Happiness For You

Happiness For You
67 Dendam Kabuto



Wajah Rey tampak pucat dan basah karena air mata yang telah membanjir. Hatinya sangat sedih dan juga merasa bersalah dengan apa yang ia pikirkan dan perlakuan buruknya selama ini terhadap kakaknya. Belum lagi Erika yang pergi meninggalkannya karena kecewa padanya. Ia sungguh menyesal dan marah kepada dirinya sendiri.


Sepertinya sekarang Rey telah menyadari kesalahannya dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menyakiti kakaknya. Dia akan menerima dan menghargai pengorbanan yang kakaknya berikan padanya. Dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan menjalani kehidupannya dengan lebih baik.


"Kakak ... " Rey memanggil kakaknya sambil meratapi wajahnya. "Maafkan aku ... aku hanya ... aku merasa ...." Kei yang daritadi berada disampingnya, langsung memeluknya.


"Tidak apa Ken, aku sudah memaafkanmu dan tidak mempermasalahkannya lagi. Janganlah merasa bersalah terhadapku. Setelah mendengar cerita masa kecilmu tadi, membuatku berpikir kalau semua penderitaan dan kebencianmu itu juga disebabkan oleh kami yang tak dapat menemukanmu. Seandainya kami telah menemukanmu sejak kecil mungkin ibu kita masih hidup dan masih bersama dengan kita. Kamu juga tidak perlu mengalami hidup dengan begitu menderita dan sendirian.


Seandainya juga saat pertama kali kita bertemu aku langsung bisa mengenali dirimu yang adalah adikku ... mungkin keadaannya juga tidak akan menjadi seburuk ini. Kabuto tidak akan bisa memanfaatkan situasi ini dengan menipu dan mengadu domba kita. Jadi, semua ini adalah salahku. Maafkan aku, Ken."


"Tidak Kak, jangan meminta maaf padaku dan jangan menyalahkan dirimu sendiri. Walau bagaimanapun, tetap akulah yang bersalah karena hatiku yang sempit dan pikiranku yang jahat hingga memulai semua kejahatanku ini. Aku sungguh berdosa ... Sikapku terhadapmu sungguh-sungguh buruk. Tetapi, mengapa kamu masih begitu baik terhadapku? Bahkan kamu mau berkorban untukku hingga harus mengalami begitu banyak penderitaan. Untung saja Erika mau menceritakannya, sehingga aku jadi mengetahuinya. Mata dan hatiku pun telah terbuka lebar sehingga aku bisa menyadari kesalahanku dan sikapku yang begitu buruk kepadamu."


Kei lalu menjawabnya.


"Itu karena aku menyayangi dan mencintaimu dengan tulus sehingga aku dapat memahami dan mengerti semua perbuatanmu itu. Aku juga telah memaafkan semua kesalahanmu dan menganggapnya kalau itu hanyalah masa lalu yang sudah berlalu. Jadi, mulai sekarang kamu juga harus bisa melupakan semuanya dan memaafkan dirimu sendiri. Melangkahlah maju ke depan tanpa melihat lagi ke belakang. Mari kita melupakan semua masalah dan hal buruk yang telah terjadi di masa lalu kita dan mari kita bersama-sama menghadapi masa depan yang telah menanti di depan kita."


"Iya Kak. Terima kasih atas kesempatan yang kakak berikan untukku sehingga aku dapat kembali hidup dengan memiliki tubuh yang sehat. Aku telah berhutang banyak kepadamu dan aku pasti akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk membalasnya. Mulai sekarang, aku akan menjadi seorang adik yang baik yang selalu mendengarkan dan menuruti semua perkataanmu. Aku juga berjanji untuk lebih menghargai hidupku dan menjalani kehidupanku dengan lebih baik."


"Bagus Ken, Kakak senang kalau kamu sudah bisa lebih menghargai hidupmu dan menjalani kehidupanmu dengan lebih baik. Tapi kamu tidak perlu merasa berutang kepadaku. Yang aku lakukan itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai kakakmu yang selama ini tak dapat kuberikan padamu. Bagiku, asalkan kamu bisa kembali hidup dengan sehat dan berbahagia, maka itu sudah cukup. Aku juga yakin hal inilah yang juga diharapkan dan sangat dimpikan oleh kedua orang tua kita. Bahwa kita dapat berkumpul bersama lagi dan saling memberi kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Jadi mulai sekarang, mari kita menjalani kehidupan kita bersama dengan saling berbahagia dan kita lupakan semua hal yang telah berlalu ini."


Rey mengangguk dan memberinya senyuman yang sangat indah dan tulus.


"Sekarang, berisitirahatlah. Kamu pasti lelah karena kamu baru saja terbangun dari tidur panjangmu yang melelahkan tetapi kamu masih harus menghadapi begitu banyak peristiwa yang menguras tenaga dan energimu." Rey mengangguk mengiyakan. Lalu Kei membantu dengan memapah Rey ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.


