
Hari ini adalah hari Senin dan hari pertama Rey masuk kerja sebagai koki baru di restoran The Hiro Cafe. Karena selama ini Kei harus hidup terpisah dari adiknya sehingga ia merasa telah kehilangan begitu banyak momen kebersamaan dengan adiknya. Jadi Kei ingin sekali bisa mengantarkan dan melihat adiknya bekerja di restoran miliknya tersebut. Tetapi dia tahu adiknya pasti akan marah dan menolaknya dengan sangat keras. Sehingga, dirinya kembali meminta asistennya untuk datang dan diam-diam mengamatinya dari luar saja.
"Kakak, sarapan untukmu sudah aku siapkan. Aku pergi kerja dulu ya."
"Ken, kamu tidak mau diantar olehku?"
"Tidakk, Kak. Bye."
"Berhati-hatilah di jalan."
"Iya."
Sebenarnya jumlah koki baru yang diterima ada 5 orang. Namun dengan Rey maka totalnya menjadi 6 orang. Dengan 3 orang adalah perempuan, dan 3 lagi lelaki. Saat ini keenam koki-koki baru itu sedang baris berjejer untuk melakukan sesi perkenalan dan juga untuk diberi pengarahan. Lalu ketika sesi perkenalan dimulai, muncul seseorang yang merupakan sosok baru di restoran tersebut. Salah seorang staff lama yang bertangung jawab melatih para anak baru di dapur itu, memperkenalkan sosok tersebut yang merupakan kepala koki mereka yang baru yang akan menggantikan Pak Bambang karena ia dipindah tugaskan.
Ketika melihat wajah kepala koki baru tersebut, Kei sangat terkejut karena kepala koki itu adalah seseorang yang telah sangat dikenalnya. Rey langsung tersenyum sumringah dan sangat lebar. Tetapi kemudian Rey langsung menutup rapat mulutnya karena ia tidak mau orang lain melihatnya. Begitu juga dengan sang kepala koki baru tersebut yang adalah Hadi Dinata atau yang biasa dipanggil Rey dengan sebutan Paman Hadi. Paman Hadi juga tidak menunjukkan kalau mereka saling kenal untuk menjaga profesionalitasnya dalam bekerja.
Rey menyadari kalau ternyata inilah kejutan yang kakaknya maksudkan. Walaupun Rey merasa senang akan kejutan yang kakaknya berikan tersebut, tetapi Rey juga merasa aneh. Mengapa kakaknya perlu sampai berbuat hal seperti itu untuknya.
Setelah sesi pengarahan dan perkenalan selesai, paman Hadi pergi keluar ruangan. Rey buru-buru keluar ruangan untuk menyusulnya. Di luar, ia melihat Tanaka yang sedang berdiri dengan badan yang membelakanginya dan berusaha untuk menutupi dirinya agar tidak terlihat oleh Rey. Namun terlambat, bagi seorang Rey yang lincah dan jeli, mana mungkin ia bisa dikelabui.
"Tanaka?!" Seru Rey padanya. "Kamu sedang apa di sini?"
"Tuan Rey. Kebetulan saya sedang ada sedikit keperluan di restoran."
"Tapi ini di area dapur. Kamu bukan sedang memata-matai ku, kan?" Tanya Rey penuh selidik.
"Ti-tidak Tuan Rey."
"Ya sudah." Jawab Rey lalu melenggang pergi mencari paman Hadi. Tetapi baru melangkah beberapa langkah, ia terpikir akan suatu hal, lalu sedetik kemudian ia berbalik lagi ke arah Tanaka.
"Tanaka, foto aku, di situ." Ucap Rey sambil mengajak Tanaka masuk ke dalam dapur. Tanaka menurutinya. Setelah Tanaka mengambil foto Rey dengan beberapa gaya dan beberapa kali jepretan, Rey meminta ponselnya.
