Happiness For You

Happiness For You
Berkunjung ke Bos Besar



Sudah hampir seminggu Erika tinggal di rumah Rey. Luka dan memar ditubuh Rey pun sudah memudar dan hampir sembuh. Dan dugaan Erika benar. Rey memiliki wajah yang sangat tampan. Matanya yang bengkak itu sekarang telah kembali berukuran normal, memperlihatkan keindahan bentuknya yang bulat dan besar dengan lipatan ganda di kelopak matanya. Tatapan matanya yang penuh aura kegelapan juga nampak dengan jelas sekarang.


Bagi Erika, beberapa hari tinggal di sana tidaklah mudah untuk dijalani. Selain karena belum terbiasa untuk bekerja dan mengurus pekerjaan rumah, Erika juga harus merawat Rey yang sedang sakit. Dengan temperamen Rey yang kasar dan perlakuannya yang buruk, Erika harus banyak bersabar ketika menghadapinya.


Namun kini, seiring membaiknya kondisi tubuhnya, sikap Rey pun semakin membaik. Itu mungkin karena dia menyadari bahwa Erika selama ini telah banyak bersabar dalam merawat dan membantunya sehingga dia dapat sembuh dengan cepat. Sehingga perlahan-lahan Erika bisa beradaptasi dengan baik dan mulai terbiasa melakukan berbagai kegiatan rutin yang sudah menjadi tugasnya.


Setiap paginya Erika akan pergi ke pasar dengan ditemani oleh kedua anak buah Rey yaitu Sato dan Ryo. Mereka harus berbelanja sayur dan buah-buahan setiap harinya karena Rey selalu ingin ada salad dalam setiap menu makanannya. Rey juga sangat memperhatikan kualitas bahan makanan yang dia maka, harus yang sehat, segar dan bersih. Sehingga mereka harus memilihnya dengan teliti. Untung saja ada anak buah Rey yang sudah terbiasa berbelanja segala kebutuhan yang sesuai dengan keinginan bos mereka itu.


Pada pagi ini, Rey berencana akan pergi menemui bos besarnya yang juga sekaligus ayah angkatnya, Tuan Yoshiro. Sehingga selesai sarapan, Rey bersiap diri untuk bergegas pergi.


"Erika, aku pergi dulu. Jagalah rumah dengan baik. Nanti siang kemungkinan ada beberapa anak buahku yang akan datang kemari. Selain mereka, jangan sembarangan membukakan pintu. Bila ada apa-apa, segera hubungi aku." Rey berpesan pada Erika sebelum pergi.


"Siap, Bos. Sampai ketemu nanti." Erika melambai-lambaikan tangannya dengan ceria sambil memamerkan senyumannya yang manis.


Baru sebentar bosnya pergi, Erika sudah merasa bosan karena dia sudah terbiasa dengan kesibukannya saat mengurus Rey. Rasa bosan yang melandanya semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu, sehingga Erika pun mengaktifkan hpnya sebentar untuk mengusir rasa bosannya.


Begitu hpnya diaktifkan, banyak notifikasi pesan yang masuk serta beberapa panggilan yang tak terjawab. Pesan-pesan itu berasal dari teman-teman dan orang terdekatnya. Pesan yang paling banyak masuk adalah berasal dari kekasihnya, Kei. Dia membaca sekilas seluruh pesan yang masuk tersebut. Lalu hpnya berbunyi karena ada panggilan masuk. Erika tidak mengenali nomor penelepon yang meneleponnya itu. Dengan terburu-buru, Erika segera memencet tombol menonaktifkan di hpnya.


Namun terlambat, alat monitor dari perusahaan ayah Natalie sudah mengetahuinya. Panggilan masuk di hp Erika itu adalah panggilan yang dilakukan oleh salah satu karyawan dari perusahaan tersebut. Karyawan itu pun segera mencatat lokasi dimana hp Erika berada dan memberitahukannya kepada Natalie.


***


Rey telah sampai di depan gedung kantor bosnya. Sebelum masuk, Rey menatap lama gedung itu dari luar sambil mengatupkan rahangnya dengan tegas. Rey berpikir keras dan berharap bos besarnya tidak begitu mempermasalahkan kasus pengeroyokan yang menimpa dirinya.


Dengan kaki yang berat Rey melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam gedung lalu ke ruang kerja bosnya. Di sana terlihat Tuan Yoshiro beserta para anak buahnya yang sudah berkumpul seperti sedang menanti kehadirannya disitu.


"Selamat pagi Ayah." Rey membungkukkan badannya memberi salam hormat pada ayah angkatnya itu.


"Pagi, Rey. Bagaimana keadaanmu?" Kemarilah, aku ingin melihatmu dengan jelas." Rey menghampiri Tuan Yoshiro dan duduk di kursi yang ada di depannya.


"Kondisiku sudah sangat membaik. Luka dan memar ditubuhku sudah hampir hilang."


"Hmm.. Sepertinya begitu. Sekarang, ceritakan padaku kronologi pemukulan yang terjadi padamu secara rinci dan jelas."


"Ayah, kejadian ini murni kesalahanku. Saat itu, aku kurang berhati-hati karena membiarkan diriku mabuk di tempat ramai dan tanpa sadar berbuat hal yang menyinggung sekelompok kawanan preman. Mereka marah dan menyerangku."


