
Di sisi lain, Kei Takahiro terlihat sedang buruk mood nya. Saat ini dia sedang berada di dalam ruang kerjanya dan bayangan kekasihnya yang dicium oleh pria asing itu kembali muncul dalam benaknya. Selain itu dia juga merasa amat kesal pada dirinya sendiri yang dia tidak berhasil membawa kekasihnya pergi dari rumah pria brengsek itu.
Brengsek. Dia telah berani mencium Erika tepat di depanku. Dia sedang menantangku. Umpat Kei marah dalam hati.
Selama ini, dalam hidupnya semua orang tunduk padanya. Dengan harta kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya. Belum lagi keluarganya yang merupakan keluarga sangat terpandang dari sejak masa kakeknya dulu. Maka tidak ada orang yang pernah berani melawannya. Tetapi pria brengsek itu dengan beraninya secara terang-terangan telah mengusik dan menantang kesabarannya.
Dengan bantuan dari ayah Natalie, Kei berhasil mendapatkan identitas diri Rey dan foto wajahnya. Seorang pria muda yang diduga sebagai seorang gangster. Hanya itu informasi yang ia dapat. Selebihnya tidak ada informasi yang bisa diperoleh. Kei menyimpulkan itu berarti bahwa dia bukanlah seorang sosok yang penting apalagi memiliki kekuatan yang cukup besar.
Mengetahui hal ini membuatnya semakin geram. Bagaimana mungkin seorang seperti itu berani menantangnya bahkan setelah pria itu mengetahui identitasnya.
Kei lalu menghubungi orang suruhan Tuan Yoshiro yang bertugas dalam membantunya mencari kekasihnya. Ia ingin menugaskannya untuk membereskan pria itu dan membawa kekasihnya kembali padanya.
"Kabuto-san, aku telah mengirimmu sebuah foto gambar diri seorang gangster. Aku ingin kamu mencari informasi selengkapnya mengenai pria itu. Aku yakin, kalian memiliki jaringan yang sangat luas dan pastinya tidaklah sulit untuk mencari informasi seorang gangster kecil itu."
"Baik Tuan."
"Berikan informasinya padaku segera setelah kamu mendapatkannya. Karena aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan pria brengsek itu."
Tak perlu menunggu lama bagi Kei untuk mendapatkan informasi detail tentang Rey. Begitu Kabuto membuka foto yang Kei kirim, Kabuto sudah langsung bisa mengenalinya. Dia pun segera menelepon Kei.
"Tuan Kei, orang yang foto wajahnya kamu kirimkan padaku, dia adalah salah satu dari anggota kami."
"Jadi kamu mengenalinya? Kalau begitu, berikan padaku informasi apa saja yang kamu ketahui tentang dia."
"Tentu saja. Namanya adalah Reyhan Wiriawan. Dia adalah juniorku, tetapi aku harus tunduk padanya karena dia termasuk salah satu orang penting."
"Orang penting? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya?"
"Dia adalah anak angkat Tuan Yoshiro yang amat disayanginya. Selama ini dia mendapatkan perlakuan yang special dari bos kami. "
"Apa?!" Kei cukup terkejut mendengar kenyataan itu. Pantas saja pria itu terlihat sangat berani dan angkuh. Kei berpikir itu berarti akan cukup sulit baginya untuk menghadapi pria itu.
"Tuan Kei, apa anda baik-baik saja?" Tanya Kabuto dari sebrang telepon karena mendengar teriakan suara Kei.
"Aku tidak apa-apa. Teruskan."
"Mm, sebelumnya boleh kutahu ada urusan apakah hingga Tuan mencari informasi tentangnya?"
Hening sejenak. Kei merasa sedikit bimbang. Apakah sebaiknya dia memberitahukan hal yang sebenarnya atau tidak. Karena Kei tidak tahu bagaimana hubungan Kabuto dengan Rey. Tetapi biasanya sesama gangster pasti akan saling setia dan saling membela sesama anggotanya.
"Tidak, aku hanya.."
"Tidak apa Tuan, katakan padaku. Aku berada dipihakmu dan aku pasti akan membantumu ." Kabuto seperti bisa membaca kalau ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Karena Kabuto dapat merasakan keraguan Kei saat menjawab pertanyaannya tadi. Dan juga kemarahan Kei yang sebelumnya ketika memintanya mencari informasi tentang Rey.
