
Kei sudah berada di dalam kantor Tuan Yoshiro. Ia lalu berjalan menuju ke ruang kerja Tuan Yoshiro tetapi para penjaga menahan Kei di depan pintu dan melarangnya masuk karena saat itu Kei belum ada janji temu dengan bos mereka. Tetapi Tuan Yoshiro yang telah mengetahui kedatangannya dari cctv yang ada di luar gedung kantornya, menyuruh para penjaga membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk.
Tuan Yoshiro menyambutnya dengan baik dan bersikap ramah terhadapnya. Lalu, tanpa banyak berbasa-basi lagi, Kei langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya pada Tuan Yoshiro.
"Tuan Yoshiro, maksud kedatanganku ke sini adalah untuk membahas persoalan tentang adikku. Apakah anda memiliki waktu luang untuk itu?"
"Hmm, adikmu?" Tuan Yoshiro tampak berpikir. "Ahh ya ... Reyhan adalah adik kandungmu. Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah dia sudah pulih?"
"Cukup baik, tapi dia masih dalam tahap pemulihan." Jawab Kei berbohong, karena jika Rey sudah sembuh dan tidak datang sendiri untuk menemui ayah angkatnya maka itu akan menyinggungnya.
"Sayang sekali aku tidak bisa datang menjenguknya. Kalau begitu, sampaikan salamku padanya dan suruh dia datang ke tempatku kalau dia sudah sembuh karena ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya." Padahal Tuan Yoshiro juga telah mengetahui kalau Rey juga datang dan sedang berada di luar gedung kantornya.
"Baik Tuan Yoshiro." Kei lalu menelan ludahnya dengan sedikit bersusah payah karena rasa tegangnya dan ia juga mencoba berdeham dengan pelan.
"Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan mengenai adikmu itu? Langsung katakan saja padaku."
"Begini, karena sekarang kita telah mengetahui identitas diri Reyhan yang sebenarnya, maka aku sebagai kakaknya, mewakili Reyhan untuk mengajukan sebuah permohonan pada anda agar dia dapat dibebaskan dari pekerjaan dan status keanggotaannya dari jaringan kelompok mafia milik anda."
Bukk! Terdengar suara pukulan yang sangat keras.
"Lancang!" ucap Tuan Yoshiro marah sambil memukulkan kepalan jemari tangannya ke atas mejanya dengan kuat. "Apa kamu pikir kalau kamu adalah kakak kandungnya, maka kamu memiliki hak dan kekuasaan untuk memintaku membebaskannya dari status dan keanggotaannya?"
Kei hanya terdiam dengan tubuhnya yang sempat sedikit melonjak karena kaget. Jantungnya juga menjadi berdegup dengan sangat kencang. Nyali Kei ternyata bisa menciut juga ketika berhadapan dengan bos besar mafia yang paling ditakuti itu. Ia sendiri bahkan tak menyangkanya dia akan merasa begitu ketakutan seperti ini.
Ternyata reputasi yang orang-orang bicarakan tentang sosok pria paruh baya yang sedang duduk dengan begitu gagahnya didepannya itu adalah benar. Bahkan dirinya yang sudah pernah beberapa kali berhadapan dengannya dan juga menjadi kliennya masih bisa diperlakukan dengan sangat tegas dan semenakutkan seperti itu. Tatapannya begitu tajam dan dalam, tanpa ampun, sangat mengintimidasi seluruh lawan atau musuh yang sedang menatapnya. Pantas saja adiknya juga bisa memiliki tatapan seperti itu. Pasti karena adiknya telah mendapatkan pengajaran dan didikan darinya.
"Ma-maaf Tuan Yoshiro ...." dengan tergagap dan gugup Kei meminta maaf padanya.
"Tidakkah kamu takut kalau aku akan menghabisi nyawamu sekarang juga?" Mata Tuan Yoshiro membelalak dan melotot marah kepadanya. "Tunjukkan padaku, seberapa besar nyalimu itu?"
Kei memperbaiki pose berdirinya dengan menegakkan tulang punggung dan posisi tubuhnya. Setelah itu, ia mencoba mengatur nafasnya dengan menarik nafas sedalam-dalamnya dan ia hembuskan perlahan-lahan. Lalu, dengan memberanikan dirinya, ia berkata,
"Jujur kukatakan, pada saat diawal aku menemuimu untuk mewakili adikku berbicara, aku tidak merasakan takut sedikitpun. Tetapi sekarang, aku merasa takut padamu. Tetapi walaupun begitu, walaupun aku menjadi sangat ketakutan kepadamu, aku tetap akan mewakili adikku untuk memohon pembebasan dirinya padamu dan aku juga akan selalu melindunginya."
"Mengapa?" tanya Tuan Yoshiro merasa heran dan penasaran. Karena setahunya, mereka sempat saling bentrok dan memiliki hubungan yang tidak baik sebelum saling mengetahui hubungan darah yang mereka miliki. Lagipula mereka juga baru saja berkumpul setelah sejak lama terpisah. Tentunya ikatan diantara mereka belum begitu terjalin dengan kuat.