Belum lama matanya terpejam, Rey sudah membuka matanya lagi.


"Kak Kei." panggilnya.


"Iya, ada apa?"


"Bagaimana caranya kita bisa keluar dari gudang itu dan terbebas dari Kabuto? Siapakah yang telah menyelamatkan dan membebaskan kita?" tanya Rey yang saat memejamkan matanya untuk tidur, tiba-tiba teringat dengan peristiwa mengerikan yang mereka berdua alami waktu itu.


"Tuan Yoshiro beserta anak buahnya yang datang membantu dan menyelamatkan kita. Dan itu berkat Erika beserta kedua anak buah anakmu yang menghubungi Alice untuk meminta bantuannya. Kemudian Alice melapor pada ayahnya dan meminta pertolongan dari ayahnya."


"Bagaimana mereka bisa tahu gudang tempat kita sedang dikurung?"


"Erika yang memberi mereka petunjuknya. Kamu ingat, sebelum ini Erika juga pernah diculik dan dibawa ke sebuah rumah untuk disekap di sana?" Rey mengangguk mengiyakan. "Kemudian saat ia diculik lagi untuk kedua kalinya, ia sempat tersadar dan mengetahui kalau kalian sedang berada disebuah gudang yang berukuran luas. Tapi sayang, kamu memukul pundaknya dan membuatnya pingsan sebelum dia benar-benar mengamati dengan baik gudang dan lokasinya."


"Hhh ..." Tawa Rey tanpa suara.


Kemudian Kei melanjutkannya.


"Untung saja dia ingat kalau didekat rumah tempat ia disekap waktu itu juga ada sebuah gudang yang berukuran luas. Jadi mereka pun mendatangi gudang tersebut dan berhasil menemukan kita di sana."


"Ternyata begitu banyak orang yang terlibat saat membantu dan menyelamatkan kita. Aku sungguh berhutang pada mereka. Terutama pada ayah angkatku dan Erika." wajah Rey tampak sendu dan kelam saat menyebutkan kedua nama orang yang sangat penting dan berarti di dalam hidupnya itu. Sepertinya ada beban lain yang terpikir olehnya.


Erika, ternyata kamu yang menyelamatkanku. Apakah kamu tidak marah kepadaku atas sikapku malam itu? Batin Rey.


Rey merasa sangat bersalah pada Erika karena telah berulang kali menyakitinya. Sekarang dirinya menjadi bingung dan tidak tahu harus bagaimana bersikap kepadanya. Lalu Rey memandangi wajah kakaknya, ia pun semakin merasa bingung juga serba salah. Sepertinya apapun yang ia lakukan pasti akan menyakiti dan melukai perasaan salah satu dari mereka. Rey berpikir kalau ia tidak mungkin bisa bersama lagi dengan Erika karena itu berarti ia akan merebut Erika kembali dari kakaknya dan juga mempermainkan perasaan kakaknya yang mencintai Erika. Apalagi dengan segala pengorbanan yang telah kakaknya berikan padanya. Lalu apakah itu berarti ia harus kembali menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya dan tidak mempedulikan perasaannya sendiri?


Kei sepertinya dapat melihat dan mengetahui apa yang Rey pikirkan karena keningnya terlihat sedikit berkerut dan raut wajahnya juga seperti sedang khawatir dan bimbang.


"Ken, tidurlah. Jangan terlalu banyak berpikir dulu."


Rey sudah hampir mengiyakan, tetapi kemudian ia teringat kalau ia belum bertanya secara jelas apa yang terjadi saat itu. Lalu ia pun menanyakannya kembali pada kakaknya.


"Tidak Kak, ceritakan dulu padaku penyebab Kabuto berbuat seperti itu pada kita. Apakah dendamnya itu padaku? Aku tidak ingat pernah melakukan sesuatu hal buruk padanya yang membuatnya terus memusuhiku hingga memiliki dendam terhadapku."


"Dendamnya itu bukan karena perbuatan yang kamu lakukan langsung terhadapnya. Itu hanya terkait dengan dirimu." Rey menatap kakaknya dengan bingung dan tak mengerti. "Begini, kamu ingat saat remaja dulu kamu pernah menyelamatkan seorang anak perempuan yang sedang diculik?"


"Alice? Iya, aku ingat. Tapi sebenarnya itu hanyalah sebuah kebetulan saja karena kita sama-sama sedang ditangkap dan dikurung di gudang itu. Ahh aku ingat, ternyata itu gudang yang sama. Pantas saja aku merasa tidak asing."


