
Keesokan paginya, Kei sudah diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Saat ini Erika masih belum sadar. Orangtua Erika kembali datang untuk menjenguk anaknya. Mereka mengajak Kei untuk bergantian menjaga Erika sehingga ia bisa pulang dan berbenah diri. Kei pun pamit pulang pada mereka.
Sebelum pulang, Kei menyempatkan diri ke bagian onkologi untuk mencari Rey.
"Selamat pagi Suster, dimanakah letak kamar pasien yang bernama Reyhan Wiriawan dirawat? Saya ingin menjenguknya." tanya Kei pada seorang suster yang sedang berjaga.
"Tunggu sebentar, Pak. Saya perlu mengeceknya dulu."
"Baik Sus."
"Maaf Pak, saat ini pasien belum bisa dijenguk karena pasien masih berada di ruang ICU dan dalam keadaan koma." Kei terdiam sejenak, lalu ia menjawab suster tersebut. "Baik, terima kasih Suster."
Suster jaga melihat tampang Kei yang tampak muram dan sedih. Suster tersebut lalu memberitahu Kei bahwa ia bisa menengok pasien dari kaca di luar ruangan.
"Arah sini Pak." Tunjuk suster untuk mengarahkan letak ruangannya berada.
Kei melihat melalui kaca yang tertempel pada bagian dinding ruangan. Di dalam ruangan, terlihat Dokter Steve dan satu dokter lainnya serta dua orang perawat yang mendampingi mereka. Para perawat itu sedang mengecek dan memastikan apakah peralatan medis yang terpasang pada tubuh Rey masih berfungsi dan bekerja dengan baik.
Sedangkan Dokter Steve terlihat seperti sedang mendiskusikan tentang keadaan Rey pada dokter satunya lagi. Tak lama berselang, mereka berdua keluar dari ruangan.
"Dokter Steve ...," panggil Kei. Dokter Steve menoleh kearahnya. Kei lalu berjalan menghampirinya. Teman dokter Steve pamit padanya dan pergi meninggalkan mereka. "Dokter, perkenalkan nama saya Kei Takahiro. Maafkan saya kemarin lupa untuk memperkenalkan diri saya karena saya sedang panik dan kebingungan saat itu."
"Tidak masalah Tuan Kei, itu adalah hal yang wajar dan lumrah terjadi ketika melihat seseorang kecelakaan atau pingsan di depan kita."
"Benar Dokter. Mmm, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih koma dan belum tersadar sejak kemarin malam?"
"Iya, dia masih belum sadar. Sepertinya dia membutuhkan semangat dan keinginan yang kuat agar dapat terbangun dari keadaan koma yang sedang dialaminya. Dan itu adalah hal yang sulit."
"Mengapa Dok?"
"Maaf, saya tidak dapat mengatakannya karena ini adalah suatu hal yang privasi karena berkaitan dengan masalah personal yang terjadi di dalam kehidupannya."
"Lalu, apakah ada sebuah solusi lainnya? Seperti dengan obat atau tindakan medis?"
"Itulah yang sedang kami usahakan dan lakukan terhadapnya. Tapi hingga kini belum ada perkembangan yang signifikan yang terjadi."
Kei kembali meratapi tubuh Rey yang berbaring lemah di dalam ruangan ICU dengan berbagai peralatan yang terpasang ditubuhnya. Dalam hatinya, ia merasa iba melihat kondisinya dan juga merasakan suatu penyesalan. Perasaan yang aneh baginya. Karena seharusnya ia tidak perlu begitu mempedulikan dirinya yang adalah musuhnya.
"Tuan Kei, boleh saya tahu apa hubungan anda dengannya?" Dokter Steve sepertinya mengenali profil Kei Takahiro dan mengetahui kalau ia memiliki hubungan keluarga dengan Rey. Karena Dokter Steve menyimpan data diri Rey yang adalah pasiennya sehingga dia cukup mengetahui profil tentang keluarga Rey. Tetapi dia harus tetap diam dan menjaga informasi tersebut. Selain itu dia juga tidak boleh ikut campur masalah personal seorang pasiennya kecuali jika pasien yang bersangkutan memintanya atau memberi ijin.
