
Saat ini Rey telah selesai menjalani serangkaian pemeriksaan yang menyeluruh pada tubuhnya di rumah sakit. Namun mereka harus menunggu selama beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya.
"Kakak, apakah aku masih boleh untuk bekerja di restoran?" Tanya Rey.
Kei memberinya sebuah anggukan sebagai jawaban iya.
"Aku tahu adikku ini pasti akan mengambek dan marah pada kakaknya jika dilarang untuk bekerja di restoran." Jawab Kei sambil menepuk kepala adiknya dengan pelan dan lembut.
"Hehe ... kakak tahu saja bagaimana sifat adiknya." Rey tersenyum dengan ceria. Kei juga ikut tersenyum padanya.
"Tapi Ken, kamu harus janji ya, untuk menjaga dirimu sendiri dengan baik. Jangan melakukan pekerjaan yang berat dan jangan terlalu lelah."
"Iya, kak. Jangan khawatir, aku tahu cara menjaga diriku sendiri. Jika aku sudah merasa lelah atau tidak enak, aku akan berhenti dan tidak akan memaksa untuk bekerja lagi."
"Kakak akan memberitahu Paman Hadi tentang kondisimu."
"Jangan! Kak, kumohon jangan beritahu pada siapapun kondisiku. Aku ...," raut wajah Rey kembali bersedih.
"Ken, untuk itu kakak tidak bisa menurutimu. Kakak harus memiliki seseorang yang bisa membantumu dan menjagamu selama kamu bekerja di restoran." Rey mulai menangis. "Ken, kakak tahu kamu hanya takut jika Erika mengetahuinya, kan." Rey mengangguk. "Kamu tenang saja, kakak akan tetap diam dan tidak memberitahunya." Rey mengangguk lagi.
"Baiklah, sekarang kakak akan memberikan Tanaka untuk menjadi pendampingmu. Mulai sekarang, Tanaka yang akan mengantar dan menemanimu kemana pun kamu pergi."
"Tapi bagaimana dengan kakak?"
"Tenang, ada banyak orang yang bisa menggantikan Tanaka. Lagipula aku sudah bosan padanya." Rey pun tertawa.
"Tanaka, kamu dengar kan yang aku katakan. Mulai sekarang bosmu adalah Tuan Reyhan Wiriawan."
"Baik Tuan Kei dan Tuan Reyhan."
"Jadi, sekarang siapa bosmu yang paling the best?" Rey mulai iseng dan dia juga bermaksud untuk membalasnya yang waktu itu.
"Ehm uhm itu ...." Tanaka jadi kebingungan untuk menjawabnya.
"Hahaha ... " Rey pun menertawakannya. "Tenang saja Tanaka, jangan terlalu serius dan tegang padaku karena aku bukanlah Tuan Kei mu yang bossy, serius dan selalu membosankan." Rey juga bermaksud untuk menggoda kakaknya.
"Hmm ... Tanaka sepertinya kamu harus mempersiapkan mentalmu untuk menghadapi bos barumu yang bandel dan usil ini."
"Iya Tuan."
"Hahaha ... " mereka berdua lalu tertawa menertawakan Tanaka yang begitu kaku dan masih saja nampak tegang.
"Baiklah, kakak pergi dulu."
"Kakak mau pergi naik apa?"
"Taksi."
"Jangan, kak. Kita antarkan kakak dulu."
"Baiklah."
***
Rey sudah tiba di restoran saat hari sudah cukup siang. Namun mereka tidak ada yang berani menegurnya. Mereka hanya dalam diam memperhatikan dan mengamatinya.
"Rey ... " panggil Paman Hadi.
"Iya, Paman."
"Ikutlah aku ke ruanganku."
"Rey, Paman sudah mendengarnya dari kakakmu."
"Paman ..."
"Rey, Paman tidak tahu harus berkata apa. Paman merasa ... " Mata Paman Hadi memerah dan wajahnya terlihat sedih.
