
Melihat Kei yang meminta maaf pada adiknya atas pengorbanan yang ia lakukan untuk adiknya itu hingga ia juga harus mengalami sendiri penderitaannya, Erika merasa terenyuh hatinya. Lelaki yang pernah mengisi hatinya dan menjadi sesosok yang penting di hidupnya itu ternyata begitu sayang hingga berbesar hati dan mau mengalah terhadap adiknya. Bahkan walau adiknya telah berkali-kali membohongi dan menyangkalnya sebagai kakaknya, tetapi ia masih mau memaafkannya dan tetap menyayangi adiknya itu hingga mau berkorban untuknya.
Selama ini Erika berpikir bahwa ia telah sangat mengenal Kei dengan baik, tetapi nyatanya tidak. Sosok Kei yang sangat berkharisma dan berwibawa sebagai seorang pemimpin di begitu banyak perusahaan yang dimilikinya serta pernah sangat dikagumi olehnya, tentunya ia merupakan seorang yang memiliki profil tinggi. Dengan status sosial yang baik dan kekayaan yang dimilikinya sejak ia lahir, maka wajar jika ia tampak sedikit angkuh dan tegas apalagi kehidupannya selalu berada di atas dengan begitu banyak orang yang melayani dan menghormatinya.
Tetapi kini, pria itu begitu terlihat rentan dan memiliki ketakutannya ketika berhadapan dengan adiknya yang sedang mengamuk itu. Hingga ia mau merendahkan dirinya dan meminta maaf atas suatu hal yang diperbuatnya yang bukanlah sebuah kesalahan melainkan sebuah pengorbanan. Sehingga Erika merasa sangat bersalah terhadapnya karena selama ini ia telah salah paham dan sudah berpikir yang buruk tentangnya hingga begitu mudahnya tertipu dan tak lagi mau percaya padanya bahkan sampai menuduhnya dengan tuduhan perselingkuhan yang tak pernah dilakukannya. Yang akhirnya ia sendiri yang mengakhiri hubungan mereka dan pergi meninggalkannya.
Sedangkan terhadap Rey, yang adalah adik dari Kei, yang juga adalah seorang pria yang sangat dicintainya, saat ini Erika merasa sangat marah dan kecewa terhadapnya karena dia dengan begitu tak berhati telah menyakiti perasaan kakaknya dan semakin menambah penderitaan kakaknya itu yang telah sangat tersiksa sebelumnya karena dirinya yang sakit dan dalam keadaan kritis.
"Tidak Ken, disaat seperti ini kakak tidak akan pergi meninggalkanmu. Kumohon, kamu jangan marah dan tenangkan dirimu." Kei mengusap pundak Rey untuk menenangkannya tetapi Rey menepisnya dengan kasar.
"Pergilah! Jangan lagi mempedulikanku dan jangan berbuat baik kepadaku! Karena aku hanyalah orang yang jahat dan tak berhati. Aku tak pantas mendapatkan semua perlakuan baikmu dan pengorbananmu itu. Apakah kamu lupa bahwa aku telah berkali-kali membohongimu dan tidak mau mengakuimu sebagai kakakku? Kamu juga sudah mendengarnya sendiri, kan dari Kabuto apa alasanku berbuat seperti itu terhadapmu." Rey menatap kakaknya dengan tatapan yang nampak berbeda, bukan seperti tatapan kemarahan yang sebelumnya ia tunjukkan. Walaupun ucapannya kasar dan bernada penuh kemarahan, tetapi dikedalaman matanya itu tersimpan rasa bersalahnya yang begitu besar dan juga penyesalannya.
"Sshhh Ken, hentikan. Aku sudah melupakan semuanya dan itu semua adalah masa lalu yang tak perlu diungkit lagi." Kei berusaha menghentikan rasa bersalah dan penyesalan yang Rey rasakan.
"Tidak, apa yang telah berlalu tidak dapat diubah. Dan itu adalah kenyataannya bahwa aku memang sangat membenci -" Suara Rey menghilang ditelan oleh suara teriakan Kei yang sedang menghentikannya.
"Sudah cukup Ken. Hentikan! Kamu tak perlu mengatakannya lagi!." Teriak Kei. "Aku sudah cukup mendengarnya dari Kabuto dan telah mengetahuinya. Jadi, hentikan semua ini!" Hatinya terasa sangat sedih dan terluka mendengar dan mengingat kenyataan pahit atas apa yang sesungguhnya adiknya rasakan terhadapnya dan ia tidak ingin untuk mendengar hal itu disebutkan lagi oleh adiknya sendiri.
