Happiness For You

Happiness For You
65 Kilas Balik : Menghilang dan Mengamuk!



Kilas balik 2 bulan lalu.


Kondisi Rey masih sangat kritis, karena walaupun operasi untuk mengeluarkan pelurunya telah berhasil, tetapi penyakitnya bertambah semakin parah akibat tubuhnya mengalami kehilangan darah yang begitu banyak dan dalam waktu yang cukup lama. Sehingga dia harus segera mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang agar dirinya dapat segera menjalankan operasi tranplantasi tersebut.


Untuk saat ini, hanya Kei seorang yang memiliki kriteria kecocokan dengan sumsum tulang belakang milik Rey dan bisa menjadi pendonornya. Walaupun Rey pernah memintanya untuk berjanji agar tidak menjadi pendonornya, tetapi Kei tetap akan mendonorkan sumsumnya.


Sesaat sebelum mereka menjalani operasi transplantasi sumsum, Kei berbicara pada Rey yang masih terbaring dalam keadaan tak sadar dan kritis.


"Ken, kamu harus sembuh dan kamu pasti bisa melewati masa kritis ini. Kakak minta maaf karena tidak menepati janji. Saat ini kamu sangat membutuhkan sumsumku dan aku sangat ingin kamu bisa sembuh dan sehat kembali sehingga aku bisa melakukan kewajibanku sebagai kakakmu yang selama ini belum pernah kujalani." Tiba-tiba di ujung pelupuk mata Rey yang terpejam mengalir keluar setetes airmata. "Ken ...." Kei mengusap airmata Rey yang menetes keluar dan ia pun ikut menangis. Sepertinya Rey sedang menangis karena ia bisa mendengar ucapan kakaknya dan tahu kalau kakaknya akan mendonorkan sumsum tulang belakang miliknya untuknya. Rey tidak mau kakaknya melakukan hal itu tetapi ia tidak dapat melakukan apapun untuk menghentikannya sehingga ia merasa sedih dan menangis.


Operasi transplantasi Rey pun berjalan dengan sukses dan kondisi tubuh Rey pun semakin membaik secara berangsur-angsur dan dia sudah tidak kritis lagi. Namun, walaupun operasi itu telah berjalan dengan sukses dan berhasil menyelamatkannya, akan tetapi Rey masih belum juga tersadar dan ia mengalami koma selama hampir 2 minggu.


Dengan kondisinya yang menjadi koma setelah dioperasi, membuat orang-orang yang menyayanginya diliputi kecemasan dan kekhawatiran setiap harinya, terutama Kei. Dirinya benar-benar dipenuhi oleh rasa ketakutannya dan sering berpikir bagaimana kalau adiknya itu tidak bangun lagi.


Setiap hari Kei pasti akan datang mengunjungi adiknya dan mengajak adiknya berbicara agar ia dapat memberinya semangat untuk bisa bertahan dan berkeinginan untuk hidup. Padahal dirinya sendiri juga baru menjalani operasi pengambilan tulang sumsum yang memberinya beberapa efek yang membuatnya sakit dan cukup menderita. Tetapi dia tetap memaksakan diri dan tidak mau berisitirahat dengan baik hingga tubuhnya sendiri hampir kolaps.


Untung saja Dokter Steve berhasil menyadarkan dan mengingatkannya kalau ia terus seperti itu maka berarti ia juga sedang membahayakan dirinya sendiri. Dirinya bisa saja mengalami seperti apa yang Rey takutkan yang pernah terjadi pada ibunya. Setelah mendengar peringatan Dokter Steve tersebut, barulah Kei mau beristirahat dan menjaga kesehatannya dengan baik.


Lalu di suatu hari, disaat hari masih subuh dan jarum jam baru menunjukkan pukul 5 pagi, Rey akhirnya tersadar dari koma nya. Tetapi ternyata ia mengalami sedikit gangguan pada memori ingatannya. Rey berpikir kalau saat ini dirinya baru selesai mendapatkan operasi transplantasi sumsum dari ibunya yang juga pernah dijalaninya saat ia masih berusia 10 tahun. Sehingga ketika ia membuka matanya dan tidak melihat sosok ibunya yang menemaninya dan hanya dirinya seorang di dalam kamar pasien, Rey langsung menjadi panik dan ketakutan.