"Paman, jangan bersedih. Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menghadapi dan menjalani kehidupanku seperti ini."
"Nak, kamu masih muda dan kamu mempunyai masa depan yang cerah yang bisa kamu raih dan sedang menantimu."
"Paman, tolong kita jangan membahas ini lagi. Atau aku akan merasa ... " Suara Rey terdengar bergetar karena tangisnya yang tertahan.
"Maafkan Paman Rey, Paman tidak bermaksud membuatmu juga merasa sedih. Baiklah, kita tidak usah membahasnya lagi. Mulai sekarang, Paman akan menjaga dan memperhatikanmu. Kamu jangan terlalu memaksakan dirimu dalam bekerja dan jika sudah lelah beristirahat saja."
"Iya Paman."
Selama beberapa hari ini Rey masih dapat bekerja seperti biasa. Tetapi tubuhnya jadi lebih mudah merasa lelah dan ketika ia sudah mulai merasa lelah, dia akan segera berhenti untuk istirahat sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sekarang posisi Rey adalah sebagai pendamping Paman Hadi. Sehingga ia dibebas tugaskan dari pekerjaannya memasak makanan berat yang perlu dipanggang atau digoreng dan hanya menyiapkan makanan ringan seperti sup dan salad saja. Atau melakukan pekerjaan ringan lainnya seperti plating atau menyajikan makanan dipiring, menyiapkan bumbu dan mengecek kualitas bahan-bahan makanan. Selain itu, selama bekerja ia harus selalu menggunakan masker penutup hidung untuk melindunginya menghirup uap masakan yang tidak baik bagi kesehatannya.
Pada hari Minggu di akhir pekan ini Rey akan melamar Erika secara resmi. Walaupun Rey telah mengetahui kondisi tubuhnya, tetapi dia tetap melanjutkan lamaran tersebut karena dia tidak mungkin membatalkannya begitu saja apalagi dengan hal yang telah dia perbuat pada Erika. Walau bagaimanapun saat ini dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dan dia juga tidak mau menyakiti hati Erika lagi dengan tiba-tiba membatalkan lamarannya.
Beberapa hari lalu Erika sempat menelepon Rey dan memintanya menemani membeli gaun untuk menghadiri acara lamaran yang akan di adakan di hari Sabtu. Rey berpikir untuk mengajak kakaknya ikut serta sekaligus ingin menggunakan kesempatan ini bagi kakaknya dan Erika agar mereka bisa menjadi lebih dekat.
"Kak, besok temani aku pergi membeli hadiah untuk melamar Erika ya. Lalu setelah itu kita juga akan menemani Erika mencari gaun untuk pergi ke acara lamaran." Ajak Rey pada kakaknya setelah mereka selesai makan malam di apartemen.
"Baiklah aku akan menemanimu. Tapi setelah itu aku pulang duluan dan tidak menemani kalian mencari gaun karena aku tidak mau menjadi pengganggu bagi kalian."
"Tidak, kakak bukan pengganggu kami. Ayolah, turuti permintaan adikmu yang sedang sekarat ini."
"Ken ... jangan bercanda seperti itu. Itu tidak lucu!" Kei langsung menghardik adiknya.
"Ma-maaf Kak, aku ... aku hanya ... aku tidak bermaksud ..." Rey menjadi gelagapan karena tidak menyangka reaksi kakaknya akan menjadi berlebihan seperti itu.
"Maafkan aku." Kei lalu pergi meninggalkannya.
Rey menyusulnya. Namun tiba-tiba ia berhenti karena kepalanya terasa pusing.
"Kakak ... " panggilnya dengan suara lemah.
Ken mendengar adiknya yang memanggilnya dengan suara lemah. Ia pun berbalik menghampirinya.
"Ken ... kamu kenapa?"
Rey hanya menggeleng.
"Aku hanya merasa sedikit pusing."
"Ayo kita ke kamarmu dulu." Kei menuntun adiknya berjalan menuju kamarnya.
