Happiness For You

Happiness For You
83 Berteman 2



Keesokan paginya Rey datang lebih pagi dari biasanya. Dia juga tidak memakan sarapan yang telah ia buat, melainkan ia memasukkan sarapannya itu ke dalam dua kotak makanan.


"Rey, kamu tidak memakan sarapanmu di sini?" Tanya Kei bingung saat melihat adiknya membungkus makanannya.


"Tidak, Kak. Aku ingin sarapan bareng bersama paman Hadi."


"Ohh ...."


"Memang kakak kenal dengannya?"


"Dia atasanmu, kan."


"Kakak yang memerintahkannya untuk pindah ke Jakarta?"


"I-iya ..."


"Ok, terima kasih Kak telah memberi paman Hadi untuk menjadi atasanku."


"Ken ... kupikir kamu akan marah padaku?"


"Aku memang marah tetapi aku juga tidak marah."


"Apaan sih, jawabanmu membingungkan."


"Kakak masih ingat dengan janjiku itu, kan? Aku ingin selalu menjadi adik yang baik dan penurut, jadi aku tidak akan marah-marah lagi padamu atas apa yang kamu perbuat kepadaku. Bahkan waktu kamu menyuruh Tanaka untuk datang melihatku di hari pertamaku, aku juga tidak marah dan tidak mempermasalahkannya. Hanya lain kali kakak jangan seperti itu lagi, karena aku bukan seorang anak TK yang baru masuk sekolah."


"Iya iya, maaf. Aku hanya tidak ingin melewatkan setiap momen penting yang terjadi dalam hidupmu."


"Iya, aku mengerti. Maafkan aku, Kak." Rey tahu kalau kakaknya takut penyakit yang dideritanya mungkin akan kambuh lagi dan akan kehilangan dirinya. Sehingga kakaknya ingin menyimpan setiap momen yang terjadi pada dirinya untuk mengenangnya. Rey juga merasa bersalah karena selalu membuat kakaknya memikirkan dirinya dan kondisi kesehatannya sehingga dia meminta maaf pada kakaknya.


"Ken, kamu tidak salah. Jangan meminta maaf padaku." Rey hanya memberinya sebuah anggukan.


***


Rey telah tiba di restoran tempatnya bekerja. Ia langsung mendatangi ruang kerja atasannya.


"Selamat pagi Paman."


"Pagi." Paman Hadi meliriknya sekilas lalu menjawabnya dengan singkat dan agak ketus.


Rey menyadari sikap pamannya yang sedang marah dan kesal padanya. Karena dia telah dua kali melawan pamannya yang juga adalah atasannya itu.


"Aku membawakan bekal sarapan untuk paman. Ini." Rey memberinya sebuah kotak makanan dan meletakkannya di atas meja dekat pamannya.


"Terima kasih."


"Paman sudah sarapan?" Tanya Rey lagi karena pamannya tidak bereaksi melihat sarapan yang dibawanya juga tidak mengajaknya sarapan bersama. Paman Hadi hanya mengangguk. Namun paman melihat kekecewaan di wajah Rey. Paman juga melihat Rey memegang satu buah kotak makanan yang sama dengan yang diberikan padanya.


"Kamu belum sarapan?" Tanya Paman padanya. Rey menggeleng.


Paman Hadi melihat jam yang ada di layar komputernya dan jam menunjukkan hampir pukul 9 pagi. Paman tahu kalau Rey memiliki jam makan yang harus sesuai setiap harinya karena dia memiliki masalah pencernaan.


"Sesiang ini belum sarapan?"


"Tidak, ini masih pagi. Belum juga jam 9."


"Tapi lambungmu kan bermasalah kalau sampai telat makan."


"Itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi."


"Baiklah, ayo sekarang kita sarapan bareng." Ajak paman.


Mereka lalu memakan bersama sarapan mereka.


"Paman, maaf ya aku tidak bersikap baik padamu selama di sini. Padahal kamu sudah berbaik hati mau pindah ke sini demi aku." Rey mengucap permintaan maafnya tanpa berani memandang ke arahnya.


"Rey ...," panggil paman Hadi. Rey lalu menatap lawan bicaranya itu. "Sebenarnya paman tidak mengerti mengapa kamu bersikap seperti itu."


"Paman, aku tahu aku salah dan aku dengan tulus meminta maaf padamu. Aku telah menyesali perbuatanku itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jadi Paman, mari kita lupakan saja semua yang telah berlalu ini."


"Lalu bagaimana dengan kedua rekan kerjamu itu?"


