
Erika melihat jam dan ternyata hari sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan itu berarti sudah waktunya untuk sarapan. Kemudian Erika segera bangun berdiri untuk membuka jendela kamarnya dan merasakan angin segar dipagi hari yang bertiup. Ia lalu berjalan keluar menuju balkon yang ada di depan kamarnya. Sambil berdiri didekat pagar balkon kamarnya, Erika meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal dan kaku karena hanya berbaring sehari-harinya. Ia lalu merentangkan kedua tangannya melebar ke arah samping seperti adegan ikonik pada salah satu film yang terkenal. Ia lalu memejamkan matanya agar lebih bisa merasakan angin segar yang sedang bertiup dan tersenyum dengan sangat lebar karena sangat menikmati hembusan angin yang bertiup di sekitar balkon kamarnya itu.
Dari arah bawah rumah Erika, tepatnya dibalik salah satu pohon besar yang terdapat diantara pepohonan yang berjejer pada area disekitar sebrang rumah Erika, terlihat sesosok pria yang sedang berdiri sambil mengamati tingkah Erika tersebut. Sosok itu lalu mendorong masker wajah yang sedang dipakainya ke arah bawah dagunya sehingga wajahnya terlihat dengan jelas dan ternyata dia adalah Reyhan Wiriawan. Ternyata sepagi ini Rey sudah mendatangi rumah Erika. Melihat tingkah lucu dan menggemaskan Erika yang sedang menggeliat, Rey pun tersenyum senang. Ia lalu tertawa karena tingkah lucu Erika itu dan walaupun Rey melihatnya dari jauh tetapi ia tetap dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah lucu Erika saat itu. Gerakannya itu membuat Rey kembali teringat akan pertemuan pertama mereka. Saat itu Erika juga melakukan stretching dan menggeliatkan tubuhnya untuk melemaskan otot-ototnya dan terlihat sangat menikmatinya hingga memperlihatkan berbagai ekspresi lucu diwajahnya.
Dua orang wanita yang mengenakan pakaian pelayan muncul dari dalam kamar Erika dan menghampirinya sambil membawakannya sarapan pagi untuknya. Salah seorang pelayan yang tidak membawa nampan, bertanya pada Erika, "Non lagi ngapain? Kok tangannya dibuka lebar gitu. Lagi bayangin meluk aku ya?"
"Ihh, apaan sih mbak. Aku lagi nikmatin angin segerr tauk. Bosan banget nih di rumah ... Mbak mending bantuin aku cari ide biar bisa jalan-jalan keluar rumah."
"Ya bilang aja Non sama Tuan kalo Non uda bosan dan mau nikmatin angin segerr di taman." Erika menatap dengan tatapan mendelik pada pelayannya yang satu ini. Dia adalah pelayan yang paling dekat dan disukai Erika sehingga Erika sudah mengganggapnya seperti saudaranya sendiri.
"Emangnya segampang itu ayah akan mengijinkanku. Huu ... uhh" Desah Erika melesu. Erika lalu duduk dan memakan sarapannya.
Selesai makan Erika kembali berdiri di balkon sambil melihat-lihat pemandangan disekitarnya. Lalu tatapan matanya tanpa sengaja terarah ke pepohonan yang ada di depan rumahnya. Ia melihat ada sesosok pria yang sedang berdiri di sana sambil menatapnya dan mata mereka saling bertemu. Erika sangat terkejut, begitu juga dengan pria itu. Pria itu yang adalah Reyhan, langsung menyembunyikan dirinya di balik pohon besar tempatnya bersandar. Erika langsung melongokkan badannya untuk mencari sosok yang tiba-tiba menghilang tersebut. Karena masih tidak dapat melihatnya, Erika semakin menjorokkan tubuhnya ke depan hingga hampir jatuh.
"Ehh Non Erika, awas!" Teriak pelayannya yang sedang ada didekatnya itu dan bernama Ita dengan terkejut. Ia langsung menggapai tubuh Erika untuk menahannya agar tidak terjatuh. "Untung saja. Non lagi ngapain sih? Bikin jantungku mau copot deh." Omelnya sambil mengelus-elus dadanya yang deg-degan.
