Happiness For You

Happiness For You
84 Bertemu Orang Tua Erika



Hari ini adalah akhir pekan di hari Sabtu. Sehingga Rey dan Erika tidak bekerja dan mereka pun dapat bertemu dan berkencan.


Rey lalu berinisiatif untuk mengajak Erika pergi kencan karena ia ingat dengan pesan kakaknya agar memperlakukan Erika dengan baik dan perhatian agar dapat menjaga hubungan mereka tetap dalam keadaan baik. Rey lalu menghubungi ponsel Erika.


"Erika, apakah kamu ada waktu siang hari ini? Aku sedang ingin mengajakmu ... pergi."


"Pergi ... kencankah?" Erika langsung menyebutkan maksud ajakan Rey tersebut.


"Iya, berkencan denganku. Jika kamu bersedia."


"Kupikir-pikir dulu ya."


"Mengapa? Kamu sedang sibuk atau kamu keberatan pergi kencan denganku?"


"Mungkin keduanya."


"Karena malu denganku? Kalau begitu bagaimana jika kita ganti waktu kencannya di sore hari saja dan aku akan memakai masker atau topeng untuk menutupi mukaku biar kamu gak malu."


"Kalau aku tetap gak mau, bagaimana?"


"Aku tetap akan mengajakmu kencan dan mencari waktu lain yang kamu bisa."


"Mengapa?"


"Karena aku ingin mengajakmu berkencan. Jadi walau apapun itu, aku akan berusaha melakukan apapun sampai kamu mau mengiyakan ajakanku."


"Mengapa?" Tanya Erika lagi. Dia seperti sedang menguji kesabaran Rey.


"Karena kamu wanita yang spesial bagiku dan aku mau berkencan dengan wanita spesialku. Dan walaupun kamu bertanya lagi mengapa aku tidak akan marah dan tetap akan menjawabnya. Kamu tahu mengapa?"


"Mengapa?"


"Karena aku telah berulang kali menyakiti hatimu tetapi kamu juga telah berulang kali mau memaafkan diriku. Jadi hanya sebuah pertanyaan mengapa tidak akan mengusikku."


"Mengapa?"


"Karena aku mencintaimu. Sekarang, kalau kamu masih bertanya mengapa, maka jawabannya adalah karena kamu telah mencuri hatiku. Lalu kalau kamu bertanya mengapa lagi maka -


"Maka aku akan mencintaimu juga." Rey lalu tersenyum mendengar jawaban Erika.


"Jadi?"


"Karena aku telah melihat ketulusanmu saat mengajakku berkencan, jadi jawabannya adalah Big Yes. Kemanakah kamu akan mengajakku untuk pergi berkencan?"


"Apakah kamu suka tempat keramaian?"


"Ya, aku suka tapi aku tahu kalau kamu tidak menyukainya. Jadi, itu tidak masalah bagiku ke tempat manapun yang kamu mau."


"Baiklah, aku akan menjemputmu di rumahmu jam 1 siang."


"Jadi, kita mau berkencan kemana?"


"Bukankah itu tidak masalah bagimu kemanapun kita akan pergi berkencan?"


"Betul, tetapi aku kan harus menyesuaikan tempat dengan baju yang akan kupakai."


"Tapi itu tidak masalah bagiku, karena apapun pakaian yang kamu pakai, kamu tetap terlihat cantik."


"Ya sudah, kalau begitu aku pakai bikini saja."


"Jangan, aku melarangmu untuk mengekspos tubuhmu itu pada orang banyak."


"Tapi tadi kamu bilang tidak masalah bagimu dengan apapun yang kupakai."


"Baiklah, baiklah. Aku akan memberitahumu. Kita pergi nonton saja di bioskop, lalu setelah itu kita pulang ke apartemen kakakku dan bermain ke kamarku dan makan malam di ruang makan."


Erika sampai memutar bola matanya.


"Perlukah sedetail itu kamu menjawabku?"


"Hahaha ...."


Kini Rey sudah sampai di depan rumah Erika. Dia menunggu Erika di depan pagar rumahnya. Erika segera berlari turun dari kamarnya dan berpamitan dengan kedua orangtuanya.


Erika sudah bertemu dengan Rey di depan rumahnya dan ingin langsung naik ke boncengan motornya. Tetapi Rey menahannya.


"Erika, apa orangtuamu sedang ada di rumah?"


"Iya, mereka sedang di rumah. Memang kenapa?"


"Aku pikir tidak sopan jika aku membawamu langsung pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada orangtuamu."


"Apa kamu yakin ingin bertemu mereka? Karena aku sendiri tidak yakin mereka akan menerimamu dan menyambut kedatanganmu dengan baik. Ini saja aku berbohong pada mereka."


"Kamu berbohong pada orangtuamu untuk bisa pergi denganku? Erika, aku tidak mau seperti ini. Aku tahu kalau aku memang salah karena telah beberapa kali membawamu kabur dan wajar jika orangtuamu marah dan tidak suka padaku. Tapi aku tidak mau kita selalu sembunyi-sembunyi dan kamu juga sampai harus berbohong ketika ingin pergi denganku."