"Benarkah? Ini adalah kesalahanmu? Jadi, kamu hanya akan berdiam diri dan melepaskan mereka begitu saja?" Rey terdiam. Tubuhnya mengencang karena ketegangan yang dia rasakan. Rey tahu bosnya tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Dia harus berhati-hati untuk menjawab pertanyaan bos nya itu.


"Benar ayah. Mereka hanyalah sekawanan preman jalanan. Aku juga sudah tidak ingat lagi dengan wajah-wajah mereka. Jadi mencari mereka untuk membalas perbuatan mereka hanya membuang waktu percuma dan sia-sia."


Brakk


Tuan Yoshiro memukul meja dengan tangannya karena marah.


"Rey! Di mana harga diri dan kehormatanmu? Apakah kamu lupa siapa kamu? Hanya sekawanan preman jalanan? Justru itu. Hanya sekawanan preman tetapi berani-beraninya mereka memukulimu hingga babak belur seperti itu. Apa kamu pikir, aku bisa membiarkan masalah ini berlalu dengan begitu saja?" Emosi dan amarah Tuan Yoshiro berkobar saat ini. Dia tidak dapat menahan dirinya melihat sikap Rey yang tenang dan hanya akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.


"Ayah.. Aku.." Rey tidak berani untuk berkata-kata lagi.


"Suruh mereka semua masuk!" Tuan Yoshiro memberi perintah.


Pintu ruangan terbuka lalu masuk beberapa orang pria dengan wajah yang penuh luka dan lebam. Rey melihat ke belakang dan segera bangkit berdiri. Walaupun dia sudah tahu akhirnya akan seperti ini, tetapi tetap saja dia merasa terkejut melihat para preman yang memukulinya ada di depannya dan dalam keadaan yang tak jauh berbeda dengannya beberapa hari lalu.


"Lihat! Kamu terkejut saat melihat mereka. Itu berarti kamu masih ingat dan mengenali mereka bukan?"


"Ayah, maaf. Aku tak bermaksud untuk berbohong padamu tadi." Rey membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf. Dia merasa takut karena ketahuan telah berbohong.


"Walaupun aku hanyalah ayah angkatmu, tapi aku sangat mengenalmu. Sudah, kamu tak usah terlalu khawatir dan mencemaskan masalah ini. Ayah yang akan mengurus masalah ini." Tuan Yoshiro menepuk pundah Rey dan menenangkannya.


Masih dengan memegangi pundak Rey, Tuan Yoshiro mengajak Rey untuk berbicara berdua.


"Ada yang ingin kubicarakan padamu. Ayo kita duduk di sana.."


Mereka berdua lalu duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan untuk berbicara dengan santai berdua saja.


"Terima kasih Ayah telah membantuku.."


Tuan Yoshiro mengangkat tangannya dan menggoyangkannya. "Tak perlu sungkan. Semua ini kulakukan juga semata demi harga diriku dan semua anggota. Apakah kamu pikir ayah akan tinggal diam saja? Apalagi masalah ini tidaklah sesederhana itu."


"Apa maksud ayah?"


"Rey, sebenarnya kamu benar-benar tidak tahu atau sedang berpura-pura? Hmm?"


"Ayah, maaf. Sejujurnya saat kejadian itu, aku memiliki kecurigaan bahwa ada yang telah memerintahkan mereka. Hanya saja aku belum dapat menemukan siapa orangnya sehingga tidak berani sembarangan berspekulasi didepanmu."


"Kecurigaanmu itu benar. Berdasarkan keterangan yang mereka berikan, ada seseorang yang membayar mereka. Jadi, pengeroyokan terhadapmu bukanlah sebuah kebetulan. Kamu memang telah diikuti dan menjadi target sasaran mereka."


"Apakah Ayah sudah menemukan siapa pelakunya?"


Tuan Yoshiro mengangguk. "Dia termasuk dalam anggota. Kamu tahu, kan?"


"Dia..? Apakah ayah..?"


"Tentu saja! Ayah tidak akan tinggal diam. Keadilan harus ditegakkan. Apa kamu sudah lupa dengan peraturan di dunia kita?"


"Aku ingat. Hanya.."


"Kamu tenang saja. Dia tidak akan berani macam-macam lagi pada kalian. Ayah juga memberinya tugas milikmu."


"Tugas apa itu?"


"Beberapa hari lalu, ada seorang teman meminta bantuan mencari kekasihnya yang hilang. Karena kamu sedang dirawat, jadi ayah menugaskannya untuk membantumu melakukan pekerjaan itu."


"Lalu, bagaimana hasilnya? Apakah sudah ditemukan?"


"Belum."


"Kalau begitu, bolehkah aku membantunya?"


Tuan Yoshiro mengangguk mengiyakan.


"Awalnya kupikir tugas ini sangat mudah dan aka cepat diselesaikan. Ternyata dugaannku salah. Hingga kini, wanita itu belum juga ditemukan."


Mereka terus berbincang-bincang hingga hari sudah semakin siang. Tuan Yoshiro mengajak Rey untuk makan siang bersama sambil melanjutkan perbincangan mereka. Setelah selesai makan dan berbincang-bincang, Rey pun berpamitan hendak pulang ke rumahnya. Sebelum pulang, Tuan Yoshiro berpesan padanya untuk datang berkunjung lagi ke tempatnya.


"Beberapa hari lagi Alice akan balik ke Indonesia. Datanglah lagi kemari untuk menemuinya. Setiap meneleponku, dia selalu menanyakanmu karena dia sudah sangat merindukanmu."


"Iya ayah, aku mengerti."


***