"Kakak, maafkan aku." Ucap Rey lagi saat dia sudah berbaring tiduran di atas kasurnya. "Aku tidak bermaksud membuatmu marah karena ucapanku tadi."
Kei menggeleng.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu lagi. Percayalah kamu pasti bisa sembuh. Kamu sudah pernah 2 kali menghadapi situasi ini dan selalu berhasil melewatinya. Kakak yakin kali ini kamu juga pasti bisa melewatinya. Kakak juga akan mengusahakan pengobatan apapun yang terbaik untukmu. Jadi kamu harus semangat dan jangan menyerah."
Rey memberinya sebuah anggukan walaupun dalam hatinya ia tahu kondisinya saat ini dan merasa berat untuk menjalani pengobatan yang ia tahu bahwa itu akan sangat menyakitkan baginya dan akan semakin memperparah kondisinya serta membuat kualitas hidupnya menjadi lebih buruk. Tetapi Rey tidak mau mengecewakan kakaknya.
"Iya, Kak. Aku akan menurutimu dan mau untuk ikut menjalankan pengobatan apapun."
"Baiklah, kalau begitu besok kita akan ke rumah sakit untuk memulai pengobatanmu."
"Jangan dulu, aku belum siap. Lagipula aku masih harus melakukan acara lamaran dengan Erika bukan."
"Baiklah kita akan menundanya sampai minggu depan. Sekarang kamu beristirahatlah. Jangan memikirkan masalah apapun lagi."
***
Siang ini Rey dan kakaknya pergi berdua membeli hadiah untuk Erika. Rey membelikan satu set perhiasan yang terbuat dari berlian namun yang berukuran sederhana saja dan tidak terlalu mahal walaupun sang kakak memaksanya untuk membelikan yang lebih besar dan mahal serta bersedia membayarkannya.
"Ken, belikan berlian yang ini saja. Ini lebih besar dan lebih bagus. Jangan khawatir, kakak yang akan membayarkannya."
"Tidak, Kak. Aku lebih suka yang ini karena lebih sederhana dan bagiku lebih pas untuk Erika. Terima kasih Kak atas tawarannya, tetapi aku tidak mau kakak yang membayarnya karena aku ingin menggunakan uangku sendiri untuk membelikan hadiah bagi Erika."
"Baiklah."
Setelah pergi membeli hadiah, mereka masih harus menemani Erika mencari gaun. Namun Rey merasa tubuhnya agak lelah dan wajahnya juga sudah memucat.
"Ken, kamu mengapa?"
"Tidak, Kak." Jawabnya bohong.
"Wajahmu memucat. Apakah kamu merasa lelah?"
"Mungkin sebaiknya kita pulang saja dan meminta Erika untuk -"
"Tidak, Kak. Bagaimana kalau kakak saja yang menemani Erika? Aku tidak apa-apa. Aku akan menunggumu di mobil saja bersama Tanaka."
"Tapi ...."
"Bilang saja pada Erika kalau aku tiba-tiba merasa tak enak badan."
Akhirnya Kei hanya berdua saja pergi dengan Erika untuk menemaninya memilih gaun. Sesekali Erika akan melakukan video call dengan Rey untuk menanyakan pendapatnya tentang gaun yang sedang dicobanya.
Erika dan Kei saling merasa canggung dengan kebersamaan mereka yang hanya berduaan saja. Apalagi mereka memiliki kisah masa lalu.
"Kamu cantik ..." ucap Kei tanpa sadar saat Erika sedang mencoba sebuah gaun.
"Te-terima kasih, Kak Kei." Jawab Erika dengan canggung dan tersipu malu.
Kei juga langsung merasa canggung. Ia lalu mengalihkan rasa canggungnya itu dengan mengeluarkan ponselnya dan memfoto Erika lalu mengirimkan foto itu pada adiknya.
"Kakak, gaun itu sangat cantik untuk Erika. Beli yang itu saja." Kata Rey dari sambungan telepon.
