
"Bos, penyakitmu itu tidak dapat disembuhkan, kan?" tanya Ryo pada Rey setelah mereka berada di luar kamar.
"Ryo, kamu tahu diantara anak buahku kamu lah yang paling menjadi favoritku. Kamu cerdas dan cekatan. Kamu dapat membaca situasi dengan baik dan jika terjadi suatu masalah kamu bisa segera mengatasinya bahkan tanpa arahan dariku. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi seorang pemimpin yang baik."
"Tetapi aku tidak berminat untuk menjadi seorang pemimpin. Aku lebih suka untuk selalu menjadi anak buahmu dan kamu akan selamanya menjadi bosku."
Rey menahan roda pada kursinya dan mereka pun berhenti.
"Ryo, jika terjadi sesuatu padaku aku titipkan mereka semua padamu. Gantikan aku untuk membimbing dan menjaga mereka."
Ryo benar-benar merasa sedih mendengar permintaan bosnya itu hingga dadanya terasa sesak.
"Tidak, Bos. Aku tidak mau. Lagipula aku tidak akan pernah bisa menggantikanmu." jawabnya sambil terisak dan terus menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakannya.
"Bukankah tadi kamu bilang kalau aku akan selalu menjadi bosmu? Anggap permintaanku ini sebagai sebuah perintah. Jika kamu menolaknya, berarti kamu tidak menuruti perintahku dan tidak menganggapku sebagai bosmu lagi." Ryo hanya diam sambil mengusap matanya yang basah.
"Maafkan aku karena memaksamu dan juga menyusahkanmu." Bahkan Rey sampai mengucapkan permintaan maaf pada anak buahnya. Yang selama ini tidak pernah sekalipun Rey mau mengucapkannya kepada siapapun juga kecuali kepada bos besar mereka.
Tangis Ryo pun pecah mendengar permintaan maaf bosnya itu kepadanya. Ryo lalu memanggil bosnya dengan teriakan yang cukup histeris.
"Bos ...."
"Ryo, didalam kehidupan ini, segala sesuatunya datang dan pergi. Suka ataupun duka. Mereka datang dan pergi tanpa pernah bisa kita kendalikan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima atau melepaskannya secara ikhlas dan tepat." Setelah itu Rey tersenyum. Senyum yang dia tujukan untuk dirinya sendiri.
Dalam hatinya Rey berkata, Sepertinya kini aku telah dapat menerima penyakit yang kuderita ini. Dan melepaskan orang yang kucintai serta dendamku.
Sepertinya pandangan Rey akan kehidupan ini telah berubah. Ia terlihat menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Seandainya keadaan dapat berubah dan memberinya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Hanya saja itu adalah hal yang sulit, karena ia masih belum bisa memotivasi serta menyemangati dirinya untuk dapat terus bertahan hidup.
Setelah tangis Ryo sudah agak mereda, Rey pun memintanya untuk mengantarnya menjenguk Erika. "Ryo, antarkan aku ke bagian perawatan umum."
Sekarang, Rey telah sampai di depan ruang rawat inap dengan kelas vip dengan pasien bernama Erika Kiyomi. Rey meminta bantuan Ryo untuk membantunya berdiri karena ia ingin mengintip ke dalam ruangan melalui kaca yang ada di pintu. Ia hanya perlu untuk dapat melihat wajah Erika dan mengetahui keadaannya. Walau hanya dapat melihatnya dari kejauhan saja, tetapi itu sudah cukup baginya.
Tetapi ternyata wajah Erika tidak dapat terlihat dari kaca yang ada di pintu. Rey hanya melihat ada sosok seorang pria yang sedang duduk di bangku yang disiapkan untuk tamu. Rey menduga kalau pria itu adalah kakaknya.
