Happiness For You

Happiness For You
78 Impian Rey



Kembali ke masa kini.


Hari sudah semakin senja. Kei mengetahui kalau sejak keributan mereka tadi pagi di hotel, Rey tidak melangkahkan kakinya untuk pulang ke apartemennya. Sehingga sekarang, walaupun dirinya daritadi sudah berusaha untuk tidak memikirkan dan mencemaskan adiknya yang adalah seorang pria yang telah dewasa, tetapi ia berpikir tetap harus mencari adiknya untuk membicarakan persoalan ini dengan baik-baik dan mungkin sekalian untuk meminta maaf padanya.


Setelah acara audisi selesai, Kei kembali ke ruang audisi dan berbicara dengan Pak Bambang dan dengan beberapa karyawannya yang bertugas dalam menyelenggarakan audisi tersebut. Dari mereka Kei mengetahui kalau adiknya memang bertalenta dan memiliki keahlian yang baik dalam memasak. Mereka juga menyayangkan karena Rey telah gagal untuk masuk dan bergabung bersama mereka sebagai koki junior di sana.


"Tuan Kei, sebenarnya peserta yang anda gagalkan itu mendapat rekomendasi dari Pak Hadi yang mendaftarkannya secara langsung untuk mengikuti audisi ini."


"Pak Hadi? Siapa dia?"


"Nama lengkapnya adalah Hadi Dinata dan dia adalah kepala koki utama di The Hiro Cafe yang ada di Bandung."


"Ada hubungan apakah diantara mereka berdua?"


Kei tidak mengenal paman Hadi Dinata karena tidak ada yang saling memperkenalkan mereka walaupun anggota keluarganya yang lain sangat mengenalnya. Hal itu karena paman Hadi adalah seseorang yang ada di masa lalu orang tuanya dan juga tinggal di Kota Bandung sehingga berjauhan darinya.


"Maaf Tuan, kami juga kurang mengetahuinya."


"Baiklah, aku mengerti." Kei kemudian pergi dari situ dan segera mencari tahu tentang paman Hadi agar bisa menghubunginya dan bertanya padanya.


Kei lalu memerintahkan asistennya untuk menelepon ke The Hiro Cafe yang ada di Bandung dan mencari keberadaannya.


"Halo, bisa tolong disambungkan dengan Pak Hadi Dinata?"


"Iya, ini dengan saya sendiri yang berbicara."


"Baiklah Pak Hadi, tunggu sebentar, Tuan saya ingin berbicara secara langsung dengan anda."


"Halo, Pak Hadi. Ini saya Kei Takahiro."


Paman Hadi cukup terkejut saat mendapati kalau yang sedang meneleponnya itu adalah bosnya. Bosnya itu ingin berbicara secara langsung kepadanya. Saat itu ia belum terpikir kalau pembicaraannya itu akan ada kaitannya dengan Reyhan Wiriawan, adik dari bosnya itu.


"Iya, Tuan Kei. Ada keperluan apa dengan saya yang bisa saya bantu?"


"Pak Hadi, jangan terlalu tegang dan formal pada pembicaraan kita ini. Saya tahu kalau anda mengenal adik saya, dan mungkin bahkan anda telah sangat mengenalnya."


"Reyhan? Ya, anda benar. Saya mengenalnya."


"Boleh saya tahu apa hubungan anda dengannya? Maksud saya, bisakah anda menceritakannya bagaimana kalian bisa saling mengenal?"


Paman Hadi tertawa kecil, lalu ia menjawab,


"Dulu saya berteman dengan mendiang ibunya dan mungkin juga ibu anda."


"Ohh, jadi anda teman dari mendiang ibu saya? Ma-maaf Pak Hadi atas ketidaksopananku tadi."


"Tidak Tuan, jangan meminta maaf padaku yang hanyalah seorang bawahanmu dan juga jangan sungkan terhadapku karena aku hanyalah seorang teman mendiang ibumu."


"Tapi kurasa hubungan pertemanan kalian cukup baik karena melihat hubunganmu dengan adikku yang juga baik dan mungkin juga anda cukup dekat dengannya."


"Dulu kecil, saya sering mengajak Rey bermain dan saya juga sering membawanya ke restoran tempat saya bekerja untuk mengajarinya memasak karena kebetulan kami memiliki minat dan kegemaran yang sama.


"Dan dengan ibuku juga?"


"Tidak tidak, ibumu ... setelah perpisahannya dengan ayah kalian, ibumu selalu berusaha menyembunyikan dirinya dan tidak mau datang ke restoran tempatku bekerja karena itu adalah restoran milik ayahmu."


