
Siang harinya, Rey dijemput oleh asisten kakaknya, Tanaka untuk pergi menemaninya membeli sebuah motor sport untuknya. Motor sport yang akan mereka beli itu berdasarkan pilihan kakaknya dan merupakan tipe terbaru yang sudah dilengkapi dengan berbagai fitur canggih terutama fitur keamanan yang bisa mengoptimalkan keselamatan pengendaranya. Dengan memiliki fitur sistem rem yang anti terkunci sehingga dapat mencegah roda mengunci saat mengerem mendadak dan tidak berbahaya saat melewati jalanan licin dan basah. Sesuai dengan apa yang kakaknya inginkan.
Walau sebenarnya Rey agak keberatan dengan motor sport yang dibelinya tersebut karena selain harganya yang terbilang mahal, motor itu juga tidak sesuai dengan yang ia mau. Sebenarnya dia hanya menginginkan sebuah motor sport yang biasa saja, yang penting nyaman untuk ia kendarai saat berpergian di jalan raya biasa yang bukan area balap yang memiliki keramaian dan disertai dengan hiruk pikuknya. Sedangkan motor yang dipilihkan kakaknya itu memiliki penampakan yang terlalu keren dan cukup menjadi idaman banyak pemotor pria sehingga pasti akan mencolok dan cukup menarik perhatian banyak orang yang memperhatikannya saat mengendarainya dan itu akan membuat dirinya merasa risih. Tetapi mau bagaimana lagi, apa daya ia pun tak mampu menentang perintah tapi dianggap sebagai sebuah permintaan dan permohonan oleh kakaknya.
Memang sih motor sport yang dibeli itu sangat cocok dengan Rey yang bertubuh tinggi tegap dan maskulin. Apalagi dia masih muda dan enerjik, dengan pembawaan dirinya yang selalu tampil percaya diri dan pemberani yang terkesan cowok banget dan seperti anak nakal. Ditambah wajah tampannya dan kulitnya yang berwarna sedikit kecoklatan sehingga Rey benar-benar terlihat keren ketika mengendarai motor tersebut. Dan kakaknya, Kei Takahiro sangat bisa melihat hal-hal yang disebutkan diatas yang dimiliki oleh adiknya sehingga ia sengaja memilih tipe motor tersebut.
Berdasarkan rencana awalnya, Rey ingin membeli motor sport yang dia inginkan dengan menggunakan uangnya sendiri yang didapatnya dari hasil penjualan mobilnya. Tetapi kakaknya memaksa untuk membelikannya sehingga ia tidak perlu lagi menjual mobilnya. Tetapi tetap saja, Rey ingin menjualnya dan saat ini mobilnya itu sedang ia titipkan ke delaer mobil untuk menunggu pembeli menawar mobilnya. Nantinya, hasil penjualan mobilnya itu akan ia donasikan ke beberapa yayasan sosial yang lebih membutuhkan dibanding dirinya yang sudah berkecukupan saat ini.
Selanjutnya setelah transaksi pembelian motor selesai, dengan masih ditemani oleh asisten kakaknya, Rey pun pergi membeli beberapa atribut yang diperlukan seorang pengendara motor. Dan lagi-lagi itu karena kakaknya, yang menurut Rey super bawel 🙄, memaksanya. Memaksa untuk ditemani oleh asistennya lagi dan memaksa untuk langsung membeli atributnya saat itu juga karena ini merupakan beberapa faktor pendukung keselamatannya ketika mengendarai motornya itu.
Atribut pertama yang akan mereka beli adalah sebuah jaket. Tanaka membawanya ke sebuah toko jaket dengan merk terkenal. Semua jaket yang mereka jual terbuat dari kulit asli dan harganya mahal-mahal. Rey lalu memilih dangan asal-asalan sebuah jaket kulit berwarna coklat tua yang ada di sana. Tetapi ternyata jaket yang dipilihnya itu merupakan jaket dengan model terbaru dan terbaik yang dijual di toko tersebut sehingga harganya lumayan mahal diantara jaket-jaket lainnya. Sampai membuatnya geleng-geleng takjub saat Tanaka menggesekkan kartu kakaknya untuk membayarnya. Di toko itu, Rey sekalian membeli sepasang sarung tangan untuk dia gunakan juga saat bermotor.
Kemudian mereka pergi membeli helm. Helm yang dibelinya sudah pasti helm full face karena itu berfungsi sebagai pelindung kepala dan wajahnya. Kini mereka sudah membeli tiga buah atribut penting yang diperlukan ketika berkendaraan bermotor. Rey pun berpikir akhirnya mereka telah selesai. Tetapi saat Rey sudah ingin pergi dari mall tersebut, Tanaka menahannya.
"Mau kemana Tuan Rey?" tanyanya.
