
Dua bulan kemudian.
Di lobby hotel Hiro, terlihat beberapa staff berlarian dengan wajah yang nampak tegang dan panik. Terutama bagi para staff yang biasa berada dibagian depan. Mereka harus segera mempersiapkan diri dalam barisan yang rapih dengan penampilan yang juga terlihat rapih di pintu depan untuk menyambut kedatangan pemilik hotel Hiro tersebut.
Selama ini, bos mereka hanya sesekali datang untuk melakukan kunjungan. Tetapi pagi ini tiba-tiba mereka mendapat kabar bahwa mobil bos merekaa telah memasuki gerbang hotel dan akan segera tiba di lobby hotel. Jadi mereka harus segera bersiap untuk menyambut kedatangannya.
Tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil sedan audi berwarna silver berhenti tepat di pintu lobby. Seorang penjaga membantu untuk membukakan pintu mobil pada tempat duduk di sisi belakang. Setelah itu, nampak sosok seorang pria melangkahkan kakinya turun dari mobil. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan dan berkharisma. Dengan kulit halus berwarna putih bersih, berpostur tinggi, berwajah oval dengan bentuk rahang yang tegas dan hidung yang mancung berpadu dengan mata yang sipit namun tajam dan bibir yang mungil khas orang Jepang. Sosok pria yang sedang mengenakan setelan jas berwarna biru gelap tersebut adalah Kei Takahiro.
Kini Kei telah masuk ke dalam lobby hotel dengan diiringi oleh asistennya, Tanaka yang berjalan dibelakangnya. Raut wajahnya terlihat serius dan langkah kakinya yang tegap menimbulkan suara derap kaki diantara kesunyian sehingga menambah suasana ketegangan di hari yang masih pagi tersebut.
Kei terus berjalan melewati para staff yang menundukkan kepala sebagai suatu bentuk rasa hormat padanya. Langkahnya itu tertuju pada bagian resotoran yang ada di hotel. Saat berjalan, nampak ketegangan pada otot-otot wajahnya dan tatapan matanya terlihat tajam dan menusuk.
Sedangkan di bagian dalam restoran yang bernama The Hiro Cafe, tepatnya di sebuah ruangan yang terletak di sebelah dapur, saat ini sedang ada kegiatan pemilihan calon anggota staff baru yang akan menempati posisi sebagai chef junior di sana. Mereka melakukan audisi itu di sebuah ruangan yang memang dibuat khusus yang berada di sebelah dapur. Sehingga kegiatan audisi ini tidak mengganggu aktivitas dapur.
Saat ini di ruangan audisi tersebut terlihat sudah ada beberapa kandidat yang berkisar 12 orang yang sudah berkumpul di sana untuk mengikuti audisi tersebut. Diantara para peserta yang sedang melakukan audisi tersebut, ada salah seorang peserta yang tampak sangat menonjol. Dengan usia yang terbilang masih muda, sekitar 20an tahun, tetapi peserta pria tersebut nampak sangat tenang dan terlihat memiliki kepercayaan diri dengan level cukup tinggi seperti sudah berpengalaman. Selain itu penampilan dan gayanya juga menarik dengan kulit yang berwarna agak gelap sehingga membuatnya terlihat maskulin. Wajah halusnya memiliki garis rahang yang tegas, berbentuk oval dan memiliki mata bulat besar yang tampak bersinar sehingga semakin menambah pesona ketampanan diwajahnya.
Jika dilihat, hampir semua mata tertuju kepadanya dan tak bisa lepas darinya. Baik itu para peserta maupun para staff, mereka terus memandang kearahnya. Terutama bagi para kaum hawa yang bahkan memandanginya dengan tatapan memuja. Sehingga membuat para pria menatapnya dengan tatapan iri dan mulai terlihat tak menyukainya.
