
"Aku lapar." Ucap Rey pada Erika. "Tunggu aku di sini, aku akan menyiapkan dulu makan malam untuk kita."
Erika menggeleng. "Aku mau ikut kamu ke dapur dan ikut memasak bersamamu."
"Ayo." Mereka lalu memasak bersama dengan Erika yang membantunya mengambilkan bahan yang dibutuhkan dan menyiapkan peralatan makan. Sisanya Rey yang mengerjakan dan melarang Erika untuk melakukannya.
Makan malam pun telah siap dan mereka langsung memulainya untuk makan malam bersama.
"Mmm ... seperti biasa, makanan buatanmu selalu menggiurkan dan lezat rasanya. Kamu memang koki yang paling hebat sedunia." Erika memuji masakan dan keahlian Rey sambil memberinya seulas senyumannya yang paling manis. Rey pun membalas senyumannya itu dengan senang.
"Ohh iya Rey, saat ini perusahaanku sedang bekerja sama dengan sebuah perusahaan seni kuliner untuk mengadakan lomba memasak. Lalu aku juga tahu kalau kamu berkeinginan untuk pernah bisa memenangkan satu kali saja ajang kompetisi memasak. Jadi, apakah kamu berminat untuk mengikuti lomba tersebut? Kalau mau, aku akan membantumu mendaftarkannya."
"Lomba memasak? baiklah, biar kupikirkan dulu ..."
"Mengapa kamu pikirkan dulu dan tidak langsung mengiyakannya saja?"
"Mm ..." Rey menggaruk hidungnya tmyang tak gatal karena bingung memikirkan jawaban atas pertanyaan Erika itu. "Entahlah aku hanya merasa enggan dan tak yakin saja untuk mengikutinya."
"Ayolah sayang, tidak usah dipikir-pikir lagi. Perlombaannya juga masih lama, masih beberapa bulan lagi dan kamu masih berlatih untuk mempersiapkan dirimu. Lagipula tidak ada ruginya kan bagi kamu jika mengikutinya. Anggap saja dengan mengikuti lomba tersebut kamu bisa menambah pengalamanmu dan juga hanya untuk bersenang-senang saja. Tidak masalah jika nantinya kamu kalah dan tidak dapat memenangkan perlombaan tersebut."
Mendengar pernyataan tersebut, jiwa pemberontak Rey pun meronta dan merasa tertantang.
"Siapa bilang aku akan kalah dan tidak dapat memenangkannya?"
"Ya, itu kan alasanmu sebenarnya merasa ragu untuk mengiyakannya. Karena kamu merasa tidak yakin terhadap dirimu untuk bisa memenangkan perlombaan tersebut sehingga kamu merasa malu padaku."
"Hmm sayang, apakah aku pernah terlihat memiliki keraguan atau tidak yakin akan diriku sendiri?"
"Tidak sih, kamu orang yang selalu tampak percaya diri dan juga berkemauan keras sehingga aku yakin kamu pasti bisa dan berkemampuan untuk memenangkannya. Jadi?"
"Baiklah, aku setuju untuk mengikuti perlombaan tersebut. Aku juga berjanji padamu, jika aku dapat memenangkannya maka aku akan langsung melamarmu disaat itu juga dan didepan orang banyak ... "
"Benarkah? Kamu serius dengan ucapanmu itu dan tidak sedang asal bicara karena sedang bercanda padaku bukan?"
"Ya, aku serius." Erika langsung tersipu malu dan tersenyum dengan sangat lebar karena perasaan senangnya mendengar janji Rey yang akan melamarnya itu.
"Baiklah kalau begitu aku akan segera mendaftarkanmu."
Selesai makan, mereka kembali lagi ke kamar Rey untuk menghabiskan waktu kencan mereka.
"Apakah ruangan itu kamar kakakmu?" Tanya Erika saat melewati sebuah ruangan yang terletak di area belakang dekat ruang makan.
"Ya ... kamu tidak pernah masuk ke kamar kakakku?"
"Tidak." Rey lalu memandang bingung kearahnya. Kemudian mereka kembali berjalan menuju kamar Rey.
