dengan orang-orang seperti mereka dan kamu bahkan memanggil pemimpin mereka dengan sebutan itu. Apakah kakakmu mengetahuinya dan juga mengenal mereka?"


"Yup." Jawab Rey singkat.


Paman menggeleng takjub kepadanya.


"Kalau saja ibumu tahu, maka dia pasti akan ... Yahhh ... kamu tahu apa yang akan dilakukannya."


"Yaa ... tapi sebenarnya itu tidak seburuk yang kalian pikirkan."


"Semoga saja itu benar, apa yang kamu katakan. Tapi Paman dapat melihat kalau senyuman dan tatapannya sangat ke-bapak-an dan tulus terhadapmu." Lalu Paman Hadi mengamati Rey sebentar. "Rey, apakah kamu tidak penasaran dengan sosok ayah kandungmu?"


Rey menatap Paman Hadi lama dan dalam diam.


"Bagaimana sosoknya?" Tanya Rey pada akhirnya.


"Rey, aku tahu kamu membenci ayahmu. Tapi kamu harus tahu, ayahmu seorang yang baik. Saat melihat dan bersamamu, aku merasa seperti sedang bersama ayah kandungmu. Bahkan sifat dan karakter kalian sangatlah mirip. Kalian memiliki wajah yang sama-sama sangat tampan dan menarik, sifat yang keras kepala, sedikit nakal, namun humble dan ceria, juga sangat penyayang. Semua orang pasti akan menyukai dan menyayanginya."


Rey kembali menatap paman Hadi dalam diamnya.


"Aku tahu kamu tidak kehilangan sosok ayah dalam hidupmu, karena kamu memiliki Paman dan tamu kita tadi. Tetapi aku ingin kamu mengingatnya didalam hatimu bahwa ayahmu orang yang baik dan jangan menganggapnya tidak ada."


***


Malam harinya saat Rey sudah pulang, dia mendatangi kamar kakaknya.


Rey mengetuk pintu kakaknya dan bertanya, "Kakak, boleh aku masuk?"


"Ken ... masuklah." Kei membukakannya pintu.


"Kamarmu besar dan luas sekali." Rey masuk dan berkeliling sebentar untuk melihat-lihat kamar kakaknya.


"Kamu seperti baru pertama kali masuk ke kamarku saja."


"Sebelumnya aku tidak sempat untuk mengamatinya ... Desain kamarmu menggambarkan dirimu sekali. Pria yang serius, kaku dan membosankan." Goda Rey. Dia teringat dengan ucapan Erika padanya yang mendeskripsikan tentang kakaknya itu.


"Ya, aku tahu maksudmu kalau aku terlihat tua dan kuno."


"Haha ... tidak, ini terlihat classy dan elegan." Rey lalu rebahan di atas kasur kakaknya. Sedangkan Kei masih duduk di meja kerjanya sambil mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. "Kakak, bagaimanakah sosok ayah?" Tanya Rey padanya.


Kei mendongakkan kepalanya ke atas, lalu menghentikan aktivitasnya dan menutup laptop yang ada didepannya agar dapat berfokus pada adiknya.


Sebelum menjawabnya, Kei menatap lama wajah adiknya. Lalu ia menjawabnya. "Jika kamu mau tahu sosok ayah, maka lihatlah dirimu dicermin. Karena kalian berdua begitu mirip. Dengan karakter dan sifat kalian yang sama persis. Hanya mata dan warna kulit kalian berbeda."


"Aku tahu mataku sama seperti ibu."


"Benar."


"Mengapa ayah tidak pernah mencari ibu dan aku? Kupikir, dia tidak menginginkanku. Bahwa dia juga telah membuangku ...." Raut kesedihan terpancar diwajahnya. Walaupun Rey sudah pernah mendengarnya dari Ayah Erika, namun Rey kembali menanyakan hal itu kepada kakaknya karena ia masih penasaran dan ingin mendengar jawaban dari sisi kakaknya.


"Ken ... ayah kita juga memiliki kesulitannya. Sama seperti dirimu yang pernah ingin mengembalikan Erika padaku dan meninggalkannya, itu tak berarti kamu tidak menginginkannya lagi bukan?"


"Tapi, itu dua hal yang berbeda."


"Tidak Ken, itu sama-sama adalah perasaan takut yang kalian miliki. Seperti kamu yang takut membuat Erika sedih ketika melihatmu yang sedang menderita dan kesakitan. Ayah juga sama. Dia takut membuat kalian bertambah sedih dan semakin menderita karena kakek kita sangatlah memiliki power. Seandainya saja ayah memaksa untuk mencari dan berhasil menemukan kalian, kakek pasti akan menggunakan cara apapun untuk membuat kalian menghilang lagi darinya dan akan membuat hidup kalian menjadi lebih menderita."


