
Sesungguhnya, kakaknya itu merasa kecewa dan sedih dengan sikap adiknya yang lebih memilih untuk melakukan audisi demi mendapatkan pekerjaan sebagai chef di restoran yang ada di hotel miliknya sendiri. Padahal adiknya itu tidak perlu bersusah payah seperti itu sampai harus mengikuti audisi seperti ini untuk mendapat pekerjaan sebagai seorang chef yang bekerja di bagian dapur. Karena kakaknya itu tentunya sangat bisa memberikannya pekerjaan bahkan dengan posisi yang lebih tinggi dari yang ia incar dengan mengikuti audisi ini jika saja ia mau mengatakannya dan meminta padanya.
Selain itu juga, Kei merasa takut dan cemas terhadap apa yang adiknya perbuat. Apalagi mengingat kondisi tubuhnya yang selama ini lemah dan mudah sakit dan juga kesehatan tubuhnya yang baru sembuh dari penyakit yang dideritanya. Jika sampai ia diterima dan bekerja di bagian dapur sebagai seorang chef junior, maka itu bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan melainkan cukup berat dan melelahkan.
Akan tetapi Rey tidak mengetahui apa yang kakaknya pikirkan dan rasakan itu. Ia hanya ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang chef profesional di salah satu restoran pada hotel bintang lima dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri secara perlahan dan bertahap. Sehingga ia tidak berniat dan juga tidak bersedia jika ia harus mengandalkan kekuatan yang dimiliki oleh kakaknya untuk memperoleh mimpinya itu. Sepertinya diantara mereka telah saling terjadi kesalahpahaman akan hal tersebut.
"Pak Bambang, berapa lama kah audisi akan berlangsung?" Tanya Kei setelah bapak kepala chef selesai memberikan beberapa arahan dan intruksi kepada para peserta audisi. Mendengar pertanyaan Kei kepada Pak Bambang tersebut, barulah Rey dapat kembali dari lamunannya dan dapat kembali fokus mengikuti audisi yang sedang berlangsung saat ini.
"Sekitar satu jam Tuan." jawab Pak Bambang.
"Baiklah, saya akan duduk diam di sini untuk menonton dan mengikuti berlangsungnya audisi hingga selesai karena saya juga ingin ikut menjadi juri dan memberikan penilaian kepada para peserta."
Mendengar itu, semua orang yang ada di ruangan itu langsung heboh seketika dan mulai berbisik-bisik dengan satu sama lainnya. Dengan para peserta yang nampak tegang karena keterkejutan yang mereka alami dan menjadi takut.
"Melihat tatapannya yang dingin dan tajam, sungguh membuatku takut. Aku pasti akan merasa tegang selama memasak dan pasti hasil masakanku akan menjadi kacau." Ceplos salah seorang peserta dengan suara pelan seperti berbisik pada teman yang ada didekatnya. Kebetulan Rey juga berada di sebelahnya jadi ia bisa mendengarnya.
"Iya, aku juga merasa tegang. Bagaimana ini? Apakah kita bisa memasak dengan baik kalau diperhatikan oleh sang pemilik hotel itu?"
"Sebaiknya kita berpasrah saja dan berusaha sebaik mungkin. Kita harus fokus pada diri kita dan masakan kita, anggap saja dia tidak ada di sini."
"Mana bisa, apalagi dia juga akan ikut menjadi juri. Pasti dia memiliki selera yang tinggi dan standar penilaian yang cukup tinggi juga. Mengapa dia harus datang ke sini pada saat giliranku mengikuti audisi. Padahal kudengar selama ini ia tidak pernah datang menyaksikan audisi atau kegiatan apapun secara personal seperti ini."
"Iya benar. Huh! kita mungkin sedang kurang beruntung."
Pada awalnya Rey tertawa karena merasa geli akan pembicaraan mereka yang ketakutan dan merasa tegang karena kakaknya. Tetapi lama-lama ia jadi merasa bersalah karena Rey sangat tahu kalau alasan kakaknya datang ke sini adalah hanya untuk melihatnya. Dan Rey berpikir kalau itu juga adalah sebagai bentuk dukungan yang ingin kakaknya berikan kepadanya untuk menyemangati dirinya yang sedang mengikuti audisi. Tetapi kalau hal itu malah membuat peserta yang lain jadi merasa tegang dan takut, ia pun jadi merasa tidak enak dan bersalah kepada mereka.
"Hei, mengapa kamu hanya diam saja daritadi? Dan kamu juga terlihat santai." Tegur seseorang pada Rey.
"Iya benar. Aku tahu kamu memang berbeda. Kemampuanmu pasti baik dan juga menonjol sehingga wajar kalau kamu terlihat santai dan sangat percaya diri."
Rey hanya memberi mereka jawaban dengan senyuman ramahnya.
"Sudah, sudah. Semuanya, berhenti berbicara dan bersiaplah." Pak Bambang akhirnya memerintahkan mereka untuk bersiap karena acara audisi akan segera dimulai. Lalu Pak Bambang pun mempersilahkan para peserta untuk mengambil tempat di posisi masing-masing agar bisa bersiap untuk memulai kegiatan memasak mereka.
"Baiklah, sekarang audisi dimulai!" Teriak Pak Bambang memulai audisinya.
Saat ini semua peserta mendapat menu makanan yang sama yaitu memasak nasi goreng. Tetapi para peserta diharuskan untuk membuat kreasi berdasarkan keahlian mereka masing-masing dan diperbolehkan untuk mengambil bahan-bahan apa saja yang mereka butuhkan.