"Ada apa dengan mereka? Kurasa mereka baik-baik saja."


"Ohh ya?" Jawabnya sambil tatapannya sibuk melihat layar pada laptopnya.


"Paman, apa Paman sedang menonton rekaman cctv di gudang?" Tanya Rey sambil berusaha mengintip apa yang sedang pamannya lihat di monitor laptopnya.


"Menurutmu ...?"


"Mm ... Paman, bisakah Paman berhenti menontonnya dan juga jangan melaporkannya pada kakakku?" Pinta Rey dengan berpura-pura agak sedikit merajuk agar Pamannya mau menurutinya.


"Kalau aku tidak mau, apa kamu akan marah dan melawanku lagi?"


Rey meringis.


"Ya sudah laporkan saja. Aku tidak akan marah. Paling aku akan keluar dari sini dan menjadi koki di restoran lainnya. Jadi aku juga bisa jauh-jauh dari pandangan kalian dan kalian juga tidak bisa mengendalikanku lagi." Rey berbicara dengan nada suaranya yang santai sambil terus asik menikmati sarapannya.


"Apa kamu sedang mengancamku, Reyhan Wiriawan yang keras kepala dan suka melawan?"


"Mungkin ...." jawabnya masih dengan nada yang biasa saja dan sibuk makan.


Paman Hadi akhirnya mengalah. Ia lalu menutup laptopnya dan berkata


"Ohh baiklah. Aku tahu aku memang tidak pernah bisa menang darimu dan pada akhirnya aku akan selalu menuruti keinginanmu itu. Yang nantinya paling aku akan diomeli atau dimarahi oleh bos besarku yang adalah kakakmu itu. Sama seperti ibumu, yang akan mengomeliku dan mengatakan bahwa aku terlalu memanjakanmu. Padahal anaknya itu sendiri yang keras kepala dan suka mengancamku dan -"


Lalu Rey menghentikan kegiatan makannya dan mau memandang ke arah Pamannya.


"Iya paman, cukup cukup. Aku sudah sering banget mendengar ucapan paman itu yang sering paman lafalkan didepanku sampai aku bosan mendengarnya."


"Hahaha ... biar saja, biar kamu bosan lalu jera dan tidak lagi melakukan hal seperti itu."


Rey tersenyum tetapi ia menyunggingkan sedikit bibirnya keatas.


"Mengapa? Kamu merasa sulit dan itu tidak mungkin terjadi?"


"Tidak kok, aku saja sudah banyak berubah sekarang."


"Sepertinya begitu, karena sekarang kamu sudah tidak suka merengek lagi padaku."


"Paman!"


"Ahahaha ...."


***


Hari ini Rey tidak lembur lagi dan ia pulang kerja seperti biasanya. Setibanya di apartemen, Kei yang sedang duduk menonton tv di sofa menyambutnya.


"Ken, kamu sudah pulang? Hari ini tidak lembur lagi?"


"Tidak, Kak."


"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Habis itu kita makan bareng." Rey mengangguk.


Selesai mandi, Rey keluar dari kamarnya dan memanggil kakaknya.


"Kakak aku sudah selesai. Ayo kita makan."


"Apa kamu sudah lapar?"


"Belum begitu sih."


"Ya sudah, kamu ke sini dulu dan duduk sebentar sambil mengobrol denganku. Kita sudah lama tidak mengobrol bersama sambil nonton seperti ini. Karena kamu sibuk kerja dan sibuk dengan Erika."


"Baiklah."


"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah itu berat dan melelahkan?"


"Tidak, aku menyukainya."


Kei lalu menatap dalam pada adiknya. Rey juga membalasnya tetapi hanya sebentar lalu ia mengerjapkan matanya.


"Kakak, jadi kamu tahu kalau aku telah berbohong padamu?" Kei mengangguk. Rey mengangkat bahunya.


"Aku ...." Rey kebingungan dan tidak tahu  kata-kata apa yang harus diucapkannya.


Kei lalu merangkul adiknya dan berkata,


"Aku tahu kamu sudah besar dan aku tidak mau ikut campur masalah itu. Tapi kamu jangan juga sampai mengabaikan kekasihmu. Kasihan dia, nanti dia akan berpikir yang tidak-tidak dan itu akan memberi pengaruh buruk pada hubungan kalian."


"Baiklah, Kak. Aku mengerti."


Kei lalu menepuk pundak Rey dan mengajaknya makan.


"Ya sudah, ayo kita makan."