Akhirnya mereka membeli gaun itu dan pulang.
Hari Minggu malamnya, acara lamaran tersebut berlangsung di restoran The Hiro Cafe yang juga merupakan restoran tempat Rey bekerja. Mereka mengambil tempat di ruangan yang tertutup untuk melakukan acaranya sekaligus untuk makan malam bersama keluarga Erika.
Saat ini kedua keluarga telah saling berkumpul di dalam ruangan tersebut. Kei yang sebagai wali Rey memulai untuk membuka acara lamaran tersebut.
Kemudian Rey memberikan hadiah yang telah dibeli untuk Erika. Erika membukanya dan terlihat sangat senang. Rey lalu mengambil salah satu isi set perhiasan tersebut yang berupa kalung dan mengalungkannya pada leher Erika. Setelahnya mereka berdua saling tertawa dengan bahagia.
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Selesai makan malam, mereka kembali melanjutkan acara lamaran dengan berbincang-bincang dan mendiskusikan rencana mereka yang selanjutnya.
"Bagaimana kalau setelah ini kita segera mengadakan pesta pertunangan untuk mereka?" Ucap Ayah Erika pada Kei.
Mendengar pertanyaan itu, Kei langsung menatap ke arah adiknya yang duduk disebelahnya untuk mengetahui apa tanggapannya. Tetapi saat ini keadaan Rey sedang tidak baik. Sudah sejak beberapa menit yang lalu ia merasa ada yang tidak nyaman dengan tubuhnya. Namun ia berusaha menahannya. Ia lalu tersenyum tipis pada kakaknya. Kakaknya menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan adiknya.
"Ken ...," panggil Kei sambil menyentuh tangannya dan terlihat mencemaskannya. Rey menggeleng pelan. Lalu ia bangun berdiri dari bangkunya.
"Aku permisi sebentar." Rey buru-buru pergi keluar dari ruangan untuk pergi menuju toilet. Di luar ruangan, Rey bersandar sebentar pada tembok diluar ruangan. Tanaka yang sedang berjaga di depan pintu segera menghampirinya.
"Tuan Rey ..." panggilnya dengan cemas.
"Tanaka, bantu aku." Ucap Rey dengan lemah dan terlihat kesakitan. Tanaka lalu memapah Rey untuk berjalan menuju toilet. Rey merasa ada cairan yang hendak menetes keluar dari hidungnya dan ia segera menutup hidungnya menggunakan telapak tangannya.
Kei yang masih berada di dalam ruangan, merasa khawatir akan keadaan adiknya. Setelah beberapa detik berlalu, Kei semakin tidak dapat fokus untuk melanjutkan pembicaraannya dengan mereka. Ia pun bergegas keluar menyusul adiknya.
"Tuan Rey, anda baik-baik saja?" Tanya Tanaka pada Rey saat mereka sudah masuk ke area toilet.
Rey menggeleng.
"Tanaka, tisu ..."
"Tuan Rey, anda mimisan." Ia buru-buru mengambilkan tisu untuk Rey dan membantu mengelap darahnya yang masih menetes.
Tak lama kemudian, Kei juga sudah berada di dalam toilet.
"Ken ...." teriaknya histeris mendapati hidung adiknya yang terus meneteskan darah merah segar dan wajahnya yang juga sudah memucat. Kei langsung mengambil tubuh Rey dari Tanaka dan memeluknya dalam pangkuannya.
"Tanaka, ambilkan botol air minum mineral."
"Ken, bertahanlah." Lalu Kei membantu Rey untuk membersihkan noda darah yang keluar dari hidungnya.
Tak lama kemudian Tanaka kembali dengan membawa sebotol minuman dan memberinya pada Kei. Kei lalu memberikan beberapa butir pil obat yang telah ia siapkan pada Rey dan Rey memasukkannya ke dalam mulutnya dan meminum airnya.
"Tanaka, kamu berjaga lah di depan pintu. Jangan biarkan siapa pun untuk masuk."
