Happiness For You

Happiness For You
95 Kebahagiaan yang Begitu Singkat



**/


Hai para pembaca yang masih setia membaca. *kayak ada aja😜*


Kisah dari novel ini akan segera sampai di penghujung cerita. Semoga para pembaca tidak pada baper saat membaca kisah dari Rey, Erika, dan Kei ini. Biarkan si penulis saja yang baper jadi bisa nulis cerita yang enak diikuti dan dinikmati. Terima kasih 🤗


/**


Setibanya di apartemen, Rey segera menemui kakaknya di kamarnya untuk membicarakan perihal lamarannya pada Erika. Rey ingin meminta ijin pada kakaknya untuk nelamar Erika. Selain itu dia juga ingin meminta kakaknya untuk menemui kedua orangtua Erika dan melamar Erika secara resmi untuknya.


Saat masuk ke dalam kamar kakaknya, Rey cukup terkejut dengan melihat perubahan yang ada di kamar kakaknya.


"Kak Kei, apa ini? Mengapa kamarmu berubah menjadi seperti kamar pasien saja? Apa kamu sedang sakit?"


"Tidak, Ken. Ini hanya untuk berjaga-jaga saja."


"Berjaga-jaga? Untuk apa? Kak Kei, kakak tidak sedang sakit, kan?"


"Tidak, kakak dalam keadaan sehat dan kakak juga baik-baik saja. Seperti yang kakak bilang, ini hanya untuk berjaga-jaga saja karena kudengar ada baiknya bagi setiap rumah untuk memiliki beberapa peralatan medis seperti ini."


"Baiklah." Rey pun tidak memperpanjang lagi pembicaraannya walaupun ia masih merasa sedikit aneh dan mencurigainya. Lalu seperti biasanya, Rey langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur kakaknya.


"Ahh ... nyaman dan empuknya kasurmu."


Kebetulan saat ini Rey merasa badannya letih dan juga cukup kelelahan karena aktivitasnya yang seharian penuh dari pagi hingga malam hari. Sehingga ia merasa sangat nyaman ketika dapat membaringkan tubuhnya.


"Seharusnya kasurmu lebih nyaman dan empuk dari kamarku. Karena aku membelikan model yang paling baru dan lebih baik dari punyaku."


"Tapi aku lebih menyukai yang ada dikamarmu ini. Mungkin karena aku menyukai berada di kamarmu dan bersamamu." Kei menatap adiknya dengan curiga karena ucapan adiknya itu yang seperti ada suatu makna tersirat didalam ucapannya. Sedangkan Rey hanya asal bicara saja tanpa ada maksud apapun dan karena memang itu yang ia rasakan. Padahal mungkin itu juga karena ia bisa merasakan kehangatan kakaknya yang berada didekatnya dan sedang bersamanya di dalam kamar ini.


"Ken?" Tiba-tiba adiknya hanya terdiam saja dengan mata yang sudah terpejam. Kei langsung panik dan mendekati tubuh Rey untuk mengeceknya. Ia memegang suhu tubuh Rey dan normal. Dadanya juga naik turun dengan normal. Sepertinya adiknya itu tadi langsung tertidur dan dengan pulas. Kei berpikir mungkin adiknya kelelahan karena habis mengikuti lomba memasak tadi pagi. Kei lalu mengatur posisi tidur adiknya agar dia dapat memiliki tempat untuknya juga tertidur di samping adiknya. Sebelum tidur, Kei mengamati dulu wajah adiknya yang sedang tertidur pulas. Sungguh tenang dan damai. Ia lalu tersenyum dan ikut tertidur.


***


Keesokan paginya saat Kei terbangun, ia melihat kalau adiknya masih belum bangun juga. Kei kembali merasa khawatir, ia juga kembali mengecek suhu tubuhnya dan panas tubuhnya masih terasa normal. Nafasnya juga masih teratur. Ia lalu meninggalkannya dan pergi mandi. Setelah selesai mandi dan ia sudah rapih dengan pakaian kerjanya, Kei akhirnya memutuskan untuk membangunkan adiknya.


"Ken, bangun Ken ... " Kei menepuk pelan pipi Rey sambil memanggil namanya. Tetapi adiknya masih belum terbangun. Ia kembali mengulanginya.


"Ah ... " Rey membuka matanya dan langsung bingung saat melihat kakaknya ada didepannya.


Kakak?" Tanyanya. Ia lalu memandang kesekelilingnya dan menyadari kalau ia sedang berada di kamar kakaknya dan telah tertidur di sana sejak semalam. Rey lalu mengangkat tubuhnya untuk memposisikannya menjadi duduk bersandar di kepala kasur. Ia merasa badannya pegal-pegal dan sakit semua. Ia berpikir kalau itu akibat dari aktivitas yang ia lakukan kemarin bersama Erika. Rey lalu tersenyum dengan sangat senang mengingat dan membayangkannya kembali adegan berbahagianya bersama Erika.


