Happiness For You

Happiness For You
20 Dilamar



Erika telah sampai di depan rumahnya. saat hari sudah malam. Dia memarkirkan mobil Rey yang ia bawa di depan rumahnya. Ayah dan ibu Erika mendengar ada suara mesin mobil di depan rumahnya dan segera keluar untuk mengecek.


"Erika.. " Begitu melihat itu adalah Erika yang turun dari mobil, Ibu langsung berteriak memanggilnya dengan senang. "Putriku kamu akhirnya kembali. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi selama ini? Mengapa kami tak dapat menghubungimu dan juga tidak ada kabar apapun darimu?" Ibu langsung memberondong banyak pertanyaan.


"Ayah, Ibu aku sangat merindukan kalian." Erika lari berhamburan memeluk mereka satu persatu. "Maafkan aku telah membuat kalian khawatir. Aku baik-baik saja." Erika tertawa dengan senang. Begitu juga dengan ibunya. Namun ayah diam saja. Dia nampak marah. Wajahnya terlihat gusar dan juga kecewa.


"Ayah.. maafkan aku.." Erika yang menyadari kemarahan ayahnya, mendekatinya dan meminta maaf.


"Pergilah mandi dulu dan makan setelahnya. Aku mau berbicara berdua denganmu nanti." Lalu ayah pergi ke ruang kerjanya.


Tok tok tok.


Erika mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.


"Masuklah" jawab Ayah.


Erika duduk di kursi depan ayahnya. Dia sudah mandi dan mengenakan piyama tidurnya.


"Katakan yang sebenarnya pada ayah. Apa yang kamu lakukan selama ini dan kemana kamu pergi." tanya Ayah dengan mengawasi wajah Erika.


"Aku.. pergi ke tempat temanku. Dia sedang membutuhkan asisten jadi aku membantunya."


"Jangan membohongi Ayah. Ayah sudah tahu. Kei sudah menceritakan semuanya."


"Apa..?! Jadi, Ayah.."


"Kami hampir saja akan melaporkan masalahmu ini ke kantor polisi. Kalau sampai kamu tidak kembali sampai akhir pekan ini, maka kami akan melakukannya." Erika hanya bisa terdiam.


"Katakan yang sebenarnya. Mengapa kamu tinggal di sana dan bagaimana bisa kamu kenal dengan orang seperti itu?"


"Orang seperti itu bagaimana maksud Ayah?"


"Seorang preman."


"Dia adalah penolongku. Walaupun dia seorang preman, tetapi dia rela mengorbankan dirinya demi menolongku." Erika tertegun dengan ucapannya sendiri. Mengapa dia merasa marah dan bahkan membela pria itu pula di depan ayahnya. "Ayah.. maafkan aku.."


"Apa yang terjadi padamu? Kamu telah berubah. Sikapmu menjadi kasar dan tidak sopan seperti ini."


"Maaf Ayah." Ayah tidak tahu harus berbicara apa lagi, dia hanya bisa menghela nafas untuk menyimpan dan menahan kemarahannya.


"Ayah rasa besok pagi kita harus menemui Kei dan menjelaskan padanya dengan baik agar dia tidak salah paham padamu. Sekarang pergi istirahatlah. Kamu pasti lelah."


"Baik Ayah." jawab Erika menurut.


***


Keesokan paginya, Kei datang ke rumah Erika. Saat Ayah meneleponnya untuk memberitahukan bahwa Erika telah pulang, Kei langsung dengan bersemangat mengatakan akan ke rumah mereka. Dia datang dengan membawa sarapan kesukaan Erika yaitu sandwich tuna dan kue dorayaki. Mereka lalu sarapan bersama.


Selesai sarapan, Ayah pun meminta Erika untuk berbicara dan menjelaskan pada Kei apa yang terjadi.


"Kak Kei pasti sudah tahu. Karena ia pernah ke sana. Benar, kan Kak Kei?" Erika sengaja memamerkan senyumnya yang dibuat semanis mungkin kepada Kei.


"Benar paman. Erika tidak perlu menjelaskannya, aku sudah mengetahuinya. Yang terpenting sekarang Erika sudah pulang dan berkumpul kembali bersama kita. Dan aku sangat senang bisa melihatnya lagi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja."


Ayah dan Ibu Erika tersenyum senang. Mereka sungguh merasa bangga dengan Kei yang adalah pasangan anaknya. Kei memang selalu menjadi kebanggaan bagi keluarga Erika. Bahkan dulu Erika sangat memujanya. Karena sikap Rey yang dewasa dan bijaksana.