Dengan kepanikannya, Rey ingin segera pergi mencari ibunya. Ketika ia ingin turun dari ranjangnya, ia terhalang oleh selang infus serta berbagai peralatan medis lainnya yang masih menempel ditubuhnya. Rey pun mencabut jarum infus yang tertancap dikulit tangannya dan kesakitan karena kulitnya tergores dan berdarah. Lalu ia melepas seluruh peralatan medis lainnya yang menempel ditubuhnya. Rey memaksakan tubuhnya yang masih lemah dan kaku untuk turun dari ranjangnya sehingga ia pun terjatuh. Tetapi ia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan dengan bersusah payah dan dengan langkah yang gontai hingga ia beberapa kali terjatuh.


Keadaan rumah sakit disaat itu masih sepi sehingga Rey dapat berhasil menyelinap keluar dari kamar tempatnya dirawat. Walaupun ia merasa kesakitan, tetapi ia tidak mempedulikannya dan terus berjalan tanpa arah dan tujuan untuk mencari ibunya dengan ketakutan dan air mata yang menggenang di wajahnya.


Seorang suster perawat masuk ke kamarnya dan terkejut ketika mendapati Rey tidak sedang berbaring diatas kasurnya. Perawat itu langsung mencarinya dan melaporkannya kepada petugas lainnya untuk membantu mencarinya. Akhirnya dengan bantuan cctv mereka berhasil menemukannya.


Sebelum mereka menemukannya, ada seorang wanita yang menemukannya terlebih dahulu. Saat wanita itu menemukannya, Rey habis terjatuh dan tergeletak di lantai tetapi dirinya masih saja berusaha untuk bangun dan terus bergerak maju dengan agak merangkak. Wajahnya terlihat sangat pucat dan pipinya basah karena airmatanya. Ketika petugas datang dan ingin membantunya, Rey terus memberontak ingin pergi mencari ibunya. Tetapi karena badannya masih sangat lemah, ia pun kalah dari mereka. Dan mereka juga terpaksa menyuntikkannya obat penenang agar bisa membawanya kembali ke kamarnya.


Pihak rumah sakit lalu menghubungi anggota keluarga Rey, yang adalah kakaknya untuk menginformasikan kalau Reyhan sudah tersadar dari koma nya.


"Selamat pagi Bapak Kei Takahiro. Kami dari pihak rumah sakit ingin menginformasikan bahwa adik anda yang bernama Reyhan Wiriawan, telah terbangun dari koma. Namun dikarenakan tadi adik anda terus memberontak dan memaksa untuk pergi mencari ibunya, maka pihak kami terpaksa memberinya suntikan obat penenang sehingga saat ini ia sedang dalam keadaan tertidur."


Kei yang saat itu masih dalam keadaan setengah tersadar karena baru bangun dan masih mengantuk, langsung melek matanya karena terkejut mendengar apa yang suster perawat sampaikan. Ia langsung bergegas untuk segera pergi ke rumah sakit.


Untung saja keadaan Rey sudah cukup membaik sehingga hal yang tadi terjadi padanya itu tidak terlalu membahayakan kesehatan tubuhnya. Sekarang Rey hanya butuh untuk beristirahat dengan baik dan beberapa anggota tubuhnya kembali dipasangkan beberapa peralatan medis untuk menopang kinerja tubuhnya dan memantau keadaannya.


Kemudian, siang harinya Rey terbangun dan masih dalam keadaan panik serta ketakutan ingin mencari ibunya.


Kemudian, Rey mengamati keadaan tubuhnya sendiri yang sedang berbaring dengan berbagai macam peralatan medis yang menempel ditubuhnya. Rey juga menyadari kalau tubuhnya sekarang terasa berbeda, ia merasa dalam keadaan sehat dan tidak lagi lemah serta kesakitan. Ia hanya merasa sedikit tak nyaman pada punggungnya yang memiliki luka tembak dan masih dalam tahap penyembuhan.


Rey lalu menatap kesekelilingnya yang adalah pemandangan sebuah kamar pasien yang sangat dibencinya. Aromanya, dinding ruangan yang monoton dengan hanya dicat dengan warna putih dan terasa dingin. Belum lagi berbagai peralatan medis yang ada disekelilingnya dan beberapa menempel ditubuhnya. Membuat rasa trauma nya muncul dan memberinya rasa tak nyaman dan kesedihan. Rey pun menitikkan airmatanya karena teringat akan ibunya yang telah tiada. Ia kembali teringat saat dirinya baru selesai menjalani operasi transplantasi sumsum untuk yang pertama kalinya.


