
Keesokan harinya tubuh Rey sudah kembali sehat. Ia pun sudah melakukan kegiatannya seperti biasanya, bangun lalu mandi dan menyiapkan sarapan. Ia juga tidak menanyakan apapun perihal pingsannya dan kondisi tubuhnya pada Kei.
Melihat adiknya yang bersikap seperti biasanya, Kei pun juga sama. Lalu mereka sarapan bersama namun saling diam dan tidak berbicara.
"Kakak aku berangkat dulu."
"Iya, Ken berhati-hatilah." Setelah Rey pergi, Kei hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia sangat mengenali karakter adiknya. Dia tidak bisa melarangnya untuk melakukan apa yang dia mau dan saat ini yang terbaik bagi mereka adalah saling mendiamkan satu sama lain agar tetap dapat menjaga ketenangan ditengah kekalutan ini. Rey juga merasa bersyukur karena kakaknya telah memahami sifatnya dan mengetahui apa yang dia butuhkan saat ini yaitu ketenangan. Ia butuh ketenangan untuk menenangkan dirinya sendiri. Menenangkannya dari perasaan kecewa, sedih, takut dan kekalutannya.
Namun ternyata selama bekerja, Rey tidak dapat fokus dan berkonsentrasi dengan baik. Pikirannya tidak tenang karena diliputi oleh kesedihan dan kekecewaannya. Saat ini ia seperti butuh pelarian dari kenyataan pahit akan keadaan dirinya. Lalu saat siang hari, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kerjaannya dan mendatangi Erika ke kantornya.
"Erika, turunlah. Aku didepan gedung kantormu."
Erika yang ditelepon Rey secara tiba-tiba dan diberitahukan kalau ia sedang berada di depan kantornya, buru-buru menjawabnya.
"Baik Rey, tunggu aku."
Erika telah tiba dibawah dan sudah bersama Rey.
"Sayang, kamu kenapa? Kudengar dari ibuku kamu sakit kemarin. Lalu aku mencoba meneleponmu berkali-kali tetapi kamu tidak mengangkatnya. Dan sekarang, kamu tiba-tiba muncul di kantorku."
Rey ingin membawa Erika pergi ke suatu tempat.
"Apakah kamu bersedia ikut pergi denganku sekarang juga?" Sebenarnya Erika ingin tahu dan ingin mendengar penjelasan dari Rey terlebih dahulu, tetapi dia tahu saat ini Rey sedang dalam mood yang tidak baik. Jadi, tanpa banyak bertanya atau mendebatnya lagi, Erika langsung mengiyakannya.
"Iya, aku mau." Erika lalu mengenakan helmnya dan naik ke boncengan motor Rey.
Ternyata Rey membawa Erika ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Di dalam kamar, Rey langsung memeluk Erika dan mencumbunya dengan perasaannya yang serasa seperti sedang mendesak.
"Rey ..." Erika berusaha menghentikan serangan Rey yang begitu panas dan membara hasrat dan keinginan mereka. Namun Rey melakukannya dengan begitu lembut dan penuh perasaan cintanya. Sehingga Erika pun menerima dan membalas perasaannya itu. Dan mereka pun mulai terlena dengan tubuh mereka yang saling berpadu dengan penuh kenikmatan. Setelah selesai memadu perasaan kasih dan cinta mereka, Rey langsung memeluk tubuh Erika.
"Sayang, aku mencintaimu." Ucap Rey padanya sambil mengecup keningnya. Erika yang masih merasa kelelahan, hanya bisa memejamkan matanya sambil memberinya sebuah anggukan.
Seolah merasa belum cukup, Rey kembali memulai melakukan aksinya lagi.
"Ahh ... Rey ... aku ... ahh ... ahhhh ..." Erika ingin menolaknya namun serangan Rey begitu menyiksanya dengan kenikmatan yang luar biasa sehingga membuatnya tak mampu untuk menolaknya.
Setelah selesai, Rey langsung tumbang dan merasa sangat kelelahan. Begitu juga dengan Erika. Mereka lalu saling berpelukan dan tertidur.
Mereka tertidur hingga saat malam tiba, Erika terbangun karena ia merasa kelaparan. Ia melihat Rey masih tertidur dalam lelapnya. Erika lalu mengenakan pakaiannya dan memesan makan malam melalui aplikasi gojek.
Setelah makanannya tiba, Erika membangunkan Rey untuk makan bersama. Mereka lalu makan bersama di ruang makan. Dengan Rey yang juga sudah berpakaian tentunya. Selesai makan, Erika mengajak Rey untuk pulang. Tetapi Rey berkata kalau ia masih mau di sini dan belum mau pulang karena dia masih ingin bisa bersama Erika.