"Dokter tidak perlu sungkan dengan saya dan cukup panggil saya dengan nama saja." Dokter Steve mengangguk, mengiyakan. "Bisa dikatakan saya adalah musuhnya." Pernyataan itu membuat Dokter Steve terkejut. Dan Kei melihat keterkejutannya.
"Jangan salah paham, Dok. Saya datang kesini bukan untuk bermaksud jahat ataupun buruk terhadapnya."
"Saya dapat melihatnya dari cara anda menatapnya. Oleh karena itu saya terkejut mendengar anda sebagai musuhnya. Bahkan, sejak kemarin malam saya amati anda terus terlihat cemas dan khawatir terhadapnya."
Kei pun tertawa dengan penuh ironi pada dirinya sendiri. Karena memang benar yang dokter katakan. Dan itu pasti membuat orang menganggap aneh kepadanya. Bahkan dirinya sendiri juga berpendapat seperti itu.
"Tidak apa, hal itu tidaklah aneh Nak. Terkadang perasaan manusia itu memang sulit diterka dan dikendalikan. Bahkan oleh diri kita sendiri yang memiliki perasaan itu. Apalagi ketika melihat seseorang dalam keadaan terluka atau menderita, hati kita secara otomatis tentu akan merasakan suatu empati terhadap orang tersebut. Walau siapapun orang itu, musuh kita atau orang yang tidak kita kenal. Dan itu menunjukkan bahwa kita memiliki hati dan bersifat manusiawi."
"Nak, karena kamu sudah datang kemari untuk menjenguknya, maukah kamu mengajaknya berbicara yang mungkin bisa sedikit memotivasinya?"
"Apakah saya diperbolehkan untuk masuk dan berbicara dengannya?" tanya kei memastikannya. Dokter memberinya anggukan. "Tapi sebelumnya saya ingin bertanya, apakah penyakit yang dideritanya?"
"Maaf, saya belum bisa memberitahu anda karena hasil tesnya belum keluar."
"Tapi saya tahu anda adalah seorang dokter spesialis onkologi dan dia adalah pasien anda jadi saya berpikir kalau dia mungkin memiliki sakit kanker ...."
"Sebenarnya dulu kecil Reyhan pernah mengidap penyakit kanker darah dan saat itu saya yang menjadi dokternya. Lalu setelah ia sembuh, saya masih tetap dipercaya olehnya untuk menjadi dokter pribadinya. Ayo, bersiap untuk masuk ke dalam." Ajak Dokter Steve sambil menepuk bahu Kei.
Sebelum masuk, Kei mengenakan pakaian medis terlebih dahulu agar dirinya menjadi steril dan bebas bakteri. Kemudian ia masuk ke dalam ruangan ICU tempat Rey sedang dirawat. Dokter Steve meninggalkannya untuk masuk seorang diri ke dalam ruangan dan menunggunya di luar.
"Hai ... " sapa Kei dengan kikuk, seolah-olah Rey bisa mendengar dan melihatnya. "Reyhan Wiriawan ... kamu beruntung bisa menjadi anak bagi ibuku dan mendapatkan nama keluarganya. Apa kamu tahu mengapa aku ada di ruangan ini dan mau berbicara denganmu? Mmm, aku sendiri juga tidak tahu alasannya, tetapi hati kecilku ini sangat mencemaskanmu. Hahah ...." Kei tertawa, yang terlihat seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Berjuanglah, aku masih memiliki urusan denganmu yang belum selesai. Jangan menyerah dan segeralah sadar." Ternyata Kei hanya berbicara sedikit saja dan tanpa berlama-lama lagi untuk berada di dalam, ia lalu keluar ruangan.