Ketika itu ia terbangun dan mendapati kalau dirinya sedang sendirian di ruang pasien yang dingin dengan tubuhnya yang masih terasa sakit akibat pengaruh operasi yang baru selesai dijalaninya. Ia pun merasa kedinginan dan ketakutan. Lalu dengan panik, ia mencari-cari sosok ibunya yang biasanya selalu berada di sisinya untuk menemaninya jika ia sedang dirawat di rumah sakit. Sehingga ketika ia terbangun, ibunya dengan segera memberinya pelukan hangat yang membuatnya merasa nyaman dan hangat serta tidak ketakutan lagi.


Namun kali itu berbeda, ternyata ibunya sendiri sedang dirawat di ruangan lain karena kondisinya yang melemah akibat operasi yang baru dijalaninya untuk mendonorkan sumsum untuknya. Akhirnya ibunya tidak dapat bertahan dan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Maka sejak saat itu, Rey menjadi trauma yang memberinya rasa takut serta benci jika berada di rumah sakit.


"Ken, ada apa?" tanya Kei dengan bingung dan cemas karena melihat adiknya yang awalnya tampak kebingungan, lalu ketakutan, dan seketika kemudian ia terlihat sangat sedih dan menangis.


Kini tangis Rey telah berhenti, ia lalu memandang ke arah kakaknya yang memanggil nama kecilnya dan sedang bertanya padanya. Rey juga melihat sekilas ke arah Erika yang duduk disamping kakaknya kemudian ia kembali menatap wajah kakaknya lagi dan membekukan tatapannya di sana dengan tatapan yang tak terbaca. Tatapannya itu seperti menggelap, dengan ekspresi kemarahan dan kekecewaan, juga perasaan sedih.


"Ken, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Kei lagi dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.


Rey tidak menjawabnya dan membuang mukanya. Matanya kembali memerah dan basah. Ia lalu mencopot semua peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Pertama, ia melepas alat detektor jantung yang menempel didadanya lalu menarik paksa jarum selang infus dilengannya sehingga ia meringis kesakitan.


Melihat perbuatannya itu, Kei pun berusaha menghentikannya. "Ken, apa yang kamu lakukan ... jangan seperti itu."


"Rey, ada apa? Berbicaralah. Jangan diam saja ...." Erika juga ikut berbicara. Rey masih tetap diam dengan hanya menatap Erika sekilas. Kemudian dia menghempas tangan mereka yang ada di tubuhnya dan memberontak sambil berusaha untuk bangkit berdiri.


"Rey ...!" panggil Erika dengan mulai terisak.


Tentu saja Rey kalah melawan mereka dan ia pun menjatuhkan dirinya dengan posisi duduk di atas kasurnya.


"Mengapa ..." ucap Rey pada akhirnya untuk bertanya dengan suara serak dan juga agak sedikit kesulitan untuk berbicara karena mulutnya terasa kaku. Lalu Rey mengarahkan pandangan matanya yang tadi jauh ke depannya sekarang berpindah ke kakaknya. Ia mencoba untuk membuka mulutnya dan berbicara lagi. "Mengapa kamu melakukan ini padaku?" Suaranya sudah tidak serak dan mulutnya juga sudah membuka dengan normal dan tidak terasa kaku. Kemudian ia melanjutkan berkata dengan setengah berteriak dan marah. "Mengapa kamu menyelamatkanku dan tidak menepati janjimu?" tanyanya dengan mata yang melotot marah kepada kakaknya. "Mengapa ...!!" Teriaknya lagi mengamuk dengan suara yang cukup kencang dan penuh amarah. Airmatanya sudah jatuh bercucuran karena kemarahannya itu.


"Astaga ... Rey ...!!" Teriak Erika yang terkejut dan juga marah kepadanya. "Jangan bersikap seperti itu pada kakakmu!" Erika memarahinya dan ia juga ikut menangis. Begitu juga Kei. Hatinya sangat pedih dan serasa remuk melihat dan mendengar lontaran kemarahan adiknya kepada dirinya.


"Maafkan aku karena tidak menepati janjiku. Tapi aku tak bisa membiarkan dirimu yang sedang sekarat dan sangat kritis sedangkan hanya diriku yang bisa membantumu dan membuatmu sembuh dari penyakitmu itu. Aku juga takut ... Aku takut kamu tidak dapat bertahan dan ...." ucapan Kei terhenti karena ia tak sanggup untuk mengatakannya.


"Dan tidak terbangun lagi?" ucap Rey menyelesaikan ucapan kakaknya. Kei hanya diam menatapnya, matanya mulai basah dan bibirnya bergetar karea kesedihan yang sedang ia rasakan. "Sekarang, kalian pergi tinggalkan aku dan biarkan aku sendiri!" teriak Rey lagi dengan marah.


***