"Tidak sayang, aku masih mau menghabiskan waktu di rumahku ini dan bersama denganmu. Menginaplah bersamaku di sini."
"Tetapi orangtuaku pasti akan mencariku dan juga kakakmu yang juga akan mencarimu."
"Masalah kakakku, jangan khawatir karena aku sudah mengabarinya. Kamu katakan saja pada orangtuamu kalau kamu akan menginap diapartemen kakakku. Aku yakin mereka tidak akan marah dan juga tidak akan mencemaskan dirimu."
"Baiklah, aku coba meminta ijin dulu dari mereka."
Sebenarnya sejak tadi siang Rey pergi dari tempat kerjanya, dia sudah mengirimkan sebuah pesan untuk kakaknya. Begini bunyi pesannya itu.
Kakak, saat ini aku sedang bersama Erika di rumahku dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan ataupun mencemaskanku. Aku berjanji ini adalah terakhir kalinya aku melakukan kenakalanku seperti ini. Besok pagi tolong jemput Erika dirumahku jam 7.30 dan antarkan dia pulang ke rumahnya karena ia harus berangkat kerja ke kantornya. Terima kasih, Kak.
Kei pun telah mengecek kebenarannya melalui aplikasi gps nya dan berpikir untuk membiarkan adiknya pergi bersama Erika ke rumahnya.
"Bagaimana?" Tanya Rey pada Erika.
"Iya, mereka mengijinkanku."
Rey lalu menuntun Erika untuk kembali ke dalam kamarnya. Saat mereka sudah berada di atas kasur, Rey membelai lembut kepala Erika. Dia lalu berkata, "Seharusnya tadi aku menggunakan pelindung saat melakukannya."
"Tidak Rey, tidak perlu menahannya apalagi menggunakan pelindung."
"Tapi aku takut kamu mengandung anakku."
"Memangnya kenapa kalau aku mengandung anakmu?" Rey hanya menggeleng. "Rey, apa kamu lupa kalau aku juga memiliki impian dan impianku itu adalah bisa menikah dan memiliki anak denganmu."
"Tapi " Erika menahan mulutnya dengan jari telunjuknya yang dia tempelkan.
"Aku akan senang jika kita bisa memiliki buah hati kita bersama sekarang juga. Karena dengan begitu, jika suatu saat kamu benar-benar meninggalkanku maka aku akan memiliki kenangan akan dirimu dan pengganti dirimu jika aku merindukanmu."
Mendengar pernyataan Erika itu, membuat Rey merasa lega dan kekhawatirannya pun memudar.
"Kalau begitu, apa kamu mau kita melakukannya lagi? Membuat anak kita ..." Saat ini Rey ingin melupakan semuanya. Ia hanya ingin menikmati kebahagiaannya bersama Erika, wanita yang dicintainya. Ia juga ingin melakukannya sepuas-puasnya karena ia takut kelak mereka tidak bisa untuk saling berhubungan lagi.
"Ihh kamu, nakal ya ..."
Lalu Rey pun kembali melakukan aksi nakalnya lagi pada Erika. Dengan perlahan-lahan dan lembut ia memuja tubuh Erika sambil menikmatinya dan mengingatnya setiap inci tubuh Erika dalam memori ingatannya. Ia juga sengaja melakukannya untuk membuat Erika juga dapat mengingat setiap kecupan dan sentuhannya yang begitu lembut dalam setiap inci tubuh Erika.
Erika tersenyum dan menyebut nama Rey dengan penuh cintanya setiap kali Rey memberikan kecupan lembutnya itu dan sangat menikmatinya.
"Rey ... ahh ... Rey ..." Hingga akhirnya ketika keinginan mereka sudah tak tertahankan, mereka melakukannya dengan panas dan sangat selaras.
Tetapi sepertinya Rey masih belum merasa puas juga. Ia kembali ingin memadukan perasaan cintanya lagi pada tubuh Erika. Padahal saat ini Rey sudah tampak sangat kelelahan dan nafasnya ngos-ngosan. Hingga Erika pun merasa cemas dan berpikir untuk menghentikannya.
"Rey, sayang. Jangan ... ahh ... berhenti Rey, kamu sudah kelelahan. Jangan memaksakan dirimu. Akhhh ... " Erika akhirnya sengaja berteriak kencang seperti ia sedang kesakitan. Rey pun akhirnya mau menghentikannya.
"Erika, maaf." Rey lalu melepas dirinya dari Erika dan jatuh berbaring ke sebelah tubuh Erika dengan nafasnya yang ngos-ngosan dan tidak teratur, begitu cepat dan pendek. Ia kemudian membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Erika dan meringkukkan tubuhnya.