Kebetulan sekali saat itu Kei menengok ke arah belakangnya. Ia lalu melihat sosok Rey yang ada di depan pintu dan sedang mengintip ke dalam. Kei lalu berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Kamu telah datang. Kebetulan aku sedang ada sedikit urusan dan perlu untuk keluar sebentar. Masuklah dan temani Erika selama aku pergi."
Rey terdiam dan memandang lama pada Kei.
"Mengapa diam saja? Apa kamu tidak mau masuk dan menemaninya?" tanya Kei. Rey tetap diam. Sebenarnya, Rey belum siap untuk menemui Erika. Dia tidak berani untuk menghadapi Erika karena kesalahan yang telah diperbuatnya yang menyebabkan Erika mengalami ini.
"Apakah dia sudah sadar?" Akhirnya Rey mau bertanya juga dan tidak hanya diam saja.
Kei menghela nafasnya dengan berat dan berkata,
"Belum. Padahal dokter mengatakan kalau dia akan terbangun 12 jam setelah operasinya selesai. Tetapi ini sudah satu hari lebih berlalu dan ia masih belum juga sadar." Kei terdiam sebentar, lalu dia melanjutkan, "Sepertinya dia sedang menunggumu untuk membangunkannya. Ajaklah ia berbicara, kurasa ia bisa mendengar ucapanmu." Rey tersentak mendengar ucapan Kei padanya itu.
Rey akhirnya mau masuk ke dalam ruangan tempat Erika sedang dirawat. Tetapi dia mau berjalan sendiri menggunakan kakinya dan tidak mau menggunakan kursi rodanya. Dia takut kalau Erika terbangun dan melihatnya yang sedang terduduk di kursi roda.
Sebelum pergi Kei berkata lagi, "Ingat, ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan padamu untuk bisa menemuinya." Rey mengangguk mengiyakan.
Kemudian Rey terdiam lagi dengan hanya mengamati wajah Erika. Setelah memandangi Erika lama, ia berbicara lagi padanya "Ternyata seperti ini perasaan yang kamu rasakan waktu kamu menemaniku ketika aku sakit dan dalam keadaan tidak sadar. Kini aku dapat mengerti dan memahami perasaanmu serta tangisanmu waktu itu." Mata Rey mulai basah dan perlahan matanya mulai berlinangan airmata.
"Erika, maafkan aku ... Walau mungkin aku tak pantas untuk mendapatkan maaf darimu, tapi aku tetap ingin menyampaikan beberapa permintaan maafku padamu.
Maaf, karena selama ini telah menyusahkanmu.
Maaf, selalu membuatmu sedih.
Maaf, tidak dapat menepati janjiku untuk selalu bersamamu.
Maaf, telah sangat menyakitimu.
Dan ... maafkan aku yang telah melakukan banyak kesalahan kepadamu namun tak dapat melakukan apapun untuk menebusnya." Setelah selesai mengucapkan permintaan maafnya, airmata Rey mengalir dengan semakin bertambah kencang.
Setelah perasaan sedihnya telah berkurang, Rey menurunkan tangan Erika dan mengusap tangan Erika yang telah basah karena terkena airmatanya. Kemudian Rey kembali membelai kepala Erika yang sedang diperban dan mengusap pipinya dengan lembut. Lalu Rey bangun berdiri karena ia ingin menyudahi kunjungannya. Namun sebelum keluar dari ruangan, dia ingin mengecup kening Erika dulu, hal yang senang dilakukannya pada Erika apalagi ketika Erika sedang marah atau sedih. Sesaat setelah itu, jari tangan Erika ada yang bergerak. Kemudian Rey berkata padanya, "Lupakan aku dan berbahagialah ...." Setelah itu Rey berbalik dan segera pergi keluar dari ruangan dengan langkahnya yang pelan dan lambat karena tubuhnya masih terasa lemas. Rey tidak melihat ada setetes airmata yang bergulir dari pelupuk mata Erika yang masih terpejam.
