
Mendengarkan penuturan dan nasehat yang disampaikan Kei padanya, pikiran Rey sepertinya sudah sedikit terbuka dan membuat dia bertanya-tanya.
"Apakah masih mungkin bagiku untuk memiliki kesempatan untuk melakukan semua hal itu pada orang yang aku cintai dengan tubuhku yang selalu lemah dan berpenyakit-" Rey dan Kei sama-sama saling menatap dengan kaget karena Rey yang keceplosan dengan mengatakan tubuhnya lemah dan berpenyakit. Karena sebelumnya Rey pernah mengelak kalau dia bukan adik kandung Kei karena tubuhnya tidak lemah dan sakit-sakitan seperti adiknya.
Mendengar pengakuan Rey yang tidak sengaja dia ucapkan, membuat Kei langsung mempertanyakan kebenarannya kembali pada Rey.
"Katakan padaku, apakah kamu benar-benar bukan adikku?"
"Apakah selama ini kamu masih mencurigaiku bahwa aku adalah adikmu? Dan itulah mengapa kamu datang menjengukku saat ini serta menceritakan berbagai hal yang berhubungan dengan keluargamu? Tentang kebenaran akan ayahmu yang tidak berselingkuh dan juga tentang kelahiran bayi mungil adikmu yang membuat kalian berbahagia?"
"Iya, kamu benar. Aku tidak mau kelak ketika akhirnya kebenaran ini terungkap, namun itu semua sudah terlambat karena kamu telah ...." Kei tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena ia tidak sanggup bahkan untuk membayangkannya.
Rey menatap kakaknya dengan penuh perasaan bersalah terhadapnya karena masih membohonginya dan tidak mau mengakuinya.
Ternyata apa yang Kei katakan tadi tetap tidak dapat mengubah pendiriannya dan juga tidak mengubahnya agar berkeinginan untuk bisa sembuh. Karena sesungguhnya Rey takut kehilangan kakaknya yang harus mendonorkan tulang sumsum padanya jika ia ingin sembuh dari penyakitnya itu. Ketakutannya itu dikarenakan trauma yang ia miliki akibat yang terjadi pada ibunya. Padahal yang terjadi pada ibunya bukan karena donor yang ia lakukan, melainkan karena dirinya yang kelelahan akibat menjaga dan mengurus Rey selama pascaoperasi yang dijalaninya.
"Maukah kamu membuktikannya bahwa kamu bukanlah adikku dengan melakukan tes dna dengan diriku?"
"Mengapa aku harus membuktikannya? Bagiku itu tidak perlu untuk kulakukan. Jika memang benar aku adalah adikmu, lalu mengapa aku harus berbohong dan menyangkalnya? Bukankah itu hal bagus, jika aku menjadi adikmu maka aku bisa mendapat kekayaan dan kekuasaan yang kamu miliki itu. Aku bisa hidup enak dan mewah dengan harta yang bergelimpangan. Selain itu aku juga bisa tersembuhkan dari penyakitku ini karena aku bisa menjalankan tranplantasi dari donor sumsum dari milikmu. Jadi, tidak ada untungnya bagiku untuk berbohong dan tidak mengakuimu sebagai kakakku."
"Pada awalnya aku juga selalu mengelaknya dan berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh tetapi berkali-kali hati kecilku meyakinkanku bahwa kamu adalah adikku. Untuk alasan mengapa kamu berbohong dan tidak mau mengakuinya, aku juga belum bisa menemukannya ...."
"Mulai sekarang, terima saja ucapanku dan jangan meragukannya lagi. Lupakanlah diriku dan tak usah mempedulikanku lagi."
"Tetapi sekarang aku telah menemukan alasannya ...," Kei terdiam sejenak sambil mengamati ekspresi wajah Rey yang nampak tegang.
"Apa yang kamu temukan?" Tanya Rey dengan penasaran dan sedikit merasa khawatir. Karena terlalu tegang, Rey sampai menatap kaku pada kakaknya dan sedikit menahan nafasnya saat menanti jawaban kakaknya itu. Sampai rasa sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya itupun tidak ia sadari. Hal itu dikarenakan Rey sangat takut kalau kakaknya mungkin telah mengetahui kalau ia pernah membenci dan mendendam kepada kakaknya.
