Happiness For You

Happiness For You
53 Diculik lagi



Erika kembali berlari kecil dan segera memeluk tubuh belakang pria yang sedang berdiri membelakanginya itu. "Rey ...!" isaknya saat tubuhnya sudah memeluk bagian belakang tubuh Rey. Rey yang sedang berdiri dan fokus mengamati kamar Erika sangat kaget hingga matanya melebar dan membulat dengan sempurna. Dia berdiri terdiam sebentar, kemudian dengan tanpa membalikkan tubuhnya, ia menggerakkan tangannya untuk melepaskan pelukan Erika, lalu melangkahkan kakinya untuk pergi darinya.


Di sekitar mereka, terlihat seorang pria yang sedang berdiri didekat kamera cctv. Pria itu merusak kamera cctv tersebut sesaat setelah Erika memeluk tubuh Rey. Ia lalu berjalan dengan sembunyi-sembunyi untuk menghampiri mereka.


Erika berusaha menahan tubuh Rey dengan memegangi bajunya. "Jangan pergi ...," ucapnya dengan terisak. Tetapi Rey tidak menghiraukannya. Ia juga tidak berbalik untuk menghadap kearah Erika. "Rey ...!" teriak Erika dengan isak tangisnya yang semakin kencang.


Rey tetap melangkah pergi dengan langkahnya yang besar dan cepat. Ia tidak mau Erika melihatnya dan membuat mereka saling bertatap muka. Karena ia harus menepati janjinya untuk tidak lagi menemui Erika. Selama ini, dia berpikir kalau yang ia perbuat dengan hanya melihat Erika itu tidaklah melanggar kesepakatannya. Tetapi jika mereka sama-sama melihat dan bertatap muka maka itu berarti mereka sedang bertemu. Lagipula ia tidak mau membuat Erika salah paham dengan menanggapinya, yang nantinya membuat Erika berpikir kalau sebenarnya dia masih memiliki perasaan terhadapnya. Padahal Erika memang sudah mengetahuinya dari perbuatannya yang hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengamati dirinya.


Erika ingin berlari mengejarnya tetapi seseorang memukul pundaknya dari arah belakang dengan sangat kuat sehingga membuatnya langsung pingsan. Kemudian orang tersebut buru-buru membawa tubuh Erika dengan menyeretnya bersembunyi di balik mobil yang terparkir didekat situ.


Sehingga saat Rey menyetir mobilnya melintasi pepohon tersebut, Rey sudah tidak melihat ada Erika di sana. Rey berpikir bahwa Erika sudah dibawa pulang oleh pengawalnya. Jadi ia pun mempercepat laju mobilnya untuk pergi menuju kantor bosnya. Setelah mobil Rey melaju pergi dan menghilang di kejauhan, pria yang menculik Erika segera keluar dari tempat persembunyiannya dengan sambil menyeret Erika dan membawanya pergi dari situ.


Beberapa menit kemudian, pelayan dan pengawal Erika saling bertemu di dalam area club house dan mereka akhirnya menyadari bahwa Erika telah menghilang. Mereka lalu meminta bantuan kepada para petugas yang berada di bagian kolam renang untuk membantu mencari Erika. Lalu mereka pun mengetahui kalau Erika telah melarikan diri dari mereka melalui jalur khusus yang ada di area kolam renang dan berada di sekitar toilet. Mereka pun buru-buru pulang dan melaporkan hal tersebut kepada Tuan dan Nyonya mereka. Yang tentu saja itu membuat mereka sangat terkejut dan memarahi mereka karena tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.


Ayah Erika ingin langsung menghubungi kantor polisi dan melaporkan anaknya yang hilang. Tetapi ibu Erika melarangnya.