"Pulang. Kita sudah selesai belanja, kan. Untuk apa lagi kita berlama-lama di sini. Cuma berduaan lagi denganmu, nanti orang mengira kita pasangan gay yang sedang berkencan di siang hari." jawab Rey dengan nada berbicaranya yang agak ketus karena kesal. Sebenarnya kekesalannya itu dia tujukan untuk kakaknya tetapi karena saat ini hanya ada Tanaka didekatnya dan yang menjadi penyambung lidah kakaknya, jadi kena lah dia sebagai sasaran pelampiasan kekesalan Rey.
"Belum Tuan Rey. Kita masih perlu membeli dua barang lagi." jawab Tanaka masih dengan kesantunannya.
"Hah?!" tanya Rey dengan kaget. "Ohh man ...!" gerutunya dengan kesal. Sebenarnya Tanaka merasa lucu dengan tingkah Rey yang sedang menahan kekesalannya itu dan terlihat seperti cacing kepanasan. Tetapi ia tidak berani untuk tertawa dan ia pun berusaha menahan tawanya.
Barang selanjutnya yang akan mereka beli adalah sebuah kacamata hitam yang berfungsi untuk melindunginya dari sorotan sinar matahari yang membuat silau matanya. Saat pergi membelinya, Rey hanya diam mengikuti dan menyuruh Tanaka saja untuk memilihnya. Lalu benda terakhir yang mereka beli adalah masker penutup wajah sebagai pelindung wajah dan hidungnya dari debu dan kotoran yang juga bisa merusak kesehatannya.
Ohh man! pekik Rey lagi tapi hanya di dalam hatinya saja.
Setelah selesai membeli semua perlengkapan bermotornya, Rey menggeleng-gelengkan kepalanya. Selain merasa aneh pada sebagian benda yang harus dibeli dan digunakannya karena baginya itu tidak perlu, Rey juga merasa takjub dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli semua perlengkapan tersebut. Tak terhitung sudah berapa banyak uang kakaknya yang telah ia habiskan dalam satu hari saja. Tetapi sepertinya kakaknya itu tidak mempermasalahkannya, malah kakaknya terlihat senang bisa menghabiskan uangnya itu untuknya.
Sepertinya aku harus mencarikan kakakku seorang wanita agar wanita itu bisa membantunya menghabiskan uangnya untuk berbelanja dan aku bisa terhindar darinya. ocehnya dalam hati. Tapi kakakku sudah punya Bella Rose... dan wanita itu... hais! dia sendiri saja sudah banyak sponsor dan juga tidak perlu uang kakakku untuk berbelanja. kesahnya lagi.
"Sudah?" tanya Rey dengan menengok pada Tanaka yang sedang berjalan dibelakangnya.
"Iya, kita sudah selesai Tuan."
"Akhirnya .... " teriak Rey dengan gembira dan penuh kelegaan. "Terima kasih Tanaka, aku jalan dulu. Bye ...!" Rey ingin segera berlari namun Tanaka kembali menahannya.
"Tuan Rey, tunggu!" teriak Tanaka padanya.
"Apalagi?"
"Tuan Kei memberi pesan untukmu agar berhati-hati dan jangan mengebut saat mengendarai motormu di jalanan raya."
"Okay! okay!" Teriaknya sambil mengacungkan jari jempolnya sedikit naik ke atas dan ke arah Tanaka. Setelahnya Rey lalu lanjut berlari lagi untuk segera pergi dari situ. Karena dia sudah tidak sabar lagi untuk segera bisa merasakan dan mengendarai motor barunya. Selain itu juga karena hari sudah hampir sore dan ia takut tidak keburu.
Rey melihat jam ditangannya, dan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia lalu buru-buru mengendarai motor sport yang baru saja dibelinya itu menuju ke suatu tempat karena sebentar lagi sudah waktunya jam pulang kantor. Tempat itu adalah sebuah gedung perkantoran.
Setelah sampai di tempat tujuannya, Rey menghentikan motornya untuk parkir di pinggir jalanan di dekat trotoar dan mematikan mesin motornya. Kemudian Rey membuka helm yang sedang ia kenakan, melepas kacamata hitamnya, dan masker penutup wajahnya. Ia lalu duduk di atas motornya seperti sedang menunggu seseorang.
"Wow R6!" Terdengar suara seseorang seperti sedang berbisik tetapi dengan suara yang agak kencang. Rey menoleh ke arah suara. Saat Rey menolehkan wajahnya ke sumber suara yang ada dibelakangnya, ia seperti menyadari sesuatu. Ia lalu menoleh ke kiri, kanan dan ke belakangnya lagi, dan ia baru sadar ternyata sedari tadi orang-orang yang ada disekitarnya itu sedang memandang ke arahnya dan terus memperhatikannya. Awalnya ia merasa risih, tetapi kemudian ia diam dan cuek saja, tidak mempedulikan mereka. Rey hanya ingin fokus melihat ke arah pintu utama gedung kantor tersebut.
Sambil menunggu, Rey berniat untuk menelepon kakaknya untuk mengucapkan terima kasihnya atas motor baru yang kakaknya belikan untuknya. Rey lalu menelepon kakaknya dengan ponselnya, tetapi nadanya sibuk. Ia lalu mematikan panggilanya dan menunggu selama beberapa saat untuk kembali menghubunginya lagi nanti.