"Baik Tuan."
"Kakak ..." panggil Rey dengan suara yang lemah. "Erika ..."
"Tidak apa, Ken. Yang terpenting adalah kondisimu."
"Tidak, Kak. Jangan terlalu lama meninggalkan mereka. Aku baik-baik saja."
"Tapi"
"Kakak bisa meminta Tanaka untuk menjagaku. Aku tidak mau mereka ..." Rey terlihat seperti ingin menangis.
Kei mengusap lembut wajah adiknya dan berkata,
"Baiklah, tapi biarkan aku menemanimu sebentar lagi." Rey pun mengiyakan.
"Apa kamu mengantuk?" Tanya Kei saat melihat Rey memejamkan matanya.
Rey menggeleng lemah.
"Aku hanya perlu memejamkan mataku sebentar saja." Ucapnya dengan nafas yang agak terengah.
"Ken, kalau kamu sudah tidak kuat, sebaiknya kita menyudahi acara ini dan segera pergi ke rumah sakit saja."
"Tidak. Jangan ...." ucap Rey yang langsung terlihat panik dan gusar.
Kei mengusap kepala Rey pelan untuk menenangkannya.
"Baiklah, kakak mengerti."
Erika dan kedua orangtuanya tampak bingung dan gelisah karena sudah cukup lama ditinggal pergi oleh mereka berdua. Untung saja tak lama kemudian Kei kembali berjalan masuk ke dalam ruangan. Erika pun langsung menanyakannya.
"Kak Kei, mana Rey? Mengapa dia tidak ikut bersamamu kembali ke sini?"
"Dia ... dia sedang ada sedikit masalah dengan pencernaannya. Sebentar lagi dia juga akan balik kesini." Jawab Kei berbohong.
"Ohh tapi nak Rey baik-baik sajakah?" Tanya Ayah Erika ikut merasa cemas.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke dokter saja sekarang?" Ucap Ibu Erika menimpali.
"Tidak, itu tidak perlu. Jangan mengkhawatirkannya, dia hanya ada salah makan saja tadi. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita tadi."
Setelah waktu berselang beberapa menit kemudian, keadaan Rey sudah agak membaik walaupun wajahnya masih pucat. Ia lalu berjalan kembali ke ruangan.
"Rey, kamu pucat sekali. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Erika terlihat khawatir dan mencemaskannya.
Dengan lemah, Rey tersenyum padanya.
"Aku baik-baik saja. Maaf membuat kalian khawatir." Jawab Rey dengan suara yang pelan dan lemah.
"Nak Rey, tidak apa kalau kamu masih merasa tidak enak. Kami juga sudah selesai membahas dengan kakakmu tentang rencana pesta pertunangan kalian." ucap Ayah Rey.
Rey terkejut mendengar akan hal itu. Sebuah pesta pertunangan. Akankah dirinya sanggup bertahan hingga saat itu?
Kei menangkap dan melihat kegelisahan adiknya.
"Paman, Tante dan Erika, saya rasa lebih baik kita menyudahi acara ini sampai disini saja. Nanti biar aku yang mengurus semuanya. Kalian tenang saja."
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Nak Rey juga sepertinya sudah terlihat lelah dan harus segera beristirahat." Jawab Ayah Erika.
Sebelum pulang, Erika tampak mengkhawatirkannya hingga merasa enggan untuk berpisah darinya.
"Sayang, kamu istirahat yang baik ya jadi bisa segera sembuh."
"Iya sayang, kamu juga istirahat yang baik. Jangan terlalu mencemaskanku." Erika lalu mengecup kening Rey dan berlanjut pergi menyusul orangtuanya yang sudah menunggunya di depan.
Setelah Erika pergi keluar dari ruangan, Rey langsung terkulai lemah dan pingsan.
Kei segera memanggil Tanaka dan memerintahkannya untuk meminjam kursi roda dari pihak restoran agar bisa membawa pergi adiknya yang sedang pingsan.
***