Happiness For You

Happiness For You
87 Berkencan



Dengan rencana kencan mereka kemarin yang tidak berjalan sesuai dengan yang telah mereka rencanakan alias gagal, maka Rey kembali mengajak Erika untuk berkencan di keesokan harinya yaitu pada hari Minggu.


Rey kembali mengajak Erika untuk menonton sebuah film box office di bioskop. Selama menjalin hubungan dengan Rey, baru kali ini Erika benar-benar merasakan yang namanya pacaran sungguhan dan melakukan kencan bersama seperti pasangan pada umumnya. Mereka pergi ke mall, jalan-jalan sambil bergandengan tangan dan sedikit mengumbar kemesraan mereka di depan orang banyak. Dan, sebagai seorang wanita, tentunya tak ketinggalan bagi Erika untuk juga menyempatkan dirinya mampir dan melihat-lihat ke toko-toko untuk berbelanja. Tetapi Erika bukan hanya berbelanja barang saja, melainkan dia juga berbelanja banyak camilan atau jajan.


Namun kali ini Rey asik-asik saja dan tidak mengeluh atau mengomel padanya. Dia bahkan ikut memilih dan memberi saran barang belanjaan yang Erika mau beli dan juga membayar semua barang belanjaannya. Karena kakaknya, Kei, cukup memberinya banyak uang ke rekening tabungannya dan juga beberapa kartu pembayaran yang bisa dia gunakan seenaknya kapanpun dan dimanapun untuk bertransaksi.


Selain itu, Rey juga mau memakan semua jajanan yang Erika beli. Dari minuman boba sampai bakso goreng tusuk. Selama ini Rey memang tidak pernah menikmati jajanan seperti itu. Tetapi sekarang dia mulai mau memakannya dan ternyata ia juga jadi menyukainya. Dia bahkan membeli popcorn dengan ukuran paling besar ketika mereka sedang menonton di bioskop dan tidak mampu untuk menghabiskannya.


"Rey, kamu kenapa? kamu kok sepertinya tiba-tiba jadi berubah banget? Kamu jadi lebih asik diajak ngobrol, mau jalan-jalan dan berkencan di keramaian seperti ini." Tanya Erika saat mereka sedang berjalan-jalan santai di taman.


"Aku memang seperti ini, kamu saja yang kurang mengenalku. Lagipula sekarang aku ingin menikmati hidupku dan mau melakukan berbagai hal yang menyenangkan bersama wanita yang sangat spesial bagiku."


"Aku ga nyangka, ternyata kamu sweet banget ya. Bikin aku makin ..." Wajah Erika memerah karena rasa malunya.


"Makin apa sayangku? Makin mencintaiku, kah?" Rey tersenyum dengan sangat manis untuk menggodanya.


Erika mengangguk-angguk malu. Ia lalu mengecup pipi Rey. Rey langsung merangkul pinggangnya untuk mendekat padanya dan membalas kecupannya tapi di bibir Erika. Erika memandanginya sambil tersenyum dengan senang dan Rey juga tersenyum padanya.


"Erika, tunggu sebentar. Ayo kita berfoto dulu di sini." Rey mengajak Erika untuk berfoto berdua di salah satu spot yang ada di taman yang sedang mereka lewati. Mereka lalu meminta seseorang yang sedang lewat untuk memfoto mereka. Setelah mereka melihat hasilnya, Rey bergumam, "Kita memang pasangan yang serasi. Kita harus sering-sering berfoto dan mengabadikan momen kita."


"Kamu ternyata narsis ya."


"Aku bukannya narsis, hanya merasa sayang aja karena aku punya wajah yang tampan dan kekasihku juga cantik jadi aku ingin mengabadikannya."


"Dasar kepedean dan narsis kamu."


"Tapi kamu suka, kan?"


"Wekk ..."


"Ihh kamu, gemesin." Rey memegang kepala Erika dan mengacak rambutnya dengan pelan karena gemas. "Sudah sore, kamu masih mau berbanja dan jajan?"


"Kamu salah kalau nanya begitu, aku mah jawabnya pasti masih mau lah."


"Ya udah, kita pulang saja."


"Ihh dasar kamu ya. Gak usah nanya tadi ..."


"Ayo." ajak Rey sambil menggandeng tangan Erika berjalan pulang ke apartemen kakaknya dan Erika mengikutinya seperti anak kecil yang penurut.


Mereka telah sampai di apartemen.


