Happiness For You

Happiness For You
55 Menangis bersama



Tiiit Tiiit Tiiit


Tepat disaat Erika merasakan sangat panik dan ketakutan, terdengar bunyi suara alarm. Ia lalu mencari sumber suara dan menemukannya. Suara alarm itu berasal dari hp milik Rey yang berada di atas meja yang ada di samping ranjang tidurnya. Erika membuka hp tersebut dan dilayar hpnya terdapat tulisan "Hubungi anak buahku." Ternyata Rey telah membuat sebuah agenda di kalender hp nya dan mengaktifkan alarmnya sehingga alarm tersebut akan berbunyi sesuai pengaturan waktunya dan juga menampilkan sebuah pesan yang tertulis di agenda tersebut. Erika buru-buru menggunakan hp tersebut untuk menelepon Ryota, anak buah Rey.


Kedua anak buah Rey, yang bernama Ryota dan Sato telah sampai di depan rumah Rey. Erika segera membukakan pintu rumahnya untuk mereka agar mereka bisa masuk ke dalam. Ternyata Rey juga sudah mengatur agar Erika bisa membuka pintu rumahnya menggunakan sidik jarinya. Erika lalu menceritakan secara garis besar apa yang barusan terjadi pada dirinya dan Rey.


"Berikan ciri-ciri pria yang bertengkar dengan Bos itu." Pinta Ryo pada Erika setelah dia selesai menceritakan kronologinya.


"Dia berbadan tambun dan agak berisi. Penampilannya urakan dengan tangan penuh bertato. Wajahnya sering menunjukkan seringaian yang menyeramkan dan memamerkan giginya yang bernoda rokok dan berwarna kecoklatan."


"Kabuto-san!" Mereka berdua berteriak hampir serempak.


"Kalian mengenalnya?" tanya Erika keheranan karena mereka berdua bisa menebaknya secara kompak.


"Tentu saja! Dasar brengsek orang itu! Dia senior kami yang selalu mencari masalah dan memusuhi Bos. Aku yakin dia juga yang waktu itu menculikmu." jawab Ryo penuh kekesalannya.


"Benarkah? Jadi dia pelakunya? Dia benar-benar brengsek!!" Sato bertanya dengan terkejut dan mengumpat seniornya itu merasa marah. Ia sampai mencengkram tangannya kuat-kuat seolah dia ingin membalas perbuatan seniornya itu. "Lalu mengapa selama ini bos diam saja dan tidak membalas perbuatannya itu?" tanya Sato lagi dengan geram.


"Entahlah. Kamu tahu, kan bagaimana karakter Bos kita itu. Dia saja tidak pernah membahas atau menceritakannya pada kita, kan."


"Huh Bos! Mengapa hatimu bagaikan malaikat." gerutu Sato greget dengan sikap bosnya itu.


Erika yang daritadi menyimak percakapan mereka berdua tampak kebingungan seperti orang linglung. Dia paham apa yang mereka bicarakan tetapi dia jadi merasa benar-benar tidak tahu dan tidak begitu mengenal sosok Rey. Memang dia tahu dan bisa merasakan kalau Rey memang memiliki hati yang baik. Tetapi dia tidak tahu kalau didunia nya yang penuh kekejaman dan kesadisan serta pembalasan dendam di sana sini, Rey juga bersikap seperti itu? Bahkan kepada musuhnya sendiri, ia tidak membalaskan perbuatan jahat mereka.


Lalu Erika berpikir, bagaimana dengan Kei Takahiro, kakak kandungnya? Mengapa Rey bersikap jahat dan selalu memusuhinya? Erika dapat melihatnya bahwa Rey sangat membenci kakaknya, itu jugalah yang membuatnya tidak pernah mengakui kakaknya itu dan juga tidak mau menceritakan apapun padanya tentang kakaknya dan alasannya berbohong. Adakah alasan lainnya yang lebih masuk akal yang bisa diterimanya selain apa yang ia pikirkan itu?