"Jangan dulu, Yah. Gimana kalau Erika yang melarikan dirinya lagi? Lagian masalah ini pasti ada kaitannya dengan pria itu. Jadi ini merupakan masalah percintaan yang sifatnya pribadi. Jangan terlalu dibesar-besarkan sampai melaporkannya ke kantor polisi. Sebaiknya kita menghubungi Kei dulu dan memberitahunya kabar tentang menghilangnya Erika. Mungkin saja dia dapat membantu menemukan Erika."


Ayah Erika pun menyetujui ucapan istrinya. Ia lalu menghubungi Kei untuk memberitahukan kabar tentang Erika yang menghilang lagi dan meminta bantuannya untuk mencari Erika.


Selesai berbicara dengan Kei, mbak Ita mendatangi mereka sambil masih menangis. Dia sepertinya menemukan sesuatu di kamar Erika dan ingin melaporkannya.


"Tuan dan Nyonya, lihatlah ini." Ucapnya sambil menyodorkan laptop yang sedang dibawanya. "Beberapa hari belakangan ini Non Erika sering menggunakan ini untuk menonton video di sana."


Orangtua Erika awalnya menatap bingung padanya, tapi mereka lalu mengambil laptop itu dan melihat video apa yang dimaksud pelayan pribadi Erika itu.


"Rekaman cctv?" ceplos Ayah Erika begitu melihat beberapa video yang muncul pada layar laptop Erika begitu ia membuka laptopnya. Setelah menonton beberapa video dan melihat sosok Rey yang ternyata selama ini diam-diam mendatangi rumah mereka untuk mengamati gerak gerik Erika, mereka akhirnya menyimpulkan kalau Erika pasti telah dibawa kabur lagi oleh pria itu. Ayah Erika benar-benar marah dan kembali ingin melaporkan pada polisi dengan tuduhan bahwa anaknya telah diculik oleh Rey sehingga Rey bisa ditangkap dan dihukum dalam penjara. Tetapi istrinya kembali menenangkan dan berusaha mencegah ayahnya.


"Ayah, lebih baik tahan dulu emosimu. Kita tunggu saja sampai kedatangan nak Kei kemari. Mungkin dia bisa membantu kita mencarinya dan menyelesaikan masalah ini."


"Tetapi penyelesaian yang dilakukannya tidak pernah sampai ke akarnya. Lihat saja yang terjadi pada putri kita. Kejadian ini selalu berulang. Dia lagi-lagi berhasil kabur bersama lelaki itu. Betapa bodohnya anak itu, sudah disakiti sampai sebegitu parahnya masih saja ia mau kembali lagi pada lelaki brengsek itu!" Ayah Erika mengumpat marah dan memaki dibelakang mereka untuk melampiaskan kemarahannya yang telah memuncak.


Sesaat kemudian, Kei sudah tiba di rumah mereka. Mereka langsung memperlihatkan rekaman cctv yang ada pada laptop Erika. Saat Kei melihatnya, hati Kei sungguh terasa sedih. Tetapi perasaan sedihnya itu bukan ditujukan kepada Erika, melainkan kepada Rey karena perbuatannya itu yang secara diam-diam memperhatikan dan mengamati Erika dari jauh. Itu menunjukkan betapa lelaki itu merindukan Erika dan sangat mencintainya.


Lalu ketika ia membuka video rekaman terakhir yang berhasil direkam kamera cctv tersebut, disaat Erika memeluk tubuh Rey dari belakang, ia menemukan ada sesuatu yang janggal. Karena beberapa detik selanjutnya gambaran yang terekam di video itu tiba-tiba gelap dan tidak ada lagi gambar yang terlihat.


"Paman, sepertinya cctv ini sengaja dirusak oleh seseorang. Lihat ini. Ini video terakhir yang ditangkap oleh kamera cctv tersebut."


"Mungkin saja pria itu yang merusaknya karena ia ingin melakukan suatu hal yang buruk pada Erika. Atau jangan-jangan pria itu mencoba membawa pergi Erika dengan paksa dan bermaksud untuk menculiknya?" tanya Ayah Erika curiga dan dengan cemas.


