Happiness For You

Happiness For You
30 Tidak Ada Penjelasan



Setelah Kei pergi, Erika segera bertanya dan meminta penjelasan pada Rey tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Rey, katakan padaku yang sebenarnya. Siapakah dirimu dan apa hubunganmu dengan kak Kei?" Rey diam, tidak mau menjawabnya. "Aku tahu wanita muda di foto itu adalah ibu kandungmu. Kamu bukanlah anak pungut. Dan wanita muda itu juga adalah ibu kandung Kak Kei. Itu berarti benar bahwa kalian memiliki hubungan adik kakak yang sedarah. Tapi mengapa kamu menyangkalnya?" tanya Erika penuh keheranan dan dengan sedikit marah.


"Erika, aku tidak mau membicarakan ini. Berhentilah mempertanyakan hal ini dan percayalah padaku."


"Untuk percaya padamu aku butuh penjelasan darimu." Erika mulai menunjukkan rasa marah dan kecewanya.


"Jadi kamu tidak mau untuk percaya padaku?" Rey bertanya dengan suara datar dan lemah.


"Bukan seperti itu, tapi sulit bagiku-"


"Kalau itu adalah sulit bagimu, lalu mengapa tadi kamu mau membantuku dan menghentikannya? Mengapa tidak kaubiarkan saja ia menghabisiku ...." Tanya Rey dengan suara lirih.


"Aku ... Aku ingin percaya padamu, tapi mengingat apa yang telah kamu lakukan padaku waktu itu. Tindakan anehmu setelah tahu kalau aku adalah kekasih Kei ... dengan sengaja kamu menciumku didepannya, seolah kamu ingin merebutku darinya hingga mengurungku di rumahmu. Apakah kamu tahu, dengan kenyataan yang kuketahui barusan dan mengingat semua perbuatan burukmu padaku membuatku merasa sangat kesal dan marah padamu ... Hatiku terasa sakit karena ternyata aku ini hanyalah seorang korban." Air mata mulai membasahi pipinya.


Namun Rey memilih untuk diam saja dan tidak menjawabnya. Karena penjelasan akan semakin memperburuk keadaan dan membuat Erika semakin terluka karena mengetahui kenyataan pahit atas kesalahan yang telah diperbuatnya yang sulit untuk dimaafkan.


"Rey, jawab aku. Atau ... atau aku akan pergi meninggalkanmu ...." Erika meratapi wajah Rey dengan airmata yang mengalir deras dari matanya.


"Jika itu maumu, maka pergilah ... aku tak akan menahanmu ...." Rey berlalu pergi meninggalkan Erika dan masuk ke dalam kamarnya.


Sambil berjalan, Rey merasa hanya ini yang bisa ia lakukan. Memberi Erika kebebasan dan tidak lagi menahannya untuk lebih menyakitinya. Karena ia sendiri merasa sulit dan tak mampu untuk menebus kesalahan yang begitu besar yang telah diperbuatnya.



Rey merasa disaat ini dengan kondisi kesehatannya yang semakin buruk dirinya juga semakin terpuruk. Dia berpikir dirinya adalah seorang pria brengsek dan jahanam yang pantas menerima hukuman dengan mendapatkan penyakit yang dideritanya ini. Dengan begitu ia dapat segera menghilang dari kehidupan ini.


Erika semakin merasa marah dan hatinya sangat terluka dengan sikap dingin Rey dan juga sikap tak acuhnya itu. Lelaki itu benar-benar tidak mau memberinya penjelasan walau sedikitpun. Ingin sekali rasanya ia pergi dari tempat ini sekarang juga, tetapi hatinya tak mampu. Karena hatinya tetap memilih untuk percaya padanya. Hatinya benar-benar telah terperangkap dengan rasa cintanya terhadap pria itu sehingga dirinya sulit dan tak bisa lepas darinya. Erika pun ikut masuk ke kamarnya dan berniat akan mengurung dirinya.


Di dalam kamar, Rey segera mengunci pintu kamarnya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di dinding dan jatuh terduduk di lantai. Badannya terasa sakit dan dadanya terasa sesak. Rey berusaha menghirup udara dalam-dalam untuk membuat tubuhnya lebih terasa nyaman. Setelah itu ia berusaha bangkit dengan bersusah payah untuk mengambil obat yang disimpan dilaci mejanya.



Tubuh Rey menggigil dan mulai berkeringat dingin. Dengan tangan gemetar dia meraih botol plastik berukuran kecil yang berisi obat. Rey membukanya untuk mengambil satu-satunya pil obat yang ada dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya. Setelah itu Rey merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tetapi rasa sakit semakin menyelusuri tubuhnya. Rey meringkukkan badannya dengan wajah yang mengernyit kesakitan. Ia berusaha mencengkram tubuhnya yang terasa sakit agar bisa menahan rasa sakitnya.



