
Dokter Steve datang memeriksa keadaan Rey.
"Dokter.." Rey memanggil Dokter Steve dengan lirih saat ia terbangun dan melihat Dokter Steve sedang memeriksa dirinya. Rey juga melihat ada Erika didalam kamarnya dengan wajah yang terlihat cemas.
Dokter Steve yang sedang mengecek suhu tubuh Rey tersenyum memandangnya. "Demammu sudah turun, apa yang kamu rasakan saat ini?"
Rey hanya mengangguk. Ia lalu berusaha bangun. Namun dokter menahannya dengan memegangi bahunya.
"Kamu harus istirahat total dulu selama beberapa hari ini. Jangan banyak bergerak dan berpikir."
Rey menlirih ke arah Erika dengan gusar. Dia tak ingin Erika mendengar pembicaraan mereka. Dokter yang mengetahui itu, berusaha membuat Erika keluar dari kamar.
"Erika, bisakah kamu membantuku untuk menyiapkan air panas untuk Rey?"
Erika yang ingin ikut mendengarkan pembicaraan mereka agar dapat mengetahui keadaan Rey, merasa sedikit keberatan. Tetapi ia tidak dapat menolaknya sehingga ia pun pergi keluar ruangan meninggalkan mereka dengan terpaksa.
Setelah Erika pergi, Dokter Steve kembali berbicara.
"Rey, ada hal penting yang harus kubicarakan mengenai kondisimu...Sebaiknya kamu segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit karena sepertinya penyakitmu.."
"Aku sudah tahu, Dok. Aku tidak perlu pergi ke rumah sakit."
"Maksudmu.."
"Sejak terluka akibat pukulan waktu itu, aku sudah dapat merasakannya. Belakangan tubuhku menjadi lebih lemah. Selain itu, hidungku pernah beberapa kali mengeluarkan darah. Dan dengan kondisiku saat ini, aku semakin dapat merasakannya." Rey berkata dengan tatapan yang jauh ke depan, berusaha menahan dan menutupi perasaan berkecamuk dan tak karuan yang sedang ia rasakan.
"Rey, apa tidak sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatanmu. Dan jika memang benar, kamu bisa melakukan perawatan di rumah sakit. Saat ini, jaman sudah semakin canggih begitu juga dengan ilmu kedokteran yang sudah semakin berkembang. Aku yakin kamu bisa sembuh kembali."
"Tidak, Dok. Aku lebih suka untuk menjalani kehidupanku dengan normal. Sudah cukup bagiku menghabiskan masa kecilku yang selalu berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan." Mata Rey yang bulat terlihat sedikit berkabut. Ingatan akan ibunya kembali muncul. Ibunya yang senantiasa selalu menemaninya dimasa-masa kelamnya ketika dia sakit dan menghiburnya dikala dia menderita saat menjalani pengobatan di rumah sakit.
"Baiklah, aku akan menghargainya jika memang itu yang kamu inginkan. Tenang saja, aku pasti akan berusaha mengobatimu semaksimal mungkin."
"Terima kasih, Dok." Selesai bicara, Rey kembali tertidur karena efek dari obat yang dokter berikan padanya sedang bekerja.
Lalu Sokter Steve merapihkan selimut dan peralatannya agar Rey dapat tidur dengan nyaman. Setelahnya Dokter Steve pun pergi keluar dari kamar Rey.
Selama ini, Dokter Steve lah satu-satunya orang yang sangat berjasa didalam kehidupan Rey. Dokter Steve selalu membantu Rey ketika di masa sulitnya dan juga selalu menghargai serta mendukung apapun yang Rey lakukan. Bahkan ketika Rey ikut bergabung menjadi anggota gangster, Dokter Steve tak pernah memarahinya ataupun melarangnya. Ia hanya memberinya beberapa nasihat dan membiarkan Rey mengatur kehidupannya sendiri. Namun walaupun begitu, Dokter Steve selalu ada dan siap membantu kapan pun Rey mengalami kesulitan dan membutuhkannya.