Lalu Kei menjawabnya,
"Seperti yang kamu katakan tadi, bahwa kamu sudah lelah dengan hidupmu. Sehingga kamu ingin segera mengakhiri semuanya ... dan itu berarti kamu tidak menginginkan apapun lagi. Harta, kekayaan, kekuasaan, kesembuhan dan ...," Awalnya Kei berbicara dengan suara yang tegas dan menatap tajam Rey tetapi kemudian ia terdiam sejenak dan kembali melanjutkan ucapannya dengan raut wajah sedih dan kecewa sambil menundukkan wajahnya, "bahkan mungkin kehadiran seorang kakak tidak ada gunanya bagimu."
Rey memejamkan matanya berusaha untuk menahan rasa sakit yang sekarang bisa ia rasakan. Juga sekaligus untuk menahan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tahu, kalau ternyata kamu memang benar adalah adik kandungku, maka aku tidak akan diam saja membiarkanmu menyerah pada penyakitmu dan lari dari kehidupanmu. Aku pasti akan melakukan apapun untuk membuatmu sembuh. Bahkan jika aku harus memberikan semua organ yang ada ditubuhku untuk membuatmu sembuh dan sehat ..."
Deg! Jantung Rey langsung berdegup kencang. Gelombang rasa takut menggelanyar tubuhnya. Membayangkan dirinya yang telah kembali sehat dan sembuh dari penyakitnya tetapi ia harus kehilangan kakaknya karena pengorbanannya untuk dirinya, sama seperti yang dilakukan ibunya. Rasa takutnya semakin menyelimuti dirinya hingga serasa hampir menenggelamkan dirinya ke dalam kegelapan. Rasa sakit ditubuhnya kembali muncul dengan bertambah kuat. Sambil meringis kesakitan, Rey menggeleng-gelengkan kepalanya dan dalam hatinya ia terus berteriak menolak apa yang kakaknya katakan. Tidak, jangan lakukan itu kepadaku!
"Lihatlah ... Aku sudah mengambil sehelai rambutmu yang akan kugunakan untuk melakukan tes dna milikmu." Dengan panik, Rey segera berguling turun dari ranjangnya untuk meraih sehelai rambut yang ada di atas telapak tangan Kei yang sedang membuka. Tetapi Kei dengan sigap segera menggenggam telapak tangannya.
Rey terlupa kalau dirinya adalah seorang pasien yang baru saja menjalani kemoterapi dan tubuhnya masih sangat lemah. Sehingga tubuhnya langsung terjatuh lemas dan kesakitan.
"Aarghh ...." teriaknya karena tak bisa menahan lagi kesakitannya.
"Apakah sangat sakit?" Tanya Kei panik dan langsung memegangi tubuh Rey untuk membantunya. Rey menggeleng. Rey hanya butuh untuk dapat membaringkan tubuhnya dan tertidur. Kei membantu mengangkat tubuh Rey agar Rey dapat kembali membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
Namun Rey menahannya dan ia berkata, "Aku mohon padamu ...," Kei menatapnya bingung. Lalu Rey menambahkan kalimatnya, "Jangan mempedulikan aku lagi. Hanya bantu saja Erika untuk menyembuhkan luka di hatinya dan buatlah ia bahagia."
"Jangan khawatir, aku pasti akan membuatnya bahagia. Tapi bukan karena dirimu, melainkan demi dirinya yang aku cintai." Jawab Kei sambil membantunya naik ke atas kasur agar dapat berbaring kembali.
Rey memberinya sebuah senyuman dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Terima kasih."
Rey menatapnya sayu karena kelopak matanya terasa berat. Perlahan Rey memejamkan matanya antara tertidur atau tak sadarkan diri.
Hati Kei terenyuh melihat kondisi Rey yang menyedihkan. Ia dapat merasakan tubuh Rey sangat tak bertenaga saat ia mengangkatnya.
Melihat Rey yang sedang tertidur, Kei kembali teringat dengan adiknya yang masih kecil dulu. Dia sering menenangkan dan menidurkan adiknya yang sedang kesakitan. Setelah tertidur, alis dan keningnya yang berkerut karena sedang kesakitan menghilang tergantikan dengan wajah polosnya tampak tenang. Sama seperti wajah pria yang ada didepannya saat ini. Kei terus mengamati wajah Rey yang sedang terdiam dalam tidurnya dengan matanya yang sedang terpejam. Ia tampak kalem dan tenang, sehingga memperlihatkan ketampanan diwajahnya yang hampir sempurna. Baru kali ini Kei bisa mengamati wajah Rey dengan jelas dan menyadari kalau bentuk wajahnya mirip seperti dirinya dan ayahnya. Hanya saja warna kulit Rey agak sedikit gelap dan juga matanya berukuran besar. Karena itulah kakeknya meragukannya dan menolak mengakuinya sebagai cucunya.