Di salah satu sisi pada jalanan besar di sekitarnya, terlihat Tanaka yang sedang berbicara dengan seseorang ditelepon dari dalam mobilnya. Ternyata setelah Rey mendapatkan motor barunya dan pergi dengan mengendarai motor tersebut, Tanaka secara diam-diam mengikutinya. Sekarang, Tanaka sedang melapor pada tuannya di mana keberadaan adiknya saat ini.
"Tuan Kei, adik anda saat ini sedang berada di parkiran luar sebuah gedung perkantoran. Ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang di sana."
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu kamu tinggalkan saja dia dan kembali ke kantor."
"Baik Tuan."
Sebenarnya Kei sendiri dapat melihat keberadaan adiknya melalui aplikasi penelusuran gpsnya itu. Tetapi ia juga ingin memastikan kalau adiknya dalam keadaan baik. Apalagi saat ini adiknya baru saja sembuh dan sudah ingin berpergian dengan mengendarai motornya sendiri.
"Tanaka!" Tiba-tiba Kei teringat sesuatu sesaat ia ingin menutup teleponnya.
"Ya, Tuan."
"Foto dia dan kirimkan padaku."
"Baik Tuan."
Kei telah mendapat kiriman gambar foto adiknya yang terlihat sedang duduk di atas motor sport barunya itu. Walaupun foto itu diambil dari sisi samping dan agak di kejauhan tetapi Kei masih tetap dapat melihat adiknya dengan cukup jelas. Ia lalu tersenyum dan menggumam sendiri sambil manggut manggut. "Persis seperti dugaanku, motor itu cocok untuknya dan dia tampak keren."
Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia melihat dilayar ponselnya tertera tulisan "Adik" yang melakukan panggilan tersebut. Kei lalu menjawabnya.
"Ya, adikku yang pembangkang, ada apa?" sahutnya.
Rey tersenyum mendengar kakaknya menyebutnya dengan nama panggilan seperti itu.
"Pembangkang? Panggilan yang keren dan sangat pas untukku. Apakah kakak menggunakan nama julukan itu sebagai kontakku di ponselmu?"
"Tidak, tapi kamu telah memberiku ide bagus untukku menambahkannya nanti." Rey terkekeh. "Jadi, bagaimana dengan motor barumu? Apa kamu menyukainya?"
"Hmm ... okelah."
"Mengapa jawabanmu datar seperti itu? Apakah kamu tidak menyukainya?"
"Tentu saja aku sangat menyukainya, ini adalah motor idaman para lelaki. Tapi kupikir motor ini terlalu berlebihan untukku."
"Tidak berlebihan, itu sangat pas untukmu."
"Iya ... terima kasih, Kak. Aku tahu kakak sangat menyayangi dan peduli padaku hingga ingin memberikan segalanya yang terbaik untukku, dan aku merasa sangat senang akan hal itu. Hanya saja, aku telah membuatmu menghabiskan banyak uangmu hanya dalam sekejap saja."
"Ken, jangan merasa sungkan dan tak enak hati seperti itu padaku. Kamu adalah adikku, harta dan kekayaanku ini berasal dari bisnis milik keluarga kita, yang berarti itu juga merupakan milikku dan kamu berhak untuk menggunakannya dengan bebas dan sesuka hatimu. Jadi enyahkan pikiran tak nyaman yang hanya mengganggumu itu."
"Baik Kak, aku mengerti." Rey terdiam sejenak dan lalu ia lanjut berbicara lagi. "Kakakku, aku tahu kalau kakak memang sengaja membelikanku motor sekeren itu agar aku terlihat keren dan membuat cowok-cowok di jalanan terpesona padaku dan klepek-klepek karena ketangguhanku ini, kan."
"Huahaha ... " Suara tawa Kei terdengar membahana di ruangan kerjanya yang sunyi dan luas itu. Sekretarisnya sampai langsung beranjak dari tempat duduknya untuk melongokkan kepalanya dan mengintip ke dalam ruangannya agar bisa melihat apa yang barusan terjadi. Kei pun langsung menutup mulutnya untuk meredam tawanya.
"Ken, jangan menggodaku dan membuatku tertawa! Saat ini aku sedang bekerja." ucapnya sambil menahan kegeliannya.
Masih sambil dengan terkekeh-kekeh, Rey berbicara lagi.
"Apakah kakak mau mencoba mengendarainya dan melihat berapa banyak dari mereka di jalanan yang akan terpincut oleh kegagahan dan ketangguhanmu?"
"Ken ... janganlah menggodaku lagi! Sebaiknya aku akhiri saja panggilan ini sebelum aku dikira gila oleh para karyawanku karena ulahmu itu. Bye, adikku yang pembangkang."
"Bye, kakakku tercinta." dan klik, terdengar bunyi Kei menekan tombol memutus panggilan.
***