Kei mulai merasa sedih dan terenyuh mendengar hal tentang ibunya tersebut.


"Lalu?" tanyanya semakin merasa penasaran dan ingin tahu lebih dalam lagi.


"Mm ... tapi adikmu tidak tahu mengenai hal tersebut, kalau restoran itu milik ayahnya. Lalu karena adikmu gemar memasak dan sangat senang memasak menggunakan berbagai peralatan dapur yang canggih yang ada di sana, jadi ia sering memaksa dan merengek pada ibunya untuk membawanya ke sana."


"Tetapi anda tidak keberatan dengan hal itu?"


"Tidak, tentu saja tidak. Saya telah menganggapnya sebagai anak saya sendiri. Apalagi seperti yang anda tahu, selama ini adikmu kehilangan figur seorang ayah dan saya merasa ... ya seperti itulah."


Kei terdiam sejenak. Hatinya merasa sakit dan sedih mendengarnya walaupun ia telah mengetahui kenyataan itu.


"Selain itu adikmu juga adalah seorang anak yang baik dan menyenangkan."


"Kalau begitu saya juga akan memanggilmu dengan sebutan paman, karena anda telah menganggap adik saya sebagai anak. Tapi Paman juga jangan memanggilku dengan sebutan Tuan lagi."


"Tapi anda adalah bos saya."


"Tidak masalah bagiku. Lagipula Paman adalah teman baik ibuku jadi Paman jangan terlalu sungkan padaku."


"Baiklah, Kei."


"Iya Paman."


"Bagaimana dengan Rey? Yang kutahu pagi ini dia mengikuti audisi di restoranmu."


"Ahh ya, karena persoalan itu aku meneleponmu." Kei hampir saja melupakannya karena rasa penasarannya tentang hubungan mereka. "Paman tahu, aku telah berbuat salah kepadanya karena aku telah menggagalkannya."


"Ohh astaga! Rey ... dia pasti sangat kecewa dan sedih."


"Ya, Paman benar sekali. Aku telah sangat salah terhadapnya.


"Boleh kutahu apa alasanmu itu menggagalkannya? Apakah itu karena kamu khawatir dan mencemaskannya?"


"Iya, Paman tahu?"


"Rey pernah mengatakannya, kalau kamu mirip dengan ibunya. Akan tetapi, itulah alasannya mengapa ia mau mendaftar menjadi koki di restoranmu. Dia berpikir dengan begitu, maka kamu bisa berada didekatnya dan selalu bisa melihat serta mengetahui apa saja yang sedang terjadi padanya."


"Benarkah? Dia berpikir seperti itu? Tetapi sebenarnya yang kukhawatirkan adalah tubuhnya tidak dapat kuat untuk melakukan berbagai tugas yang cukup berat dan melelahkan sebagai seorang koki. Aku takut kalau penyakitnya ...."


"Apa Rey sakit lagi? Maksudku, aku tahu kalau dulu kecil ia sempat sakit parah tetapi dia telah sembuh. Apa mungkin penyakitnya kambuh lagi baru-baru ini?"


"Sepertinya dia tidak memberitahu Paman kalau beberapa bulan lalu ia baru saja menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang karena penyakitnya muncul lagi."


"Tidak ..., dia tidak memberitahuku. Anak itu, dia ... Ck ... aku tidak tahu kalau dia telah sakit lagi ... Mengapa dia tidak menceritakannya padaku?"


"Benar Paman, adikku seorang yang seperti itu. Dia selalu menutupi sesuatu hal penting yang terjadi pada dirinya. Itulah mengapa aku harus selalu merasa takut dan khawatir terhadapnya."


"Sama seperti ibumu, beliau juga pernah mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan. Reyhan, dia masih saja tidak berubah. Dia selalu tidak ingin membuat orang khawatir dan cemas padanya tetapi pada akhirnya ia malah membuat orang semakin mengkhawatirkannya. Tetapi dia sudah mendapatkan transplantasi sumsumnya, dan itu berarti penyakitnya sudah sembuh bukan?"


"Iya dia telah sembuh, setidaknya untuk saat ini. Tetapi dokter mengatakan walau untuk saat ini keadaannya terlihat baik dan tubuhnya sehat, tetapi kita masih tidak bisa memastikan bahwa itu akan berlaku untuk selamanya seperti itu. Masih ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi nantinya. Bisa saja ditubuhnya terjadi perubahan drastis yang datang secara tiba-tiba dan jika itu terjadi maka akan begitu cepat dan akan sangat buruk baginya. Sehingga aku harus selalu menjaga dan mengawasinya dengan baik. Paman, aku sangat takut kalau aku sampai longgar dan kurang memperhatikannya, dan pada akhirnya ia ..."