Kei merasa itu tidak mungkin seperti yang ayah Erika katakan. Tetapi ia hanya diam dan sibuk memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Paman, Tante, saya akan pergi mencari Erika ke rumah lelaki itu. Nanti saya akan segera menghubungi kalian begitu saya mendapatkan suatu kabar tentang Erika." Kei lalu pergi menuju rumah Rey.


***


"Halo" jawab Rey.


"Apa kabarmu, Rey?" tanya suara di sebrang telepon.


"Kabuto?" Rey langsung menebak namanya.


"Wahh ... sungguh pintar, kamu bisa langsung mengenaliku hehehe ... " pujinya sambil tertawa senang.


"Ada urusan apa kamu meneleponku?" Rey langsung bertanya dengan ketus.


"Mengapa tadi kamu begitu kejam terhadap kekasihmu, meninggalkannya begitu saja saat ia sedang menangis dengan tersedu-sedu huhuhu ... Seharusnya kamu membalas memeluknya dulu sebelum pergi meninggalkannya sendiri." jawabnya dengan nada yang menggoda dan mengejek.


"Apa maksud perkataanmu itu? Bagaimana kamu tahu apa yang aku lakukan padanya tadi pagi" Kali ini Rey mulai nampak tegang dan raut wajahnya berubah menjadi serius.


"Hahaha ... " Kabuto cuma menjawabnya dengan suara tawanya yang riang. "Dilihat lagi tidur begini kekasihmu malah makin terlihat cantik dan menggodaku -"


"Kabuto, apa kamu sedang menculiknya lagi?!" Rey benar-benar kaget dan takut mendengar perkataan Kabuto. Sudah jelas sekali kalau Erika sedang berada ditangan pria gila itu saat ini.


"Lagi ...?" tanya Kabuto pura-pura keheranan. "Ahaha ... hahaha ... Tenangkan dirimu, Rey ku sayang. Kamu memang cerdas dan juga baik hatinya. Sudah tahu kalau akulah pelaku yang menculik wanitamu sebelum ini, tetapi kamu membebaskanku. Apakah kali ini kamu juga akan membebaskanku? Huahaha ... " Terdengar suara tawa Kabuto yang membahana. Dia benar-benar memancing kemarahan Rey.


"Dasar brengsek!! Kamu memang seorang pengecut. Kalau berani datang langsung padaku dan hadapi aku. Jangan kamu usik wanita lemah yang tak bersalah itu. Lebih baik kamu cepat bebaskan dia atau aku akan langsung mendatangimu dan menghabisimu."


"Apa kamu pikir aku akan takut pada ancamanmu itu? Sadarlah, sekarang kamu hanya seorang pria sekarat yang bahkan mungkin untuk berkelahi dengan seorang anak kecil saja sudah tidak kuat apalagi mau melawanku."


"Dan kamu memang benar-benar seorang pria pengecut yang bernyali lebih kecil dibanding seorang anak kecil. Kamu hanya berani menantang dan melawanku saat aku sedang sekarat."


"Jaga ucapanmu itu. Dasar kepara* ...! Sepertinya kamu sudah benar-benar bosan dengan wanitamu ini dan tidak mau mempedulikannya lagi. Baiklah aku akan -"


"Tidak Kabuto, Hentikan! Apapun itu, hentikan perbuatanmu sekarang juga! Aku mohon padamu ...."


"Apa kamu sudah merasa takut padaku sekarang? Memohonlah .... Datang kepadaku dan memohonlah maka aku jamin dia akan aman."


"Katakan dimana lokasimu sekarang. Aku akan segera menemuimu." Kabuto lalu memberitahukan padanya dimana lokasinya saat ini dan mengancamnya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun juga.


Rey pun segera pergi menuju tempat yang Kabuto beritahukan kepadanya. Tetapi sebelum pergi, ia melakukan sesuatu di hp nya dan sengaja meletakkannya di meja kamarnya.


***