Happiness For You

Happiness For You
61 Penyelamatan Rey Part 2



Mobil ambulans yang membawa Rey telah sampai di rumah sakit. Dokter langsung memerintahkan petugas ambulans untuk membawa Rey ke ruang operasi karena luka tembaknya harus segera ditangani.


Kei dan Erika menunggu di ruang tunggu dengan cemas. Luka gores ditangan Kei sudah diperban oleh Dokter Steve saat tadi di mobil ambulans selama dalam perjalanan mengantar Rey ke rumah sakit. Tetapi wajahnya masih nampak pucat karena luka gores yang didapat di tangannya lumayan dalam sehingga tubuhnya juga kehilangan cukup banyak darah. Dokter menyarankan agar Kei berbaring di kamar pasien untuk beristirahat tetapi ia menolaknya karena ia ingin ikut menunggu Rey di ruang tunggu operasi dan berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mendesak dan membutuhkannya.


Dan benar saja. Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan memberitahukan kalau Rey telah kehilangan banyak darah dan angka Hb nya juga sangat rendah sehingga saat ini ia perlu menerima transfusi darah dengan jumlah yang banyak agar dokter bisa segera melakukan operasi terhadap tubuhnya yang terluka tembak. Tetapi persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah Rey tidak mencukupi kebutuhannya sehingga perlu seseorang melakukan donor darah untuknya.


Tanpa ragu Kei yang termasuk anggota keluarga Rey, merasa pastilah ia memiliki kecocokan golongan darah dengannya. Maka ia langsung mengajukan dirinya untuk mendonorkan darahnya. Tetapi dengan kondisinya yang juga habis kehilangan darah, Kei pun ditolak dan tidak bisa mendonorkan darahnya. Namun Kei tetap memaksa dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja dan masih kuat walaupun darahnya diambil.


"Memang anda sebagai anggota keluarganya adalah kandidat yang kuat untuk menjadi pendonor darah baginya, tetapi pasien akan membutuhkan banyak darah. Sedangkan kondisi bapak sendiri dalam keadaan lemah dan terlihat pucat, jadi kondisi anda tidak memungkinkan untuk melakukan donor darah disaat ini."


"Saya baik-baik saja suster dan tubuh saya juga memiliki pertahanan yang kuat. Jadi ambil darah saya sekarang juga. Saya tidak mau terjadi suatu hal yang buruk pada adik saya karena suster terlambat mengantarkan darah ke ruang operasi akibat kebimbangan suster. Cepat lakukan atau saya akan-"


"Ba-baiklah, ayo ikut saya." Suster menjadi takut mendengar kemarahan dan ancaman yang Kei berikan. Karena saat ini memang kondisi Rey sedang sangat membutuhkan darah dan akan berbahaya jika telat mendapatkannya. Selain itu untuk mencari donor darah dalam waktu singkat bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Jadi ia pun menyetujui Kei untuk melakukan pendonoran tersebut. Untung saja sebelum ini Kei juga sudah pernah melakukan pemeriksaan tubuhnya di rumah sakit tersebut sehingga mereka sudah memiliki datanya. Berdasarkan data dari hasil pemeriksaan tersebut, Kei juga memiliki kecocokan sebagai pendonor Rey.


Perawat itu kembali masuk ke dalam ruang operasi dengan membawa Kei ikut bersamanya karena ia akan melakukan donor darah pengganti ke tubuh Rey. Kei telah mengenakan pakaian medis agar tubuhnya tetap steril dan tidak membawa bakteri yang berbahaya.


Saat masuk, ia melihat tubuh Rey yang sedang dibaringkan di ranjang operasi dengan posisi miring. Tubuhnya tergeletak tak berdaya dan dipasang banyak peralatan medis begitu juga mulutnya yang dimasukkan sebuah alat yang berbentuk seperti selang untuk membantunya bernafas. Melihat kondisi Rey yang seperti itu hatinya terasa pedih dan juga takut. Dalam hatinya Kei berdoa dan berharap agar adiknya dapat kuat bertahan dan bisa terselamatkan.