"Aww ...." Rey meringis kesakitan karena bahunya yang memar ditepuk oleh kakaknya.


"Ken, kamu kenapa?" Kei langsung bertanya heran karena ia hanya menepuk pelan bahu adiknya tetapi mengapa adiknya berteriak kesakitan. "Buka kaosmu, aku mau melihat bahumu itu."


"Tidak, Kak. Aku hanya mendapat sedikit luka memar saja karena kecelakaan kecil yang kualami saat bekerja."


"Kecelakaan kecil? Ayo, perlihatkan dulu padaku lukamu itu." Rey tetap diam dan tidak mau memperlihatkannya. "Apakah kamu masih mengganggapku adalah anggota keluargamu yang adalah kakakmu?" Akhirnya Kei bertanya dengan marah karena adiknya terus menolak untuk memperlihatkan bahunya yang terluka.


"Baiklah." Akhirnya Rey mau membuka kaosnya dan memperlihatkan luka memarnya.


"Ck ck ck Ken." Mengapa bisa begitu parah dan kamu diam saja tidak mengobatinya? Lihat lukamu ini sangat besar ukuran memarnya dan membengkak pula. Tapi kamu masih berani bilang itu hanya kecelakaan kecil saja." Kei menatap cemas dan marah pada adiknya.


"Sini kuambilkan obat dulu." Lalu Kei membantunya mengolesi obat pada luka memarnya. "Ceritakan padaku bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi padamu ditempat kerjamu." Rey berpikir kalau kakaknya sudah sangat baik dan perhatian padanya, dan ia teringat akan perkataan Tanaka yang mengatakan padanya untuk menganggap kakaknya sebagai kakak bukan orang luar. Lalu Rey pun berniat untuk berkata jujur dengan memberitahunya apa yang sebenarnya telah dialaminya.


"Kakak, sebelum aku bercerita, aku ingin memastikan suatu hal dulu padamu."


"Ya, katakan saja." Tanya Kei tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mengolesi obat pada luka memar di bahu Rey.


"Saat mendengarku cerita, kakak hanya boleh menjadi kakakku saja, jangan menjadi sesosok bos besar yang berkuasa karena memiliki hotel dan restoran tempatku bekerja. Ok?"


Kei langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah adiknya, bingung.


"Hemm ... " gumamnya menjawab adiknya sambil mengangguk-angguk kecil.


Rey lalu menceritakan tetapi tidak seluruh kejadian yang dialaminya. Ia hanya mengatakan kalau ada teman kerjanya yang tidak menyukainya dan menantangnya untuk berkelahi. Tetapi ia menolaknya dan temannya marah sehingga mendorongnya dan membuatnya menabrak tumpukan dus-dus barang yang ada di gudang. Lalu ada satu dus yang terjatuh mengenai bahunya.


"Mengapa kamu tidak melawan saja dan membalas kembali perbuatan mereka? Kalau aku sih, sudah aku pukuli dan aku habisi tuh mereka." Jawab Kei dengan geram.


"Kalau aku yang dulu sih, pasti aku juga akan begitu. Tetapi kakak juga dengar kan, saat aku mengatakan pada Tuan Yoshiro bahwa aku tidak mau lagi menggunakan tanganku untuk berkelahi dan mengotorinya dengan noda darah? Kalau sekarang aku masih melakukannya, berkelahi, percuma saja aku menjalani hukumanku itu."


"Benar juga pemikiranmu itu. Kalau begitu, biar aku saja yang membalas perbuatan buruk mereka padamu itu."


"Kakak, tadi kan kakak sudah berjanji untuk mendengar ceritaku hanya sebagai seorang kakak."


"Lalu? Apakah aku tidak boleh membalas seseorang yang telah berlaku buruk pada adikku?"


"Mana ada seorang kakak laki-laki yang ikut campur sampai turun tangan membantu adik laki-lakinya melawan orang yang mengusiknya, apa lagi adiknya itu sudah besar dan bisa melawannya sendiri. Hubungan antara kakak adik laki-laki itu hanya untuk saling bercerita dan mendengarkan saja."


"Baiklah."


"Lagipula mereka sekarang sudah berubah dan telah bersikap baik kepadaku. Kami juga sudah menjadi teman baik sekarang. Kakak tahu, kan selama ini aku tidak pernah memiliki teman, melainkan hanya memiliki banyak musuh."


"Ya, tapi itu karena mereka semua merasa iri dan cemburu padamu."