"Aku mau pergi keluar dulu. Ayahku lagi ada di mana?" tanya Erika dengan buru-buru dan tidak menghiraukan pertanyaan pelayannya itu.
"Tuan mungkin sedang siap-siap mau berangkat ke kantor." jawabnya. Tanpa menunggu lama, Erika segera berlari keluar dari kamarnya dan mencari ayahnya. Saat itu ayahnya sudah berada di sekitar pintu rumahnya dan hendak berangkat ke kantor.
"Ayah ... " panggil Erika dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan. "Ijinkan aku keluar rumah. Sebentarrr saja. Aku udah bosan banget dan aku cuma mau jalan-jalan ke taman sekitar kompleks doang. Please Ayah ..." Erika mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dadanya sambil memohon dengan tampang memelas. "Ayah ga mau kan nantinya aku malah akan mati kebosanan karena ayah terus mengurungku di dalam rumah ..."
"Kamu ini ya. Ayah sedang terburu-buru berangkat ke kantor atau nanti ayah akan terlambat."
"Please lah Ayah. Ijinkan aku. Cuma sebentar aja." Erika masih dengan gigih merayu ayahnya dan ayahnya pun mengijinkannya.
"Baiklah. Tapi kamu harus ditemani Mbak Ita dan tiga penjaga."
"Tiga? Ayah, satu saja cukup. Nanti aku malah menarik perhatian orang-orang di taman."
"Dua atau tidak kuijinkan -"
"Baik, baik dua penjaga. Bye, Ayah." Erika melambaikan tangannya secepat kilat pada ayahnya yang sedang berjalan menuju mobilnya. Ia lalu segera berlari keluar rumahnya.
"Pelan-pelan Erika, tidak boleh berlari." Ayahnya berteriak mengingatkannya.
"Iya Ayah, aku tahu." teriak Erika menjawab ayahnya.
Namun sesampainya di pepohon yang ada disebrang rumahnya, Erika tidak menemukan siapapun di sana. Sepertinya orang itu telah pergi. Erika tampak kecewa. Ia lalu melanjutkan langkahnya dengan lesu untuk berjalan menuju taman yang ada di kompleks sekitar rumahnya itu dengan diikuti oleh dua pengawal dan pelayan pribadinya, mbak Ita.
Setelah mengitari taman kompleks rumahnya, Erika pun pulang ke rumahnya dan segera masuk ke kamarnya untuk menghidupkan laptopnya. Ia lalu membuka aplikasi untuk melihat rekaman cctv yang terpasang di rumahnya yang mengarah pada pepohon di depan rumahnya itu.
Setelah melihat beberapa rekaman cctv tersebut, Erika sangat terkejut mendapati bahwa selama ini dirinya telah diamati oleh seseorang dari arah pepohonan tersebut. Tangisnya langsung membuncah dan air matanya bercucuran membasahi pipinya. Walaupun wajah pria tersebut ditutupi masker dan memakai topi, tetapi Erika masih dapat mengenalinya bahwa sosok pria yang tadi ia lihat sedang mengamatinya itu adalah seorang pria yang selama ini sangat dirindukannya dan yang juga telah sangat menyakiti hatinya. Dia adalah Reyhan Wiriawan. Erika juga telah mengetahui kalau Rey sudah mengamati dirinya sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Ternyata mobil yang ia lihat sedang melaju dengan pelan melintasi rumahnya di hari itu benar adalah mobil Rey.
Semua hal ini membuat Erika bertanya-tanya. Mengapa pria itu masih mendatanginya dan mengamatinya bahkan hal itu sudah berlangsung selama beberapa hari. Apakah sebenarnya pria itu masih mencintainya? Tetapi mengapa pria itu harus menyakiti hatinya dengan menyelingkuhinya dan juga mengapa ia tidak pernah sekalipun datang mengunjunginya selama ia dirawat di rumah sakit?
Lalu Erika kembali teringat akan perasaan sedihnya, tangannya yang basah karena airmata seseorang yang sepertinya baru datang menjenguknya dan mengajaknya berbicara sesaat sebelum ia bangun dari pingsannya akibat kecelakaan yang dialaminya. Apakah mungkin sosok pria yang ia lihat punggungnya dan sedang berjalan keluar dari ruangannya itu adalah Rey?