"Karena seperti dirimu yang sangat mengenal karakter adikku dan juga sangat menyayanginya, seperti itu jugalah perasaanku terhadapnya. Apalagi hubungan kami lebih kental karena kami saling terhubung dengan darah yang sama."
"Jadi maksudmu, aku dan dia tidak memiliki hubungan darah jadi aku kalah terhadapmu?"
"Iya, seperti itulah maksudku."
Plakk! Tuan Yoshiro kembali memukul meja didepannya dengan ekspresi yang penuh kemarahan. Tetapi sedetik kemudian, terdengar suara tawanya yang keras dan cukup lantang hingga membahana dan menggema diseluruh ruangan yang hening dan tertutup itu. Bahkan mungkin para penjaga yang sedang berdiri di luar dapat mendengarnya dengan sangat jelas sekali.
"Bagus, aku suka dengan keberanianmu itu, Anak Muda. Ternyata nyalimu cukup besar juga. Pantas saja keluarga Takahiro sangatlah terkenal dengan kehebatan dan kekuatan yang dimilikinya sehingga dapat selalu sukses dan berhasil menghadapi persaingan yang cukup berat di dunia perbisnisan. Sepertinya darah keturunan dari keluarga kalian memang memiliki karakter yang tangguh dan pejuang. Itulah mengapa aku menyukai adikmu dan sangat memfavoritkannya bahkan mengangkatnya sebagai anakku. Karena aku berharap kalau dia akan menjadi penerusku. Tapi sayang ...." Tuan Yoshiro menggantungkan perkataannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kecewa dan menyesal.
"Apakah maksud perkataan anda itu, bahwa anda menyayangkan kalau adikku tidak bisa menjadi penerusmu?"
"Ya, benar."
"Yang juga berarti, bahwa sebenarnya anda berkehendak untuk merelakannya dan melepaskan dirinya dari jaringan anggota kelompokmu?"
"Tidak. Aku tidak akan pernah merelakannya atau melepaskannya. Tidak akan pernah. Kecuali -"
Brakk
Terdengar suara pintu yang didorong dengan kuat dan kasar. Kei menoleh ke arah pintu dan matanya melebar karena terkejut melihat sosok adiknya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu yang membuka. Dengan nafas yang terengah dan ngos-ngosan, Rey menerobos para penjaga yang sedang menghadangnya di luar untuk masuk ke dalam ruang kerja Tuan Yoshiro. Ia lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang perlahan sambil mengatur nafasnya agar menjadi lebih tenang. Wajahnya nampak pucat dan ketakutan.
Jika dilihat dari dekat, ternyata wajah Rey yang pucat itu tampak tak karuan. Sudut bibirnya terluka dan berdarah, pipinya juga memiliki luka memar di sana-sini dan kulit wajahnya berpeluh. Kei menduga sepertinya itu akibat dari perkelahiannya diluar dengan beberapa penjaga ketika ia menerobos masuk ke dalam ruangan.
Tetapi sebenarnya itu adalah ulah dari para seniornya yang melihat Rey tiba-tiba mendatangi kantor mereka tanpa diundang oleh bos mereka, dan langsung menghadangnya. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk memukulinya karena rasa dendam mereka atas apa yang terjadi pada Kabuto. Selain itu juga karena rasa benci dan iri mereka terhadapnya yang selama ini mereka rasakan dan harus mereka pendam.
Tuan Yoshiro tampak sangat marah melihat wajah Rey yang penuh luka memar. Hingga matanya melotot dengan begitu besar dan bibirnya membentuk sebuah garis keras.
"Katakan, siapa yang memukuli wajahmu sampai penuh luka memar seperti itu!" tanyanya.
Rey menggelengkan kepalanya.
"Jangan pedulikan luka diwajahku ini. Ayah, aku mohon, maafkan kelancangan kakakku dan lepaskan dia."
"Melepaskan kakakmu? Apakah selama ini kamu belum cukup mengenalku? Apa yang kamu pikir akan aku lakukan terhadapnya?"
"Oleh karena aku sangat mengenalmu, aku juga sangat tahu apa yang akan ayah lakukan padanya." Rey terdiam sejenak untuk memandangi wajah kakaknya sebentar, lalu kembali pada ayahnya dan melanjutkan ucapannya. "Walaupun aku tahu kalau Ayah tidak akan melakukan kekerasan fisik padanya, tetapi Ayah akan mengintimidasinya dan membuatnya menjadi sangat ketakutan karena kelancangan yang telah diperbuatnya."
"Lalu? Jika kamu sudah mengetahuinya, mengapa kamu terlihat begitu ketakutan hingga tergesa-gesa menerobos masuk ke ruanganku dan menginterupsi pembicaraan kami berdua?"
"Karena ... " Rey kembali menoleh ke arah kakaknya yang sedang menatapnya dengan cemas. "karena aku tidak ingin dia merasa sendirian saat ketakutan sehingga aku ingin membantu dan melindunginya."
Rey lalu menundukkan wajahnya tak berani menatap siapapun, baik ayah angkatnya maupun kakaknya. Ia merasa malu dengan pernyataannya sendiri yang terlalu melankolis dan berlebihan diantara para lelaki.