Saat ini diwajahnya yang tampan itu, terhias seulas senyuman dari bibir mungilnya yang berwarna agak pucat. Senyumannya itu terasa ramah dan bersahabat sehingga membuat orang yang melihatnya seperti dapat merasakan sebuah kehangatan yang ada di dalam dirinya. Bahkan mungkin para wanita yang sedang ada di sana dan sedang menatapnya telah meleleh hatinya karena kehangatan yang terpancar diwajahnya itu. Namun, peserta pria tersebut bukan bermaksud dengan sengaja menebarkan pesonanya untuk menggoda dan melelehkan hati para kaum hawa dengan memamerkan seulas senyuman diwajahnya itu. Melainkan itu karena ia menyadari bahwa saat ini banyak mata yang sedang memandang dan memperhatikannya. Sehingga dirinya hanya ingin menunjukkan sikap ramah dan bersahabat pada mereka semua.
Tiba-tiba seorang staff masuk ke dalam ruangan audisi dan menginformasikan kepada mereka bahwa tadi ia mendapatkan sebuah laporan dari staff hotel kalau saat ini di hotel mereka telah kedatangan seorang tamu penting. Sekarang, tamu penting mereka itu sedang berjalan menuju ke The Hiro Cafe dan mungkin sebentar lagi akan memasuki restoran. Sedangkan beberapa staff yang bertugas untuk melakukan audisi tersebut kebanyakan merupakan para senior dan petinggi di area dapur. Sehingga setelah mendengar informasi tersebut, mereka langsung menjadi tegang dan panik. Suasana diruang audisi ini pun ikut terasa tegang dan menjadi hening seketika. Mereka berpikir harus segera keluar dari ruangan dan bersiap-siap menyambut kedatangan tamu penting di restoran mereka itu dan juga menjamunya dengan beberapa menu hidangan sarapan untuk dinikmati oleh tamu penting mereka itu.
Namun belum begitu lama waktu berselang, mereka telah mendengar derap langkah kaki tegap seorang pria yang terdengar semakin jelas dan sepertinya arah langkah kaki tersebut mengarah kepada mereka dan sekarang langkah itu semakin dekat di depan ruangan mereka. Dan benar saja, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan lalu terlihat dua orang sosok pria masuk ke dalam ruangan. Dua pria itu adalah sosok yang telah mereka kenal sebagai pemilik hotel dan juga pemilik restoran tempat mereka bekerja ini, yaitu Kei Takahiro dan asistennya, Tanaka.
Para peserta audisi yang sedang berada di dalam ruangan itu, juga sepertinya mengenal sosok Kei yang adalah calon bos besar mereka jika nanti mereka telah diterima bekerja di sini. Terutama bagi peserta audisi yang memiliki penampakan menonjol itu, yang tak lain adalah adik kandung dari bos besar itu sendiri yang memiliki nama asli Ken Takahiro. Namun karena nama itu telah lama dibuang oleh ibunya dan ibunya telah memberinya nama baru menjadi Reyhan Wiriawan, maka dirinya tetap menggunakan nama baru tersebut saat mendaftar untuk mengikuti audisi tersebut.
Begitu masuk, tatapan bos besar tersebut langsung tertuju pada adiknya itu dan membekukan tatapannya di sana dengan tatapannya yang terasa begitu dingin dan menusuk. Sedangkan adiknya itu, membalas tatapan kakaknya dengan memamerkan senyumannya yang semakin melebar karena kakaknya yang secara tiba-tiba nongol dihadapannya untuk menyaksikan kejutan akan dirinya yang saat ini sedang menjadi peserta audisi di restoran miliknya secara diam-diam dan tanpa memberitahukan kepadanya dulu sebelumnya.
Jika dilihat dari sisi luar oleh orang lain yang sedang mengamati mereka, di momen seperti ini mereka berdua bagaikan dua kutub yang saling berlawanan. Dengan Kei yang sedang diliputi oleh aura yang dingin dan Rey yang memancarkan kehangatannya. Yang tentu saja untuk kutub Kei, itu terasa lebih dominan hingga membuat mereka semua yang sedang berada di ruangan yang sama dengannya tersebut dapat merasakan hawa di ruangan menjadi lebih dingin dan mencekam.