"Singkat cerita, pelaku penculikan Alice dan yang juga menangkapmu adalah orang yang sama dan dia adalah kakak kandung dari Kabuto." Rey kaget mendengar kebenaran itu. "Tuan Yoshiro sangat marah karena ternyata kakak Kabuto itu telah mengkhianatinya dengan bekerja sama dengan musuhnya untuk menculik putrinya serta melakukan kasus penipuan para anak remaja."


"Ya, dan aku salah satu remaja yang menjadi korbannya itu."


"Para remaja memang sasaran yang paling empuk. Karena mereka masih polos dan terlalu bersemangat untuk memiliki masa depan yang cerah jadi mudah tertipu dan diiming-imingi dengan khayalan palsu. Untung saja kamu memiliki badan yang lemah sehingga saat itu kamu tidak lolos tes kesehatan dan tidak dapat ikut dikirim ke luar negri. Kalau tidak, saat itu kamu pasti sudah menjadi korban perdagangan manusia secara ilegal yang diambil organ-organnya untuk diperjualbelikan."


"Semengerikan itukah? Selama ini aku tidak mengetahuinya hingga detik ini baru aku tahu saat mendengarnya darimu. Kupikir ia hanya menipu untuk menjadikan kami budak atau semacamnya. Pantas saja ia sangat marah kepadaku dan mengatai serta memakiku dengan perkataan kasar yang menghina."


"Apa dia menghina fisikmu yang lemah?"


Rey memberinya anggukan.


"Jika dilihat, secara fisik aku memang tampak sehat dan kuat. Jadi ia pun mendekatiku dan mengincarku untuk dijadikan korbannya. Haha ... ternyata fisikku yang lemah ini ada untungnya juga dan justru telah menyelamatkanku."


"Iya, kamu benar. Untung saja kamu tidak lolos dan kamu malah berhasil menggagalkannya serta membuat para remaja itu terbebas dari kasus perdagangan ilegal itu. Kalau tidak, itu sungguh mengerikan bahkan hanya dengan membayangkannya saja. Oh iya, anak buahmu yang bernama Sato juga salah satu dari para remaja tersebut." Rey cukup kaget mendengarnya.


"Benarkah? Dia tidak pernah menceritakannya padaku."


"Entahlah ... Aku juga mengetahuinya dari ayah angkatmu. Kejahatan yang kakak Kabuto lakukan sudah terlalu besar dan akan menjadi sangat berbahaya serta merisaukan bagi banyak masyarakat jika dibiarkan. Jadi Tuan Yoshiro pun bertindak dengan cukup keras dan keji untuk menghabisinya atau kalau tidak dia akan kembali mengumpulkan banyak orang untuk membantunya mengulangi perbuatan kejinya itu atau bahkan bisa lebih parah lagi."


"Hah? Apa yang Tuan Yoshiro lakukan? Saat itu aku jatuh pingsan jadi aku benar-benar tidak tahu ceritanya secara lengkap. Yang aku ingat, saat aku telah sadar kembali, aku sangat ketakutan dengan apa yang telah terjadi padaku dan Alice. Selain itu aku juga tidak berani untuk bertanya pada seseorang yang bersosok begitu kuat seperti Tuan Yoshiro, yang adalah ketua mafia terbesar."


"Tetapi karena perbuatanmu yang telah membantu Alice kabur dan membuatnya terselamatkan dari para penculik itu, Tuan Yoshiro jadi menyukaimu dan mengangkatmu sebagai anaknya. Sekarang aku jadi paham mengapa kamu bisa tahu bagaimana cara untuk keluar dari gudang itu. Tetapi, mengapa kamu sendiri tidak ikut kabur bersama Alice? Juga pada kasus baru-baru ini yang terjadi pada kita, sebenarnya kamu bisa kabur dari sana tetapi kamu tidak melakukannya.


"Karena hal seperti itu tidak bisa untuk selalu dihindari melainkan harus dihadapi."


"Kamu benar." jawab Kei sambil mengangguk.


"Lalu, mengapa Kabuto ingin agar aku merasakan rasa sakit dan penderitaan yang berkepanjangan dengan memaksaku menembakmu yang adalah kakak kandungku?"


"Karena itulah yang Tuan Yoshiro lakukan padanya. Tuan Yoshiro memaksa Kabuto untuk menembak dan menghabisi nyawa kakaknya sendiri." Kali ini Rey membelalakkan matanya karena tak menyangka dengan apa yang didengarnya.


"Tuan Yoshiro melakukannya untuk membuat Kabuto membuktikan kepadanya bahwa ia setia pada Tuan Yoshiro dan tidak memihak pada kakaknya. Ya, dia memang selalu setia pada Tuan Yoshiro, tapi ia masih menyimpan dendamnya itu dan melampiaskannya kepadamu. Karena perbuatanmu yang membantu Alice kabur, membuatnya berhasil pulang dan melapor pada ayahnya. Sehingga ayahnya bisa segera bertindak. Selain itu, Kabuto juga merasa iri denganmu karena setelah peristiwa itu kamu selalu menjadi favoritnya Tuan Yoshiro hingga diangkat anak olehnya.