Saat Kei akan beranjak pergi meninggalkannya, tiba-tiba Rey tampak gelisah dalam tidurnya. Kei lalu mengusap keningnya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Ibu ...." gumam Rey dalam keadaan tak sadar dan tersenyum. Tanpa disadari, setetes air mata terjatuh dari kelopak mata Kei.
Kei lalu berjalan keluar ruangan. Berbagai perasaan bercampur aduk didalam dirinya. Dirinya sungguh takut jika kelak kebenaran mengatakan apa yang ia pikirkan itu. Kei lalu membuka telapak tangan kirinya yang daritadi digenggamnya untuk melihat helaian rambut Rey yang berhasil diambilnya. Namun tangannya itu kosong, helaian rambut Rey telah menghilang. Kei nampak kecewa. Tetapi ia terpikirkan hal lainnya. Yaitu ia ingin melakukan pendonoran sumsum tulang belakang untuk Rey. Kei lalu menghampiri bagian registrasi untuk mendaftarkan dirinya. Namun karena pasien tidak pernah membuat form permintaan, sehingga Kei tidak bisa melakukannya. Tetapi Kei bisa melakukan serangkaian tes kecocokan terlebih dahulu sebagai data jika nantinya diperlukan.
***
Sejak kedatangan Kei ke kamarnya, Rey terus memikirkan Erika yang juga sedang dirawat di rumah sakit. Dia terus menyalahkan dirinya yang menyebabkan Erika tertabrak dan terluka. Jika saja ia tidak melakukan pertunjukannya dengan Bella yang terlihat sangat menyakitkan dan kejam bagi Erika. Rey ingin sekali mendatangi Erika di kamarnya untuk melihat keadaannya. Namun tubuhnya masih terasa sakit dan juga terlalu lemah untuk berjalan.
Terdengar suara pintu kamarnya dibuka. Ada dua orang lelaki masuk ke kamarnya. Dia adalah anak buahnya, Ryo dan Sato. Mereka diberitahu oleh Dokter Steve tentang keadaan Rey dan penyakit yang dideritanya. Hal itu Dokter Steve lakukan karena ia tidak bisa membiarkan Rey sendirian menghadapi penyakitnya dan penderitaannya selama masa perawatan. Sehingga Dokter Steve menghubungi mereka dan meminta mereka menemaninya. Selain itu Dokter Steve tahu kalau sebenarnya Rey tidak terlalu keberatan jika mereka mengetahuinya, kecuali kedua orang spesial yang ada didalam hidup Rey yang penuh rahasia, yaitu Erika Kiyomi dan Kei Takahiro.
"Bos ..." Dengan serempak mereka berdua memanggil bosnya sambil terisak.
"Mengapa kamu tidak pernah memberitahu kami tentang penyakitmu itu?" tanya Ryo memulai untuk bertanya pada bos nya.
"Iya Bos. Kami sangat sedihh.. Bos jangan tinggalkan kami ...." Sato juga ikut bertanya.
"Bos ...."
Ryo dan Sato berbicara secara bergantian sambil menangis sedih.
"Sudah, berhentilah dan jangan menangisiku. Aku masih hidup." jawab Rey dengan kesal.
"Tapi Bos, penyakit yang dideritamu ...."
"Aku seorang yang kuat. Percayalah aku bisa melawan penyakitku ini dan dapat sembuh." ucap Rey menghibur mereka.
"Benar Bos. Apalagi ada kami yang selalu mendukung dan menyemangatimu." ucap Sato tersenyum senang.
"Iya benar." jawab Rey sambil mengguncang pundak Sato.
Berbeda dengan Ryo, dia tetap terlihat sedih. Dia tahu penyakit ini akan sulit sembuh. Apalagi penyakit bos mereka sudah berada di stadium akhir. Rey melihat Ryo dan mengetahui apa yang dia pikirkan.
"Ryo, bantu aku. Aku ada keperluan dan ingin keluar sebentar."
"Baik Bos." Mereka memapah Rey untuk duduk di kursi roda. Setelah itu Ryo mendorong kursi roda tersebut dan berjalan keluar dari ruangan.
Sebelum pergi, Rey memberikan Sato pesan.
"Sato, kamu tunggu disini saja. Kami hanya pergi sebentar."
"Baik, Bos." jawabnya.