Setelah beberapa detik berlalu dan dengan suasana yang masih saja terasa dingin seperti itu, salah seorang dari mereka lalu berinisiatif untuk mencairkan suasana dingin tersebut. Dia adalah seorang pria paruh baya yang merupakan kepala chef di bagian dapur sehingga dirinya lah yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan hal yang terjadi di sana. Ia berpikir untuk memberikan sebuah salam kepada bos besar mereka yang telah hadir diantara mereka. Lalu setelahnya ia akan mengajak mereka untuk melakukan sambutan kecil teehadapnya.
"Se-selamat pagi Tuan Kei." Sapanya dengan mengucap salam dan memberi hormat dengan menundukkan kepalanya sedikit. Namun Kei masih nampak terdiam dengan tidak membalas atau meresponnya. "Ehemm ..." bapak itu berdeham dan berkata, "Kalian semua cepatlah berbaris dengan rapih dan ucapkan salam pada Tuan Kei yang adalah Bos besar kita."
"Tak perlu Pak Bambang. Kedatanganku yang secara mendadak ini telah mengganggu kegiatan kalian, jadi kalian tidak perlu terlalu formal dan tegang. Silahkan kalian melanjutkan saja kegiatan kalian yang sedang berlangsung tadi." Akhirnya Kei memberinya respon dan memintanya untuk tidak bersikap secara formal dan juga tidak perlu merasa tegang.
"Baik Tuan Kei dan terima kasih. Pagi ini kami sedang melakukan -" Pak Bambang ingin melaporkan kegiatan yang sedang berlangsung saat ini. Namun Kei segera mengangkat tangannya untuk menghentikan Pak Bambang yang sedang ingin melapor padanya.
"Tak perlu melaporkannya padaku, aku sudah tahu akan hal itu. Bersikaplah biasa saja dan abaikan kehadiranku saat ini. Anggap saja kalau aku sedang tak berada di sini dan lakukan kegiatan kalian seperti biasanya."
"Baik Tuan." Ucap Pak Bambang lagi.
Lalu Kei berjalan menuju ke depan tepatnya ke atas panggung kecil dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana yang biasanya merupakan tempat duduk bagi para juri yang akan menilai masakan para peserta.
Setelah memposisikan dirinya, Kei kembali melemparkan tatapannya pada adiknya. Tatapannya itu sudah tidak dingin dan menusuk lagi seperti tadi. Tetapi tatapannya itu tak dapat dibaca bahkan oleh Rey sendiri yang juga sedang memandangnya dan tampak kebingungan.
Awalnya Rey mengira kalau kakaknya itu pasti datang kemari dengan tujuan untuk melihat dirinya yang sedang mengikuti tes ini secara diam-diam dan tidak meminta ijin kepada kakaknya terlebih dahulu. Rey juga cukup terkejut sesaat baru melihat kakaknya memasuki ruangan tempat mereka sedang diaudisi. Ia tak menyangka kalau kakaknya dapat begitu cepat mengetahui keberadaan dirinya di sini. Walaupun hal itu wajar karena kakaknya adalah seorang bos besar di hotel tersebut. Tetapi dapur di restoran ini hanyalah sebagian kecil dan hal temeh yang bukan ranah untuk diketahui dan diamati bagi seorang bos besar seperti kakaknya dengan segudang urusan dan kesibukan yang dimilikinya.
Kemudian, saat melihat kedatangan kakaknya yang matanya langsung tertuju padanya dan menatapnya dengan dingin, Rey masih tidak menyadarinya kalau sebenarnya kakaknya sedang marah kepadanya yang telah diam-diam mengikuti audisi sebagai chef junior itu.
Kini, konsentrasi Rey pun terganggu dan menyebabkan dirinya kehilangan fokusnya sehingga daritadi ia tidak ikut menyimak dan memperhatikan instruksi serta pengarahan yang diberikan pada para peserta.
***