Kei berpikir, mungkin saja Kabuto tidak begitu menyukai pria itu karena sebagai senior ia harus tunduk padanya.
"Apa aku bisa mempercayaimu dan memegang ucapanmu itu?"
"Tentu saja." Mata Kabuto melebar dan tampak bersemangat. Dendam dan amarahnya muncul. Ini adalah kesempatan bagus baginya. Menjadi aliansi Kei dalam menghadapi Rey tentu akan sangat menguntungkannya.
"Baiklah, aku akan mengatur waktu denganmu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut lagi."
***
Selama seharian penuh, Erika terlihat gelisah. Ia takut untuk bertemu dan berhadapan dengan bosnya. Tetapi ia juga mengkhawatirkan kondisinya. Jadi Erika hanya bisa memantau dan berjaga dari dalam kamarnya. Dia memasang telinganya dengan baik agar dia bisa mengetahui dan mencermati pergerakan yang dilakukan bosnya. Ketika mendengar bos nya keluar dari kamar untuk mengambil makanan dan makan di ruang makan, Erika pun merasa tenang.
Keesokan paginya, Rey keluar dari kamarnya saat jam sarapan. Wajahnya sudah tidak terlihat pucat dan tubuhnya juga sudah terlihat sehat kembali. Erika berpura-pura sibuk mempersiapkan sarapan saat melihat Rey masuk ke ruang makan.
"Selamat pagi Erika." Rey menyapa dan mengucap salam dengan ramah.
Mata Rey melebar, memelototi Erika. "Sudah kubilang, jangan panggil aku Bos. Panggil aku dengan namaku." Rey menanti Erika untuk memanggilnya dengan namanya.
"Emm.. Rey.." Erika pun memanggilnya dengan sedikit ragu. Rey mengangguk dan memberinya senyuman yang sangat manis. Senyuman yang selama ini tidak pernah Rey berikan pada siapapun. Jantung Erika berdegup kencang melihat senyuman manis itu. Erika merasa belakangan Rey telah berubah menjadi lebih baik dan menyenangkan. Hatinya pun menjadi senang karenanya. Erika lalu menyajikan sarapan di depan Rey dengan senyuman yang terkulum.
"Bos, mm..maksudku Rey. Pagi ini aku akan pulang ke rumah orangtuaku.."
"Hmm.." Rey hanya menggumam. Dia sudah dapat mengetahuinya. Setelah insiden itu, Erika pasti ingin segera pulang ke rumahnya.
Erika tak menyangka kalau Rey hanya bereaksi dingin seperti itu. Dia pikir Rey akan sedikit menahannya. Entah mengapa, hatinya pun terasa sedih dengan sikap Rey yang acuh dan tak peduli padanya itu.
Sebelumnya, ia berencana akan kembali lagi ke rumah Rey setelah dia pulang dan memberi kabar kepada orangtuanya tentang dirinya karena orangtuanya pasti sudah mendengar keadaannya dari mantan kekasihnya. Tetapi sikap Rey dingin padanya. Sepertinya Rey tidak membutuhkan dirinya lagi untuk merawatnya. Jadi Erika berpikir dia sudah tidak perlu lagi untuk kembali ke sini.
Pantas saja tadi Rey melarangnya memanggil dia dengan sebutan Bos. Itu pasti karena Rey telah memecatnya secara halus.
Bagi Erika, perpisahan ini lebih baik. Jadi dia tidak perlu lagi berhadapan dengan Rey yang suka berbuat seenaknya, yang mengatakan bahwa dia adalah miliknya dan menciumnya tiba-tiba.
Erika lalu berjalan keluar dan membuka pintu rumah dengan memindai sidik jarinya, namun pintunya tidak terbuka. Ia mencoba kembali dengan menggunakan kode password. Pintu tetap tidak membuka. Setelah mencoba beberapa kali dengan berbagai cara namun pintu tetap tidak membuka, Erika terpaksa mendatangi Rey untuk bertanya padanya.
