
Sore harinya, Rey sedang berada di lokasi tempat yang tadi penculik beritahukan padanya. Ternyata tempat itu adalah gudang yang ia datangi tadi pagi untuk mencari Erika. Dia lalu berjalan masuk dengan perlahan-lahan. Kemudian segerombolan pria muncul dan segera berdiri membentuk lingkaran, mengelilinginya. Mereka masing-masing memegang tongkat pemukul di tangan mereka.
"Aiyoo lihat siapa ini yang datang. Ternyata sang Boss yang datang.. Ckckck.." Terdengar suara seseorang yang muncul dari belakang. Dia menggeleng-geleng kepalanya saat melihat keberadaan Rey di sana.
Orang itu memakai penutup wajah dikepalanya sehingga Rey tidak dapat mengenalinya. Tetapi itu membuat Rey berpikir bahwa dia pastilah seseorang yang dikenalnya.
"Untuk apa kamu datang kemari? Bukankah kamu tadi mengatakan bahwa kamu tidak mau menyelamatkan wanita itu karena dia tidaklah penting bagimu?" tanya pria itu lagi untuk mengejeknya.
"Katakan dimana kalian sembunyikan wanita itu!"
"Jadi, apakah wanita itu penting bagimu?" Pria itu lalu bertepuk tangan dan berkata sambil mengacungkan ibu jarinya "Bagus..Kamu memang licik dan pintar mengelabui orang. Tapi apa kamu pikir semua orang itu bodoh dan bisa kamu tipu? Cari saja wanita itu dan kita lihat apa kamu bisa menemukannya di sini. Hahaha.." pria itu mengeluarkan suara tawa seringainya dengan senang.
Rey pun menyadari kalau Erika pasti memang tidak berada di dalam gudang ini.
"Brengsek.. Cepat katakan dimana kamu sembunyikan dia?" Rey menggapai kerah baju pria itu dan bertanya dengan marah.
Pria itu melepaskan tangan Rey dari dirinya. "Dia berada di tempat yang aman dan pastinya kamu tak akan dapat menemukannya." Dia melotot marah pada Rey. "Serang diaaa..!" Teriak pria tersebut memberi perintah pada para anak buahnya.
Pria itu terlihat diselimuti oleh kemarahan. Dia pun hanya berdiri diam untuk menonton aksi pertunjukan yang akan segera dimulai itu dengan tawa seringai dibalik penutup wajahnya.
Baku hantam pun dimulai. Rey mendapat serangan pukulan yang bertubi-tubi. Awalnya dia dapat menangkis setiap pukulan yang akan mengenainya. Tetapi perlahan-lahan dia mulai kelelahan dan tak bisa lagi melawan mereka. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk melumpuhkan Rey. Rey pun jatuh tersungkur dan pingsan.
"Ikat dan bawa dia!" Perintah pria itu.
Setelah itu mereka membawa Rey ke belakang gudang, ke dalam rumah yang terletak di belakang gudang tersebut.
Erika terkejut saat melihat Rey yang dibawa mereka dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Kunci dan awasi mereka."
Dengan tangan dan kaki yang terikat, Erika berjalan dengan bersusah payah mendekati Rey.
"Erika.." Terdengar suara Rey memanggil Erika dengan pelan. Rey lalu membuka plester yang nenutup mulut Erika.
"Rey.. Kamu tidak apa-apa?"
"Ssttt.. Apakah kamu bisa menggunakan tanganmu untuk mengambil sesuatu di saku celanaku?"
Erika mengangguk. Ia lalu merogoh kantong celana Rey dan menemukan pisau lipat berukuran kecil.
"Berikan padaku." Rey mengambil pisau itu dengan tangan yang terikat dan membukakan tali yang mengikat tangan Erika. Setelah itu Erika membantu membuka tali yang mengikatnya.
"Mengapa kamu datang kemari?" tanya Erika.
"Mengapa aku kemari tidaklah penting. Yang terpenting sekarang adalah kita harus segera berusaha keluar dari tempat ini dulu."
Rey berusaha membuka pintu dengan mendorongnya tetapi pintu itu tidak dapat dibuka. Ia lalu mengintip melalui kaca jendela yang ada di samping rumah.
"Sepertinya ada yang datang." Rey kembali mengikat tali pada tangan Erika dengan simpul dan meminta Erika melakukannya pada dirinya juga. Ia lalu kembali ke posisi berbaring dan berpura-pura tak sadarkan diri lagi.
Pintu rumah terbuka. Dua orang penjaga masuk dan mengecek keadaan Rey yang terlihat masih tak sadarkan diri. Mereka lalu memberikan bungkusan makanan pada Erika.
Rey bangun dan langsung menyergap mereka dengan cekatan dari belakang. Kedua orang itu tidak siap sehingga dengan cepat mereka berhasil dilumpuhkan.
Rey segera menarik Erika untuk membawanya keluar dari rumah tersebut. Tetapi ternyata di luar terdapat banyak penjaga lainnya yang segera masuk ke rumah dan menghadang mereka. Terjadi baku hantam antara Rey dengan para penjaga.
Erika berteriak kaget saat pukulan mengenai tubuh Rey. Rey lalu menghampiri Erika dan mengarahkannya untuk pergi keluar lebih dulu.
"Pergilah dulu keluar dari sini. Aku memarkir mobilku di sisi kiri simpang jalan di depan. Tunggu aku di dalam mobilku." Rey berkata seraya memberikan kunci mobil miliknya.
"Jangan khawatir, aku bisa menghadapi mereka. Cepatlah. Aku akan menghadang mereka."