"Berikan ponselmu padaku." Ucapnya sambil menjulurkan telapak tangannya, meminta. Tanaka kembali menurutinya, memberikan ponselnya pada adik bosnya dengan ragu-ragu.
Rey segera mengambilnya dan membuka aplikasi chat untuk mengetik suatu pesan pada kakaknya.
Begini bunyi pesannya,
Bos, ini foto-foto adikmu di hari pertamanya kerja. Mohon disimpan dengan baik 💟.
Rey lalu menekan tombol 'kirim pesan' dan setelah pesan terkirim, ia mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
"Ini kukembalikan ponselmu." Lalu Rey pergi untuk menyusul paman Hadi ke ruang kerjanya. Meninggalkan Tanaka yang terbengong dan melongo keheranan karena perbuatan Rey yang aneh dan mengejutkannya.
"Paman." Sapanya setelah tiba di sana.
"Hai Rey. Bagaimana hari pertama kerjamu sebagai koki?"
"Masih biasa saja. Paman sendiri bagaimana? Ini juga hari pertamamu dipindah tugaskan ke sini, kan?"
"Sama, masih biasa juga."
"Bagaimana Paman bisa sampai dipindahkan ke Jakarta? Bukankah Paman sudah betah dan menetap di sana? Apakah itu karena perintah dari kakakku dan demi diriku?" Tanya Rey langsung menembaknya, tanpa berbasa basi lagi. Paman Hadi pun jadi merasa bingung untuk menjawabnya.
"Tidak, itu hanya kebetulan saja."
"Kebetulan yang telah diatur. Pastinya. Baiklah, aku tahu Paman tidak mau menceritakannya padaku."
"Kamu sendiri bagaimana? Mengapa kamu tidak pernah menceritakan pada Paman tentang kondisi penyakitmu yang pernah muncul lagi?"
"Benar dugaanku, pasti ini ulah kakakku. Baiklah, aku pergi dulu." Rey langsung pergi begitu saja meninggalkan paman Hadi.
"Rey! Jawab aku dulu."
"Aku anak baru jadi tidak bisa lama-lama menghilang." Jawabnya sambil berlari pergi dengan menyimpan kekesalannya.
Di hari pertama bekerja, mereka para koki baru tidak terlalu banyak mendapat kesempatan untuk memasak. Karena mereka masih dalam masa pelatihan. Sehingga mereka lebih banyak disibukkan untuk urusan remeh temeh seperti mencuci panci dan peralatan memasak atau menyiapkan bahan-bahan yang sedang diperlukan.
Paman Hadi masih berusaha untuk mengajak Rey berbicara, tetapi ia tetap tak menghiraukannya. Lalu saat pulang ke rumah, Rey juga berusaha menghindari kakaknya. Itu karena ia menyadari kekesalannya dan ia tidak mau kekesalannya itu meledak yang pada akhirnya berujung keributan dan membuatnya kembali mengecewakan kakaknya.
"Ken, kamu sudah pulang. Bagaimana hari pertamamu kerja?"
"Cukup menyenangkan. Maaf, Kak aku merasa sedikit lelah. Aku perlu untuk segera mandi agar bisa beristirahat." Ia lalu langsung berjalan pergi menuju kamarnya.
***
Baru saja bekerja beberapa hari, Rey sudah menghadapi masalah kecil karena kedua temannya yang lelaki yang juga sesama koki baru, merasa iri dan tidak suka padanya. Apalagi mereka dapat merasakan sikap Paman Hadi, yang adalah atasan mereka, memperlakukan Rey secara berbeda.
Seperti yang terjadi pada siang ini. Biasanya, sebagai staff baru mereka sering ditugaskan untuk mencatat dan mengecek stok persediaan bahan makanan yang ada di gudang. Lalu ketika ada pengiriman stok barang yang datang, mereka harus mengurusnya dalam gudang untuk memeriksa, mencatat dan menyusunnya ke dalam gudang.