Ada. Memang Rey pada awalnya sangat membenci keluarga ayahnya. Namun karena keluarga ayahnya yang tersisa hanya kakaknya, jadi dia pun melampiaskan kebenciannya itu kepada kakaknya. Kebencian serta dendamnya itu juga untuk membuatnya kuat dan dapat bertahan untuk melanjutkan kehidupannya ini setelah kepergian ibunya. Namun sesungguhnya ia juga tidak pernah melakukan hal buruk pada Kei untuk membalaskan dendamnya itu, hanya merebut Erika darinya saja perbuatan buruk yang ia lakukan dengan maksud membalaskan dendamnya tersebut. Setelah Rey mengetahui kalau penyakit yang pernah dideritanya kambuh lagi, dia tidak lagi membenci kakaknya atau berusaha membalaskan dendamnya. Ia memang masih bersikap memusuhi dan menjauhi kakaknya tetapi itu karena ia tidak mau membuat kakaknya menderita berada didekatnya dan menyembuhkan penyakitnya itu.


" ... Erika ... Nona Erika ..." Saat Erika tersadar dari lamunannya, ia mendengar kalau Ryo daritadi memanggil-manggil namanya.


"Ehmm ya ....?" tanya Erika seperti kebingungan karena ia tidak tahu mengapa Ryo memanggil namanya dan Sato juga seperti memandanginya dengan penuh tanda tanya.


"Tadi aku bertanya, apakah kamu tahu dimana tempat kamu dibawa tadi saat mereka menculikmu?"


"Ohh itu, maaf tadi pikiranku sedang berkelana jadi tak mendengarnya. Ehem ... aku tidak begitu tahu itu di mana, tetapi tempat itu terlihat seperti sebuah gudang dengan ukuran yang sangat luas dan hanya berisi kotak-kotak kosong. Sepertinya gudang itu sudah sejak lama tak dipakai lagi karena gudang itu nampak kotor dan berdebu." jawab Erika sedikit merasa tak enak hati karena tadi sempat melamun dan tidak meladeni mereka.


Ryo dan Sato berpikir keras ketika mendengar jawaban Erika yang mendeskripsikan gudang tempatnya disekap. Karena informasi yang Erika berikan terlalu umum dan tidak begitu detail. Gudang berukuran luas dan kosong. Sepertinya banyak di kota ini gudang yang memiliki ciri-ciri seperti itu.


"Apa kamu tidak bisa menggambarkan keadaan yang lebih spesifik lagi? Seperti baunya, suasananya dan apa yang ada disekitar itu." Erika menggeleng dengan lesu. Karena dia bukanlah orang yang terlalu detail ketika melihat atau memperhatikan sesuatu. Lagipula dia hanya sempat sadar sesaat dan setelahnya Rey kembali membuatnya pingsan. Saat sadar pun dirinya hanya sibuk dan fokus pada Rey saja.


Sekarang kedua bahu Erika mulai terasa sakit. Itu pasti karena ulah kedua pria yang memukul pundaknya tadi untuk membuatnya pingsan. Yang satu memukulnya dari belakang dan satunya lagi dari arah depan. Tanpa sadar Erika memijat-mijat kedua bahunya yang terasa nyeri dan mengenyut.


"Ada apa?" tanya Ryo yang melihatnya memijat-mijat bahunya sambil sesekali mengernyit kesakitan.


"Tidak ... hanya tadi bekas kena pukul si penculik dan bos kalian agar membuatku pingsan."


"Bos? Dia mengapa juga memukulmu sampai pingsan?"


"Kan tadi aku sudah menceritakannya. Aku juga tidak tahu mengapa ia tiba-tiba memukulku hingga pingsan."


Ryo dan sato saling bertatapan. Wajah mereka tampak sangat khawatir dan mencemaskan keadaan bos mereka itu. Pasti telah terjadi sesuatu pada bosnya disaat itu yang tidak mau dilihat oleh Erika. Jangan-jangan mereka telah mengkeroyok habis-habisan bos mereka yang sedang sendirian itu. Mereka berdua langsung menangis dan bercucuran airmata.


