Happiness For You

Happiness For You
52 Kabur Lagi



Saat ini Erika sudah tiba di taman dengan ditemani oleh mbak Ita dan seorang pengawal yang berjalan di belakangnya dengan berjarak sejauh 2 m mereka. Sejak berjalan dari rumahnya, Erika terus memikirkan suatu cara untuk membuat pengawal dan pelayannya bisa pergi jauh-jauh darinya. Lalu Erika menemukan suatu cara dan mencobanya.


"Aww ... Kepalaku ...," Teriak Erika tiba-tiba mengaduh kesakitan.


"Ada apa Non? Kepalamu sakit lagi?" Mereka lalu berjalan ke tempat yang ada kursinya dan duduk di sana.


"Heeh ... Tadi aku lupa meminum obatku."


"Bukannya kamu sudah meminumnya? Kan tadi saya yang membantumu menyiapkannya ...."


"Mm ... ya, mm tapi aku sengaja tidak meminum obat yang satu itu karena aku merasa sakit kepalaku sudah tidak pernah kumat lagi dan karena aku takut jadi ketergantungan, jadi aku tidak meminumnya lagi. Tetapi ternyata aku sudah ketergantungan dengan obat itu dan harus selalu meminumnya. Mbak pulang gih ambilkan aku obat itu." Jawab Erika berbohong.


"Yahh Non, ini kan lumayan jauh kalau aku harus bolak balik. Apa kita sebaiknya pulang saja?"


"Mana bisa, kepalaku lagi sakit begini. Untuk berdiri saja aku tidak kuat apalagi berjalan. Hmm ... coba kamu suruh saja dia untuk pergi mengambilnya." Ucap Erika sambil melirik kepada pria pengawal yang sedang berdiri dengan jarak 2m dari mereka. Mbak Ita menggeleng dengan wajah yang terlihat ketakutan.


"Jangan, Non. Aku takut berbicara dengannya. Mending aku saja deh yang ambil ...." Mbak Ita sudah akan beranjak untuk pergi, lalu Erika menahannya.


"Tunggu, aku akan coba menyuruhnya. Hei ... Kemarilah." Erika melambaikan tangannya sambil memanggil pengawal yang sedang menatap kearahnya itu. Lalu pengawal itu pun berjalan mendekatinya.


"Iya, Nona."


"Kamu tolong ambilkan obat sakit kepalaku yang tertinggal di dalam kamarku. Karena saat ini kepalaku sakit dan aku perlu untuk meminumnya."


"Maaf Nona, saya tidak diperbolehkan untuk meninggalkan anda walau hanya sedetikpun. Tetapi saya bisa menghubungi teman saya untuk datang membawakan obat anda kemari -"


"Tidak, jangan. Tidak perlu merepotkan temanmu. Lebih baik saya meyuruh dia saja. Mbak Ita ... maaf merepotkanmu." ucap Erika dengan tersenyum yang sangat dipaksakan olehnya di depan pengawal dan pelayannya itu.


Dalam hatinya Erika bersungut kesal dan sebal dengan pengawalnya itu. Apalagi pengawal itu menawarkan menghubungi temannya untuk datang ke taman membawakan obatnya dan itu berarti dirinya mendapat satu lagi pengawal tambahan. Satu pengawal saja sudah membuatnya pusing memikirkan cara untuk menyingkirkannya agar dia bisa sendirian saja. Apalagi kalau ada dua pengawal.


Erika kembali melirik ke pengawalnya dan sedikit melototinya. Tetapi ternyata pengawalnya itu masih berada tepat di sampingnya dan sedang melihat kearahnya. Jadi Erika pun kembali memaksakan senyumnya. "Kamu boleh kembali ke tempatmu dan jauh-jauhlah dariku." Ucap Erika dengan suara yang makin memelan sambil menahan kejengkelannya. Setelah pengawalnya pergi menjauhinya, Erika mendumal pelan, "Tidak boleh meninggalkanku walau hanya sedetik? Lalu bagaimana kalau aku perlu ke wc untuk buang air-" Tringg! Tiba-tiba dikepalanya terpikirkan suatu cara yang bagus untuk membuat pengawalnya itu menyingkir darinya. Dia lalu senyum-senyum sendiri. Memikirkan suatu ide yang bisa dia lakukan selanjutnya.


Keesokan paginya, Erika kembali memantau rekaman cctv yang sedang berlangsung dari laptopnya. Dan, benar dugaannya bahwa hari ini pria itu juga tidak datang. Semalaman Erika sudah menonton semua rekaman cctv yang merekam sosok Rey yang sedang mengamati dirinya. Erika pun telah mengetahui kapan saja waktu kedatangan Rey itu. Biasanya Rey akan datang pada hari-hari tertentu di setiap paginya dan saat itu dirinya sedang duduk di balkon untuk menikmati sarapannya.


Pada pagi di keesokan harinya, Erika sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dia buru-buru mandi dan agak sedikit mempercantik dirinya. Dia lalu segera mengajak mbak Ita dan pengawalnya untuk pergi tetapi bukan ke taman, melainkan ke club house yang merupakan fasilitas yang disediakan oleh perumahan tempatnya tinggal. Bahkan saat itu ayahnya saja belum berangkat ke kantor.


