
"Kabuto!! Dasar Brengsekkk ...!" Rey mendorong tubuh Kei yang sedang menindih tubuhnya untuk melepaskan dirinya. Ia lalu melompat untuk bangun dan berdiri lalu ia melangkah dengan cepat untuk mendatangi Kabuto.
Dorr!
Kabuto menembakkan pistolnya ke lantai bawah di sekitar kaki Rey sehingga Rey menghentikan langkahnya.
"Apa ini? Mengapa wajahmu dipenuhi kemarahan bukannya kegembiraan karena telah mendapatkan musuhmu? Huahaha ..." Seperti biasa, ia mengeluarkan tawa dan seringainya yang menyeramkan itu.
Kei melonjak kaget saat mendengar suara tembakan yang diarahkan pada Rey itu. Ia menatap cemas ke arah Rey dan juga penuh kebingungan. Ia tak mengerti mengapa Rey terlihat sangat marah pada Kabuto. Mengenai dendam Rey padanya, ternyata itu benar yang dia pikirkan. Dan hal itu pasti berkaitan dengan Erika.
"Kabuto ...!" teriak Kei memanggilnya.
"Ya Tuan Kei ...." jawab Kabuto dengan berpura-pura ramah dan sopan dengan sedikit membungkukkan badannya. Padahal ia menyembunyikan seringai kekesalannya disaat wajahnya tak dapat dilihat karena tubuhnya membungkuk.
"Mengapa kamu menembaknya? Simpan saja senjatamu. Kupikir dia tidak berbahaya dan lebih baik kamu bantu aku untuk segera menemukan Erika."
"Ohh ... apakah kekasihmu sedang menghilang lagi?" tanya Kabuto pada Kei dengan ambigu.
"Ya, itu bisa dikatakan seperti itu." jawab Kei agak sedikit ragu.
"Baiklah kalau begitu aku akan membantumu lagi untuk mencarinya -"
"Hey! Jangan percaya pada pria ular yang sangat licik itu!" teriak Rey pada Kei untuk memperingatinya. "Dia telah menipumu! Erika tidak menghilang, dia sedang di rumahku sekarang -" Ucapan Rey terhenti dan ia menyadari kalau ia telah salah bicara. Karena dengan dia memberitahu bahwa Erika sedang berada di rumahnya, maka itu secara tidak langsung kalau dirinya mengakui telah membawa kabur Erika.
"Haa ... Dengar itu Tuan Kei. Ternyata dia yang telah menahan kekasihmu lagi di rumahnya."
Brengsek! umpat Rey kesal dalam hatinya. Pantas saja tadi pria busuk itu dengan begitu gampangnya membiarkanku membawa Erika ke rumahku.
Ya, Kabuto memang sengaja membuat agar Rey menyelamatkan Erika yang diculik olehnya. Sehingga setelah Rey menyelamatkannya, maka dia pasti akan memaksa untuk membawa Erika pergi agar wanita itu aman berada dibawah pengawasannya.
Kabuto benar-benar licik dan penuh perhitungan. Dengan perbuatannya yang menculik Erika tersebut, bukan hanya itu saja keuntungan yang didapatnya melainkan ada keuntungan lain yang bisa didapatnya. Dia juga bisa membuat Rey datang sendiri kepadanya untuk menyerahkan dirinya dan menukarkan dirinya dengan Erika demi untuk membebaskan Erika darinya, bahkan sampai memohon padanya pula.
Rey benar-benar terperangkap dan telah masuk dalam jebakan Kabuto. Kini Kei pasti berpikir bahwa memang benar dirinya yang telah membawa pergi Erika dan sedang mengurungnya di rumahnya.
Kei memandang Rey dengan marah. "Aku akan berurusan denganmu lagi nanti." Selesai berbicara, rahang Kei mengatup rapat karena menahan kemarahannya. "Ayo Kabuto, kita pergi ke rumahnya sekarang juga."
Dorr! Kabuto kembali menembakkan pistolnya ke bawah lantai di dekat kaki Kei untuk membuatnya berhenti. Sepertinya Kabuto sudah gila, dirinya terlihat senang sekali menembakkan pistolnya dan menghabiskan pelurunya secara cuma-cuma dengan menembakkan sasaran pelurunya ke bawah lantai. Wajahnya juga memperlihatkan kegembiraan yang sedang dirasakannya setelah habis menembakkan pelurunya itu dengan selalu memamerkan seringaian nya yang menakutkan.