"Erika, kamu pasti pernah datang ke sini sebelumnya bersama kakakku?"


"Iya, Rey. Apa kakakmu sedang pergi?"


"Iya, biasanya di akhir pekan gini dia akan pergi berkencan bersama teman wanitanya sekalian menghadiri berbagai acara pesta yang diselenggarakan rekan bisnisnya."


"Teman wanita yang bernama Bella itu?"


"Aku tidak tahu. Mungkin saja."


"Ayo, masuk." Rey mengajak Erika masuk ke kamarnya. Mereka berdua lalu berjalan masuk.


"Rey, kamu masih mau tetap menyembunyikan identitas dirimu?"


"Aku tidak menyembunyikan, aku hanya tidak mau memamerkannya dengan membuat sebuah pengumuman tentang hal tersebut ke orang banyak yang juga tidak kukenal."


"Tetapi kakakmu sosok yang terkenal dan itu wajar jika dia mau memperkenalkanmu ke banyak orang seperti ke rekan bisnisnya. Mungkin saja suatu saat kamu akan ikut mengelola bisnis bersamanya."


"Iya, akan kupertimbangkan saranmu itu."


Karena terlalu asik mengobrol, Erika baru menyadari keberadaannya yang sedang berada di kamar Rey.


"Kamarmu di sini lebih luas dibanding kamarmu dulu yang ada di rumahmu."


"Yup, tapi walau begitu aku tidak merasa kesepian."


"Apakah saat kamu tinggal sendirian di rumahmu kamu selalu merasa kesepian?"


"Hmm ... tidak seperti itu juga sih. Saat aku tinggal sendirian, aku tidak merasa kesepian. Hingga aku berpikir aku menyukai untuk tinggal sendirian dan hanya seorang diri saja. Aku juga membenci orang datang ke rumahku dan menganggap mereka sebagai pengganggu saja."  


"Aku tahu, maksudmu itu aku, kan? Karena saat diawal kedatanganku ke rumahmu, sikapmu sangatlah buruk dan menyeramkan. Kamu bahkan mengusirku berkali-kali."


"Iya, itu benar dan maafkan aku atas sikap kasarku disaat itu. Tetapi apa kamu tahu, saat akhirnya kamu akan pergi hatiku merasa sedih dan menyesalinya karena telah mengusirmu pergi."


"Aku ingat. Kamu memanggilku saat aku akan pergi. Tetapi kamu memanggilku karena tasku yang ketinggalan." ucap Erika sambil cemberut.


Rey pun tersenyum padanya.


"Habis saat itu kamu hanya diam saja dan tidak mau berbalik seolah kamu benci padaku dan tidak mau melihatku lagi. Jadi aku gengsi karena telah menahanmu. Padahal aku sangat berharap kamu mau berbalik sehingga aku dapat melihat wajahmu untuk terakhir kalinya dan dapat mengingatnya."


"Rey, saat itu aku sedang merasa sangat sedih dan ingin menangis karena diusir olehmu. Kalau aku berbalik atau membuka mulutku hanya untuk mengucap satu kata saja, airmataku pasti akan langsung bertumpahan dan itu akan sangat memalukan bagiku menangis di depan pria asing yang juga telah mengusirku dengan kasar."


"Seandainya kamu tidak pingsan dan membuat hatiku iba, mungkin kita tidak akan bertemu lagi."


"Kamu benar. Aku senang karena kamu telah berbaik hati mau merawatku. Seorang nona muda sepertimu mau menjadi pelayanku. Saat itu aku tidak menyangka dan tidak berpikir kalau kamu itu seorang nona yang terbiasa dilayani dan hidup enak. Aku malah dengan kasar memerintah dan marah-marah padamu."


"Ya mau gimana lagi, aku juga sedang dalam pelarianku. Aku terpaksa tinggal di rumahmu, kalau tidak aku tidak tahu harus tinggal di mana. Aku juga tahu walaupun sikapmu itu kasar dan juga menyeramkan, tetapi sebenarnya kamu pria yang baik karena kamu telah menyelamatkanku di malam saat aku mabuk. Rey, kamu adalah malaikat penyelamat bagiku karena kamu telah berkali-kali menyelamatkan aku."


"Erika, kamu juga adalah malaikatku. Kamu telah banyak mengubahku. Kamu tahu, setelah kehadiranmu dalam hidupku, aku merasa hidupku menjadi lebih indah dan penuh warna. Hidupku yang penuh kegelapan juga telah berubah menjadi bercahaya dan terang. Walaupun dengan kehadiranmu dihatiku, aku kembali bisa merasakan rssanya kesepian saat sendiri. Tetapi aku senang karena ada kamu yang selalu bersamaku disisiku."