Dengan mereka bertiga para pria mendapat tugas untuk menyusun, dan para wanita mencatat sambil memeriksa keadaannya. Namun saat Rey baru saja ingin menyentuh dus-dus tersebut untuk mengangkatnya, tiba-tiba paman Hadi datang dan memanggilnya sehingga dia menjadi seperti dibebas tugaskan dari pekerjaan mengangkat dus barang yang berat tersebut. Ia baru kembali lagi saat pekerjaan mereka sudah hampir selesai dikerjakan semuanya.
Begitu juga dengan keesokan harinya.
"Reyhan kemarilah. Saya memiliki suatu tugas penting untukmu." Panggil paman Hadi.
Mereka lalu pergi ke ruangan paman Hadi.
"Ada hal penting apa Paman yang harus kukerjakan?" Tanya Rey saat mereka sudah berduaan saja.
"Tidak ada, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Paman, jangan begitu. Kalau tidak ada yang penting untuk kulakukan, aku harus kembali membantu mereka menyusun dan mengangkat barang-barang itu ke dalam gudang."
"Rey, tidak apa. Biarkan mereka saja yang melakukannya."
Akhirnya teman-temannya mengerjakannya tanpa dirinya lagi. Kejadian seperti ini terus berulang hingga beberapa kali. Lama kelamaan Rey merasa tidak enak dengan teman-temannya. Kemudian ia menolak panggilan pamannya yang selalu menginterupsinya saat bekerja.
"Reyhan, kemarilah. Aku memiliki suatu keperluan yang penting denganmu sebentar." Panggil Paman lagi di suatu hari saat Rey dan teman-temannya sedang bertugas menyusun inventori digudang.
"Maaf, Pak. Tetapi saya juga sedang mengerjakan tugas saya yang juga penting dan belum selesai." Jawabnya.
"Tidak apa, tinggalkan saja itu pada teman-temanmu dan biarkan mereka yang membereskannya."
"Tidak, Pak saya harus membantu mereka juga untuk menyelesaikan tugas kami secara bersama-sama." Rey ngotot ingin membantu mereka.
Akhirnya paman Hadi tidak lagi memaksanya dan membiarkannya membantu mereka. Namun, ternyata teman-temannya itu malah meninggalkannya dan membuatnya menyelesaikan semua tugas itu sendirian.
"Aku lelah sekali, bisakah aku beristirahat sebentar dulu?" Celetuk seorang temannya yang bernama Anton.
"Benar aku juga. Dari kemarin kita harus merapihkan ini berduaan saja. Rey, tolong kamu gantikan kami ya. Beberapa hari ini kan kamu selalu terbebas dari tugas ini karena kamu dipanggil oleh Pak Hadi untuk mengerjakan pekerjaan lain yang kami rasa tidak seberat yang kami lakukan ini."
"Baiklah, tidak masalah. Maafkan aku yang tidak membantu kalian kemarin-kemarin." Ucap Rey tidak keberatan.
Tanpa protes ataupun marah pada temannya dan dalam diamnya, Rey mengerjakan semua tugas itu sendirian. Ia mengangkat semua barang-barang pengiriman yang baru saja tiba ke dalam gudang dan menyusun semua barang-barang itu sendirian di dalam gudang.
Sedangkan kedua temannya itu hanya duduk-duduk diam saja sambil memandanginya dan bahkan membicarakan dirinya dengan mengejek dan menjelek-jelekkannya secara sengaja di depannya.
"Lihatlah dia, terlihat kesusahan melakukan pekerjaannya itu. Pasti dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat seperti itu. Biar rasain dia. Dasar anak orang kaya yang manja."
"Iya, betul. Seharusnya dia kan tidak lolos saat diaudisi. Lalu sekarang dia dapat masuk dan bergabung dengan kita untuk bekerja sebagai staff baru. Kurasa dia memiliki koneksi yang kuat sehingga dia bisa tetap masuk dan diterima lagi."