"Apa-apaan kamu!" Kei melotot marah kepadanya.
"Tidakkk ...!" Teriak Rey hampir berbarengan dengan kakaknya. Membuat Kei langsung menoleh kepadanya.
"Ada apa Rey ku sayang? Mengapa raut wajahmu seperti ketakutan ketika aku menembaknya?" Kabuto terlihat senang disaat menggoda Rey. Kabuto juga mulai curiga dengan raut wajah ketakutan yang Rey tunjukkan kepada kakak kandungnya itu. Apa mungkin musuhnya itu telah mengetahui identitasnya sendiri. Kabuto lalu menggodanya lagi dan sekaligus untuk memancingnya.
"Jadi sekarang kamu bisa merasa takut? Apakah itu karena kamu menyayanginya dan tidak membencinya lagi? Ohh adik kecil yang manis ...."
Keduanya merasa kaget dan langsung saling bertatapan.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku ...." Rey tidak menyelesaikan pertanyaannya.
"Ayo Rey, selesaikan pertanyaanmu itu." pancingnya lagi.
Rey tetap diam. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kearah Kei lagi.
"Kabuto, sebaiknya kamu menjelaskannya padaku. Apa maksud ucapanmu itu? Bukankah hasil tes DNA itu telah membuktikannya kalau kami tidak memiliki kesamaan DNA ...." tanya Kei kebingungan.
Kabuto kembali mengarahkan pandangannya pada Kei dan menanggapinya.
"Tentu saja itu tidak sama Tuan Kei, karena itu adalah DNA milikku. Sehelai rambut yang kuberikan padamu itu adalah rambut yang kuambil dari kepalaku sendiri. Ahahah ... hahaha ...." Kabuto benar-benar merasa senang dan tergelitik melihat kebodohan Kei yang berhasil dia bohongi.
"Jadi kamu telah menipuku? Dan itu telah terjadi selama ini? Ternyata benar, kamu memang pria licik yang seperti ular."
"Ckck ... Tingkah laku kalian berdua benar-benar mirip. Sama-sama angkuh dan suka memandang rendah orang. Tetapi kalian adalah kakak adik yang bodoh. Begitu mudahnya bagiku untuk membodohi dan mengadu domba kalian. Lihat, sekarang kalian berdua telah masuk ke dalam perangkapku hanya dengan sekali tepukan."
Rey cukup merasa kaget dan tak menyangka kalau kakaknya itu benar-benar akan melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenaran akan dirinya yang adalah adik kandungnya hingga meminta bantuan pria ular yang telah salah dipercayanya.
"Lalu mengapa kamu bisa tahu dan sangat yakin kalau kita berdua memang benar kakak beradik?" tanya Kei lagi untuk memastikannya.
"Karena aku seorang pria yang licik dan tidak bodoh seperti kalian. Tentu saja aku melakukan tes DNA milik kalian berdua secara diam-diam. Lagipula, kamu juga bisa langsung menanyakan dan memastikannya dengan adik kandungmu sendiri yang sedang ada didepanmu itu." Kabuto mendelikkan matanya kepada Rey.
"Rey, jawab aku. Katakan yang sejujurnya, jangan berbohong lagi kepadaku." desak Kei.
"Jadi selama ini kalian telah saling mengetahuinya. Tetapi mengapa kamu tidak mau mengakuinya?" Kabuto bertanya bingung kepada Rey. "Ahh! Jadi selama ini kamu sangat membenci dan mendendam pada kakakmu sendiri. Apakah itu sudah sejak awal kamu memang membenci dan mendendam padanya bukan karena rebutan wanita yang sama yang kalian cintai? Atau jangan-jangan kamu memang sengaja mendekati dan merebut kekasihnya sebagai media untuk membalaskan dendammu itu? Lalu mengapa sekarang nyalimuu melempam dan tidak membalaskan dendammu lagi padanya?" Kabuto benar-benar membeberkan dan menguak semua yang Rey tutupi selama ini.