"Dokter, bagaimana keadaan bos?" Erika yang daritadi telah berdiri di depan pintu segera
bertanya begitu melihat Dokter Steve keluar ruangan. Tangannya memegangi sebuah thermos berisi air panas dan ia melangkah hendak masuk ke dalam.
"Bosmu sedang tertidur saat ini." Dokter Steve menghadang Erika yang hendak masuk dan lalu mengarahkannya untuk menuju ke ruang tengah.
Setelah mereka berada di ruang tengah dan duduk di sofa, dengan tak sabar Erika kembali bertanya. "Dokter, bagaimana keadaan bos? Apa dia perlu dibawa ke rumah sakit?"
Dokter Steve yang sedang menulis sesuatu, menghentikan kegiatannya dan menatap Erika yang terlihat cemas. Ia tersenyum padanya dan berkata, "Tenang saja, itu tidak perlu. Pukulan itu tidak membahayakan bosmu. Jangan khawatir dan jangan merasa bersalah akan hal ini."
"Tetapi, mengapa begitu banyak darah yang menetes keluar dari hidungnya? Dan tubuhnya mengalami demam hingga begitu tinggi?"
Dokter Steve hanya diam memandangi Erika.
"Apakah.. apakah bos memiliki suatu.. penyakit??" Erika bertanya dengan ragu tetapi juga dengan penasaran. Karena sebenarnya dia tadi sempat mencuri dengar sedikit pembicaraan mereka dari luar.
Dokter Steve menghela nafasnya dengan berat dan menjawab, "Maaf Erika, ini adalah rahasia pasien yang tidak boleh kuberitahukan pada siapapun, kecuali kepada anggota keluarganya."
Erika terduduk lemas. Dengan jawaban Dokter Steve yang seperti itu, membuatnya yakin bahwa bos nya memiliki suatu penyakit. Tetapi ia tidak tahu dan tidak bisa menebaknya sakit apakah bosnya itu. Erika tidak bertanya atau memaksa dokter untuk memberitahukannya karena Erika tahu itu tidaklah etis untuk dilakukan baginya yang bukan siapa-siapa. Walaupun dalam hatinya ia merasa penasaran dan penuh kekhawatiran.
Erika kembali teringat saat hari pertamanya di rumah Rey, ketika ia mencari sumber suara handphone yang berbunyi di dalam kamar Rey. Tanpa sengaja ia melihat sebuah foto seorang wanita muda yang sangat cantik dengan seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun. Foto itu berlatar di sebuah kamar rumah sakit dengan anak lelaki yang bertubuh kurus dan berwajah pucat sedang berulang tahun.
"Erika, ini resep obat untuk Rey. Jangan lupa untuk memberikan obat ini sesuai dengan anjuran yang tertulis. Aku pergi dulu."
"Baik, terima kasih Dok."
***
Keesokan paginya Rey terbangun. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Dan ia melihat seseorang mendongak ke dalam kamarnya. Orang itu adalah Erika. Sepertinya Erika telah beberapa kali membuka pintu kamar Rey untuk mengecek apakah Rey sudah bangun karena dia ingin memberikan sarapan dan obat yang telah diantarkan oleh anak buah Rey.
Kali ini, Erika sedikit terkejut saat melihat Rey sudah terbangun dan dengan matanya yang tajam sedang menatapnya. Ia buru-buru menutup kembali pintu kamarnya dan tidak berani untuk masuk ke dalam.
Rey yang tadinya merasa kesal dan akan marah karena ada seseorang yang telah berani membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu, menjadi tertawa karena merasa lucu ketika melihat ekspresi keterkejutan Erika yang juga terlihat ketakutan. Namun tawanya dengan segera menghilang ketika ia teringat akan siapakah sosok Erika yang sebenarnya.
"Tidak, aku harus merebutnya. Apapun yang terjadi, aku harus membalaskan dendamku ini." Gumam Rey pelan. Dalam pikirannya, keinginan untuk membalas dendam terhadap kakaknya semakin membara. Dan, saat ini ia merasa bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya. Kesempatan itu akhirnya datang, disaat waktunya tinggal sebentar lagi.