Selama proses transfusi, isi kepala Kei dipenuhi banyak pikirannya yang berkelana. Ketakutannya saat kembali mengingat bayangan ingatan saat peristiwa tadi. Ketika Rey, adiknya menghadang peluru menggunakan tubuhnya demi melindungi dirinya. Padahal dirinya sendiri sedang dalam keadaan sekarat karena penyakit yang dideritanya.  Melihat wajah kesakitan Rey yang ditahannya. Sungguh membuat dirinya merasakan suatu penyesalan dan kegagalan sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungi adiknya. Apalagi selama ini dia selalu memperlakukan adiknya dengan buruk karena ketidaktahuannya akan identitas adiknya. Kei benar-benar merasa sangat takut kalau terjadi hal buruk pada adiknya dan adiknya itu tidak bangun lagi untuk selamanya. Kei lalu merasakan perasaan tak nyaman pada tubuhnya karena rasa takut dan kegelisahannya yang berlebihan. Ia merasa dirinya seperti diselubungi kegelapan diseluruh tubuhnya yang seakan menelannya.


"Pak ... bangun Pak ..." Seseorang menggoyang-goyangkan tubuh Kei dan ia membuka matanya melihat sekeliling. Sepertinya Kei tidak menyadari kalau tadi dirinya sempat pingsan sesaat saat proses transfusi telah hampir selesai.


"Apa anda baik-baik saja?" Tanya seorang perawat yang tadi membangunkannya. Kei mengangguk dan wajahnya terlihat sedikit kebingungan.


"Transfusinya telah selesai dan pasien juga sudah akan segera dioperasi." Kei pun tersadar kalau saat ini ia sedang berada di ruang operasi untuk mendonorkan darahnya pada adiknya yang sedang dioperasi. Ia lalu mengikuti suster untuk keluar dari ruang operasi dan kembali ke ruang tunggu.


Saat berjalan Kei merasa lemas dan kepalanya pusing sehingga tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh. Tetapi Kei masih bersikeras tidak mau dirawat ke kamar pasien dan memaksa untuk duduk saja di ruang tunggu. Bahkan Erika pun ikut memaksanya agar mau beristirahat di kamar pasien, tetapi Kei tetap saja menolaknya.


"Erika, walaupun aku beristirahat di kamar pasien aku tetap tidak bisa berhenti mencemaskannya dan itu akan makin membuat kondisiku semakin parah karena perasaan bersalahku terhadapnya yang bahkan disaat dirinya sedang kritis aku tak bisa menemaninya disisinya untuk membantu atau memotivasinya ..." Mata Kei kembali berlinangan airmata. "Jadi mengertilah perasaanku dan ketakutanku. Jangan memaksaku lagi!" lanjutnya lagi dengan berusara tinggi. Sehingga Erika pun terdiam dan tidak lagi berusaha merayunya atau memaksanya. Mereka berdua adalah sepasang kakak adik yang sama-sama berwatak keras dan suka menyiksa diri sendiri demi orang lain.


"Pasien telah selesai dioperasi. Tetapi kondisinya sangat kritis. Walaupun peluru itu telah berhasil dikeluarkan dan tidak mengenai organ vital, tetapi karena pasien tidak langsung ditangani dan darah terus mengalir keluar dari tubuhnya dalam waktu yang cukup lama sehingga memperparah kondisi tubuhnya yang sedang sakit." Mendengar penuturan dokter, mereka semakin merasa panik dan takut. "Saat ini para tim dokter sedang berusaha sebaik mungkin melakukan apa yang kami bisa berikan pada pasien. Tetapi saat ini pasien juga membutuhkan dukungan dan semangat dari anggota keluarga." Karena Kei adalah satu-satunya anggota keluarga, maka hanya ia yang diperbolehkan untuk menemui Rey untuk melihat keadaannya dan memberinya semangat. Sedangkan Erika terpaksa menuruti aturan dengan menunggu lagi dengan cemas di ruang tunggu.


Ternyata tubuh Rey sudah dipindahkan ke ruang ICU. Di sana terlihat ada seorang dokter yang sedang menempelkan alat kejut listrik pada dada Rey. Kei pun bergegas menghampiri tubuh Rey untuk mengajaknya berbicara dan menyemangatinya.