"Tetapi bagaimana kalau sampai orangtuaku marah dan melarang hubungan kita ini?"


"Jangan khawatir, percayakan padaku. Ayo, kita masuk ke dalam dulu untuk bertemu dengan orangtuamu dan memperkenalkan diriku pada mereka."


"Rey, jangan. Aku tidak mau, aku takut."


"Sayang, jangan takut. Percaya padaku, ok?" Akhirnya Erika pun mengangguk dan menyetujuinya.


Sesampainya di dalam rumah, Erika langsung memperkenalkan Rey pada kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu. Perkenalkan ini Reyhan."


"Selamat siang, Paman dan Tante. Nama saya Reyhan Wiriawan." Belum sempat Reyhan mengulurkan tangannya untuk mengajak mereka berjabat tangan sebagai salam perkenalan, ayah Erika dengan marah dan dengan mata yang melotot langsung menampar pipi Rey dengan sangat kuat hingga mengeluarkan suara yang begitu keras.


PLAKK!


Erika dan ibunya sangat terkejut ketika melihat dan mendengar suara tamparan yang sangat keras itu.


"Rey!" Teriak Erika langsung memanggil namanya dan membantu memegangi tubuh Rey yang terhuyung. Wajah Rey sudah memerah terutama dibagian yang bekas terkena tamparan ayah Erika tersebut.


"Berani-beraninya kamu menginjakkan kakimu di rumahku dan menghadapku setelah apa yang kamu perbuat pada putriku?" Teriak Ayah Erika lagi dengan begitu marahnya pada Rey.


Rey melepas tangan Erika yang sedang memegangi tubuhnya. Dia lalu menekuk lututnya sehingga tubuhnya dalam posisi berlutut di depan ayah dan ibu Erika. Erika segera menangis melihat apa yang dilakukannya.


"Rey, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu." Erika berusaha membuat Rey bangun. Tetapi Rey tidak menghiraukan isak tangis Erika tersebut.


Ia lalu mendongakkan sedikit wajahnya ke atas untuk melihat wajah ayah Erika. Kemudian dia berkata,


"Paman, saya tahu saya telah berbuat salah dan saya juga menyadari bahwa kesalahan yang saya perbuat terhadap putri kesayangan anda teramat besar dan banyak. Sekarang juga, saya bersedia dan siap menerima hukuman dari anda."


Ayah Erika yang masih sangat marah kepadanya, mengangkat tangannya dan ingin memberinya sebuah tamparan lagi.


"Ayahh, jangan!" Teriak Erika mencegah ayahnya. Erika segera menggunakan tubuhnya untuk melindungi tubuh Rey dari ayahnya.


Bersamaan dengan itu, ibu Erika juga berteriak mencegah suaminya.


"Hentikan Ayah! Jangan menamparnya lagi."


Ibu Erika lalu menghampiri Rey dan menyuruhnya berdiri.


"Nak, bangunlah." Tetapi Rey tetap diam sambil wajahnya yang tertunduk ke bawah. Hatinya merasa sedih dan perih. Lalu Rey berkata, "Tidak Tante, saya akan tetap seperti ini sampai saya mendapatkan apa yang saya minta."


"Erika! Kemarilah! Menyingkir darinya." Ayahnya menarik tubuh Erika ke arah belakangnya.


"Segeralah angkat kakimu dari rumahku dan jangan berani-beraninya kamu datang lagi ke rumahku! Menjauhlah dari putriku dan jangan pernah untuk menemuinya lagi."


"Tidak Paman, saya tidak akan pergi sebelum Paman memaafkan dan mengijinkan saya untuk bisa bersama putri anda. Saya berjanji, saya akan melakukan apapun yang kalian perintahkan untuk menebus kesalahan saya." Rey memegangi tangan ayah Erika dan dengan wajahnya yang memelas terus menatapnya.


Mata Rey yang besar dan indah itu nampak berkilauan karena airmatanya yang tertahan. Ayah Erika melihatnya dan merasakan ketulusan yang Rey berikan didalam tatapannya itu. Tetapi tetap saja kemarahannya tidak dapat menghilang dan tidak berkurang sedikitpun.


"Lepaskan! Jangan berharap! Saya tidak akan pernah memaafkan perbuatan burukmu pada putriku. Apalagi memberimu ijinku itu!" Dia menghempas tangan Rey dengan sangat kuat.


Perlahan, Rey melepas tangan yang sedang menyentuh dan memegangi tangan Ayah Erika tersebut. Tetapi ia tetap memandangi Ayah Erika dengan tatapan memelas dan penuh penyesalan.


"Angkat kakimu sekarang juga dari rumahku atau aku akan memanggil polisi untuk menangkapmu! Dan kamu Erika, tinggalkan dia dan masuk ke kamarmu sekarang juga."