"Padahal seperti yang kita lihat, yang menggagalkannya saat audisi itu si Tuan Kei langsung, yang adalah pemilik hotel dan restoran ini. Apakah itu berarti koneksi yang dimilikinya orang yang sangat kuat dan lebih berkuasa dari Tuan Kei yang natabene adalah pemilik restoran ini?"
"Iya, kurasa sepert itu. Belum lagi perlakuan atasan kita, Pak Hadi. Kamu merasakannya tidak? Dia memperlakukannya dengan sangat berbeda."
"Iya, Pak Hadi selalu memanggilnya untuk menghentikannya melakukan pekerjaan berat itu, dengan dalih ada urusan lain yang lebih penting. Padahal aku yakin itu hanya pura-pura saja."
"Tapi aneh, kalau dia adalah anak orang kaya, dan punya koneksi yang bagus, lalu mengapa dia mau bekerja dengan susah payah menjadi koki kecil seperti kita ini? Pastinya akan sangat gampang baginya untuk mendapatkan pekerjaan lain yang lebih ringan, nyaman, dan menyenangkan seperti pekerja kantoran yang hanya duduk doang di ruangan ber AC."
Rey yang daritadi mendengarkan pembicaraan mereka dengan diam, akhirnya merasa gerah dan mengeluarkan suaranya.
"Maaf teman-teman, jika kalian tidak suka padaku sebaiknya kalian tinggalkan saja aku di sini seorang diri. Daripada kalian terus membicarakan diriku didepanku dan terdengar olehku."
"Memangnya kenapa kalau kami ingin membicarakan dirimu? Toh yang kami bicarakan adalah sebuah kenyataan, bukannya sedang menjelek-jelekkan dirimu. Kalau kamu tidak suka tutup saja kupingmu. Kamu juga tidak usah menguping pembicaraan kami.
"Benar itu, jangan menguping pembicaraan orang. Itu tidak baik. Lagipula kami juga ingin pergi dari sini, tetapi kami tidak bisa melakukannya. Karena kalau ketahuan senior dan atasan, kami bisa dipecat oleh mereka."
"Saat ini sudah jam pulang kerja, jadi kurasa itu tidak masalah jika kalian ingin pulang duluan."
"Iya benar sudah jam pulang kerja. Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Kamu selesaikan dengan baik ya. Awas kalau sampai tidak becus menyusunnya." Rey hanya mendiamkannya saja.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkannya seorang diri.
"Hei, kamu yakin tidak apa kita meninggalkannya untuk menyelesaikan semua itu sendirian?" tanya temannya yang bernama Jeremy.
"Tidak apa, tenang saja. Dari kemarin-kemarin dia juga tidak pernah membantu kita mengerjakan tugasnya sedikitpun. Kita kan harus adil dalam membagi tugas, jangan mau enaknya saja dia." jawab Anton.
"Tapi kasihan juga kalau kita tinggalin dia sendirian, ini juga sudah melewati jamnya pulang dan dia masih belum selesai."
"Terserah kamu, kalau kamu ingin membantunya silahkan, aku sih sudah ingin pulang saja. Lagipula pekerjaan itu tidak harus langsung diselesaikan hari ini juga. Kalau dia mau masih bisa untuk melanjutkannya besok lagi, kan."
"Baiklah, aku ikut kamu saja. Aku juga sudah ingin pulang."
"Ayo."
Akhirnya satu jam kemudian, Rey masih belum selesai menyusun semuanya. Tetapi dirinya sudah merasa cukup lelah sehingga ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan melanjutkannya kembali keesokan harinya. Lalu ia pun pulang ke apartemen.
"Rey kamu baru pulang? Memang kamu lembur di restoran?" tanya kakaknya saat Rey baru masuk ke dalam apartemen.
"Tidak, Kak. Aku tadi sempat pergi dulu sebentar dengan Erika." Jawab Rey berbohong.
"Ohh begitu, baiklah. Kamu mandi dulu sana dan kita makan malam bareng. Kakak sudah memesan pizza dan pasta untuk makan malam."
"Iya, Kak."
***