Happiness For You

Happiness For You
79 Berbaikan



Selesai berbicara dengan Kei melalui telepon, Erika jadi ikut merasa khawatir dan cemas pada Rey. Namun Erika masih juga merasa ragu untuk menghubunginya karena status mereka saat ini yang telah berpisah. Walaupun Erika sudah tahu adanya kemungkinan kesalahpahaman yang Rey miliki akan dirinya dan atasannya.


Setelah sempat ragu dan bimbang beberapa saat, akhirnya Erika memutuskan untuk menelepon Rey. Karena setelah dipikirkan, dirinyalah yang sebenarnya telah menolak Rey dan tidak mau menerima permohonan maafnya. Sehingga kini saatnya baginya untuk mengakhiri pertengkaran mereka karena sesungguhnya ia masih sangat menyayanginya dan ia juga tahu kalau Rey juga masih sangat menyayanginya. Sekaligus ia juga ingin mencari tahu keadaan dan keberadaannya saat ini.


Rey tidak menjawab panggilan dari Erika. Erika menunggu beberapa menit lalu mencoba kembali untuk meneleponnya lagi. Tetapi tetap tidak ada jawaban. Erika menjadi panik dan khawatir telah terjadi sesuatu padanya. Lalu Erika mencoba meneleponnya untuk ketiga kalinya. Dan akhirnya, Rey menjawab panggilannya.


"Halo." Terdengar suara Rey yang sedang menjawab panggilan Erika dari sebrang sana. Erika pun bernafas dengan lega saat mendengar suara jawaban dari Rey.


"Fiuh~ Rey, akhirnya kamu mau mengangkat panggilan teleponku ini. Saat ini kamu sedang berada di mana? Apa kamu dalam keadaan baik-baik saja? "


"Maaf, aku tadi mematikan hpku dan aku juga ketiduran. Apakah kamu sedang mencemaskan diriku?" tanya Rey merasa senang.


"Tentu saja, dan bukan hanya aku. Kakakmu juga mencemaskanmu. Bahkan ia sangat mencemaskanmu."


"Hmm ... ternyata itu karena kakakku. Dia pasti telah memberitahumu dan memintamu untuk membantunya mencariku." Rey kecewa karena ia berpikir Erika meneleponnya hanya karena kakaknya yang memintanya, bukan karena murni Erika sendiri yang memang sedang mencemaskan dan merindukan dirinya. Rey lalu berpikir tentu saja Erika tidak perlu merasa seperti itu, karena dia sudah melupakannya dan hatinya telah diisi oleh pria lain.


"Ti-tidak. A-ku ... aku ... Mm ... kakakmu memang sedang mencarimu tetapi ini inisiatifku sendiri untuk meneleponmu."


"Tenang saja, aku baik-baik saja. Saat ini aku juga sudah berencana untuk kembali pulang ke apartemen kakakku dan menemuinya."


" ...."


Hening, Erika hanya terdiam.


" ..., baiklah aku akan menutup -"


"Rey ...!" panggilnya dengan segera. "Aku ... aku ... merindukanmu."


Rey terkejut mendengar pengakuan Erika itu. Ia lalu mengulum mulutnya untuk tersenyum karena hatinya langsung merasa senang dan berbunga-bunga.


"Aku juga. Hmm ... apa kamu dan pria itu masih saling berhubungan dengan baik?"


"Pria itu ...??" Erika bertanya bingung.


"Teman kantormu yang selalu pulang bareng bersamamu."


"Ohh ... iya kami masih berhubungan dengan sangat baik.


Ohh ... begitu."


"Mm, sepertinya kamu telah salah paham. Aku dan dia tidak memiliki hubungan yang seperti kamu pikirkan. Maksudku, dia hanya seorang atasanku dan kami memang masih saling berhubungan dengan baik."


"Ohh ... Mm... Erika ... apakah nanti malam kita bisa mengobrol lagi?"


"Haa ...??"


"Lewat telepon maksudku."


Erika tersenyum dengan senang. "Hemm, iya. Aku tunggu nanti malam ..."


Pembicaraan mereka melalui telepon pun berakhir.


Saat ini Rey ingin segera pulang ke apartemen kakaknya untuk bertemu dan berbicara pada kakaknya. Padahal belum satu hari mereka bertengkar, tetapi Rey mulai merasa kehilangan sosok kakaknya. Rey juga sudah menyadari atas kesalahan yang telah diperbuatnya dan merasa bahwa kakaknya telah memiliki peran yang sangat penting di masa hidupnya yang sekarang ini.