"Rey, kumohon berhentilah dan jangan mengatakan apapun lagi." Erika ikut berusaha menghentikan omongan Rey yang makin meracau dan memperkeruh keadaan.
"Tidak, kamu harus mendengarnya! Kamu tahu, saat aku berusia 10 tahun, aku menjadi benci dengan diriku dan kehidupanku ini. Tetapi aku harus terus bertahan hidup walaupun aku harus hidup dengan penderitaan karena rasa bersalahku terhadap ibuku. Aku tetap harus menjalankan hidupku yang hanya seorang diri tanpa ada ibuku lagi yang menemaniku dan dengan tubuhku yang lemah dan selalu kesakitan ini.
Lalu, menurutmu bagaimana untuk seorang anak berusia 10 tahun agar bisa terus bertahan hidup demi ibunya, ibu yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kesembuhan anaknya itu? Hanya dengan membenci dan menaruh dendam pada anggota keluarganya yang lainlah yang masih hidup dan bahkan sangat menikmati kehidupannya yang bergelimpangan harta yang dengan begitu tega telah mengusirnya pergi dari kehidupan mereka.
Tetapi karena anggota keluargamu hanya tinggal dirimu seorang, aku pun melimpahkan seluruh benci dan dendamku kepadamu. Jadi kebencianku dan dendamku itu adalah sungguh-sungguh dan itu bahkan menjadi penyemangat hidupku. Setiap saat aku menanti untuk benar-benar dapat membalaskan dendamku padamu dan membuatmu juga merasakan penderitaanku ...." Kata-kata yang Rey lontarkan itu terkesan penuh kemarahan terhadap kakaknya tetapi sebenarnya itu merupakan luapan emosi atas penderitaan, kekecewaan dan kesedihannya yang selama ini dipendamnya. Sehingga kata-katanya itu justru membuat Kei semakin memahami perasaannya dan mengerti mengapa selama ini sikap adiknya begitu buruk terhadapnya.
Erika sampai melebarkan matanya hingga membulat sempurna karena tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia pun menjadi iba dan berempati atas kesedihan dan kemarahan yang Rey miliki itu. Mungkin itu jugalah yang membuat Kei masih bersikap begitu baik kepada adiknya. Tetapi walaupun begitu, baginya apa yang Rey lakukan sungguh keterlaluan. Apalagi terhadap kakaknya yang tidak terlibat langsung dengan penyebab penderitaan yang Rey alami dan telah banyak berkorban demi dirinya.
"Rey, aku paham dengan kebencian dan dendammu itu. Tetapi tidakkah itu terlalu berlebihan jika kamu terus melimpahkannya kepada kakakmu yang telah sangat berbuat baik padamu dan melakukan banyak hal untuk berkorban demi dirimu? Sebaiknya kamu melupakan semua yang telah berlalu dan mulailah kehidupan barumu bersama kakakmu. Dan juga bersamaku, mari kita merajut hubungan kita seperti dulu dan kembali bersama-sama lagi."
Rey memandang Erika, wanita yang sangat dicintainya, tetapi juga seorang wanita yang sangat dicintai kakaknya yang telah direbut olehnya. Ditatapnya Erika dengan perasaan bersalah dan juga kekesalannya kepada dirinya sendiri. Lalu ia berkata,
"Erika, apa kamu tahu mengapa waktu kekasihmu datang menjemputmu di rumahku, aku dengan sengaja dan berani menciummu di depan kekasihmu dan mengatakan kalau kamu adalah milikku? Itu karena aku telah mengetahui identitas dirinya, bahwa kekasihmu itu adalah kakak kandungku yang sangat kubenci dan kuanggap sebagai musuhku. Sehingga aku ingin membalaskan dendamku terhadapnya dengan merebutmu yang adalah kekasih yang sangat dicintainya dan menjadikanmu sebagai media untukku membalaskan dendamku itu padanya."
"CUKUP ...!!",Teriak Erika histeris
"Sudah cukup Rey, hentikan! Kumohon padamu untuk menghentikannya. Aku tidak mau mendengarnya!!" Dengan lemas, Erika terduduk ke bawah lantai dan menangisi perasaannya yang terluka dengan pilu karena kenyataan pahit yang baru didengarnya langsung dari mulut pria yang dicintainya itu.
"Sudah sejak awal aku memang memiliki niat jahat padamu dan selama itu aku hanya ingin mempermainkanmu saja." Erika hanya bisa diam dan terus menangis mendengar yang Rey ucapkan. Hatinya sangat perih bagaikan luka dihatinya itu sedang ditaburi garam oleh Rey secara perlahan. "Lihat, betapa jahat dan kejamnya diriku, bukan? Lalu, apakah kamu masih sudi bersamaku dan ingin melanjutkan kembali hubungan kita?" ucap Rey lagi.
