
Setelah pertemuan pertama Rey dengan orangtua Erika, ternyata mereka jadi menyukai Rey. Terutama Ayah Erika, dia merasa luluh atas kegigihan Rey dan kemauannya yang keras ketika memperjuangkan keinginannya untuk mendapatkan maaf dan ijin dari mereka agar bisa bersama dengan Erika.
Selama ini, terhadap sosok Kei yang pernah menjadi kekasih Erika, mereka tidak bisa berinteraksi terlalu sering apalagi menjadi dekat dengannya. Karena sosok Kei yang adalah bos bagi Ayah Erika dan memiliki profil yang tinggi. Sehingga mereka hanya bisa untuk mengaguminya saja.
Berbeda dengan Rey. Bagi Ayah Rey yang pernah mengobrol dan berinteraksi dengan Rey, ia seperti merasa dan melihat sosok Rey sebagai anaknya. Apalagi selama ini Ayah Erika sangat menginginkan untuk bisa memiliki anak laki-laki. Ia ingin untuk bisa mengobrol dan berbincang-bincang lagi dengannya dan hanya berduaan saja. Sehingga Ayah Erika mendesak dan terus menanyakan pada Erika kapan untuk mengajak Rey lagi untuk bermain ke rumah Erika.
"Putriku, hari ini kamu tidak pergi berkencan lagi dengan Rey?"
"Tidak, Ayah. Dia tidak mengajakku pergi berkencan."
"Bagaimana dengan besok?"
"Tidak tahu, dia belum mengajakku. Ada apa Ayah? Apakah Ayah ingin melarangku pergi berkencan dengannya?"
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ... Ayah ingin kamu tidak pergi berkencan jauh-jauh dengannya, cukup berkencan di rumah kita saja."
"Ha ...? Mengapa ayah? Apakah Ayah masih tidak suka padanya dan keberatan jika aku pergi dengannya?"
"Pokoknya Ayah ingin kamu membawanya ke rumah kita untuk berkencan besok."
"Maksud Ayah apa sih? Aku tuh jadi bingung. Aku harus membawanya berkencan, apakah itu berarti aku harus mengajaknya berkencan? Ogah, aku gak mau. Aku kan cewek, masa aku yang ngajak kencan. Lagian malu-maluin kalau dia menolakku."
"Memangnya dia akan menolak ajakanmu?"
"Bisa saja, dia kan anaknya gitu. Suka cuek dan seenaknya dia saja."
"Masa? Tapi yang kulihat tidak seperti itu."
Erika jadi berpikir, kok dia malah ngejelekkin Rey di depan Ayahnya. Nanti kalau Ayahnya melarang mereka bersama lagi gimana? Tetapi yang anehnya, mengapa ayahnya malah sepertinya sedang membelanya?
"Ehm ... uhmm ... tidak sih Ayah, aku tadi salah ingat. Rey anaknya baik, pengertian, dan sangat perhatian." Padahal sebaliknya, Rey tidak pengertian apalagi perhatian. Erika merasa Rey sangat keras kepala dan harus diikuti serta dituruti semua kemauannya. Perhatian juga tidak, Rey tidak pernah menanyakan kabar atau apa yang sedang ia lakukan atau sudah makan apa belum. Bahkan mungkin Rey tidak tahu apa makanan kesukaannya.
Tetapi Erika tahu apa yang membuatnya menyukai dan bisa jatuh ke dalam pelukan pria itu. Karena kelembutan dan kehangatan hatinya. Pria itu juga telah beberapa kali menjadi penyelamatnya. Jadi walaupun Rey tidak memiliki beberapa kriteria cowok yang diidamkan banyak perempuan, tetapi Erika tetap menyukai dan menyayanginya.
"Ya sudah, kalau gitu jangan lupa ajak dia berkencan besok ini ke rumah kita."
"Ayah! Aku kan cewek, masa aku sih yang mengajaknya kencan?"
"Apa kamu mau Ayah saja yang mengajaknya?"
Lalu pada akhirnya, ayah Erika benar-benar berbicara pada Rey.
Erika lalu menelepon Rey.
"Halo?"
"Halo Rey, kamu lagi ngapain?"
"Aku sedang menikmati sarapanku bersama Kak Kei."
"Ohh, maaf aku mengganggu makan siangmu." Erika melirik ayahnya.
"Tidak, aku sudah mau selesai juga. Ada perlu apa kamu tiba-tiba meneleponku?"
"Ayahku mau berbicara denganmu."