Erika tahu kalau Rey sedang merasa sedih dan ingin menangis.
Setelah beberapa saat, Rey terdiam dari tangisnya. Erika mengeceknya dan sepertinya ia telah tertidur. Erika pun melepaskan pelukannya dan membaringkan Rey ke atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Kemudian Erika turun dari kasur untuk mengenakan pakaiannya kembali. Ia lalu mengamati wajah Rey yang sedang tertidur dengan begitu tenang dan memperlihatkan kepolosannya. Hingga lama kelamaan Erika juga mengantuk dan ikut tertidur.
Saat subuh, tepatnya pukul 5 pagi Rey terbangun karena merasa haus. Kemudian ia menyadari kalau saat ini ia sedang bersama Erika dan telah melakukan beberapa kali aksi bercintanya bersama Erika kemarin. Rey lalu tersenyum dengan senang mengingatnya.
Rey turun dari ranjangnya untuk mengenakan pakaiannya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas minuman. Untung saja kemarin Erika telah memesan makanan sekaligus beberapa botol minumannya. Kemudian ia kembali ke kamarnya dan mengamati Erika yang masih tertidur.
Namun kini wajahnya kembali terlihat sangat bersedih. Rey juga merasakan kekecewaannya karena keinginan dan rencananya untuk memberikan masa depan akan kelanjutan dari hubungan mereka sudah tidak bisa lagi untuk diwujudkan. Selain itu Rey juga berpikir untuk perlahan-lahan melakukan perpisahannya pada Erika dan membuat Erika dan kakaknya kembali bersama. Ia lalu kembali berbaring dan mencoba untuk tertidur tetapi ia tidak bisa tidur.
Saat ini jam menunjukkan pukul 7 pagi dan Erika baru terbangun. Erika langsung kaget karena ia bangun kesiangan dan bisa terlambat ngantor. Apalagi dari rumah Rey jarak untuk pulang ke rumahnya cukup jauh. Belum lagi ia harus mandi dan bersiap-siap dulu. Namun Rey sendiri saat ini juga masih tidur. Erika merasa tidak enak untuk membangunkannya.
Kemudian saat jam 7.30, terdengar suara seseorang memencet bel pintu rumah Rey. Erika mengecek Rey dan dia juga masih tertidur. Ia lalu bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang ke rumah Rey pagi-pagi begini.
"Kak Kei?"
"Hai Erika. Aku datang untuk menjemputmu pulang ke rumah dan kemudian mengantarmu ke kantor."
"Tapi ..." Erika merasa kebingungan.
"Adikku yang memintaku untuk menjemputmu saat kemarin dia mengirim pesan untukku."
"Ohh ... lalu bagaimana dengannya?"
"Kamu akan diantarkan oleh Tanaka, sedangkan aku akan menemaninya di sini. Apa yang dilakukan adikku saat ini? Apakah dia sudah bangun?"
"Belum, dia masih tidur."
"Ya sudah, kamu pulang dulu atau kamu akan terlambat."
"Tunggu sebentar, aku perlu mengambil barangku dulu." Erika lalu berjalan masuk ke kamar dan mengambil barang-barangnya. Lalu sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk mengecup Rey yang masih tertidur di bagian dahinya.
Rey sendiri sebenarnya sudah terbangun bahkan sudah terbangun sejak subuh tadi dan dia tidak bisa lagi untuk tertidur. Tetapi dia berpura-pura masih tidur. Karena saat ini hatinya sedang bersedih sehingga dia tidak bisa menghadapi Erika atau Erika akan merasakan kesedihannya itu.
Setelah Erika pergi, Kei menutup pintu rumah Rey dan berjalan menuju ke kamarnya. Dia melihat adiknya masih berbaring dengan mata yang terpejam. Kei lalu mengecek suhu tubuh Rey dengan menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya normal, adiknya tidak sedang mengalami demam.
Kei lalu duduk di pinggir kasur, didekatnya. Ia merasa sedikit lelah dan kepalanya juga berdenyut karena memikirkan adiknya dan rasa sedihnya yang berlarut-larut yang hingga pada saat ini hatinya juga masih merasakan kesedihannya itu. Ia lalu menundukkan kepalanya sambil memegangi dahinya dan memijat-mijatnya.
"Kakak, kakak ingat kan dengan perkataanmu, bahwa kamu tidak lemah seperti ibu ..." tiba-tiba Rey berbicara. Saat berbicara, ia tetap tidak membuka matanya dan juga masih dalam posisi berbaring miring ke sisi samping yang sehadap dengan kakaknya.