Beberapa menit kemudian, saat Rey sudah hampir sampai di pintu, jari-jari telapak Erika kembali melakukan pergerakan. Lalu mata Erika perlahan mulai membuka dan merasa matanya sedikit basah. Ia juga merasa sangat sedih. Ia lalu mengusap matanya dan menyadari kalau ia menangis dalam tidurnya.
Dengan pandangan matanya yang masih buram, Erika mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan ketika ia melihat bayang-bayang sosok seorang pria yang berbaju pasien, pandangan Erika pun membeku pada sosok tersebut. Merasa penasaran, Erika mencoba mengusap dan mengedipkan matanya agar matanya dapat melihatnya dengan lebih jelas. Tetapi saat ia melihat ke arah itu lagi, pria itu sudah menghilang ke balik pintu dan telah berada di luar ruangannya. Kemudian Sosok pria berbaju pasien itu telah berganti dengan sosok Kei yang masuk ke dalam ruangan.
"Erika ..., " Teriak Kei dengan senang. "Erika, akhirnya kamu bangun ...." Tetapi Erika diam saja dengan tatapannya yang masih terpaut pada pintu. "Ada apa Erika? Apakah kamu merasa sesuatu yang tak nyaman di tubuhmu? Aku akan memanggilkan dokter untukmu ...." Kei beranjak menuju tombol bel dan menekan bel yang untuk memanggil dokter.
"Siapakah pria yang barusan datang ke sini?" tanya Erika kemudian dengan menatap kepada Kei sambil pandangannya sesekali terarah ke pintu. Kei pun menengok ke belakangnya, ke arah pintu.
"Siapa? Tidak ada yang datang selain aku ...."
"Ada. Aku sempat melihatnya sekilas, ia mengenakan baju pasien." Kei terdiam. Ia tahu siapa yang Erika tanyakan. Tetapi Kei tidak mau mengatakannya. "Tetapi aku hanya dapat melihat bagian belakang tubuhnya saja dan tidak melihat wajahnya. Jadi aku tidak tahu siapa dia ... Hanya saja aku merasa familiar dengan sosok itu."
"Dia hanyalah seorang pasien dari sebelah kamarmu. Dia mengunjungimu hanya untuk beramah tamah saja."
"Apakah aku mengenalnya?" tanya Erika lagi. "Mengapa aku merasa sepertinya ada seseorang yang sedang berbicara denganku ... Aku mendengarnya menyebut namaku dan mengatakan sesuatu yang membuatku merasa sedih. Sehingga aku sangat ingin terbangun agar aku dapat membuka mataku dan melihatnya ...." Erika merasa hatinya kembali bersedih dan ingin menangis.
"Mungkin itu hanya halusinasimu. Bagi seorang pasien yang mengalami koma, wajar untuk merasakan hal-hal seperti itu." Jawab Kei berusaha menenangkannya.
Erika tidak lagi memaksa bertanya pada Kei. Ia hanya diam tetapi ia terus memikirkannya. Kemudian ia merasa jemari tangannya yang sebelah kanan sedikit basah sedangkan jemarinya yang sebelah kiri tidak.
Lupakan aku dan berbahagialah ....
Tiba-tiba kalimat itu terlintas dimemori nya. Dalam hatinya Erika berpikir, mungkin aku hanya bermimpi tentangnya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Erika setelah menyadari perkataan Kei sebelumnya yang memberitahunya bahwa ia adalah pasien yang mengalami koma. "Apakah benar aku telah mengalami koma dan sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Kamu mengalami kecelakaan, kepalamu membentur aspal jalanan dan menyebabkan kamu tak sadarkan diri. Lalu kami membawamu ke rumah sakit untuk segera menjalani operasi dan setelahnya kamu mengalami koma selama hampir dua hari."
"Kecelakaan?"
"Iya, apa kamu tidak ingat? Saat itu kamu berlari dengan sangat kencang dan menabrak motor yang sedang melaju kencang." Erika mencoba mengingat kembali kejadian yang dialaminya seperti yang Kei katakan.
***