Mendengar itu, Rey menjadi bingung dan memiliki tanda tanya besar di jidatnya. Kei yang sedang duduk makan bersamanya sampai menanyakannya dengan setengah berbisik, "Ada apa Rey? Siapa yang meneleponmu?"
"Erika. Dia bilang Ayahnya ingin berbicara denganku." Jawab Rey sambil menutup speaker ponselnya.
"Mengapa?" Tanya Kei lagi ikutan merasa bingung. Rey hanya mengangkat bahunya, tidak tahu.
"Rey?"
"Ya Erika ... baiklah"
"Halo, Rey. Ini Paman."
"Ha-halo, selamat pagi Paman." Jawab Rey cukup tegang.
"Begini, Paman ingin menanyakan apa hari ini kamu sibuk?"
"Tidak, Paman. Aku tidak ada kesibukan hari ini."
"Bagus, kalau begitu kamu datang ke rumah kita nanti siang."
"Ba-baik, Paman."
"Baiklah." Ayah Erika lalu mematikan teleponnya.
"Sini Ayah berikan padaku. Ayah sudah memutus panggilannya?"
"Iya."
"Astaga." Erika terkejut. Erika berpikir kemungkinan Rey akan salah paham dan mengira kalau Ayah Erika akan melakukan sesuatu padanya. Seperti memarahinya lagi atau melarang hubungan mereka berdua. Tetapi Erika juga malu untuk menjelaskannya padanya. Jadi ia membiarkannya saja dan berharap Rey tidak salah paham.
Sedangkan Rey, dia nampak bingung dan tegang. Dia juga bertanya-tanya ada perlu apa Ayah Erika sampai menyuruhnya datang ke rumahnya bahkan sampai dirinya sendiri pula yang langsung menyuruhnya. Apakah Ayah Erika berubah pikiran dan akan melarangnya lagi berhubungan dengan anaknya?
Kei melihat Rey yang nampak gelisah dan gusar setelah berbicara di telepon tersebut.
"Ken, ada masalah apa? Mengapa kamu terlihat gusar?"
"Apa itu tadi Ayah Erika?"
"I-iya ..."
"Jangan khawatir, aku yang akan berbicara padanya besok di kantor. Dia pasti mau mendengarkanku."
"Jangan Kak, kumohon jangan lakukan. Alu tidak mau hubunganku dengan Erika semakin sulit nantinya. Kakak percaya saja padaku, aku pasti bisa menghadapinya."
"Baiklah, tapi kalau kamu mengalami kesulitan bilang saja padaku. Aku pasti akan membantumu."
"Iya, terima kasih, Kak."
Akhir pekan pun tiba. Rey sudah sampao di rumah Erika. Erika menyambut kedatangannya dengan membukakannya pintu.
"Hai Rey."
"Erika, ada apa Ayahmu menyuruhku datang?"
"Entahlah, mungkin dia kangen denganmu."
"Aku serius Erika."
"Iya, aku juga serius."
"Ck ..." Rey berdecak.
"Erika, apa Rey sudah datang? Suruh dia masuk."
"Iya Ayah. Ayo, masuklah." Erika lalu tersenyum dibelakangnya. Ia merasa senang karena ayahnya bukan hanya menyetujui hubungan mereka, melainkan juga menyukai pria yang sangat dicintainya itu.
"Selama siang, Paman dan Tante." Saat mengucap salam, Rey merasa tegang. Bertemu dengan ayah angkatnya yang seorang mafia saja, dia tidak merasa setegang ini. Apalagi Rey masih ingat dengan tamparan keras yang Ayah Erika berikan padanya.
"Ayo, Nak Rek. Silahkan duduk dan jangan sungkan. Anggap saja seperti di rumah sendiri." Ucap Ibu Erika.
"Iya, Tante."
"Apa kamu sudah makan siang?"
"Sudah."
"Ibu, Rey itu seorang koki. Jadi soal makan jangan ditanya."
"Ohh ya kamu koki? Tapi badanmu terlalu kurus, kamu harus makan lebih banyak lagi."
"Dia cerewet dan pemilih makanan. Aku saja sampai pusing waktu harus mengurusnya." Rey memelototi Erika.
"Ohh iya Rey, mumpung kamu lagi di sini dan juga sedang ada orangtuaku, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepadamu." Mereka bertiga saling tatap kemudian menatap Erika berbarengan dengan penuh tanda tanya.
"Ya?" Tanya Rey.