"Tidak, aku tidak akan pergi meninggalkannya. Aku akan tetap berada di sini untuk menemaninya sampai ayah mau mengijinkan kami untuk bisa bersama."


"Erika, dengarkan Ayahmu. Kamu masuklah dulu ke kamarmu." Rey berucap dengan pelan.


"Tidak, Rey. Aku tidak akan meninggalkanmu."


Erika ingin berjalan mendekati Rey lagi tetapi ayahnya menahan dan memelototinya.


"Berani kamu melangkah ..."


"Erika, jangan begitu. Kalau kamu melawan Ayahmu karena aku, maka itu semakin mempersulit diriku."


"Baiklah aku akan pergi ke kamarku. Tapi Ayah harus berjanji padaku jangan memukulinya lagi dan jangan memanggil polisi untuk menangkapnya."


"Masuk!"


"Ayahh! Apa Ayah tahu kalau Ayah melakukannya, maka kak Kei pasti akan sangat marah pada Ayah."


"Apa maksud perkataanmu itu?" Tanya Ayahnya bingung. Tidak banyak orang yang tahu mengenai kebenaran bahwa Reyhan adalah adik dari Kei Takahiro karena Rey menolak untuk disebarluaskan berita mengenai identitas dirinya tersebut.


"Erika jangan! Jangan katakan dan jangan beritahu ayahmu."


Ayah Erika kembali menatapnya dengan bingung.


"Ayo Erika, beritahu Ayah apa maksud perkataanmu tadi."


Rey menutup mulutnya seperti membuat sebuah garis keras dan melotot marah pada Erika sambil menggeleng pelan padanya.


Erika pun pergi begitu saja meninggalkan Ayahnya yang berteriak menuntut penjelasan darinya.


"Ada hubungan apa kamu dengan Kei? Mengapa dia akan marah kepadaku karenamu?"


"Tidak ada. Erika hanya ingin mengancammu saja." Rey tetap tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya tentang identitasnya. Padahal jika ia mengatakannya, itu pasti akan membantunya untuk mendapatkan maaf dan ijin dari Ayah Erika. Tetapi begitulah Rey, dia tidak mau mengandalkan orang lain. Ia memilih untuk tetap berkeras dan bertahan dengan usahanya sendiri.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak segan lagi untuk menelepon ke kantor polisi dan melaporkanmu."


"Ayah, jangan." Ibu Erika mencegahnya. "Nak, ayo bangun dan segeralah pergi dari rumah kami."


"Mengapa kamu hanya diam saja? Tidakkah kamu merasa takut kamu akan dipenjara jika aku melaporkanmu?" tanya Ayah Erika keheranan dengan sikap Rey yang hanya diam dan dalam keadaan tenang.


"Tidak. Aku tidak takut." Ayah Erika melotot semakin marah mendengar jawabannya. "Karena aku tidak melakukan kesalahan yang membuatku harus dipenjara."


"Tidak berbuat salah katamu? Lalu mengapa kamu meminta maaf pada kami?" Paman bertanya lagi dengan marah kepadanya. "Apa kamu lupa kalau kamu pernah menculiknya? Hah?!"


"Aku tidak pernah menculiknya! Yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan dan kejahatan yang telah menyakiti hatinya berkali-kali dan sering membuatnya menangis. Karena itu Paman, hukum aku sesukamu. Aku pantas mendapatkannya." Rey ikut berteriak marah tetapi kemarahannya itu ia tujukan pada dirinya sendiri. "Aku telah melukai hati dan perasaannya. Tetapi dia ...masih saja mau memaafkanku." Rey pun menangis karena masih merasa sangat bersalah pada Erika. "Aku sangat bersalah padanya Paman, karena itu hukumlah aku agar aku dapat menebus kesalahanku ini padanya."


Hati Ayah dan Ibu Erika terenyuh melihatnya yang menangis dan meratapi kesalahannya sendiri.


"Baiklah, aku tidak akan melaporkanmu pada polisi. Tetapi aku tetap tidak akan mengijinkan kalian berdua untuk bisa bersama. Sekarang, kamu berdiri dan pergi dari sini."


Tetapi Rey tidak mau bangun, ia tetap diam dalam posisi berlututnya.


"Sudah Nak, ayo bangunlah."


Rey hanya menggelengkan kepalanya. Ia telah memutuskan untuk berlutut hingga Ayah Erika memberikan maaf dan ijinnya.  Sekaligus untuk menebus kesalahannya terhadap putri mereka.


"Ternyata kamu sungguh berani dan tangguh juga. Kamu memiliki semangat dan berkemauan keras. Tapi sayang, walau begitu aku tetap tidak akan memaafkan dan menerima dirimu." Ayah Erika lalu pergi meninggalkannya yang masih dalam keadaan berlutut. Ibu Erika menjadi bingung dan gusar karena ditinggal pergi oleh suaminya begitu saja. Tetapi ia merasa tak tega meninggalkan Rey sendirian di situ dalam keadaan berlutut.


***