Sebenarnya Rey tidak menyadari bahwa dengan sikapnya yang diam-diam mengikuti audisi tanpa memberitahu atau meminta ijin pada kakaknya itu akan menyinggung perasaan kakaknya. Tetapi setelah ia mengingat kembali semua hal yang telah mereka lalui dalam 2 bulan terakhir ini, Rey menjadi tersadar. Ia juga menyadari bahwa ia telah kembali bersikap seperti dulu lagi yaitu keras kepala, tak dewasa, sulit diatur, suka memberontak, dan tidak memikirkan perasaan kakaknya. Kakaknya pasti merasa kalau dirinya kembali tidak menganggap keberadaan kakaknya padahal selama ini kakaknya lah yang selalu bersamanya dan siap sedia dikala ia membutuhkannya.


Rey memutuskan untuk meminta maaf kepada kakaknya atas sikapnya yang egois dan kekanak-kanakan tersebut, yang sangat bertolak belakang dengan keinginannya untuk diperlakukan sebagai seorang pria yang telah dewasa oleh kakaknya. Lalu ia juga telah memutuskan untuk mundur dan melupakan impiannya sebagai chef yang handal di restoran besar dan ternama. Ia hanya akan mengikuti kemauan kakaknya untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan yang kakaknya inginkan.


Saat Rey sudah ingin berjalan keluar dari rumahnya. Sesaat setelah ia menutup pintu rumahnya, tiba-tiba sosok Kei muncul di hadapannya.


"Rey, kamu mau pergi ke mana?" Tanya Kei yang baru saja tiba di depan rumahnya.


"Kakak, kamu datang ke sini. Aku ... kupikir aku akan pulang ke apartemenmu untuk menemuinya dan meminta maaf padamu. Mm ... sebaiknya kita masuk ke rumahku dulu dan berbicara di dalam saja." Ucap Rey sambil mengarahkan jari tangannya ke dalam rumahnya. Mereka berdua lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kak Kei, maafkan aku atas sikapku tadi pagi. Aku telah bersalah padamu karena telah kembali berbuat kasar dan ribut denganmu." Ucap Rey saat mereka telah berada di ruang tengah yang ada di rumah Rey.


"Ken, aku juga telah bersalah padamu karena aku terlalu mengekang dan mengaturmu serta memperlakukanmu seperti anak kecil dengan terlalu merasa takut dan khawatir secara berlebihan."


"Tidak Kak, selama ini diriku memang terlalu egois, aku selalu hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu dan apa yang kamu rasakan. Disaat aku memikirkannya kembali dan mencoba menempatkan diriku menjadi dirimu, aku jadi bisa memahami dan mengerti semuanya. Sebagai seorang kakak, kamu pasti ingin memberiku yang terbaik. Aku juga bisa memahami ketakutanmu, apalagi kakak pernah dihadapkan dengan kondisiku yang ..." Rey terdiam sebentar karena tenggorokannya yang sedikit tercekat akibat perasaan sedihnya yang tiba-tiba muncul. "hampir lewat." Ucap Rey menyelesaikan perkataannya. Kei pun menangis mengingat keadaan Rey yang saat itu terlihat sangat kesakitan dan benar-benar kritis.


"Maafkan aku, Kak Kei. Mulai sekarang, aku tak akan lagi menentangmu dan akan menuruti semua perintahmu. Aku juga telah memutuskan untuk mundur dari impianku dan berjanji untuk tidak melakukan hal-hal yang berbahaya lagi."


"Tidak, Ken. Kamu tidak boleh mundur dari impianmu itu. Dengar Ken, kakak senang karena kamu bisa berpikir seperti itu dan itu menunjukkan kalau kamu telah bertambah dewasa sekarang. Yang kamu katakan tadi memang benar, bahwa kamu adalah seorang pria yang sudah dewasa dan selama ini aku memperlakukanmu bagaikan kamu masih adik kecilku yang lucu dan mengemaskan, yang juga rapuh dan belum bisa dilepas sendirian.


Untungnya tadi ada seseorang yang telah membuka pikiranku bahwa dalam kehidupan ini yang terpenting adalah kita dapat mengejar dan meraih mimpi serta impian kita. Walaupun kita tidak tahu apa hasil akhir yang akan kita capai nantinya, tetapi asalkan kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki semaksimal mungkin dan telah berusaha sebaik mungkin dengan mengoptimalkan kemampuan yang kita miliki untuk mengejar apa yang kita impikan, maka jika kelak kita sudah tidak mampu untuk berbuat apa-apa lagi, tidak ada penyesalan yang akan kita rasakan karena tidak ada hal yang telah kita sia-siakan dalam hidup ini."


Ketika mengucapkannya, Kei pun membayangkan dan juga mengingat kembali akan sosok dan suara Erika yang tadi telah mengucapakan kalimat tersebut kepadanya. Kini, dalam hatinya Kei merasa senang sekaligus sedih karena wanita yang masih sangat ia cintai itu ternyata bisa begitu memahami adiknya. Bahkan ia bisa memberikan masukan yang sangat berarti yang pada akhirnya bisa membuat pikirannya terbuka dan menyadari kesalahannya. Bahwa ketakutan dan kecemasannya terhadap adiknya yang mungkin akan sakit lagi dan bisa saja sampai kehilangannya, itu hanya akan menggagalkan dan menghancurkan mimpi dan impian adiknya. Apalagi selama ini adiknya telah memendam dan mengubur mimpinya itu karena situasi di kehidupannya dulu yang tidak memungkinkannya untuk mengejar apalagi memimpikan impiannya itu.