Walaupun posisi Kei agak berjauhan dari para peserta, namun ia masih dapat melihat dengan cukup jelas apa yang sedang mereka kerjakan di meja masak mereka masing-masing dan pandangan matanya itu lebih sering berfokus pada adiknya. Karena memang tujuannya datang dan menyaksikan audisi tersebut adalah untuk melihat dan mengawasi adiknya. Kei tahu kalau Rey memiliki kemampuan memasak yang baik. Tetapi walau begitu, ia berpikir harus membuatnya gagal audisi sehingga tidak lolos untuk diterima bekerja sebagai chef junior di restoran ini.
Waktu yang diberikan bagi para peserta telah selesai. Peserta diwajibkan menghentikan semua kegiatan mereka dan berkumpul di depan untuk berbaris memanjang ke samping. Satu persatu masakan peserta akan dinilai oleh para juri dan akan secara langsung dibacakan hasilnya. Jumlah peserta yang ada saat itu adalah berjumlah 12 orang dan hanya setengah dari peserta yang akan lolos dan diterima sebagai staff mereka.
Walaupun Kei mengatakan bahwa ia akan ikut menjadi juri dan suara yang dia berikan adalah hasil mutlak yang harus diikuti, tetapi selama penilaian berlangsung ia bersikap pasif. Ia tidak ikut mencicipi makanan dari para peserta dan mengikuti saja penilaian yang para juri berikan. Hingga saat giliran Rey sebagai peserta yang akan dinilai hasil masakannya, barulah Kei ikut mencicipinya.
Sedang berdiri di barisan, Rey masih nampak tenang dan percaya diri. Karena ia berpikir kakaknya hanya penasaran dengan hasil masakannya saja dan pasti akan memberinya penilaian yang bagus.
Kreasi yang Rey buat pada masakannya adalah nasi goreng omelet. Dilihat dari penampilannya, nasi goreng itu cukup menggiurkan dan menggoda indera perasa. Nasi gorengnya itu dicetak berbentuk elips dan diatasnya diletakkan adonan telur dadar yang bercampur dengan potongan keju mozarella yang di masak dengan setengah matang. Sehingga ketika dibelah, telur dadarnya akan tumpah dan meleleh menyelimuti nasinya secara keseluruhan. Namun ketika dimakan telur yang lumer dan telah bercampur dengan lelehan keju mozarella itu akan memberikan tekstur yang sangat lembut, kenyal dan juga melumer dimulut dan terasa sangat nikmat.
Kei lalu menyendokkan sendoknya pada nasi goreng omelet tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan untuk menikmati setiap rasa yang keluar didalam mulutnya tersebut. Setelah suapan itu habis dimulutnya, Kei terdiam sejenak dengan tatapan yang tak terbaca. Tetapi Rey tetap merasa yakin dan percaya diri kalau nasi goreng buatannya itu pasti terasa nikmat.
Setelah itu Kei memberikan penilaiannya pada juri lainnya. Dan para juri itu cukup terkejut saat melihat hasil penilaian yang Kei berikan. Ketiga juri lainnya saling menatap satu sama lain dengan penuh bingungan. Setelah itu, salah satu dari mereka pun membacakan hasil penilaian yang telah dikumpulkan dari para juri yang telah memberikan penilaian mereka pada hasil masakan Rey tadi.
"Kepada peserta yang bernama Reyhan Wiriawan, berdasarkan penilaian yang telah kami kumpulkan, maka terdapat 3 suara lolos dari ketiga juri dan 1 suara tidak lolos dari Direktur kita, Tuan Kei Takahiro. Sehingga dengan sangat menyesal kami memberitahukan bahwa anda tidak lolos uji seleksi ini."
Seketika suasana terasa hening dan menegang. Semua mata langsung tertuju dan menatap kepada Rey. Mereka cukup terkejut mendengar hasil tersebut dan tidak menyangka kalau ia tidak lolos apalagi hal itu dikarenakan hanya dari satu suara sang pemilik hotel. Disaat penilaian tadi, mereka juga melihat dan menyadari bahwa masakan Rey cukup menarik dan memuaskan bagi para ketiga juri. Tetapi tetap saja, penilaian yang Kei lakukan adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Saat ini Rey sedang mengarahkan pandangannya kearah kakaknya. Dan Kei juga sedang menatap kearahnya. Awalnya, Rey menatap tajam kepadanya namun kemudian ia mengubah tatapannya itu menjadi sebuah tatapan yang dengan perasaan sedih, kecewa dan hancur karena disaat audisi pertama kali yang pernah diikutinya ini, ternyata kakaknya sendirilah yang menggagalkannya dan bukannya memberinya dukungan untuk menyemangatinya karena ini merupakan sebuah permulaan awal karir baginya. Ditatap adiknya dengan tatapan seperti itu, membuat Kei yang tadi juga menatapnya dengan tajam mengubah tatapannya dan menjadi merasa bersalah terhadapnya.
"Baiklah, terima kasih." Jawab Rey dengan lesu. Ia lalu melepas atribut perlengkapan memasaknya yang adalah milik restoran tersebut dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan. Lalu Kei pun mengejarnya dengan diikuti oleh Tanaka yang masih tampak kebingungan dengan kedua kakak beradik itu. Tanaka juga tidak mengerti apa maksud tuannya itu menggagalkan audisi adiknya sendiri. Karena daritadi Kei hanya diam dan memasang tampang yang serius jadi ia pun tidak berani untuk menanyakan apapun kepada tuannya itu.
***