"Rey ...." Erika memandang Rey dengan tatapan yang mendalam dan penuh cinta.


"Erika ...." Rey membalas Erika dengan tatapan yang sama. Lalu secara perlahan, Rey menempelkan bibirnya ke bibir Erika. Erika menerima ciuman yang Rey berikan dan membalasnya. Makin lama ciuman mereka makin dalam dan memanas.


"Rey ... " Desah Erika memanggil namanya.


Mendengar suara desahan Erika membuat Rey semakin bersemangat dan menghisap bibir Erika. Erika sampai megap-megap dan nafasnya terengah.


"Rey ... Aku mencintaimu ..." Nafas Erika memburu dan begitu panas. Rey dapat merasakan hawa panas tubuh Erika yang membara yang tak kalah panas dengan miliknya. Lalu secara tiba-tiba, ia menghentikan aksinya dan terdiam. Rey menjadi tersadar akan sesuatu dan melepas ciumannya.


"Erika ..." panggilnya lirih. Rey tidak mau mereka terus hanyut hingga terbawa oleh hasrat mereka yang semakin panas dan bergelora.


"Rey ... ada apa?" Tanya Erika kecewa.


"Tidak sayang, aku tidak bisa melanjutkannya."


"Mengapa? Apakah itu karena wajahku tidak secantik Bella dan tubuhku tidak seseksi dia sehinga kamu kurang tertarik untuk melakukannya denganku?


"Erika, jangan berkata seperti itu. Kamu tahu benar bagaimana perasaanku terhadapmu. Aku hanya tidak mau kita semakin terbawa perasaan kita dan terhanyut dalam gelora nafsu kita yang membahayakan."


"Memang mengapa? Kita sudah sama-sama dewasa dan kita juga saling mencintai. "


"Itu benar. Kamu bisa merasakan ini." Rey kembali menciumnya lagi. Dengan ciuman yang sangat lembut dan semakin lama semakin dalam. Ciuman yang penuh perasaan kasih dan cintanya. "Kamu dapat merasakannya bukan apa yang kurasakan padamu. Aku mencintaimu melebihi apapun juga. Tetapi aku hanya tidak bisa dan tidak boleh melakukannya terhadap dirimu."


"Tapi mengapa?" tanya Erika dengan suara yang agak meninggi karena rasa sedih dan rasa kecewanya.


"Maafkan aku Erika, aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa." Rey lalu menundukkan kepalanya dan menempelkan keningnya ke kening Erika. "Aku mencintaimu ..." Ucapnya dengan suara lirih dan bergetar. Matanya memerah dan basah. Kemudian setitik air mata jatuh bergulir dari matanya. Lalu Rey menurunkan kepalanya dan membawanya ke dalam dekapan Erika.


"Rey ...?" panggil Erika dengan keheranan dan juga perhatian.


Rey semakin membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Erika dan ia mulai menangis.


"Rey, sayang? Ada apa? Apa kamu sedang menangis?"


Rey hanya menggelengkan kepalanya dan masih tetap menangis dalam diamnya. Dia tidak mau Erika melihatnya kalau ia sedang menangis. Saat Erika menarik tubuhnya untuk melepaskan pelukannya, Rey menahannya.


"Jangan. Kumohon, biarkan aku berada dalam pelukanmu seperti ini." Erika sangat yakin kalau Rey sedang menangis, tetapi ia tidak mengetahui penyebabnya dan ia menjadi bertanya-tanya, mengapa Rey menangis?


Akhirnya Erika pun mengijinkan Rey untuk tetap seperti itu padanya. Erika mengelus dengan lembut kepala Rey dan membelai rambutnya yang terasa halus dan lembut.


Setelah puas menangis, Rey melepas pelukannya.


"Terima kasih sayang, dan maafkan aku karena telah membuat bajumu basah."


"Tidak sayang, tidak apa-apa."


Rey lalu menyandarkan kepalanya dipangkuan Erika dan berbaring sambil memejamkan matanya. Ia ingin merasakan tertidur dipangkuan Erika yang penuh kehangatan.


"Kamu tahu pelukanmu sangat hangat dan penuh kelembutan. Aku sangat menyukainya. Itu membuatku merasa tenang dan damai. Aku juga senang bisa merasakan kehangatanmu dipangkuanmu dan dalam keadaan tertidur seperti ini."