Erika lalu berlari dengan Rey menghalangi para penjaga yang berusaha mengejar dan menangkap Erika. Setelah Erika berhasil keluar dari rumah tersebut, Rey menutup pintu rumah untuk menahan dan melawan mereka. Erika berjalan kearah yang Rey sebutkan dan berhasil menemukan mobil Rey. Ia lalu bersembunyi di dalam mobil itu. Kemudian ia menelepon polisi untuk meminta pertolongan.
Rey yang masih berkelahi dapat dengan mudah melumpuhkan lawannya. Satu-persatu mereka pun berjatuhan. Aksinya tadi saat di dalam gudang yang terlihat lemah dan dengan mudah terkalahkan, hanyalah untuk berpura-pura agar mereka membawanya ke tempat Erika disekap.
"Siapakah yang memerintahkan kalian untuk melakukan ini?!" tanya Rey pada salah satu penjaga yang sudah terbaring dengan penuh luka.
Tetapi penjaga itu tetap bungkam, tidak mau menjawabnya.
"Jawab aku atau aku akan menghabisimu.." Rey menjambak rambut pria itu.
"Itu itu.. Tu..tuan Kei.." jawabnya.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu membuka dan terlihat pria yang mengenakan penutup wajah datang bersama beberapa anak buahnya.
Rey memperhatikan pria itu dengan seksama untuk menyelidiki siapakah sosok pria itu sebenarnya. Melihat dari tinggi tubuh dan bentuk badannya ia tahu bahwa pria itu bukanlah Kei.
"Kabuto..?" ucapnya.
Pria itu kaget mendengar namanya disebut Rey. Dia tak menyangka Rey akan mengenalinya. Dengan cepat Rey menarik penutup wajah pria itu namun pria itu segera menangkis tangan Rey. Lalu pria itu memberikan pukulan padanya. Rey dapat menghindari pukulan tersebut. Dan perkelahian pun terjadi diantara keduanya.
Sirine mobil polisi berbunyi. Mereka pun segera menghentikan perkelahian itu dan melarikan diri. Rey yang tidak mau berurusan dengan polisi juga ikut pergi melarikan diri.
Saat polisi tiba di rumah itu, mereka telah berhasil kabur. Hanya tinggal beberapa penjaga yang masih terbaring akibat pukulan Rey tadi. Polisi pun pergi dengan meringkus mereka.
Erika menunggu Rey dengan cemas. Terlintas dalam benaknya, ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk melarikan diri dari pria itu. Dengan kunci mobil ditangannya, ia lalu menghidupkan mesin mobil. Sesaat akan menginjak gas, muncul keraguan dihatinya.
Walau bagaimanapun, pria itu telah datang menyelamatkan dirinya dan saat ini masih sedang berkelahi. Pria itu bahkan mengorbankan dirinya untuk melindunginya agar dia bisa keluar dari tempat penculikan itu. Dia tidak mungkin pergi meninggalkannya begitu saja.
Memang pria itu telah mengurungnya, tetapi selama ini dia tidak pernah benar-benar menyiksa dan menyakitinya. Bahkan pria itu terlihat cemas dan perhatian terhadapnya saat ia mogok makan dan juga saat ia sakit. Walau caranya agak kasar dan memaksa.
Kemudian Erika menyadari bahwa pria itu sering berlaku kasar padanya. Mengingat kekasaran yang dilakukan oleh pria itu terhadapnya, membuat Erika enggan untuk berhadapan dengan pria itu lagi. Ia sudah tidak mampu lagi untuk menerima semua kekasaran pria itu. Erika juga tidak tahu bagaimana nasibnya kelak jika ia kembali berada ditangan pria itu. Bahkan ia tidak berani membayangkan entah hal menakutkan apalagi yang akan terjadi padanya.
Akhirnya, Erika membulatkan diri untuk segera pergi dari situ dan meninggalkannya. Ia lalu menginjak pedal mobil dan mobil pun melaju pergi. Seketika itu juga Rey muncul dihadapannya. Membuat Erika kaget dan segera menginjak rem mobilnya.
Hampir saja tubuh Rey tertabrak jika Erika telat menginjak rem mobil tersebut. Namun, Rey yang sedang berdiri dengan tubuh berjarak hanya beberapa senti dari mobil dan nyaris tertabrak itu nampak tenang. Ia tetap berdiri diam menatap Erika dengan tatapan mendalam. Tatapan yang tak dapat dimengerti tetapi membuat Erika merasa bersalah karena ditatap seperti itu.
Erika lalu turun dari mobil dan menghampirinya.
"Rey, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Apakah kamu berniat akan pergi?" tanya Rey dengan suara dan tatapannya yang dingin
"Aku.. aku.. " Erika tergagap dan tak bisa menjawabnya.
"Bos.." Anak buah Rey muncul dan memanggilnya. Mereka datang dengan menggunakan 2 buah mobil.
Rey tidak menghiraukan mereka. Dia kembali berbicara pada Erika, "Pergilah jika itu yang kamu mau." Selesai berbicara, Rey pergi meninggalkan Erika yang terdiam dengan perasaan bersalahnya.
Rey menghentikan langkahnya dan menambahkan, "Ini adalah kesempatan terakhir bagimu. Jika kamu tidak pergi, maka jangan menyesalinya kalau kamu jatuh ke tanganku lagi." Dia sengaja berbicara seperti itu untuk menakutinya.
Rey lalu masuk ke dalam salah satu mobil anak buahnya.
"Bos, apakah kamu akan membiarkan dia pergi begitu saja?"
Rey diam saja, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak buahnya. Ia duduk dengan bersandar pada jok mobil dan memejamkan matanya. Ia terlihat seolah tak peduli dan tak ingin tahu dengan apa yang akan Erika lakukan.
***