"Kupikir kamu pernah ke apartemen kakakku."
"Iya, aku pernah. Tapi hanya beberapa kali saja."
"Tapi kamu tidak pernah diajak ke kamarnya?"
"Apaan sih pertanyaanmu itu." Wajah Erika memerah.
"Tidak, aku hanya merasa heran saja. Kupikir kalian sudah sangat dekat."
"Kamu seperti tidak mengenal kakakmu saja. Sekarang kutanya padamu yang tinggal bareng dengannya dan sering bersama, apa kegiatan yang sering kamu lihat sedang ia lakukan?"
"Bekerja menggunakan laptop, tablet dan berbagai gadgetnya lainnya."
"Benar. Jadi kamu sudah tahu, kan jawabannya."
"Hahaha ... ucapanmu seperti kamu kesal dengannya."
"Apa kamu tidak merasa betapa membosankannya kakakmu itu? Dengan tampangnya yang selalu kaku dan serius itu."
"Tidak. Dia malah sering menggoda dan menjahiliku. Aku pikir, aku malah lebih membosankan dibanding dirinya." Erika menatap sebal kepadanya.
"Memang sih, apalagi tampangmu yang dulu itu. Dingin, pendiam, dan menakutkan. Berbicara padamu sama seperti sedang ngomong sama tembok."
"Nah, jadi aku dan kakakku sama-sama membosankan bagimu? Tapi mengapa kamu menyukai kami? Apa kamu suka dengan pria yang membosankan?"
"Ihh, apaan sih." Erika memukulnya. "Aku tuh melihatnya ke dalam hati kalian. Walaupun kalian membosankan, tapi kalian sama-sama memiliki hati yang baik dan penyayang."
"Lalu, apa bedanya aku dengan kakakku?"
"Kakakmu itu orangnya kaku dan serius sedangkan kamu dingin dan pendiam. Lalu kakakmu orang yang tidak memiliki perasaan. Kamu tahu maksudku, kan. Bukan tak berperasaan yang tak berhati. Tetapi seperti dia hanya memiliki sedikit jenis perasaan. Apalagi dulu, yang kutahu hanya perasaan marah saja yang dia miliki. Lalu saat kamu terluka, dia baru mulai menunjukkan perasaan sedih, takut, dan khawatirnya. Sedangkan perasaan senang atau gembira, aku tak pernah melihat ia memiliki perasaan itu."
"Kamu benar, aku juga tidak pernah melihatnya yang sedang merasa senang atau gembira. Walaupun saat menggodaku ia tertawa, tetapi itu bukan perasaan senang atau gembira karena suatu hal yang memang sedang dirasanya." Erika mengangguk.
"Karena itu aku bilang kakakmu kaku dan membosankan, karena dia selalu serius. Sebenarnya, kalian berdua itu memiliki kesamaan yaitu sama-sama pendiam dan tertutup. Terlebih kakakmu, dia lebih diam darimu. Apalagi dengan profilnya yang tinggi sebagai seorang pemimpin, dia memiliki sifat arogan dan tak suka orang mengusiknya. Saat aku berhubungan dengannya, aku memang dekat dengannya tetapi aku juga merasa jauh darinya. Kalau bukan karena hubungan dekat ayah kami, mungkin aku juga tidak akan pernah bisa menjadi kekasihnya."
"Tetapi kakakku mencintaimu."
"Rey, aku tidak mau kita membahas tentang itu."
"Baiklah. Lalu, bagaimana denganku?"
"Mm ... kamu cukup berbeda dengannya. Walaupun kamu nampak dingin dan pendiam, tapi sebenarnya kamu sangat ekspresif. Aku bisa merasakan ada berbagai perasaan yang kamu rasakan di dalam dirimu hanya kamu berusaha menekan dan menutupi perasaanmu saja. Kamu juga mau lebih terbuka orangnya, hanya saja kamu terlalu mempedulikan perasaan orang lain. Sehingga kamu banyak merahasiakan masalahmu dan menutupi perasaanmu." Erika lalu menempelkan kepalanya di bahu Rey.