"Ken, mulai sekarang, kejarlah impianmu dengan baik dan kakak akan selalu memberimu dukungan serta melakukan apa yang terbaik untukmu. Aku yakin kamu pasti bisa meraih dan mewujudkan impianmu itu. Aku juga memberimu ijin untuk dapat bekerja sebagai koki di restoran Hiro."


Rey menatap kakaknya dengan tatapan takjub dan tak percaya karena kakaknya akhirnya mau mendukungnya dan memberinya ijin. Sehingga Rey merasa senang, tetapi perasaan senangnya itu begitu cepat sudah menghilang.


"Tetapi, aku telah gagal saat diaudisi."


"Tenang Ken, masalah itu biar aku yang mengurusnya. Aku tinggal menarik kembali penilaianku terhadapmu dan membatalkan keputusanku yang telah menggagalkanmu"


"Jangan, Kak. Jika kamu mengubah keputusan yang telah kamu keluarkan, maka reputasimu sebagai bos besar akan rusak dan dianggap tidak tegas."


"Tetapi apa yang aku perbuat padamu itu adalah suatu hal yang tidak adil bagimu. Hanya karena kamu adalah adikku, aku memberi penilaianku sesuka hatiku dan menggagalkanmu. Padahal kamu juga memiliki hak yang sama dengan para peserta lainnya. Lagipula para juri dan kepala chef lainnya juga menyayangkan jika kemampuanmu itu dibuang begitu saja dan tidak dimanfaatkan oleh restoran kita dengan baik. Sehingga mereka membuat sebuah pengajuan untukku agar memikirkan ulang keputusanku yang telah menggagalkanmu. Jadi kamu tenang saja. Senin di pekan depan kamu bisa mulai masuk bekerja di sana sebagai koki yang junior dan mengikuti pelatihan. Selain itu, aku juga sudah mempersiapkan sebuah kejutan untukmu di hari itu."


"Sebuah kejutan untukku? Apa itu?"


"Kalau aku memberitahumu maka itu tidak akan menjadi sebuah kejutan lagi."


"Iya juga sih."


"Hahaha Ken, kamu lucu banget sih. Lalu, bagaimana sekarang? Apa kamu masih ingin tinggal di sini atau ikut pulang bersamaku ke apartemen?"


"Kurasa aku sudah cukup berleha-leha di sini dan sekarang aku akan ikut pulang denganmu."


"Baiklah, ayo. Aku sudah lapar sekali, sebaiknya kita pergi makan malam dulu di luar."


Tak lama kemudian, perut Rey mengeluarkan suara memprotes karena belum diisi sejak siang.


"Haha ... aku bahkan lupa kalau aku belum makan dari siang dan sekarang perutku memprotesku."


"Astaga Ken ... Ayo kita servis perutmu itu dengan baik. Mmm bagaimana kalau kita pergi makan di restoran kesukaanmu saja?"


"Emm ..." Rey menggeleng yang berarti tidak mau.


"Baiklah, kalau begitu makan di restoran favoritku saja, makan Japanese food**."


"Nope, aku tidak mau." Kei jadi kebingungan.


"Mm ... pizza dan pasta?" Namun Rey juga menolaknya.


"Lalu, apa makanan yang kamu mau untuk makan malam kita hari ini?"


"Sate." Jawabnya dengan menyeringai dengan sangat lebar dan dengan senang.


"Hah ... ? Bukannya kamu tidak suka jenis makanan seperti itu?"


"Tapi sejak aku melihat Erika memakannya dengan lahap waktu itu di sebuah pasar malam, aku jadi penasaran dan sangat ingin mencobanya. Kakak tahu kan selama ini tubuhku sangat rentan dan mudah sakit sehingga aku tidak bisa makan sembarangan atau itu akan membuatku sakit."


"Berarti sekarang kamu juga tidak bisa memakannya."


"Kurasa sekarang tubuhku sudah tak masalah jika memakan makanan seperti itu."


"Tapi kalau nanti kamu sakit -"


"Kakak, ingat. Aku bukan Ken kecilmu lagi."


"Ahh ... baiklah, kita cari makanan itu di restoran saja."


"Tidak, aku mau yang dipinggir jalan."


"Ken, ingat. Kamu tidak mau menentangku lagi, kan." Kei menyeringai jahil kepadanya.


"Oke oke, baiklah. Ayo kita jalan sekarang atau perutku akan semakin kencang bunyinya untuk melakukan protesnya lagi."


Mereka berdua lalu saling bercanda dan tertawa bersama sambil melakukan perjalanan ke sebuah restoran untuk mencari sate yang sangat diidamkan oleh Rey .


***