Setelah menganalisa semua kejadian janggal yang ia rasakan di rumah sakit dan hal yang terjadi saat ini, akhirnya Erika menyimpulkan bahwa mungkin Rey dipaksa oleh Kei dan orangtuanya untuk berpisah dengannya dan harus menjauhinya serta melarangnya untuk bertemu dengannya lagi. Oleh karena itu dengan terpaksa Rey meninggalkannya dengan membuatnya patah hati.
Tangis Erika pun semakin kencang dan kuat hingga pelayan dan ibunya masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keadaannya. Ibunya lalu memeluk dan menghiburnya. Orang tua Erika dan seluruh penghuni rumah ini sudah terbiasa melihat dan menghadapi sikap Erika yang tiba-tiba menangis dengan kencang dan histeris sejak dirinya mengalami kecelakaan. Mereka juga mengetahui hal yang menyebabkan putri kesayangan mereka bersikap seperti itu, hanya saja mereka tidak tahu cara untuk menyelesaikan masalahnya. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menghibur dan memberinya dukungan yang sedang dibutuhkannya.
Keesokan harinya, Erika mengamati rekaman yang sedang berlangsung pada kamera cctv tersebut untuk melihat keadaan yang sedang terjadi sekarang ini. Erika sedang menantikan sosok Rey untuk muncul di sana karena ia akan segera menghampirinya dan memergokinya begitu ia melihat kedatangan Rey di sekitar rumahnya. Selain itu juga karena dirinya sudah sangat merindukannya sehingga Erika ingin dapat segera bertemu dengannya untuk melepas rindunya dan juga ingin menanyakan banyak hal padanya.
Namun setelah menunggu cukup lama, Rey belum juga muncul. Ternyata hari ini Rey tidak datang. Tetapi walaupun begitu, hari ini Erika tetap meminta ijin pada ayahnya untuk berjalan-jalan ke taman karena ia merasa bosan di rumah saja. Sama seperti kemarin, ayah mengijinkannya tetapi dia masih harus ditemani oleh dua pengawal. Lalu Erika pun memprotesnya.
"Ahh Ayah, ayolah, mengapa harus ditemani dua pengawal? Apa ayah takut aku kabur atau diculik seseorang?"
"Erika, itu Ayah lakukan hanya untuk memastikan keamanan dirimu. Tolong kamu mengertilah akan ketakutan dan kekhawatiran kami setelah semua yang kamu lalui yang pada akhirnya membuatmu terluka dan mengalami kecelakaan itu."
"Maafkan aku Ayah, telah membuat kalian takut dan khawatir ...." Erika pun merasa menyesal dan bersedih. Melihat raut wajah Erika yang seperti merasa bersalah dan bersedih, Ayah Erika juga ikut merasa bersalah.
"Erika, maafkan kami juga yang terlalu berpikir dan bersikap berlebihan. Ayah tahu kamu pastinya sudah sangat bosan dan merindukan kebebasanmu. Baiklah, Ayah akan memberimu kebebasan sehingga setiap harinya kamu boleh pergi -"
"Benarkah?" Wajah Erika langsung sumringah dan tersenyum dengan sangat lebar.
"Tetapi tidak boleh jauh-jauh, kamu hanya boleh pergi ke tempat yang masih termasuk di dalam area kompleks." Erika mengangguk-angguk cepat dan masih dengan senyum lebarnya.
"Dan juga harus ditemani mbak Ita mu dan seorsng pengawal."
"Hah ...? Yah Ayah, mengapa masih harus dikawal? Itu berarti aku masih belum bebas, aku tidak bisa pergi sesukaku ...."
"Itu sudah menjadi keputusanku yang tidak bisa kamu ganggu gugat. Selanjutnya terserah kamu, mau tetap berdiam diri di kamarmu saja atau berpergian keluar rumah tetapi dengan syarat yang aku berikan tadi." Terpaksa Erika menyetujui syarat yang ayahnya ajukan.
***