Walau sedang dalam kesakitan seperti ini, tetapi pikirannya tetap tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran ingatan pertengkarannya dengan kakaknya dan Erika. Erika yang marah padanya dan mungkin sekarang ia telah pergi meninggalkannya dan sangat membencinya. Dalam hatinya, ia sangat berharap Erika tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Ingin sekali rasanya ia keluar untuk mencegahnya namun rasa sakit yang sedang menyerangnya saat ini menghalangi dirinya.


Kesadaran Rey semakin menurun dan perlahan menghilang. Tangan yang sedang mencengkram tubuhnya jatuh terhempas dan botol obat yang sedang dipegangnya terlepas dan jatuh menggelinding di lantai.


***


Hari semakin siang dan sudah melewati jam makan sudah. Bi Ratih bingung karena makanan yang telah ia siapkan belum tersentuh sama sekali. Mengapa tuannya dan nona Erika belum juga keluar kamar untuk makan. Ia lalu mengetuk pintu kamar Rey, namun tidak ada jawaban. Kemudian ia beralih mengetuk pintu kamar Erika. Erika menyahutnya, "Iya Bi." Dengan malas Erika membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Bi?" tanyanya.


"Nona belum makan siang? Ini sudah melewati jam makan siang, nanti nona sakit karena telat makan."


"Tuan Rey juga belum makan siang. Tadi saya sudah beberapa kali mencoba mengetuk pintu kamarnya. Tetapi tidak ada jawaban Non."


"Coba Bi Ratih ketuk lagi sekarang."


"Baik Non." Bi Ratih berjalan me kamar Rey dan mengetuk pintu kamarnya. Sunyi, tak ada jawaban.


Erika pun terpaksa berjalan menuju ke kamar Rey dan ikut mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil namanya.


"Rey ... apa kamu ada di dalam?" Tetap tak ada jawaban.


"Apakah motornya ada di depan Bi?"


"Ada Non."


Aneh, celetuk Erika dalam hati. Apa mungkin ia masih marah denganku sehingga tidak mau keluar? Tidakk. Seharusnya akulah yang marah dan mengurung diri. ucap Erika dalam benaknya.


"Bi, apakah kamu memiliki kunci cadangan kamar ini?"


"Iya ada tapi.."


"Tak apa Bi, sini tolong ambilkan."


Bi Ratih pergi mengambil kunci dan kembali dengan membawa serenteng kunci.


"Yang ini Non."


Erika mengambil kunci itu dan memasukkan ke lubang kunci pada gagang pintu kamar Rey. Pintu berhasil terbuka.


Erika melihat tubuh Rey yang terbaring dengan posisi meringkuk dan kondisi seprai yang berantakan. Ia juga melihat ada botol plastik yang tergeletak di lantai dan retak. Dia menyadari telah terjadi sesuatu pada Rey.


"Rey ...!!" Teriak Erika sambil berlari menghampirinya. Wajah Rey terlihat pucat dan berpeluh. Erika memegangi tubuh Rey dan terasa panas. "Rey, bangun Rey. Kumohon, sadarlah." Sambil menangis, Erika terus memanggil-manggil nama Rey berusaha untuk membangunkannya.


"Nona, ada apa?" tanya Bi Ratih ikut terlihat panik.


"Bi, panggilkan dokter Bi. Cepat Bi.." jawab Erika masih sambil menangis.


"Baik Non."


Erika mengusap peluh yang membasahi wajah dan tubuh Rey. Bi Ratih membantu Erika saat mengganti pakaiannya yang basah dan juga membenarkan posisi tubuh Rey agar ia bisa berbaring dengan lebih nyaman. Setelah itu Erika mengompres dahi Rey agar demamnya dapat sedikit membaik.


Dokter telah datang dan segera memeriksanya. Dokter mengatakan kalau tubuh Rey sangat lemah. Demam yang dialaminya ini bukanlah demam biasa tetapi disebabkan karena adanya suatu infeksi atau indikasi adanya suatu penyakit tertentu yang mungkin sedang dideritanya. Untuk lebih jelasnya, dokter menyarankan membawa Rey ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan yang menyeluruh.


Sayangnya rumah sakit terletak cukup jauh dari tempat mereka yaitu di daerah perkotaan. Yang ada di sekitar situ hanyalah sebuah klinik kecil atau puskesmas. Lagipula mereka tahu kalau Rey tidak akan mau dibawa ke RS.


Sehingga dokter hanya dapat memberinya suntikan untuk menurunkan panasnya dan vitamin untuk menambah stamina. Setelah itu dokter memasangkan selang infus ditangannya.


***