Plakk!
Sebuah tamparan yang sangat keras terjadi diwajah Rey yang dilakukan oleh Erika. Tamparan yang keras itu merupakan luapan kemarahan Erika terhadap perilaku Rey yang sudah hampir membuat kemarahannya itu meledak sehingga Erika tidak sanggup lagi untuk menahannya. Tubuh Rey yang hanya sedikit terduduk di pinggir kasur dan dengan kedua kakinya yang ia turunkan ke lantai sampai terhuyung akibat mendapat tamparan itu. Tetapi Kei segera menangkap tubuhnya dan menyanggahnya agar tidak terjatuh.
"Erika, apa yang kamu lakukan." Tanya Kei padanya.
"Apakah kamu bisa merasakan betapa sakitnya tamparan yang kuberikan padamu itu? Sama, aku juga sangat sakit mendengar apa yang kamu katakan. Bahkan sangat sakitt sekaliii!! Jadi, anggap saja tamparanku itu sebagai balasan atas segala perbuatan jahatmu kepadaku dan kepada kakakmu." Erika terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya dan emosinya. Kemudian ia lanjut berbicara lagi.
"Tetapi perlu kamu ketahui bahwa kami tidak bisa untuk membalas semua perbuatanmu yang telah menyakiti kami lebih dari itu. Karena melihatmu yang terluka dan tersakiti, itu juga membuat diri kami sendiri ikut terluka bahkan merasa sakit yang lebih dibanding dengan apa yang kamu rasakan. Dan, apa kamu tahu mengapa seperti itu? Karena kami sangat menyayangimu. Melihat tubuhmu yang dalam keadaan sekarat dan terbaring tak berdaya, sungguh membuat kami merasa tersiksa. Kami tidak peduli pada apapun juga, asalkan kamu bisa bangun dan kembali hidup bersama kami. Bagi kami, semua kesalahan dan kejahatan yang pernah kamu lakukan terhadap kami tidaklah penting dan kami pun telah memaafkan serta melupakannya.
"Erika, tenangkan dirimu. Jangan berbicara seperti itu terhadapnya."
"Tidak Kak Kei, seseorang harus menyadarkannya atas sikap kekanak-kanakannya dan kesalahannya itu." Melihat kemarahan Erika yang meluap-luap, Kei pun mundur dan membiarkannya melanjutkan omongannya. Mungkin juga Erika benar, seseorang perlu untuk menyadarkan adiknya.
Kemudian Erika berpikir kalau dia harus menceritakan pada Rey segala yang telah Kei perbuat demi dirinya agar mata Rey dapat terbuka lebar dan melihat betapa besar pengorbanan kakaknya itu terhadapnya. Sehingga ia mau menerima Kei sebagai kakaknya dan memperlakukannya dengan baik.
Lalu Erika kembali melanjutkan perkataannya.
"Apakah kamu tahu, apa yang lebih menyakitkan bagiku? Itu adalah ketika aku melihat kakakmu harus mengalami banyak penderitaan dan kesakitannya demi agar dirimu yang adalah adik yang sangat dicintainya, bisa bertahan melewati masa-masa kritismu dan dapat terbangun kembali dalam keadaan sehat serta telah sembuh dari penyakitmu. Tetapi kamu malah dengan tak berhati mengamuk dan memaki kepadanya. Ia bahkan harus kembali menderita dan tersiksa secara batinnya karena mendengar kenyataan pahit yang keluar dari mulutmu kalau kamu sangat membencinya dan sangat ingin membalaskan dendammu kepadanya.
Seandainya saat itu kamu melihatnya. Seorang Kei Takahiro yang selama ini selalu dipuja dan dihormati banyak orang dan bawahannya, juga selalu terlihat kuat dan bersahaja. Ternyata ia juga memiliki kelemahan dan ketakutannya. Apalagi ketika ia melihatmu yang sedang tergeletak tak berdaya. Ia sampai memaksakan tubuhnya yang sedang lemas dan wajahnya yang sudah memucat karena lukanya yang mengeluarkan cukup banyak darah, untuk kembali kekurangan darahnya karena diambil dan diberikan padamu."
Rey teringat kalau saat kejadian digudang waktu itu, Kei juga mendapat luka tembak. Walaupun pelurunya tidak menembus kulitnya dan tidak bersarang ditangannya, tetapi luka goresan yang ia dapat itu juga cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah.
"Erika, diamlah!" Kei melarangnya untuk berbicara.
"Tidak, teruskan!" Rey menimpalinya.
Erika pun meneruskannya.