Kei melihat adiknya yang sedang tersenyum senang sendiri sambil melamun. Ia merasa bingung dan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Ken, ada apa denganmu? Sepertinya kamu terlihat senang sekali pagi ini." Tanya Kei penasaran. Saat bertanya, Kei ikut tersenyum pada adiknya karena ia juga turut merasa senang melihat senyum bahagia adiknya itu.


"Kakak, maaf maaf kemarin sepertinya aku sangat kelelahan hingga aku langsung tertidur lelap di atas ranjangmu. Apa aku telah mengganggumu?"


"Tidak sama sekali adikku. Kakak senang bisa memandangi wajahmu saat tertidur yang tampak lugu dan polos itu."


"Kakak, masih saja bisa-bisanya menggodaku sepagi ini."


"Siapa bilang ini masih pagi?"


"Ha ...? Memang sekarang jam berapa?"


"Jam 9."


"Apa?! Itu berarti aku sudah sangat terlambat untuk berangkat kerja." Rey merasa panik dan buru-buru bangun. Tetapi kepalanya terasa sedikit bergoyang.


"Eitts, pelan-pelan adikku. Jangan terburu-buru. Kalau kamu masih merasa lelah, tidak apa ijin saja tidak usah masuk. Mereka juga tidak akan mempermasalahkannya."


"Tidak Kak, aku merasa baik-baik saja. Aku juga sudah tidak merasa lelah dan itu berkat kasurmu yang nyaman dan terasa empuk."


"Kamu ini ... Ya sudah terserah kamu saja. Kakak tidak akan memaksa atau melarangmu." Rey lalu mengangguk.


"Tapi bagaimana dengan kakak? Berarti kakak juga terlambat dong."


"Itu tidak masalah bagiku -"


"Karena kakak adalah seorang Bos."


Kei tersenyum padanya sambil mengangguk mengiyakan. "Ya sudah aku mau mandi dulu."


"Baiklah, aku menunggumu untuk sarapan bersama."


Rey telah selesai mandi dan sudah siap dengan pakaian kerjanya. Lalu mereka sarapan bersama.


"Kamu kenapa sih? Daritadi senyum-senyum sendiri terus." Tanya Kei masih penasaran dengan sikap adiknya yang terlihat sangat senang sejak tadi pagi ia bangun. Kei menatap bingung tetapi juga ikut merasa senang karena bisa melihat wajah adiknya yang terlihat sangat ceria dan seperti memancarkan cahaya kebahagiaan dimatanya.


"Hari ini aku sedang merasa senang sekali. Kakak tahu, kemarin adalah hari yang paling terindah dan membahagiakan bagiku."


"Karena kamu memenangkan perlombaan itu sehingga kamu bisa melamar Erika?"


"Benar dan bukan itu saja." Rey merasa sangat bahagia karena dirinya dan Erika akhirnya telah menjadi satu dan saling berbahagia dengan penyatuan mereka yang penuh cinta yang mereka lakukan kemarin. Tetapi Rey tidak mungkin menceritakan hal tersebut pada kakaknya.


"Ohh iya Kak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan pada kakak kemarin malam. Namun aku ketiduran dan hampir saja melupakannya."


"Apa itu?" Tanya Kei.


"Orangtua Erika menanyakan padaku kapan aku akan melamar anaknya secara resmi. Lalu aku memberikan jawaban pada orangtua Erika kalau minggu depan kakak akan menemui mereka dan melamar Erika secara resmi untukku."


Kei langsung terdiam mendengar pernyataan adiknya itu. Berbagai perasaan berkecamuk dihatinya dari perasaan kecewanya hingga perasaan sedih dan gembiranya bercampur jadi satu.


Melihat ekspresi diam kakaknya itu, Rey menjadi merasa bersalah.


"Kakak, maaf aku telah berbuat lancnag dengan mendahuluimu dan tidak bertanya atau meminta ijin dulu darimu."


"Tidak Rey, aku tidak mempermasalahkan hal itu."


"Tetapi kakak kan satu-satunya anggota keluargaku jadi aku seharusnya meminta restu darimu dulu sebelum aku menjawab pertanyaan mereka dan menanyakan kesediaanmu yang adalah wali keluargaku untuk melamar Erika secara resmi."


"Tidak Ken, kamu tahu kan kalau restuku selalu bersamamu."


"Terima kasih, Kak. Lalu, apakah kakak bersedia untuk menemui orang tua Erika dan mengajukan lamaran secara resmi  pada mereka?" 


Kei menatap adiknya sejenak. Pikirannya kembali berkecamuk dengan rasa sedih, khawatir dan ketakutannya. Ia takut kelak adiknya akan merasakan kekecewaannya.


Rey menatap kakaknya sejenak. Ia merasa sedikit aneh dan tersinggung dengan pertanyaan itu.


"Sepertinya baru sebentar saja, belum sampai setahun kurasa ... Kakak, aku tahu hubungan kami baru berjalan dalam waktu yang sangat singkat, tidak seperti hubungan Erika denganmu yang sudah menjalin hubungan lebih lama dan selama bertahun-tahun. Tetapi walau begitu, aku dan Erika telah saling mencintai."