"Erika. Dengan sendirinya kau datang ke rumahku. Sebelum kondisiku bertambah parah, aku harus cepat bertindak."
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu kamar diketuk.
"Masuklah." jawab Rey sambil menegakkan posisinya menjadi posisi duduk. Lalu terlihat sosok Erika masuk ke kamarnya. Rey segera memberikannya senyuman yang lebar. Membuat jantung Erika berdegup kencang dan menjadi canggung. Apalagi Erika mengingat ciuman bosnya kepadanya kemarin.
"B..Bbos.. ii..ini..Aku membawakanmu sarapan mmm dan obat yang harus kamu minum setelah sarapan." Erika berbicara dengan tergagap. Buru-buru Erika meletakkan nampan yang dibawanya dan hendak segera keluar dari sana. Namun Rey menahannya dengan memegang tangannya.
"Kamu lupa kalau dokter bilang aku tidak boleh banyak bergerak?" Rey bertanya sambil menatapnya.
Erika bingung dengan apa yang Rey katakan. Dia memutar bola matanya ke samping, nampak berpikir.
"Suapi aku." Rey yang mengetahui bahwa Erika tak tahu apa maksud perkataannya segera menimpali ucapannya.
"Ohh..oh..baiklah.." Jawab Erika.
Dengan kikuk Erika memasukkan sendok berisi makanan ke mulut Rey. Rey membuka mulut sambil matanya terus memandanginya. Suasana pun semakin terasa canggung. Sendok yang Erika masukkan melenceng sedikit dari bibir Rey dan meninggalkan noda makanan disana. Erika buru-buru mengelapnya. Tetapi tangan Rey langsung menggapai tangan Erika dan menarik tubuhnya hingga mendekat.
Refleks, Erika mendorong tubuh bosnya. Membuat Rey sedikit mengernyit karena merasa kesakitan.
"Mm..maaf Bos.."
"Tak apa.. Jangan panggil aku Bos. Apa kamu lupa dengan apa yang kukatakan padamu kemarin? Bahwa kamu adalah milikku. Jadi, mulai sekarang panggil aku dengan namaku saja."
Erika membelalakkan matanya karena terkejut mendengar Rey mengucapkan lagi kalimat 'kamu adalah milikku'.
"Tapi aku tidak me.."
"Ssttt..Tidak ada kata tapi.. Lagipula itu adalah sebuah pernyataan, bukan pertanyaan." Rey menghentikan Erika dan langsung merengkuh bibirnya.
Erika memukul-mukulkan tangannya pada bahu Rey dengan marah dan memberontak ingin melepaskan dirinya. Tetapi Rey semakin mendekap erat tubuhnya.
Tis
Tak berapa lama, Erika merasakan sebuah tetesan yang terasa dingin dan berbau pekat di bawah hidungnya. Setelah itu genggaman Rey semakin mengendur dan tubuhnya terdorong menjauh dari pria itu. Rey segera berlari menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya.
Ya. Cairan yang menetes itu adalah darah. Kemarahan Erika berubah menjadi kepanikan dan rasa cemas. Hidung Rey pasti berdarah lagi, pikirnya.
"Bos.." Erika menyusul Rey dan menggedor pintu kamar mandi.
Rey tidak menjawabnya melainkan dia membuka keran air dengan sangat deras. Kemudian dia membasuh darah yang terus menetes keluar dari hidungnya.
Dari luar, Erika masih terus memanggil-manggil dan menggedor pintu dengan panik.
Rey mematikan keran airnya dan berkata, "Aku tidak apa-apa. Tinggalkan aku!" Dia lalu membuka kembali keran air dengan deras. Rey terduduk lemas di sana dengan mata terpejam. Setelah beberapa menit, Rey keluar dari kamar mandi.
"Bbos.." Ternyata Erika masih menunggunya di depan pintu. Namun Rey tidak menghiraukannya. Wajahnya terlihat pucat. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Erika dan masuk kembali ke kamarnya. Lalu ia menutup pintu kamarnya.
***