"Hahaha ...," Suara tawa Tuan Yoshiro kembali terdengar dengan menggelegar karena menertawakan kepolosan dan kejujuran Rey. Membuat Rey semakin menundukkan kepalanya karena malu ditertawakan. "Ternyata kamu telah gagal mengenali kakakmu. Dia adalah seorang pria pemberani dan juga tangguh, sama sepertimu dulu. Tetapi sepertinya sekarang, dirimu lah yang malah berubah, nyalimu itu menjadi lebih melempem."
Rey lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap kepada ayah angkatnya dan menjawabnya.
"Ayah benar, aku juga merasa begitu. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa diriku menjadi penakut seperti ini."
Tuan Yoshiro kembali menatapnya dan tatapannya terpaku pada anak angkat kesayangannya itu. Ia menyadari sesuatu dan merasakan sebuah kesedihan yang sangat mendalam di dalam hatinya. Yang belum pernah dirasakannya lagi setelah istrinya meninggal dan saat putri kesayangannya menghilang karena diculik.
Lalu ia berkata,
"Tetapi kamu mulai memiliki semangat ...," Mata Rey melebar menatap ayah angkatnya. "semangat untuk hidup. Aku bisa melihatnya sekarang. Rey, anakku, kamu telah berubah. Kamu bukan lagi dirimu yang dulu. Bahkan kamu juga sudah mulai bisa menunjukkan dan mengungkapkan perasaanmu. Tetapi, melihatmu yang seperti ini, hatiku menjadi bimbang. Seharusnya aku merasa senang, tetapi mengapa bukan itu yang kurasakan saat ini ...." Tuan Yoshiro mengerjapkan matanya penuh kesedihan.
"Ayah ...." panggilnya dengan suara lirih. Rey menyadari kesedihan yang sedang ayah angkatnya rasakan itu.
"Aku tahu bahwa sudah saatnya bagiku untuk merelakanmu dan melepaskanmu ... Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya." Rey menatap sedih dan kecewa kepada ayah angkatnya.
"A-ayah ... apa maksudmu?" tanya Rey. Tanpa disadarinya, ia menitikkan setetes airmata. Kei menatap bingung dan juga cemas kearah adiknya.
"Anakku, Ayah merasa berat untuk mewujudkan keinginanmu itu. Kamu sendiri tahu, kan peraturan di dunia kita. Jika kamu sudah memutuskan untuk bergabung, maka hidup matimu hanyalah di sini. Jika kamu ingin terus hidup, maka kamu harus selalu setia bersama kami. Tetapi jika kamu ingin keluar, maka pengeksekusian kematianmu adalah jalan satu-satunya yang harus kamu hadapi."
"Aku tahu ... dan aku telah siap menerima konsekuensi tersebut." jawab Rey dengan yakin dan pasti.
Alis Tuan Yoshiro tertarik ke bawah dan kelopak matanya membuka lebar karena kemarahannya. "Apakah kamu tahu apa yang kamu ucapkan itu. Kamu harus menghadapi berbagai siksaan yang diberikan oleh seluruh anggota. Apa kamu pikir tubuhmu itu sanggup menghadapinya? Apalagi tubuhmu baru sembuh dari sakit."
"Hanya berupa pukulan saja, kan? Tidak ada tembakan juga tidak ada aliran listrik yang menyengat tubuhku. Ya, mungkin bisa juga berupa tusukan."
"Reyhan Wiriawan!! Jangan bodoh dan jangan main-main!" bentaknya marah!
"Aku tidak main-main Ayah, aku serius! Apa Ayah tahu, saat ini bagiku, hidup tanpa bisa menjadi diriku sendiri dan tidak dapat menjalani hidupku sesuai dengan yang kumau, maka itu sama saja seperti aku tidak hidup. Oleh karena itu, aku akan mempertaruhkan nyawaku ini, di sini, saat ini juga untuk berjuang atas kehidupanku demi mendapatkan kebebasan dan kebahagiaanku."
Kei terkejut dengan pernyataan yang barusan adiknya sampaikan Hatinya terenyuh dan terharu. Di detik itu juga ia merasa pengorbanannya, perjuangannya untuk membuat adiknya dapat hidup kembali dan dalam keadaan sehat tidaklah sia-sia.
"Ayah tak menyangka bahwa bergabung menjadi anggota kelompokku dan hidup bersama didalam duniaku sangatlah buruk bagimu hingga kamu lebih rela kehilangan nyawamu itu!"
"Ayah, aku tahu ayah mengetahui kalau bukan seperti itu maksudku. Apa ayah lupa dengan percakapan kita saat aku dalam keadaan sakit dan sekarat? Aku hanya tidak ingin menggunakan tanganku ini untuk berkelahi dan menodai serta mengotori tanganku dengan darah dari lawanku."
Tuan Yoshiro menghela nafasnya. "Baiklah, aku mengerti dan ... aku akan memberikan apa yang kamu mau itu." ucap Tuan Yoshiro dengan tatapannya yang melembut pada Rey. Ia juga terlihat seperti sedikit tersenyum padanya.
***