Kei kembali merasakan kepedihan dihatinya. Ternyata waktu yang dimiliki adiknya saat bersama wanita yang dicintainya sangatlah singkat dan juga ia hanya dapat merasakan kebahagiaannya itu sebentar saja. 


"Tidak, Ken. Bukan begitu maksudku. Kakak bersedia menjadi walimu dan menemui orangtua Erika untuk melamar putri mereka secara resmi untukmu."


"Terima kasih, Kak."


"Ohh iya Ken, besok lusa kita ke rumah sakit ya untuk melakukan pemeriksaan rutinmu."


"Ehm, bukannya masih minggu depan?"


"Iya, tapi tadi aku sudah menelepon ke pihak rs dan meminta mereka untuk mempercepat jadwalnya menjadi besok lusa saja."


"Ohh baiklah."


Rey lalu makan dengan terburu-buru karena dirinya sudah sangat terlambat. Setelah selesai, ia langsung beranjak untuk segera berangkat ke kantornya.


"Aku sudah selesai. Kakak, aku berangkat dulu ya."


"Iya Ken, berhati-hatilah di jalan."


"Iya, Kak."


Namun saat Rey baru sedikit melangkah keluar dari ruang makan, kepalanya tiba-tiba pusing dan tubuhnya langsung terasa lemas. Ia lalu berpegangan pada meja bar yang ada didekatnya. Kei yang sedang memandanginya langsung bangun berdiri dan menghampirinya.


"Ken ...." Kei langsung membantu adiknya dengan memegangi tubuhnya yang melemas.


"Kakak ... tiba-tiba kepalaku terasa pusing ..." jawab Rey sambil meringis.


Tiss


Hidung Rey mengeluarkan darah.


"Ken ...?"


"Aku ... " Belum sempat Rey menyelesaikan kata-katanya, dia langsung terjatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Kei langsung menyanggah tubuh Rey yang terkulai lemas dan akan terjatuh.


"Ken ... sadarlah Ken ..." Kei segera memapah tubuh adiknya menuju ke kamarnya dan bukan ke kamar adiknya. Setelah itu dia menghubungi Dokter Steve untuk datang memeriksakan kondisi adiknya.


Saat hari sudah hampir sore, akhirnya Rey tersadar. Ia lalu membuka matanya.


"Ken ..." panggil kakaknya dengan cemas.


"Kakak ..." Saat terbangun, Rey menyadari kalau dia sedang berada di dalam kamar kakaknya dengan selang infusan yang sudah terpasang ditangannya. Lama ia memandangi wajah kakaknya untuk mengobservasi apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya saat ini. Lalu dari cara kakaknya menatapnya, Rey akhirnya mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya.


"Aku ingin kembali ke kamarku." Rey mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun, tetapi tubuhnya masih terasa lemas dan tak bertenaga. Ia pun terbaring kembali dengan nafas sedikit terengah karena terasa lelah.


"Ken, jangan bangun dulu. Kamu masih harus beristirahat."


Rey langsung terdiam dengan pandangannya yang menerawang jauh ke depan.


"Jadi ini semua kakak siapkan untukku." Pernyataan Rey itu mengarah pada peralatan medis yang sebelumnya ia lihat di kamar kakaknya dan pernah ia tanyakan pada kakaknya.


"Ken ... maaf -"


"Aku lapar."


Ucap Rey langsung memotong ucapan kakaknya.


"Kamu mau makan apa? Kakak akan belikan."


"Aku mau bubur buatan ibu." Kei menjadi kebingungan dengan jawaban adiknya itu.


Tapi kakaknya menjawab,


"Ohh baiklah."


Kei berpikir untuk menelepon ibu Erika dan memintanya memasakkan semangkuk bubur untuk adiknya.


"Nak Kei, kamu mau kumasakkan bubur untuk siapa?"


"Adikku sedang sakit Tante, dan dia ingin makan bubur."


"Apakah adikmu Rey yang sedang sakit?"


"Iya."


"Mungkinkah itu karena kemarin dia kehujanan?"


"Mm ... dia kehujanan? Sepertinya begitu."


"Baiklah, Tante akan memasakkan bubur untuknya."


"Terima kasih Tante, asisten saya akan ke sana untuk mengambilnya."


Setelah bubur datang, Kei menawarkan untuk menyuapi adiknya. Adiknya mengiyakan dan tidak menolaknya. Ia lalu membantu untuk menaikkan badan adiknya ke sandaran kasur. Suasana yang terjadi saat itu sangat hening, dengan mereka berdua yang saling diam.


Rey memakan habis semua buburnya.


"Apakah enak?" Tanya Kei dengan tersenyum senang. Rey hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah tidak apa-apa, kakak berangkatlah ke kantor."


"Tidak Ken, kakak ingin menemanimu."


"Tetapi aku sedang ingin sendiri." Rey berucap dengan nada suara yang lembut dan pelan.


"Baiklah." Kei pergi keluar dari kamarnya. Namun ia tetap menemani adiknya di apartemennya dan melakukan pekerjaannya dari rumah.


***