"Aku sudah mendaftarkan dirimu untuk mengikuti lomba memasak yang akan diselenggarakan oleh kantorku."
"Baiklah, terima kasih Erika."
"Jangan lupa untuk menepati janjimu itu." Mendengar Erika menyebut tentang janji yang pernah Rey ucapkan pada Erika di depan kedua orangtuanya bahwa dia akan melamar Erika kalau dia berhasil memenangkan kompetisi memasak tersebut, Rey cukup kaget dan merasa tegang.
"Janji? Janji apa itu anakku?" Tanya Ibu Erika.
Erika tersenyum usil kepada Rey yang sudah nampak tegang. Kemudian dia memegang tangan Rey dan menggenggamnya. Lalu sambil menatapnya, Erika menjawab pertanyaan ibunya.
"Janji kalau Rey akan melamarku di depan banyak orang kalau dia berhasil memenangkan perlombaan itu." Ucap Erika sambil menatap Rey dengan tersipu malu dan tertawa senang. Melihat senyum Erika yang seperti itu, hati Rey meleleh dan ketegangannya mengendur. Ia pun membalas senyumnya kepada Erika.
Kedua orangtua Erika menatap kedua pasangan yang sedang ada dihadapan mereka yang sedang dimabuk asmara itu dengan ikut tersenyum dan merasa senang.
"Ehem ... ehem ..." Ayah Erika berdehem dan kemudian ia berkata, "Melamar putriku? Apakah kamu sudah mendapat ijin dariku untuk melamarnya?" Tanya Ayah Erika dengan nada suara yang agak meninggi.
"Ayah, jangan mulai lagi untuk menggoda mereka." Pukul ibunya pelan kepada ayah Erika. Ayah Erika pun tertawa dan begitu juga dengan mereka.
"Paman, jadi apakah Paman akan memberiku ijin untukku melamar Erika?" Tanya Rey meminta ijinnya.
"Tergantung apakah kamu bisa mengalahkanku bertanding dalam permainan catur." Ayah tahu anak muda jaman sekarang pasti sudah jarang yang bisa bermain catur sehingga ia sengaja menantang anak muda yang akan melamar putrinya itu untuk bermain catur. Padahal Rey sering diajarkan serta bermain catur bersama ayah angkatnya sambil berbincang-bincang santai.
"Ayo, kita ke ruanganku sekarang."
"Ayah, berapa lamakah kalian akan bertanding? Jangan lupa Rey datang ke sini untuk berkencan dan menghabiskan waktunya denganku."
"Siapa yang menelepon Rey untuk datang kemari? Kamu sih menolak saat Ayah suruh untuk mengajaknya kencan ke sini. Jadi saat ini dia hanya akan menghabiskan waktunya untuk melakukan banyak hal bersamaku. Ayo, Rey. "
"Aaa ... Ayah ..."
Ayah Erika pun memulai permainan caturnya bersama Rey sambil asik mengobrol berdua saja di ruangan kerjanya dan membicarakan banyak hal. Dari masalah hobi sampai merembet ke hal-hal kecil lainnya. Lama kelamaan mereka berdua makin bertambah akrab, seperti ayah dan anak. Apalagi ternyata Rey cukup mahir berstrategi dalam permainan caturnya dan sering sengaja kalah saat bertanding. Bisa dikatakan Rey hanya memenangkan pertandingannya sekali saja yaitu disaat pertama kali mereka mulai bermain karena itu adalah syarat yang diajukan oleh Ayah Erika jika Rey mau mendapatkan ijinnya untuk melamar putri kesayangan mereka.
Selain itu, Ayah Erika juga sangat mengenal Ayah Rey yang adalah bosnya sejak ia masih muda dulu. Sehingga Ayah Erika juga banyak berbagi hal tentang Ayah Rey yang membuat Rey memiliki banyak gambaran tentang ayahnya. Ia juga jadi mengetahui darimana sifat keras kepala dan hatinya yang lemah kalau soal masalah percintaan.
Ayah Erika berharap Erika bisa kembali bersama Kei sedangkan Rey menjadi anak angkatnya saja. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan keduanya.
Tak terasa hari sudah malam dan Rey masih bersama mereka untuk makan malam bersama. Setelah itu barulah Ayah Erika membebaskan Rey dan membiarkan mereka berdua bisa melakukan kencan bersama mereka di hari itu. Erika lalu mengajak Rey untuk duduk-duduk di taman rumahnya menikmati kencan mereka secara sederhana di sana.