Namun semua itu kini telah berubah. Erika tidak lagi memuja dan menyukainya. Bahkan ia merasa bahwa sikapnya itu munafik dan penuh kepalsuan.


"Kei, bagaimana dengan hal yang kita bicarakan sebelumnya? Apakah kamu sudah memikirkan dan memutuskannya?"


"Iya Paman. Tujuanku datang pagi ini ke sini juga karena ingin membahas mengenai hal tersebut. Paman dan tante, aku ingin melamar Erika. Ijinkan aku menikahinya."


"Apa..?!" Bagaikan tersambar petir, Erika sangat terkejut. Ia tak menyangka Kei akan melamarnya.


Berbeda dengan ayah dan ibunya, mereka tertawa dengan senang dan bahagia.


Dalam situasi seperti ini, tidak mungkin bagi Erika untuk memberitahukan yang sebenarnya bahwa mereka telah putus dan ia tidak mau menerima lamaran ini. Ia hanya bisa berteriak dalam hatinya "TIDAK MAU, Aku tidak akan menikah dengannya..!"


"Erika, jaga sikapmu. Jangan tidak sopan seperti itu." Ibu menegurnya dengan halus.


"Maaf, aku hanya terkejut." jawab Erika lesu. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk menghindari hal ini.


"Maaf nak Kei. Mungkin Erika terlalu senang dan merasa surprise karena kamu secara mendadak melamarnya." Ibu memberi penjelasan kepada Kei.


"Iya, aku paham." jawab Kei dengan senyum. Tetapi dia tahu yang sebenarnya kalau Erika tidak suka dan ingin menolaknya. Namun Kei sangat menyayangi dan tak mau kehilangan Erika. Lagipula ini adalah cara untuk melindunginya dari pria itu.


Mereka lalu melanjutkan perbincangan dengan membahas mengenai rencana pernikahan itu. Erika merasa malas dan bosan dengan apa yang mereka bicarakan. Dia sedang berpikir keras apa yang harus dia lakukan untuk membatalkan rencana pernikahan itu. Kemudia dia memikirkan tentang keadaan Rey dan juga rencananya untuk mendatanginya siang ini untuk mengembalikan mobilnya.


"Erika.. Erika.." Ibu memanggil-manggilnya.


"Iya?" Erika tersadar dari lamunannya. Daritadi dia tidak ikut menyimak dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kami bertanya, pesta pernikahan yang seperti apa yang kamu mau?"


"Ahh.. maaf, aku merasa pusing dan sedikit lelah."


"Erika, wajahmu terlihat sedikit pucat. Apa kamu perlu ke dokter?" tanya Kei cemas.


"Tidak, tidak perlu. Aku hanya perlu beristirahat sejenak dan aku akan pulih kembali." tolak Erika.


Kasus penculikan yang baru terjadi padanya kemarin memang masih meninggalkan efek yang membuatnya trauma. Belum lagi dia harus memikirkan rencana pernikahan yang tak diinginkannya. Oleh karena itu ia merasa pusing dan lelah.


"Kalau begitu, aku akan menemanimu ke kamar. Paman dan tante aku permisi dulu." Kei membantu Erika berjalan dengan memapahnya. Walau Erika tak menyukai nya, tetapi ia tak bisa menolaknya karena mereka sedang di depan orangtuanya. Setelah Erika masuk ke dalam kamarnya, Kei kembali ke ruang makan untuk berpamitan pada orangtua Erika. Dia berasalan kalau ia harus segera kembali ke kantornya karena ada beberapa urusan yang harus dikerjakan.


Di dalam kamarnya, Erika tidak dapat tidur. Ia sudah mencoba untuk memejamkan matanya tetapi kepalanya tak dapat berhenti berpikir. Saat ini Rey memenuhi pikiran yang ada di kepalanya dan membuatnya uring-uringan. Ia teringat akan tatapan Rey padanya yang penuh kekecewaan dan kepedihan.


Erika merasa Rey menatapnya dengan tatapan yang bagaikan dia telah dibuang dan dikhianati olehnya. Rasa bersalah dan penyesalan kini menyelimuti hati Erika.


Saat hari sudah agak siang, Erika mengendap-endap keluar dari kamarnya dan berencana akan pergi ke rumah Rey. Sebelum pergi, Erika memastikan terlebih dahulu kalau ayah dan ibunya sedang tak berada di rumah. Setelahnya Erika pun pergi dengan diam-diam dari para pelayan dan penjaga yang ada di rumahnya. Dia pergi dengan menggunakan mobil Rey yang kemarin dibawanya.


***