Padahal yang aku dengar, saat itu kamu juga telah sangat menderita. Karena kakak Kabuto dan teman-temannya marah padamu yang telah membantu Alice kabur. Mereka lalu menyiksa serta memukulimu hingga kamu mengalami luka parah dan hampir tewas. Ken, aku sungguh merasa menyesal atas segala penderitaan yang kamu alami disaat kamu masih berusia remaja."


"Tidak apa Kak, itu sudah berlalu dan aku juga telah beehasil melewatinya. Lalu bagaimana dengan nasib Kabuto saat ini? Apakah dia ...?"


"Mengapa wajahmu terlihat tegang? Apa kamu mengkhawatirkannya?"


"Mmm tidak, aku tidak tegang, hanya penasaran. Lagipula aku tahu bosku dan seberapa kejamnya ia ketika menghukum seseorang."


"Hmm ...," Kei meletakkan jari telunjuknya di bawah dagunya dan mengamati wajah Rey seperti sedang menelisik sesuatu. "Jadi, kamu tidak ingin ia dihukum?"


"Tentu saja ia harus dihukum, tapi setidaknya membiarkan ia merasakan sakit yang berkepanjangan hingga ia merasa cukup menderita saja atau mungkin dengan sedikit cacat, tidak perlu sampai menghabisi nyawanya."


"Tapi jika begitu, kelak dia akan kembali datang kepadamu untuk membalaskan dendamnya lagi. Bukankah memang seperti itu yang biasanya terjadi?"


"Entahlah. Yang kakak katakan memang benar, tetapi aku hanya teringat akan pengorbanan ibu kepadaku agar membuatku dapat terus hidup. Sehingga aku berpikir kasihan terhadap para ibu yang harus kehilangan anaknya apalagi karena dibunuh."


"Tetapi mengapa kamu sendiri tidak menghargai nyawa dan kehidupanmu? Mengapa kamu menghadang peluru itu dan tidak mempedulikan nyawamu sendiri? Padahal kamu sendiri sedang sakit parah dan sekarat." Tanya Kei dengan marah dan mata yang berkabut.


"Tidak, aku tidak begitu. Aku hanya ... aku ... " Tanpa bisa terbendung lagi, airmata Rey langsung tumpah dan berjatuhan dipipinya. "Aku merindukan ... ibu ... dan aku ... takut kalau kamu ... pergi meninggalkanku ... " Kei langsung memeluk adiknya dan mereka menangis bersama dalam diam.


Saat tangisnya sudah mereda, Rey melepaskan pelukannya dan berkata,


"Aku tidak mau kakak meninggalkanku sendirian apalagi karena pengorbananmu terhadapku. Sudah cukup bagiku merasakan perasaan bersalah dan menderita karena mengalami hal seperti itu."


"Ken, jangan takut. Kakak berjanji tidak akan meninggalkanmu. Tetapi kamu juga janji jangan melakukan hal seperti itu lagi padaku." Rey mengangguk.


Kemudian Kei memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kabuto.


"Kabuto masih hidup. Tuan Yoshiro tidak menghabisinya, ia hanya memberinya tiga tembakan di punggungnya. Sama seperti yang ia lakukan terhadapmu." Rey mengangguk lagi dan merasa itu hukuman yang cukup adil dan setimpal. "Ahh dan ada lagi suatu fakta yang pasti akan membuatmu terkejut."


"Fakta apakah itu?"


"Bahwa ternyata kakaknya Kabuto tidak mati. Karena tembakan amatir yang Kabuto berikan yang seharusnya mengarah ke bagian dadanya menyasar mengenai perutnya dan melukai tulang panggulnya. Lalu Tuan Yoshiro tidak memberinya pengobatan yang baik, sehingga ia pun mengalami kelumpuhan. Selama ini Tuan Yoshiro menyembunyikan keberadaannya dalam kurungan bawah tanahnya. Hingga akhirnya Kabuto melakukan kejahatannya padamu karena dendamnya akibat telah kehilangan kakaknya itu, akhirnya mereka berdua pun dipertemukan dan dikurung bersama dalam satu kurungan."


Rey memperlihatkan kelegaan diwajahnya. Walaupun pada akhirnya mereka tetap dikurung, tapi Rey pikir itu adalah hukuman yang pantas dan adil untuk mereka dapatkan. Setidaknya mereka masih memiliki kehidupan ini dan bisa merenungi kesalahan mereka yang mungkin pada akhirnya membuat mereka tersadar dan dapat melakukan hal baik untuk menebus kesalahan mereka.


***