Di pagi ini Erika tidak lagi memantau rekaman cctv nya yang sedang berlangsung terlebih dahulu dan langsung pergi berjalan-jalan keluar rumahnya karena ia merasa yakin kalau Rey pasti akan datang pagi ini. Ia juga harus pergi dengan lebih pagi karena ia harus mempersiapkan rencananya untuk menyingkirkan kedua orang yang selalu bersamanya.


Pertama-tama, Erika berusaha membuat pelayannya balik ke rumahnya dengan beralasan bahwa hpnya ketinggalan. Karena kejadian obat yang tertinggal, mbak Ita lebih teliti dan ia selalu mengingatkannya untuk meminum obatnya sebelum pergi. Dia bahkan membawa obatnya itu ke taman. Jadi Erika tidak bisa menggunakan alasan obatnya ketinggalan lagi.


Saat ini mereka sedang berada di depan club house yang merupakan fasilitas dari perumahan tempat Erika tinggal. Di dalam club house itu terdapat kolam renang, beberapa peralatan olah raga dan fasilitas lainnya yang bisa dipakai oleh para penghuni perumahan. Erika lalu mengajak mereka untuk masuk ke dalam club house tersebut.


"Mbak, pemandangan di sini bagus banget ya. Aku sudah lama nih tidak berfoto-foto narsis."


"Ya sudah, sini Mbak fotoin...." Mbak Ita mengulurkan tangannya dengan maksud meminta hp Erika untuk memfotonya.


"Yahhh, tapi aku lupa membawa hp ku. Mbak pulang gih ambil hp ku."


"Ya si Non, kan jauh kalau aku bolak balik ke rumah Non terus ke sini lagi. Kemarin lusa saja aku sampe capek banget itu ...."


"Tapi ini kan di club house dan bukan di taman. Pulang ke rumahku kan engga terlalu jauh bila dari sini. Ayolah Mbak pulang ambilkan hpku ... "


"Baiklah kalau begitu." Pelayannya pun terpaksa menurutinya pulang kembali ke rumah Erika untuk mengambilkan hp nya.


Setelah Mbak Ita berjalan pergi, Erika berpindah tempat ke area yang ada kolam renangnya dan duduk di kursi tidur yang ada di sana. Pengawalnya pun mengikutinya masih dengan berjarak 2m darinya dan dengan pandangan matanya yang tak lepas darinya. Baru duduk sebentar, Erika mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia lalu berjalan pergi dengan berlari-lari kecil. Pengawalnya pun mengikutinya.


Erika lalu berhenti, menengok ke belakang dan terus memandangi pengawalnya. Pengawalnya pun ikut berhenti dan membalas memandanginya. Kemudian dengan wajah kesalnya, Erika berkata padanya, "Aku sakit perut dan perlu ke toilet. Apa kamu juga perlu menungguiku yang sedang melakukan itu di toilet?" Wajah pengawal itu memerah karena malu. Ia pun berjalan mundur kembali ke tempatnya dan tidak mengikutinya lagi karena toilet yang Erika gunakan juga masih bagian dari kolam renang yang berarti masih berada dalam jangkauannya. Sehingga ia masih bisa memantau Erika dari tempatnya berdiri.


Hanya saja terus memandangi toilet wanita tentunya tidak baik dan mengundang kecurigaan bagi pengunjung lainnya. Sehingga pengawal tersebut cukup kesulitan untuk memfokuskan pandangannya ke arah sana. Belum lagi jika seorang wanita ke toilet membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak dapat diprediksi berapa lamanya. Apalagi dengan kondisi Erika yang sedang sakit perut. Semua hal itu memang sudah Erika pikirkan dan ia memang sengaja merencanakan hal ini untuk membuatnya terlepas dari pengawalnya itu.


Selain itu, sebenarnya di area sekitar toilet terdapat jalur lain yang bisa digunakan para penghuni yang ingin langsung menuju ke rumahnya setelah berenang. Namun untuk melalui jalur itu harus mempunyai kartu akses yang digunakan untuk membuka pintunya dan hanya sebagian kecil dari penghuni saja yang mengetahuinya. Tentunya Erika mempunyai akses tersebut dan juga mengetahui jalur ini. Sehingga saat Erika berjalan menuju toilet, ia sesungguhnya pergi keluar melalui jalur itu.


Setelah berada di luar dan terbebas dari mereka, Erika langsung berlari menuju arah balik ke rumahnya tetapi melalui jalur lainnya yang agak sedikit memutar sehingga ia bisa sampai terlebih dahulu ke belakang pohon besar itu tanpa melewati rumahnya. Saat sudah hampir dekat, Erika menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang dan nafasnya ngos-ngosan karena ia baru saja berlari. Dan jantungnya semakin berdegup dengan sangat kencang seperti melonjak tinggi ketika melihat sosok pria yang telah sangat dirindukannya itu sedang berdiri dengan posisi yang membelakanginya. Karena pria itu sedang mengarahkan pandangan matanya ke balkon kamar Erika.


***