"Setelah itu, dirinya masih harus mencemaskan dan mengkhawatirkan adiknya hingga tidak bisa berhenti memikirkan kondisinya walau sedetikpun dan tidak bisa beristirahat dengan baik. Ia hanya ingin agar dapat selalu berada didekat adiknya untuk menemani dan mendampingi adiknya yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Bahkan setelah itu ia masih harus menyemangati adiknya yang sedang kritis dan hampir melayang nyawanya. Hingga akhirnya ia pun kolaps karena rasa tegang dan ketakutannya membuat tubuhnya yang sudah lemah semakin tertekan sehingga tubuhnya tak kuat lagi untuk bertahan.
Ia juga tak lagi memikirkan kondisi tubuhnya yang masih lemah dan kembali mengalami penderitaan dan kesakitan karena sayatan yang dokter lakukan pada pinggangnya untuk menjadi pendonor adiknya."
Selama berbicara, Erika terus menangis dan juga sesenggukan. Saat ia merasa tidak tahan untuk melanjutkan ucapannya lagi, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya agar bisa bernafas dengan normal dan bisa melanjutkan kembali apa yang ingin ia katakan.
Kei lalu menghampirinya untuk memeluk tubuhnya dan membisikkan sesuatu agar Erika mau berhenti dan tidak lagi membeberkan keadaannya pada adiknya.
"Erika, sudah cukup. Jangan menceritakan lagi kepadanya apa yang kualami. Aku tidak ingin adikku semakin merasa bersalah kepada dirinya sendiri dan semakin membenci dirinya karena telah membuatku menderita. Kumohon padamu. Karena sebenarnya ia juga tersiksa dan menderita atas apa yang telah diperbuatnya." Erika mengangguk dan menurutinya dengan tidak lagi melanjutkan ceritanya.
Tetapi Erika masih belum selesai berbicara, jadi ia pun melanjutkan omongannya.
"Kak Kei hanyalah seorang kakak yang ingin bisa berkumpul lagi dengan adiknya yang telah lama hilang. Ia merasa bahwa selama ini ia belum menjadi seorang kakak yang baik. Sehingga ia ingin melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak yang selama ini belum pernah ia jalani dengan memberi adiknya kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik. Apalagi ia sangat menyesali atas segala kesulitan dan penderitaan yang harus adiknya lalui selama hidup terpisah darinya. Hingga ia pun berusaha secara mati-matian untuk menyelamatkan adiknya.
Mungkin kamu sangat membencinya dan ingin membalaskan dendammu terhadapnya, tetapi apa yang telah dia lakukan terhadapmu, pengorbanan dan penderitaannya, itu sudah cukup baginya untuk menebus penderitaan yang kamu alami di masa lalumu. Tak dapatkah kamu membuka mata dan hatimu untuk melihat betapa tulusnya hati kakakmu yang sangat menyayangi dirimu dan telah memaafkanmu atas rasa benci dan dendammu terhadapnya? Lihatlah wajahnya yang terlihat sangat sedih dan terluka karena ulah dan perkataanmu yang menyakitkan itu. Dia bahkan tidak marah atau melawanmu sedikitpun ketika kamu memaki dan mengamuk padanya. Kak Kei malah dengan merendahkan dirinya meminta maaf kepadamu karena ia harus melanggar janjinya demi melakukan pengorbanannya terhadapmu."
Mendengarkan semua penuturan yang Erika berikan barusan, Rey seperti telah mendapatkan sebuah tamparan kesadaran yang membuat hati dan pikirannya terbuka. Ia menjatuhkan tubuhnya yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan lemas dan menjadi terduduk di bawah lantai. Kei kembali memegangi tubuhnya dan ingin menaikkannya kembali ke atas kasur. Namun Rey menahannya. Ia memandangi wajah kakaknya. Lama dan penuh perasaan bersalah dan menyesal.
"Ken ... Jangan begini, bangunlah ...." pinta kakaknya. Rey tidak menghiraukannya, ia lalu mengalihkan wajahnya dari kakaknya dan perlahan matanya mulai berkaca-kaca lalu airmatanya pun mengalir turun membasahi pipinya.
"Aku telah selesai berbicara. Sekarang terserah padamu, apa yang kamu kehendaki terhadapnya. Aku juga tidak akan mau peduli lagi dengan segala hal yang kamu lakukan dan yang terjadi padamu karena kamu sudah sangat mengecewakanku." Selesai bicara, Erika berjalan pergi keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua.
"Erikaaa ...!" Teriak Kei memanggilnya. Tetapi ia tak bisa berlari untuk mengejarnya karena ia juga harus berada di sisi Rey saat ini.
***