Kei cukup kaget dan terkejut mendengar apa yang Kabuto bicarakan. Ia langsung menolehkan wajahnya kearah Rey yang tampak sangat marah dan menatap tajam penuh aura membunuh kepada Kabuto. Dan ketika melihat ekspresi Rey yang seperti itu, ia menjadi yakin kalau semua yang Kabuto utarakan itu benar. Tetapi bukan kemarahan dan kebencian yang ia rasakan terhadap Rey, melainkan perasaan bersalah dan menyesal karena apa yang Rey rasakan terhadapnya.
"Tutup mulutmu busukmu itu! Dasar brengsekk ...!" Rey berjalan cepat kearah Kabuto karena ia ingin menghajarnya.
Dorr!
"Berhenti melangkah atau aku akan ... fiuh~" Kabuto tadi mengarahkan sasarannya disekitar kaki Kei dan menembakkan lagi pelurunya di sana. Ia lalu menaikkan pistolnya mengarah ke bagian dada Kei dan melakukan gerakan seperti ingin menembaknya disana. "Aku senang jika aku melakukannya dan mendengar bunyinya. Duarr! Lalu peluruku ini akan menembus dada kakakmu langsung masuk ke jantungnya. Maka kakakmu akan langsung jatuh terkapar tanpa bisa berkata-kata apapun lagi padamu."
Rey langsung diam membeku, tidak lagi berani melanjutkan langkahnya. Dan Kabuto menurunkan tangannya yang sedang memegang pistol. Rey lalu memberanikan dirinya untuk menatap kearah kakaknya untuk melihat bagaimana keadaan kakaknya setelah mendengar seluruh perkataan Kabuto tadi. Dan kakaknya itu ternyata juga sedang menatapnya tetapi dengan tatapan sedih bukan dengan kemarahannya atau ketakutannya.
Tadinya Rey berpikir kalau saat ini kakaknya pasti sangat marah kepadanya setelah mengetahui kebohongannya ditambah dengan penuturan Kabuto yang mengatakan kalau selama ini ia telah sangat membenci dan mendendam kepada kakaknya. Atau mungkin kakaknya sedang merasa ketakutan atas ancaman Kabuto kepadanya. Karena dirinya sendiri sedang merasa cukup ketakutan apalagi Rey sangat tahu kalau Kabuto akan sangat bisa melakukan tindakan gila seperti yang ia katakan.
"Rey ..." Kei memanggilnya. "Benarkah apa yang dikatakannya? Jujurlah padaku ...." pinta Kei lagi dengan wajahnya yang memelas.
Rey tidak menjawabnya hanya matanya menjadi berkaca-kaca saat menatapnya.
"Tidak Tuan Kei, kamu salah. Seharusnya kamu panggil dia dengan nama Ken."
Rey tersentak karena Kabuto bahkan mengetahui nama aslinya. Nama yang telah lama di buang dan dianggap telah mati olehnya.
Kei menatap Rey dengan mata yang basah dan berkilauan lalu dia menyebut nama itu. "Ken ...."
Mata Rey yang basah kini mengucurkan airmatanya dan ia mengatupkan rapat-rapat bibirnya yang bergetar. Hati Rey serasa hancur berkeping-keping mendengar kakaknya menyebut namanya, memanggilnya. Ingatan masa kecilnya dulu bermunculan. Dikala itu kakaknya sangat senang memanggil-manggilnya dengan nama itu untuk menggodanya juga untuk bermain dengannya.
Begitu juga dengan Kei. Dia juga teringat ketika dulu kecil dia suka memanggil adiknya dengan nama itu. Ken kecil senang saat kakaknya memanggil-manggilnya dan dia akan tertawa dengan riang dan sangat menggemaskan.
Tiba-tiba dada Rey terasa sesak dan wajahnya memucat. Ia lalu sedikit berjalan mundur ke kotak kayu yang ada dibelakangnya untuk mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas dengan perlahan ke atas kotak tersebut. Kei melangkahkan kakinya untuk berjalan mendekatinya. Namun Kabuto kembali mengarahkan pistolnya kepada Kei.
"Jangan ...." teriak Rey dengan suara lemahnya dan dengan segera pada Kabuto. Dia langsung bangun berdiri lagi dari posisinya yang sedang duduk.
***