"Bos mengapa nasibmu sungguh menyedihkan. Bahkan sedang sekarat saja kamu masih harus berhadapan dengan situasi sulit seperti ini ...." Sato tidak sadar kalau ia sedang keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia katakan.


"Se-sekarat ...?!! Apa maksudmu dengan sedang sekarat?" Erika berteriak kaget dan langsung bertanya dengan panik.


Membuat Ryo mendesis kearahnya.


"Sshhh ...."


Sato yang nampak bingung menggarukkan kepalanya dan melirik kearah mereka berdua bergantian. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


Ryo pun terpaksa menceritakan kondisi Rey pada Erika.


"Tidak ... itu tidak mungkin ... Aku yakin kalau dia baik-baik saja dan dia dalam keadaan sehat. Kalian tahu, dia bahkan sangat amat sehat dan bersemangat beberapa hari lalu hingga dia masih bisa berselingkuh dariku. Dan sebenarnya saat ini hubungan kita sedang diambang kehancuran, aku dan dia sebenarnya telah berpisah." Erika langsung menolak menerima kenyataan bahwa Rey sedang sakit parah dan sekarat. "Lebih baik itu benar bahwa dia berselingkuh dariku dan sudah tidak mencintaiku lagi. Daripada aku harus melihatnya yang sudah


... sudah ..." Tangisan Erika membuat suaranya tercekat dan ia juga tak mampu untuk mengucapkan kata itu.


Lalu mereka bertiga pun menangis bersama-sama untuk melampiaskan kesedihan mereka itu. Mereka menangis dengan tersedu-sedu dan sesenggukan. Suara tangis mereka pun terdengar memilukan.


"Rey ... sungguh maafkan aku ... aku bahkan pernah berbuat kasar padamu sewaktu kamu sedang sakit dengan mengataimu ... maaf Rey ... hik ... hikk" Erika menangis hingga sesenggukan. Ia teringat akan perkataannya yang mengatakan bahwa yang sakit adalah jiwanya Rey dan bukan fisiknya.


"Apa-kah ... ia ... ia akann ...." tanya Erika terputus-putus karena tangisannya dan tak kuasa mengutarakannya.


Ryo menggeleng tidak tahu.


"Tetapi aku yakin Bos pasti bisa. Dia pasti sembuhh karena Bos adalah orang yang tangguh ..." Lalu Ryo mengelap matanya yang basah dan


mengatakan sesuatu pada Erika. "Bos kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Bermain wanita dan selingkuh. Itu tidak akan pernah terjadi. Kamu tahu, selama hidupnya bos hanya pernah memiliki tiga wanita dihatinya."


"Tiga?" tanya Erika cukup terkejut dan tangisnya pun seketika mereda. "Itu cukup banyak. Siapa saja mereka?" tanyanya.


"Kamu, ibunya dan .." Ryo tidak melanjutkannya.


"Dan..?"


"Putri dari Bos besar kami, namanya Alice."


"Alice?" Erika ingat dengannya. Alice pernah datang ke sini dan berbuat kasar padanya.


"Tapi Bos besar melarang hubungan mereka. Jadi Bos telah melupakannya." Erika baru tahu ternyata mereka pernah berhubungan dan Rey benar-benar memiliki rasa dengannya.


"Ryo, apakah kita bisa menghubunginya dan meminta bantuan dati mereka? Dari Alice dan ayahnya ...."


"Hemm, kamu benar. Kita bisa meminta bantuan mereka." Ryo segera mengeluarkan hpnya untuk menghubungi Alice dan meminta bantuannya serta ayahnya.


"Aku harus menolongnya dan bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya ... dan aku juga ingin mendampingi dirinya berobat hingga sembuh. Aku tak mau ia pergi ... sebelum ia ...," ucapan Erika kembali terputus-putus. "memaafkanku ..." lanjutnya dengan airmata yang berlinang deras dan suara yang tercekat karena sesenggukan. "Aku masih ingin bisa ... bersamanya ... sebelum ia ...." Kali ini Erika menghentikan ucapannya.


"Nona Erika, bersabarlah. Dia pasti bisa melewatinya." ucap Ryo sambil mengangguk dengan yakin dan pasti.


***