"Kei, Paman paham akan ketakutanmu itu. Kamu juga pastinya tidak bisa mengutarakan ketakutan dan kekhawatiranmu itu kepadanya."


Mereka lalu saling berbincang hingga akhirnya mereka menemukan solusi yang terbaik bagi Rey.


"Tanaka, sepertinya dia tahu kalau aku suka melacaknya melalui gps yang terpasang di ponselnya dan hingga kini ia masih tidak mengaktifkan ponselnya. Kira-kira kemana kita harus mencarinya?"


"Tuan Kei, mungkin kita bisa mencoba dengan mencari ke rumahnya? Atau ke gedung kantor Nona Erika?"


"Baiklah, kurasa sekarang kita menuju ke rumahnya dan aku akan mencoba menghubungi Erika untuk bertanya padanya karena saat ini sudah jam pulang kantor."


***


Kei lalu menelepon ponsel Erika.


Kei : "Halo Erika, maaf menggangu waktumu sebentar. Apakah sekarang kamu sudah pulang kerja?"


Erika : "Iya, aku sudah pulang kerja tetapi aku masih sedang menunggu jemputanku."


Kei : "Lalu, apakah kamu melihat adikku di sekitar gedung kantormu?"


Mata Erika berkeliling mencari sosok Rey beserta motor sport nya.


Erika : "Tidak, Kak Kei."


Kei : "Baiklah kalau begitu, terima kasih Erika."


Erika : "Kak Kei, sepertinya kamu terdengar cemas. Boleh kutahu apa yang sedang terjadi?"


Kei : "Begini Erika, secara singkatnya, adikku sedang marah padaku dan seharian ini dia pergi entah ke mana."


Erika : "Aku mengerti kalau kamu pasti mencemaskannya dan ingin mencarinya. Mungkin aku bisa membantumu dengan menanyakannya pada anak buahnya?"


Kei : "Tidak Erika, dia sudah tidak memiliki anak buah lagi. Adikku sudah melepas status gangsternya dan ia telah menjadi orang biasa yang menjalani hidup dengan normal."


Erika : "Ohh ... tapi bukankah seumur hidupnya dia tidak bisa lepas dari statusnya itu?"


Kei : "Ya, memang butuh sebuah perjuangan untuk bisa membebaskan diri dari mereka dengan menjalani hukuman yang cukup berat. Tetapi itu masih bisa dilaluinya."


Erika teringat akan wajah Rey yang penuh memar, dan dia jadi berpikir dirinya telah salah karena menuduh Rey berkelahi.


Erika : "Aku senang mendengarnya. Karena itu berarti dia sudah bisa bebas melakukan apa yang ia mau dan juga bisa mengejar impian serta cita-citanya sebagai chef profesional."


Kei : "Bahkan kamu juga tahu akan impiannya itu? Sepertinya, diantara orang-orang yang ada didekatnya, hanya aku seorang yang tidak tahu akan hobi dan impiannya itu dan yang juga tidak bisa memahami apa yang dia inginkan."


Erika : "Sebenarnya, apa yang telah kamu lakukan padanya?"


Kei : "Aku menggagalkan audisi yang diikutinya sebagai koki di restoran milikku."


Erika : "Kak Kei, maaf untuk soal ini aku mungkin agak berpihak kepadanya, tapi ...."


Kei : "Tidak apa Erika, katakan saja. Aku tidak akan marah padamu, dan aku juga sadar kalau aku telah sangat salah kepadanya."


Erika : "Begini, aku tahu betapa keras kepalanya dia. Tetapi aku juga dapat memahami kekecewaan yang mungkin saat ini sedang dirasakannya, dan itu bukan karena ia seorang yang keras kepala yang harus selalu dituruti keinginannya. Melainkan itu karena selama ini ia telah hidup dengan menahan keinginan dan perasaannya. Ia bahkan tidak berani untuk bermimpi atau memikirkan impiannya itu. Padahal ia memiliki impian yang begitu nyata dan yang bisa dengan mudah ia wujudkan. Lalu sekarang, ketika ia berani bermimpi dan ingin mewujudkannya, dia harus dihadapkan dengan kegagalannya. Itulah mengapa dia merasa sangat kecewa."


Kei : "Dan yang telah menghancurkan impian yang bahkan baru akan mulai diraihnya itu adalah aku, yang adalah satu-sstunya anggota keluarga yang dimilikinya dan juga sebagai orang terdekatnya."