"Jadi, apakah sesungguhnya ayah juga menyayangiku?" Tanya Rey dengan arimata yang berlinangan.


Kei berjalan ke kasurnya dan duduk disamping Rey yang masih sedang berbaring dikasurnya. "Tentu saja ayah kita menyayangimu. Apalagi seumur hidupnya, ayah hanya memiliki kesempatan untuk melihatmu dalam waktu yang hanya sebentar saja. Itu sungguh membuatnya sedih dan dia merasa sangat menyayangkannya.


Kamu tahu, waktu pertama kali kalian dapat saling bertemu, kamu langsung mengulurkan tanganmu untuk minta digendong dan dipeluk oleh ayah kita. Padahal sebelum itu kamu sedang terus menangis dan begitu ayah memanggil namamu, kamu langsung terdiam memandanginya dan mengulurkan tanganmu memintanya untuk menggendongmu. Dengan terharu ayah menggendongmu, lalu kamu langsung tertawa dengan begitu riang dan menjadi ceria lagi. Sampai kami bertiga ikut tertawa dengan bahagia melihat keceriaan dan kepolosanmu itu."


Rey yang sedang berlinangan airmata jadi tertawa mendengar cerita kakaknya.


"Ken, aku tahu walaupun kamu tidak pernah mengenal ayah kita, tetapi dalam hidupmu kamu tidak pernah kehilangan sosok seorang ayah karena kamu memiliki dua sosok ayah dalam hidupmu, yaitu Paman Hadi dan ayah angkatmu itu." Rey memberinya anggukan. "Aku juga tahu kalau kamu juga sangat menyayangi mereka, terutama ayah angkatmu. Yang jujur saja, sebagai kakakmu aku iri melihat ayah angkatmu bisa begitu dekat denganmu. Kalian bagaikan ayah dan anak kandung. Tetapi Ken, walau bagaimanapun kamu memiliki ayah kandungmu. Janganlah melupakan dan meniadakan ayah kandungmu sendiri di dalam hatimu."


"Iya, Kak. Aku tahu, kakak adalah orang ketiga yang mengatakan hal tersebut kepadaku."


"Ketiga? Lalu siapakah itu kedua orang lain nya?"


"Ayah Erika dan Paman Hadi."


"Baiklah, aku mengerti. Tapi mengapa Paman Hadi bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu padamu?"


"Karena ayah angkatku tadi datang ke restoran. Lalu dia melihat kami."


"Ehmm ... bahkan dengan hanya sekali lihat saja Paman sudah tahu seberapa dalam hubungan kalian. Dia pasti khawatir melihat hubungan kalian yang begitu kental bahkan lebih kental dari hubunganmu dengan ayahmu sendiri yang sedarah."


"Tapi sekarang aku sudah tahu sosok ayah kandungku, dan kurang lebih dari cerita dan gambaran yang kalian berikan padaku aku tahu dan telah dapat mengenalnya. Walaupun aku tidak berkesempatan bertemu ayahku, tetapi aku dapat merasakan bahwa ia menyayangiku dan sekarang aku merasakan kalau aku juga menyayanginya."


"Iya bagus Ken, seperti itu. Ayah pasti bisa mendengarnya dari atas sana dan ia pasti sangat senang." Setelah itu Rey terdiam. Ia seperti tampak berpikir.


"Ada apa lagi adikku? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak, Kak. Hanya saja sekarang ini aku jadi ikut merasakan kesedihan yang ayah rasakan bahwa ia sangat menyayangi aku tetapi karena aku tidak mengenalnya aku jadi salah paham padanya dan tidak menyayanginya bahkan tidak memiliki sosoknya didalam hatiku. Lalu aku jadi membayangkan jika kelak itu juga terjadi padaku. Ketika aku mempunyai seorang anak dan aku menjadi seorang ayah. Kemudian aku menjadi seperti ayah dan anakku menjadi seperti diriku. Aku dan anakku saling terpisah sejak ia lahir dan kami tidak dapat saling bertemu seumur hidup kami. Padahal aku pasti akan sangat menyayangi anakku sedangkan anakku tidak mengenalku dan tidak menyayangiku. Memikirkan hal itu, membuatku menjadi takut. Aku tidak mau seperti itu, Kak." Airmata Rey bercucuran.


"Tidak Rey, kamu tidak akan mengalami hal seperti itu. Kelak, jika kamu memiliki anak dia pasti akan dapat mengenalmu dan menyayangimu sebagai ayah kandungnya yang juga sangat menyayanginya." Rey mengangguk dalam tangisnya.


"Apakah kakak mempunyai foto-foto ayah?" Kei mengangguk. Lalu mereka berdua melihat foto-foto tersebut dengan Kei menceritakan setiap kejadian yang ada di foto itu kepadanya.


***