"Terima kasih, Nak." ucap dokter padanya.
Kei terpikirkan sesuatu untuk dia tanyakan pada Dokter Steve. "Dokter, sepertinya anda sangat perhatian dan peduli kepadanya. Apakah itu karena anda sudah lama menjadi dokter pribadinya?"
"Iya bisa dikatakan seperti itu. Aku telah lama mengenalnya dan melihat seperti apa kehidupan yang dijalaninya. Selama ini, ia hidup tanpa memiliki keinginan untuk hidup. Tetapi ia harus terus bertahan untuk dapat tetap hidup karena kehidupannya ini adalah pemberian dari seseorang yang telah mempertaruhkan dirinya agar membuatnya sembuh dari penyakitnya.
Oleh karena itu dia terlihat seperti orang yang tak berperasaan dan berhati dingin. Tetapi perlakuannya itu semata-mata ia tujukan untuk dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia memiliki hati yang lembut yang selalu memikirkan dan mempedulikan orang lain. Hanya saja ia menunjukkannya dengan cara yang membuat orang menjadi salah paham dan berpikir buruk tentangnya. Ia lebih suka untuk hidup sendiri dan ingin orang-orang menjauh darinya. Karena ia merasa kalau dirinya selalu membuat orang yang mencintainya menderita.
Lalu saat Erika datang ke dalam kehidupannya, kulihat perlahan-lahan Rey mulai berubah. Ia menjadi lebih bersemangat dan bisa tersenyum kembali. Dia juga mulai mau menunjukkan berbagai perasaan yang ada di dalam hatinya. Hanya saja, penyakitnya kembali muncul hingga membuatnya terpaksa menyakiti perasaan Erika dan membuat Erika pergi menjauh darinya."
Setelah mendengar penuturan akan beberapa hal yang mengejutkan tentang Rey yang Dokter Steve sampaikan kepadanya, Kei pun memberikan tanggapannya.
"Kuakui, pada awalnya aku memang sangat membencinya karena sikapnya yang selalu buruk padaku. Tapi lama kelamaan aku mulai merasa seperti ada yang sedang ia tutupi dalam dirinya dan semakin lama pandanganku padanya pun berubah. Kini aku mulai merasa kasihan dan penasaran terhadapnya. Apalagi saat aku tahu dia memiliki hubungan dengan ibuku." Kei mulai membicarakan secara blak-blakan keraguannya kepada Dokter Steve. Kei berpikir mungkin saja Dokter Steve bisa membantunya menemukan titik terang dari keraguannya tersebut.
"Dokter, sebagai pasien anda, pastinya anda memiliki informasi tentang identitas diri Reyhan secara akurat dan detail. Seperti siapa nama ibu kandungnya atau berbagai informasi mengenai anggota keluarga lainnya. Dapatkah anda membagikannya kepada saya?"
"Nak, walaupun saya memilikinya namun saya tidak daapt membagikannya kepada anda. Karena itu merupakan pelanggaran privasi bagi pasien. Demi keamanan dan privasi bagi para pasien, terdapat aturan dan hukum yang melindunginya. Selain itu, sebagai seorang dokter saya berkewajiban untuk melindungi informasi dan data pribadi milik pasien saya."
Kei tampak kecewa mendengar hal yang Dokter Steve katakan. Tetapi ia masih berusaha menggunakan cara lainnya.
"Lalu, apakah anda bisa membantu saya untuk melakukan tes dna pada kami?"
"Untuk melakukan tes tersebut, maka kita harus menunggu Rey sadar dan meminta persetujuan darinya terlebih dahulu. Jika tidak ada persetujuan dari kedua pihak, maka saya tidak bisa melakukannya karena itu juga termasuk pelanggaran privasi seseorang."
"Baiklah Dok, saya mengerti."
Dokter Steve menepuk bahunya sebagai bentuk perhatian dan kepeduliannya juga sebagai rasa bersalahnya yang tidak bisa membantunya.
***