Sesungguhnya Rey kecil adalah seorang anak yang sangat dimanjakan. Baik oleh ibunya maupun oleh orang-orang yang ada didekatnya yang menyayanginya. Rey kecil juga sangat suka jika dimanja oleh mereka, tetapi walaupun begitu Rey bukanlah seorang anak yang memiliki sikap manja yang buruk dan ingin selalu dituruti kemauannya. Bukan seperti itu. Melainkan ia suka ketika mereka memeluk dan menggendongnya karena itu yang dia butuhkan. Dia membutuhkan kasih sayang mereka yang penuh kehangatan dan kelembutan. Sehingga dia dapat merasa nyaman dan tenang ketika ia sedang dalam kesakitannya. Selain itu, saat berada dipelukan mereka, ia bisa menutupi dan menyembunyikan perasaan sedih dan rasa sakitnya yang sedang ia rasakan.


Jadi, mereka akan tahu jika tiba-tiba Rey kecil mendekati mereka, maka itu berarti bahwa Rey kecil sedang ingin dipeluk karena ia sedang merasa tidak nyaman ditubuhnya atau ia sedang bersedih. Mereka yang telah mengenal dan mengetahuinya akan langsung memberinya pelukan dan menenangkannya.


Namun, setelah ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya, hal itu berubah 180 derajat. Ia jadi berpikir dan merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang yang akan menyayanginya dan yang senantiasa mau memberinya perhatian dan kasih sayang yang begitu besar seperti ibunya. Sehingga sikap dan perilakunya perlahan-lahan berubah. Ia menjadi dingin dan pendiam. Ia juga tidak pernah terlihat mengeluarkan suatu perasaan apapun yang sedang ia rasakan. Padahal orang-orang yang ada disekitarnya yang mengenal dirinya sejak kecil seperti Dokter Steve, Paman Hadi dan Paman Aldi, masih sangat menyayanginya dan merasa kasihan kepadanya. Mereka pasti mau memberikan kasih sayang dan kehangatan yang ia butuhkan. Bahkan tanpa diminta, mereka juga sering berusaha dan ingin selalu bisa memberikannya.


Kakak kandungnya, Kei Takahiro, yang pernah tinggal bersamanya selama beberapa tahun saat masih kecil, sudah bisa mengenal dan mengetahui apa yang adiknya suka dan apa yang ia butuhkan. Bahwa adik kecilnya sangat suka mencarinya dan akan mendatanginya sambil merengek minta dipeluk atau digendong olehnya. Karena ia sedang memerlukan kehangatan yang bisa membuat dirinya merasa lebih nyaman dan tenang. Sehingga sekarang walaupun mereka telah besar dan masing-masing telah tumbuh menjadi pria dewasa, Kei masih selalu berusaha untuk dapat memberinya kasih sayang dan kehangatan yang dibutuhkannya itu. 


Pada saat ini, Rey sedang memiliki kekalutan dan ketakutan akan suatu hal. Sehingga ia sangat membutuhkan kehangatan dan kelembutan untuk membuat dirinya menjadi lebih nyaman dan tenang. Dan ia tahu bahwa Erika bisa memberikan apa yang ia butuhkan itu.


Erika memang telah sangat memahaminya. Ia tidak memaksa atau menuntutnya untuk menceritakan apa kesedihan dan ketakutannya itu dan apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Jadi, hanya dalam diamnya, Erika memberikan dan menuruti apa yang Rey butuhkan.


"Iya sayang, dengan senang hati aku akan selalu memberikannya padamu disaat kapanpun kamu mau." Jawab Erika dengan tulus.


Rey mendongakkan kepalanya ke arah Erika dan tersenyum dengan sangat senang kepadanya. Ia lalu beranjak bangun dari pangkuan Erika dan duduk disebelahnya.


"Kemarilah." Ucapnya meminta Erika mendekat padanya. Kemudian Rey membawa Erika ke dalam pelukannya.


"Sekarang giliranmu untuk mendapat pelukan dan kehangatan dariku."


Lalu Erika menempelkan kepalanya pada dada bidang Rey dan mendengarkan irama detak jantungnya yang berdegup kencang dan Erika senang mendengarnya karena dengan begitu ia bisa merasakan bahwa kekasihnya itu hidup dan sedang ada bersamanya didekatnya. Rey lalu membelai dan mengelus kepala Erika dengan lembut dan mengecupnya.