"Sayang, kamu tahu aku akan selalu ada untukmu. Jadi kamu bisa mengandalkanku dan jangan merahasiakan apapun padaku lagi ya."
"Iya, sayang."
Erika mengangkat kepalanya kembali dari bahu Rey dan tersenyum padanya.
"Aku lucu dan menggemaskan? Benarkah?" Rey lalu menggelitik Erika hingga Erika berteriak kegelian dan berlari-lari menghindarinya. Lalu Rey berhasil menangkap Erika dan mengurungnya dalam pelukannya.
"Kamu tahu, yang lucu dan menggemaskan itu adalah kamu." Lalu satu persatu bagian wajah Erika dikecup olehnya. Mulai dari hidung, pipi, mulut, dagu, dan keningnya. Erika tertawa kegelian karena ulah nakalnya itu.
"Rey, terima kasih ya untuk kencan hari ini. Aku senang sekali rasanya aku ingin berteriak dan tertawa sekencang-kencangnya karena perasaan senangku."
"Aku juga Erika. Aku sangat merindukanmu dan hari ini kita benar-benar bisa menikmati waktu kebersamaan kita. Aku berharap semoga kita bisa selalu seperti ini selamanya."
"Tentu Rey, kita akan selalu bersama-sama dan berbahagia sampai tua."
Rey mengangguk dan memeluk Erika dengan sangat kencang seperti takut Erika akan diambil darinya dan perasaan sedihnya kembali muncul dan terbesit dihatinya.
"Hari sudah malam. Ayo antarkan aku pulang, aku tidak mau nanti kamu kemalaman pulangnya setelah mengantarku."
"Ayo." Rey menggandeng tangan Erika dan menuntunnya berjalan keluar kamarnya.
Saat mereka diluar kamar Rey, terlihat ada Kei di sana. Sepertinya Kei baru saja pulang dan masuk ke dalam apartemennya.
"Kakak ...," Rey memanggilnya dengan terkejut.
"Hai, Kak Kei." Sapa Erika.
Kei juga menatap terkejut penampakan Erika yang baru keluar dari kamar Rey dan sedang bergandengan tangan dengannya.
Namun Kei buru-buru mengalihkan keterkejutan dan beberapa perasaan yang sedang dirasakannya itu.
"Hai Erika." Kei lalu menjawab sapaan Erika. Rey melihatnya dan ia juga dapat merasakan kesedihan, kecemburuan, dan kekecewaan kakaknya itu.
"Kakak ... kupikir kamu pulang malam."
"Tidak. Kamu mau mengantar Erika pulang? Ini, pakai mobilku saja. Angin malam tidak baik buat tubuhmu."
"Tidak, usah. Aku lebih suka menggunakan motor sehingga bisa lebih cepat sampai. Ya sudah, kami jalan dulu ya. Mm, kakak jangan tidur dulu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu nanti. Tunggu aku, ok?" Kei menatapnya bingung, tetapi ia mengangguk mengiyakan.
"Aku pulang dulu, Kak Kei."
"Bye Erika. Rey, berhati-hatilah di jalan."
"Iya, Kak."
Setelah sampai di rumah Erika, Rey buru-buru mengendarai motornya pulang. Dia ingin bisa cepat sampai agar dapat segera berbicara dengan kakaknya.
Rey sudah tiba kembali di apartemen. Begitu masuk ke dalam, dia langsung mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Kakak, boleh aku masuk?"
"Masuklah." Jawab Kei.
Masuk kamar, Rey langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Kakak, jangan salah paham. Tadi kami berdua tidak melakukan apapun. Kami hanya mengobrol saja dan -" Kei segera memotong pembicaraan Rey.
"Ken, apa maksudmu memberitahukan hal itu padaku?"
"Kakak jangan berbohong dan menutupinya lagi."
"Apa yang aku bohongi dan tutupi? Perasaanku pada Erika?"
"Iya dan juga kondisiku." Rey terdiam sambil menatap kearah kakaknya.
Kei yang sedang duduk di meja kerjanya juga menatapnya, lebih tepatnya menunggu ucapan Rey yang selanjutnya. Rey lalu mengubah posisi tubuhnya yang sedang berbaring menjadi posisi duduk.