"Rey.. Kurasa pintu rumahmu rusak. Aku sudah mencoba memasukkan kode akses dan memindai dengan sidik jariku beberapa kali tetapi pintu tidak mau membuka dan mengatakan bahwa kode yang kumasukkan salah. Padahal aku sudah memasukkannya dengan benar."
"Kode passwordmu memang salah." Rey menjawab dengan dingin.
"Hah?! Apa maksudnya.."
"Aku telah mengganti password kunci rumahku."
"Apa?! Mengapa?" Rey tidak menjawabnya. "Kalau begitu beritahu aku kunci password barumu karena aku ingin pulang." Erika berkata lagi dengan tidak sabar.
Rey meletakkan sendok dan garpu yang sedang dipegangnya dan menghentikan sarapannya. Dia lalu menatap tajam ke arah Erika. Erika kaget melihat perubahan sikap Rey yang tiba-tiba kembali menakutkan seperti dulu lagi.
"Pulang katamu? Apa kamu lupa apa yang aku katakan padamu? Kamu adalah milikku!" Rey berseru padanya. "Aku tidak akan membiarkan dirimu pulang dan kembali ke pelukan kekasihmu itu. Lagipula, aku berhak menghukummu yang seenaknya membukakan pintu rumahku hingga membiarkan orang asing masuk. Apa kamu pikir aku hanya akan diam saja dengan kesalahanmu itu?"
"Aku.. maaf..aku.." Erika mulai terisak.
Rey berjalan perlahan mendekati Erika. Dengan takut, Erika berjalan mundur menghindarinya hingga tubuhnya menabrak dinding dan berhenti.
"Kamu tidak akan pernah bisa pulang dan kembali bertemu dengan kekasihmu lagi. Jadi sebaiknya kamu bersikap baik dan menurutlah padaku."
"Apa maksudmu? Apa kamu akan mengurungku disini?" Erika menangis karena merasa takut dan marah.
"Benar. Tetapi kamu bebas ke ruang manapun yang ada di rumah ini. Bahkan kamu juga bebas untuk ke kamarku." Rey tersenyum sinis.
"Mengapa kamu melakukan ini padaku?"
Rey membelai wajah Erika dan berbicara dengan suara pelan setengah berbisik. "Karena kamu adalah milikku. Tentu saja aku harus menjagamu dengan baik. Dan.. aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku."
Erika menampik tangan Rey yang membelai diwajahnya. "Brengsek..!" Teriak Erika sambil melayangkan sebuah tamparan di wajah Rey. Tetapi Rey berhasil menahannya. "Ternyata selama ini kamu berpura-pura sakit untuk membuatku iba sehingga akupun tidak tega meninggalkanmu." Erika merasa dirinya telah ditipu dan dibodohi. Rey pun tertawa sinis padanya.
Erika berkata lagi dengan sinis, "Hhh.. Kupikir, kamu memang sakit. Bukan fisikmu, tapi jiwamu lah yang sakitt..!" Lalu Erika meronta berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rey.
"Hha..Haa..Haa" Rey tertawa kencang mendengar ucapan Erika yang mengatakan bahwa dia sakit jiwa. Kemudian dia menghentakkan tangannya dengan kuat hingga tubuh Erika terjatuh ke lantai. Setelah itu Rey pergi meninggalkan Erika yang terduduk lemas dan kembali menangis.
Rey kembali ke kamarnya dan duduk diranjangnya. Raut wajahnya penuh kemarahan tetapi juga ada kesedihan disana. Nafasnya terdengar berat. Di dalam hatinya dia merasa bersalah terhadap Erika atas apa yang dia perbuat padanya. Belum lagi melihat kemarahan dan kekecewaan Erika terhadapnya. Namun dia telah membulatkan tekadnya bahwa dia harus melakukannya demi dendamnya. Karena pembalasan dendamnya adalah yang terpenting dalam hidupnya. Dia pun tertawa dengan sinis yang terlihat seperti sedang menertawakan dirinya sendiri atas ironi kehidupan yang dia miliki ini.
Kemudian mata Rey menangkap sebuah mobil hitam yang terparkir di sebrang depan rumahnya melalui jendela kamarnya. Mobil itu terlihat mencurigakan karena posisinya yang berada di belakang pohon besar sehingga sedikit tertutup. Namun tak lama kemudian, mobil itu pergi.
***