"Ken, ini aku kakakmu. Kumohon jangan menyerah, kamu pasti bisa melewati masa kritis ini. Berikan aku kesempatan untuk membuatmu bahagia. Kumohon, Ken ... Kumohon bertahanlah ... Kenn ..." Kei terdiam sebentar, kemudian ia berbicara lagi. "Aku tahu kamu sangat membenci kakakmu ini. Tapi kakak sangat menyayangimu dan merindukanmu. Aku memohon dengan sangat padamu untuk bisa tetap kuat dan bertahan."


Tiba-tiba monitor detak jantung Rey mengeluarkan bunyi datar yang panjang dan tanpa henti serta menampilkan garis lurus. Seorang dokter berteriak, "Pasien mengalami henti jantung."


Tim dokter yang lain pun berhamburan ke arahhya dengan panik. Terutama Dokter Steve. Ia langsung mengambil alih tubuh Rey dan membantu menanganinya.


"Dokter apa yang terjadi dengannya? Dokter tolong selamatkan dia, kumohon ... selamatkan dia ...," Kei mulai ketakutan dan dengan tangan yang bergemetar ia meraih tangan Rey dan berbicara padanya, "Ken ..., jangan tinggalkan aku dengan perasaan bersalahku dan tersiksa. Atau apakah kamu memang sengaja melakukan ini karena kamu masih benci dan dendam padaku sehingga kamu ingin menyiksaku dan membuatku menderita? Ken, aku mohon jangan menyerah ... Kennn .... Dokter bantu dia, buat jantungnya berdetak lagi, Dokterrr ...." Kei memohon-mohon pada Dokter Steve yang masih berusaha membuat jantung Rey kembali berdetak.


Saat sudah hampir 3 menit berlalu, jantung Rey tetap tidak merespon. Dokter yang lain pun terpaksa menghentikan Kei yang terus memaksa dokter Steve dan meminta maaf atas kondisi yang terjadi pada adiknya.


"Maafkan kami, anda harus merelakan-"


"Tidakkk ... KENNNNN ...... !" Mendengar ucapan dokter, Kei merasa putus asa dan kehilangan harapannya. Ia lalu meneriakkan nama kecil adiknya dengan histeris dan panjang hingga terdengar begitu memilukan dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.


Lalu tidak sampai sedetik kemudian, suara pada monitor tidak lagi berbunyi datar tetapi mulai mengeluarkan bunyi putus-putus. Dokter segera menempelkan kembali alat kejut listrik di dadanya dan tubuh Rey melonjak naik ke atas dan kemudian turun lagi dengan lemah. Dan akhirnya detak jantung Rey kembali bergerak normal.


Kei pun tersenyum lega dan merasa sangat senang seperti ia baru saja berhasil memenangkan sebuah pertandingan yang sangat sulit dan berat. "Terima kasih, Kenn ...." Lalu dengan lunglai tubuh Kei terjatuh ke lantai dan ia tak sadarkan diri. Hal itu terjadi karena tubuhnya yang memang sedang lemah masih harus mengalami shock serta kesedihan yang mendalam dan juga memberikan ketegangan yang begitu besar. Menerima tekanan yang begitu besar, tubuhnya pun tak kuat menahannya hingga akhirnya tubuhnya pun jatuh terkapar juga.


Erika dan beberapa anak buah Rey yang sedang menunggui Rey di ruang depan mendengar suara teriakan histeris Kei yang memanggil nama adiknya. Erika langsung ketakutan dan memikirkan suatu hal buruk yang mungkin telah terjadi pada Rey. Tubuhnya pun melemas dan ia tak sadarkan diri beberapa saat. Kemudian saat beberapa petugas medis keluar dengan menggotong tubuh Kei yang dalam keadaan tak sadarkan diri, Erika yang baru tersadar dari pingsannya kembali mengalami keterkejutannya dan semakin yakin dengan apa yang ada dipikirannya dan yang ia takuti itu memang terjadi. Untung saja ada Dokter Steve yang muncul dengan terburu-buru dari belakang mereka dan segera menghampiri Erika untuk memberitahu keadaan yang sesungguhnya sedang terjadi. Mendengar hal yang Dokter Steve sampaikan, Erika pun merasa lega dan ketakutannya pun segera menghilang.


***