"Apapun alasan mereka, tetap saja aku tidak memiliki teman dan hanya memiliki banyak musuh. Lagipula, alasanku mau menceritakan hal ini pada kakak, karena aku mau kakak tahu kalau aku bisa mengurus diriku sendiri dan bisa menyelesaikan sendiri masalah yang kualami. Jadi, kakak tidak perlu lagi mengkhawatirkan diriku dan biarkan aku menjadi mandiri."


"Tapi, Ken ... Ada satu hal dari ceritamu itu yang membuatku sadar dan cukup mengkhawatirkanku."


"Apa itu?"


"Ternyata pekerjaanmu itu, memang berat. Kamu harus mengangkat-ngangkat barang yang berat dan menyusunnya di gudang yang kotor. Itu bisa ...." Kei sudah ingin mengatakan kalau itu bisa mempengaruhi dan memperburuk kesehatanmu. Tetapi ia segera ingat kalau adiknya pasti akan marah jika mendengarnya berkata seperti itu jadi ia pun membatalkan ucapannya.


"Kakak ... sudah kukatakan -"


"Iya, Ken. Kakak tahu. Tapi, kakak tetap tidak setuju kamu bekerja seperti itu. Aku hanya akan menaikkan level posisimu lebih tinggi sedikit, sehingga kamu tidak perlu melakukan pekerjaan yang berat seperti itu lagi."


Rey sudah ingin membuka mulutnya untuk protes, tetapi ia membatalkannya.


"Terserah kakak saja." Jawabnya sambil menahan kekesalannya.


***


Akhirnya posisi Rey diangkat sebagai Station Chef atau supervisor di restoran tempatnya bekerja. Sehingga ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan berat seperti membersihkan peralatan memasak atau mengurus inventori.


Kedua teman kerjanya yang awalnya memusuhinya, kini sudah berteman baik dengannya. Mereka bahkan mengucapkan selamat pada Rey karena telah diangkat menjadi supervisor.


"Rey, selamat ya kamu telah diangkat menjadi supervisor." Ucap Anton.


Jeremy juga ikut mengucapkan selamat padanya.


"Selamat Rey atas posisi barumu itu. Walaupun kita sudah tidak setingkat dan jadi jarang bisa kerja bareng lagi, jangan lupakan kami berdua ya."


"Pastinya bro. Aku akan selalu berteman dengan kalian."


"Tapi, itu benar ya kalau kamu punya koneksi?" Tanya Anton lagi penasaran


"Hush, kamu jangan asal nuduh." Tegur Jeremy.


"Hahaha ... sudah kubilang, kalau itu karena aku memang berkemampuan."


"Iya, iya aku percaya. Maaf ya telah asal bicara. Sekarang Lissa makin kesengsem tuh sama kamu."


"Lissa siapa?"


"Gebetannya si Anton, anak baru yang masuk samaan dengan kita. Masa kamu gak tahu."


"Ohh Melissa?" Rey lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kok kamu mengangguk? Jadi, kamu juga suka sama dia?"


"Ahh, enggak. Aku tidak tertarik padanya, tenang saja. Jangan khawatir aku merebutnya."


"Jadi kamu sudah punya pacar?" Tanya Jeremy menyelidiki.


"Belum."


"Ahh masa sih, cowok sekeren dan setampan kamu."


"Atau jangan-jangan kamu tertariknya sama yang sesama jenis ya? Hiii ..."


"Iya, aku sukanya sama yang sejenis kalian ... hahaha ..."


"Hii kamu menyeramkan. Tapi itu beneran?"


"Engga lah, aku sudah punya seseorang yang spesial dihatiku. Tapi ya hubungan kami masih belum jelas saja."


"Mengapa gitu?"


"Masih berproses bro. Karena aku pernah menyakitinya jadi aku gak mau untuk menyakiti hatinya lagi. Tapi aku sendiri ga bisa memastikan kalau aku ga akan menyakitinya lagi."


"Menyakitinya? Dengan meninggalkannya gitu?" Rey mengangguk dan wajahnya tampak sedih.


"Kamu pasti telah berselingkuh darinya ya. Pria tampan sih beda, banyak aja cewek yang mau."


"Iya ga kayak aku nih, satu aja ga dapat-dapat." Rey masih terdiam dengan raut wajah yang tidak dapat ditebak. Ia seperti sedang melamun dengan pikirannya yang melancong entah kemana. "Rey, kamu kenapa?" Tanya Anton yang menjadi bingung karena melihatnya yang menjadi diam seperti itu.


"Gapapa, yuk kita balik kerja lagi." Jawab Rey.


***