Erika : "Kak Kei, maaf aku tak bermaksud untuk menyalahkan atau memojokkanmu. Tetapi aku juga mengenali dan mengetahui karaktermu itu. Pasti ada suatu alasannya mengapa kamu menggagalkannya dan itu adalah karena kamu tidak mau melihat adikmu kesusahan dengan bekerja sebagai seorang koki. Sedangkan kamu sebagai kakaknya yang juga sebagai pemilik dari banyak perusahan besar, pastinya ingin memberinya kehidupan yang nyaman, juga ingin memberinya sebuah pekerjaan dengan posisi yang berkedudukan tinggi di perusahaanmu."


Kei : "Kamu benar Erika."


Erika adalah seorang wanita yang cukup berpendirian dan juga cerdas. Dia dapat menempatkan dirinya diantara mereka dengan pemikirannya yang matang dan pemahamannya yang baik sehingga ia bisa selalu menjadi penengah diantara mereka. Jadi dia bukan semata-mata hanya dapat membela satu pihak saja. Tetapi ia selalu berusaha membuat keduanya untuk bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain dan dapat membantu menghentikan keributan serta kesalahpahaman yang sering terjadi diantara mereka.


Erika : "Kak Kei, maafkan aku yang mungkin sok pintar dan kurang sopan. Tapi aku ingin memberimu beberapa masukan yang mungkin bisa membuatmu jadi lebih bisa menerima dan memahami sikap adikmu tersebut.


Kei : "Tidak Erika. Aku tidak akan berpikir seperti itu. Katakanlah, apa masukanmu itu."


Erika lalu memberinya beberapa kalimat yang bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran untuk membuatnya lebih bisa menerima dan memotivasi keinginan adiknya itu.


"Kei : "Terima kasih, Erika. Masukanmu itu sangatlah bagus dan itu telah membuka pikiranku untuk bisa menjadi pendukung dan pemberi motivasi bagi adikku."


Erika : "Aku senang mendengarnya Kak Kei. Semoga hubunganmu dan adikmu dapat segera membaik. Aku juga mendoakan adikmu semoga dia dapat sukses dalam meraih impiannya itu."


Kei : "Uhmm, kamu sampaikan saja sendiri doamu itu langsung pada adikku."


Erika : " ...."


Kei : "Ada apa? Mengapa kamu hanya diam saja? Apa kamu masih belum bisa juga untuk memaafkannya dan menerimanya kembali? Kupikir selama ini kalian sudah berbaikan karena aku tahu kalau dia pernah beberapa kali mendatangimu di kantormu."


Erika : "Dia hanya pernah datang sebanyak tiga kali saja dan itu pun dia hanya diam, tidak melakukan apapun dan juga tidak terjadi interaksi diantara kita."


Kei : "Apa mungkin itu karena sikapmu yang masih dingin terhadapnya atau ada sesuatu hal lain yang kamu lakukan?"


Erika mencoba mengingat kembali ketiga momen kedatangan Rey di kantornya.


Erika : "Kurasa tidak ada, aku tidak melakukan apapun padanya. Aku bahkan tidak mengetahui kalau itu adalah dia pada saat pertemuan yang pertama dan kedua, karena dia selalu menutupi wajahnya dengan helm. Lalu pada pertemuan yang ketiga, barulah akhirnya aku mengetahuinya dan saat itu kami hanya berinteraksi dengan sedikit saja karena saat itu aku buru-buru dan harus pergi dengan atasanku yang sudah menungguku."


Kei : "Apakah atasanmu lelaki?


Erika : "Iya"


Kei : Apakah dia seusia denganmu dan apakah kalian lalu pergi bersama dengan menggunakan satu kendaraan yang sama?


Erika : "iya dan iya."


Kei : "Astaga Erika! Adikku pasti telah salah paham. Dia pasti mengira kalau kamu dan atasanmu itu saling berhubungan dan berpikir kalau kamu telah melupakannya dengan menjalin hubungan dengan pria lain yang adalah atasanmu itu."


Erika : "Astaga Kak Kei. Sepertinya kamu benar. Pantas saja setelah itu dia tidak pernah datang ke kantorku lagi."


Kei : "Jadi kamu tahu, kan sekarang apa yang harus kamu lakukan. Kalau kamu masih menyayangi adikku, tentunya."


Erika : "Iya, Kak Kei. Aku tahu itu."


Kei : "Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya kuucapkan untukmu."


Erika : "Tidak masalah, Kak Kei. Bye"


Kei : "Bye, Erika."


Pembicaraan selesai.


***