"Kita sama-sama tahu tentang penyakit yang pernah kuderita ini. Walaupun aku telah mendapatkan donor sumsum darimu, tetapi itu tidak menjamin kalau aku telah sembuh sepenuhnya. Aku tahu akan kekhawatiran dan kecemasan yang selalu menghantuimu akan diriku. Aku juga tahu kalau hidupku mungkin saja akan ...." Kalimat yang ingin Rey ucapkan terhenti, karena ia tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Ken, jangan berkata seperti itu."
"Tidak, Kak. Aku sangat tahu kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi padaku. Aku juga tahu bagaimana akhir dari hubunganku dengan Erika jika kemungkinan buruk itu terjadi." Rey terdiam sejenak untuk menenangkan hatinya dari rasa sedihnya. Kei hanya bisa meratapi adiknya sambil terdiam. Ia takut jika berbicara, maka perasaan sedihnya tidak dapat terkontrol dan meluap di depan adiknya dan ia tidak mau sampai adiknya tahu akan kesedihan yang sedang ia rasakan karena diri adiknya itu sendiri.
"Kakak, aku tahu perasaanmu terhadap Erika. Aku tidak cemburu ataupun marah pada perasaanmu itu. Bahkan aku merasa senang akan hal itu. Hanya saja untuk saat ini, aku mungkin egois dengan membuatmu sedikit menderita karena harus bersabar dan mengalah untukku selama beberapa saat."
"Ken, kakak mohon jangan berkata seperti itu ...." Mata Kei sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Aku ..." Suara Rey mulai tercekat karena perasaan sedihnya dan airmatanya yang sudah berkumpul. Rey terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya. "Aku tahu kalau aku dan Erika tidak akan bisa memiliki akhir yang bahagia dan ... aku takut ...," kali ini airmatanya benar-benar tumpah keluar dan membanjiri pipinya.
Kei segera beranjak mendekatinya dan langsung memeluknya.
"Ken, adikku ...." Kei ikut menangis sambil memeluknya.
"Kakak ... aku takut mengecewakanmu dan mengecewakan Erika. Aku ...." Rey kembali terdiam dan tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan perasaan sedih dan ketakutannya. "Aku takut tidak dapat mempertanggungjawabkan apa yang kuperbuat padanya. Sedangkan diriku tidak dapat mengontrol perasaanku terhadapnya. Aku takut kalau apa yang kuperbuat akan menghancurkan dan merusaknya."
"Ken, kakak tahu kekhawatiranmu. Tetapi kakak juga tahu bahwa kamu sangat mencintai Erika dan menginginkan lebih dari sekedar perasaan yang kamu rasakan. Kamu menyayanginya melebihi apapun yang kamu miliki dan dia adalah milikmu, Ken. Kamu berhak atas dirinya sepenuhnya. Jangan takut akan masa depanmu dan kehidupanmu yang belum pasti. Karena setiap orang juga memiliki masa depan yang belum pasti.
Lagipula kita sama-sama pria dewasa yang saling tahu akan kebutuhan kita. Jadi raihlah kebahagiaanmu bersamanya dan jangan memikirkan hal apapun juga terutama diriku. Kakakmu ini bukanlah seorang pria yang kuno dan konservatif. Aku tidak akan mempermasalahkan apapun yang telah kamu lakukan kepadanya."
Rey mengangguk.
"Kakak berjanjilah kepadaku, jika suatu hari terjadi sesuatu padaku, kakak harus mau menggantikanku untuk menjaga dan menyayanginya."
"Tenang, Ken, kakak janji. Kakak akan selalu menjaga dan melindungimu. Kakak juga akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu."
"Terima kasih, Kak." Rey memeluk erat kakaknya dan tersenyum dengan lega. Ia senang kakaknya telah membantunya keluar dari ketakutannya dan membuatnya bisa merasakan perasaan lega yang sedang ia rasakan ini. Kei pun mengusap punggung adiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang sehingga Rey bisa merasakan kehangatan dan kelembutan yang telah lama ia rindukan dan yang sedang ia butuhkan.