Kei langsung menaikkan kepalanya dan menoleh kearah adiknya.
"Kamu sudah bangun." Rey menjawabnya dengan mengangguk. Ia lalu membuka matanya dan langsung membaringkan kepalanya dipangkuan kakaknya dengan posisi tubuhnya yang memiring menghadap keluar. Kemudian ia kembali memejamkan matanya.
Kei menyambutnya dengan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Apakah pangkuan ayah rasanya akan sama seperti ini ... begitu hangat dan nyaman ..." ucap Rey yang terdengar seperti sedang menggumam.
"Iya, Ken ..."
"Aku merindukan ayah dan ibu." Hati Kei langsung terenyuh mendengar kalimat singkat yang adiknya ucapkan barusan. Ia ingin menangis tetapi ia berusaha menahannya. "Tetapi aku senang karena saat ini aku memilikimu dan Erika. Kalian sama-sama dapat memberiku perasaan nyaman dan membuatku tenang." Setelah itu, Rey kembali mengantuk dan tertidur dipangkuan kakaknya.
Kei pun membiarkan adiknya tertidur dipangkuannya dan berusaha tetap dalam keadaan diam dan tidak melakukan pergerakan sedikitpun agar tidak membangunkan adiknya.
Sekitar satu jam kemudian Rey terbangun dari tidurnya. Ia langsung mengangkat tubuhnya dari pangkuan kakaknya.
"Kakak, maaf ... aku tertidur saat dipangkuanmu."
"Tidak, Ken. Jangan meminta maaf. Kakak senang karena ketika kecil kamu juga sering tidur dipangkuanku seperti ini sehingga ini membuatku bernostalgia dengan Ken kecilku." Rey tersenyum.
Rey mengedarkan pandangannya mengelilingi seluruh isi kamarnya. Ia lalu membuka tirai kamarnya dan melihat sebuah motor sport miliknya yang terparkir di halaman depan rumahnya. Kemudian Rey berucap, "Aku akan menjual rumahku ini dan juga motor sport itu."
"Mengapa?"
Rey memandang kakaknya sebentar, kemudian dia menjawab, "Kurasa aku sudah tidak mungkin untuk bisa tinggal di rumah ini lagi. Kakak juga pastinya tidak mau aku masih mengendarai motorku bukan?"
Kei terdiam memandangi adiknya dan dia tak kuasa lagi untuk menahan kesedihannya. Ia pun menangis.
"Kakak, maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tahu ini pasti berat bagimu untuk menghadapinya. Tetapi bagiku, walaupun baru sebentar saja aku bisa merasakan dan menikmati kehidupan baruku bersamamu, aku sudah sangat bahagia. Karena kakak telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan apa yang belum pernah kuraih sebelumnya di kehidupanku. Aku bisa merasakan kasih sayang dan perhatianmu, menjadi seorang yang aku inginkan dan menjadi diriku sendiri, melakukan hobi dan kegemaranku, mencapai impianku, dan aku juga telah memperoleh kebahagiaanku bersama Erika. Jadi kakak, aku telah berbahagia sekarang. Dan kebahagiaanku ini adalah pemberian dari kakakku tercinta yang juga sangat mencintaiku." Rey mengulas senyum yang tulus dan penuh kebahagiaan diwajahnya.
"Ken ..." Kei langsung menggapai tubuh Rey dan memeluknya dengan erat. "Ken ... adikku ...." ucapnya dengan terisak.
"Terima kasih, kakakku."
Mereka akhirnya pergi dari rumah Rey untuk melakukan perjalanan ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan pada tubuh Rey. Selama di dalam mobil, Rey terus memandangi dan mengamati mobil serta rumah yang akan ditinggalkannya. Tatapannya penuh kesedihan dan perasaan enggan untuk melepasnya. Hingga akhirnya pemandangan rumah dan motornya itu semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya.
"Ken, kakak tidak akan menjual rumah dan motormu."
"Jangan Kak, rumah dan mobil itu memiliki harga yang bernilai tinggi dan lebih berguna jika diuangkan karena bisa disalurkan ke banyak orang yang membutuhkan."
"Baiklah, kakak mengerti." Kei berpikir untuk menjadikan rumah Rey sebagai tempat untuk yayasan sosial atau pusat medis karena kebetulan kawasan rumah tersebut juga cukup hening dan tenang sehingga cocok bagi mereka yang membutuhkan ketenangan dan kedamaian. Kei tetap akan mempertahankan bentuk bagunan rumah milik Rey itu dan dia akan mengembangkan dan memperluasnya bagunannya dengan membeli dan menggunakan bangunan rumah-rumah lainnya yang ada disekitarnya.
***