Happiness For You

Happiness For You
75 Pembebasan Part 2



Kemudian Tuan Yoshiro memanggil beberapa anak buahnya yang merupakan para senior dan juga memiliki kedudukan. Ia lalu memerintahkan mereka untuk memanggil semua anggota yang sedang hadir disitu untuk berkumpul diruangan kerjanya sekarang juga. Setelah semua anggota telah berkumpul dan telah berdiri dalam posisi berbaris yang rapih, terlihat salah seorang senior yang merupakan asisten kepercayaan Tuan Yoshiro, maju ke depan dengan memegang secarik kertas yang merupakan surat pembebasan keanggotaan Rey. Ia lalu membacakan isi surat pemberitahuan tersebut didepan semua anggota yang sedang hadir di ruangan tersebut.


"Seorang anggota dari kita, yang bernama Reyhan Wiriawan a.k.a Ken Takahiro telah melakukan sebuah pelanggaran berat. Adapun pelanggaran tersebut adalah melakukan penipuan yang secara disengaja dengan menutupi atau merahasiakan identitas dirinya yang sebenarnya. Sehingga sebagai sanksinya ia akan dikeluarkan dari keanggotaan. Maka sebagai hukumannya dia akan menjalani pengeksekusian yang merupakan tradisi dan hukuman wajib bagi anggota yang akan keluar.


Sanksi lainnya adalah pemutusan hubungan ayah dan anak angkat antara Tuan Yoshiro dan Reyhan Wiriawan dimana bersamaan dengan itu maka haknya sebagai penerus dan ahli waris juga ikut dihapuskan. Berikut juga dengan fasilitas dan harta benda yang didapatnya dari Tuan Yoshiro akan diambil darinya, beserta para pengikut dan anak buah miliknya.


Adapun aturan yang berlaku pada saat proses pengeksekusian dijalankan bahwa hukuman dilaksanakan oleh setiap anggota yang telah hadir di sini saat ini. Masing-masing anggota tersebut diwajibkan memberinya hanya satu buah pukulan saja. Dengan cakupan seluruh bagian tubuh dimulai dari pundak atas hingga ke jari kaki. Sedangkan batasannya tidak mencakup anggota tubuhnya dari bagian kepala sampai ke bagian leher. Para anggota diperbolehkan menggunakan benda apapun sebagai alat kecuali senjata berpeluru, benda mengandung api, benda yang mengandung listrik, benda yang mengandung sengatan berbahaya, dan benda beracun. Selain yang disebutkan diatas, maka hal lainnya mengikuti sesuai ketentuan dan aturan yang telah berlaku.


Setelah menerima dan menjalankan proses pengeksekusian tersebut, maka Reyhan Wiriawan dinyatakan bebas dan tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan Tuan Yoshiro dan para anggota yang tergabung dalam kelompok mafia yang dibawahi oleh Tuan Yoshiro. Baik itu hubungan sebagai teman ataupun musuh. Juga segala tindakan yang berkaitan dengan dirinya, yang berupa bantuan maupun dendam, semua harus diakhiri. Dengan kata lain, tidak ada bantuan dan tidak ada dendam yang terjadi pada dirinya.


Bagi seluruh anggota baik yang hadir maupun yang tidak hadir diharuskan mengikuti aturan tersebut dan bagi siapa saja yang berani melanggarnya, maka akan diberlakukan sanksi dan hukuman sesuai peraturan yang berlaku."


Setelah senior itu selesai membacakannya, Rey segera duduk dalam posisi berlutut dan mengucapkan terima kasih pada ayah angkatnya.


"Terima kasih ..., Tuan Yoshiro." Rey tidak lagi memanggilnya dengan sebutan ayah atau bos pada Tuan Yoshiro.


Ia lalu membungkukkan tubuhnya sedalam mungkin hingga menyentuh lantai sebagai sebuah penghormatan kepada Tuan Yoshiro.


Tuan Yoshiro tidak mengucapkan sepatah kata apapun juga padanya. Ia lalu bangun berdiri dari tempat duduknya dan akan beranjak pergi meninggalkan ruangan. Rey mengangkat tubuhnya dan menatap kepadanya. Selama itu, mereka saling menatap satu sama lainnya dalam diam. Namun tatapan mereka saling terhubung. Tuan Yoshiro menatap dalam kepada Rey dan Rey memberinya sebuah anggukan kecil seperti sedang merespon tatapannya itu.


Sesungguhnya Tuan Yoshiro memang telah berencana untuk membebaskan Rey dari status mafia nya jika Rey berhasil selamat dari peristiwa penembakan yang dilakukan Kabuto terhadapnya. Hal itu dikarenakan dia tahu apa yang menjadi penyebab bagi Kabuto mendendam hingga melakukan penembakan tersebut terhadap Reyhan.


Selain itu, Tuan Yoshiro juga menyadari kalau selama ini bukan keinginan bagi Rey untuk hidup dengan menjadi bagian dari mereka. Atau bisa dikatakan Rey secara tidak sengaja harus terlibat dengannya dan terpaksa ikut bergabung menjadi anggota dari kelompok mereka. Hal itu dikarenakan atas perbuatannya yang telah menyelamatkan putrinya, Alice, membuat Tuan Yoshiro mengangkatnya menjadi anaknya yang kemudian secara tidak langsung Rey menjadi bagian dari mereka dan harus melaksanakan berbagai tugas dan perintah yang Tuan Yoshiro berikan.


Dapat juga dikatakan, Rey tidak pernah secara resmi terdaftar atau mendaftarkan diri untuk bergabung menjadi anggota kelompok mafia milik Tuan Yoshiro. Tetapi karena para anggota melihatnya ikut terlibat dengan kelompok mereka dan menjalankan berbagai tugas serta kegiatan yang berkaitan dengan jaringan kelompok mereka, yang juga mengetahui rahasia dan informasi mereka, maka mereka menganggap kalau Rey tetap adalah bagian dari mereka. Sehingga jika Rey dibebaskan begitu saja tanpa diproses hukumannya, maka dapat memicu terjadinya keributan dan konflik internal diantara mereka.


Apalagi tak sedikit anggota yang iri dan benci padanya sehingga selalu ingin menyerang dan menjatuhkannya. Padahal sebenarnya para senior itu merasa senang dan lega atas keluarnya Rey dari dunia mereka. Karena dengan begitu, saingan berat mereka telah berkurang. Tidak ada lagi si anak angkat yang sangat difavoritkan oleh bos mereka yang juga merupakan calon terkuat sebagai penerusnya. Tetapi yang membahayakan adalah efek dari memendam terlalu lama rasa dendam itu sendiri. Sehingga walaupun Rey telah keluar, dendam mereka pasti tidak juga terhapuskan.


Sehingga Tuan Yoshiro sengaja membuat seolah-olah dia yang mengeluarkan Rey karena pelanggaran yang dilakukannya dan Rey juga tetap harus mendapatkan hukumannya. Tuan Yoshiro hanya bisa berpasrah dan menyerahkan nasib dan hidup Rey ditangan Rey sendiri. Apakah dia mampu bertahan atau tidak dari pengeksekusian tersebut. Ia tidak bisa ikut campur ataupun turun tangan untuk membantunya lebih banyak lagi. Ia hanya berharap kalau Rey bisa melewatinya dan kemudian memulai hidup barunya sebagai orang biasa dan menjalani hidupnya dengan lebih baik.


Rey sendiri dapat mengetahui isi hati dan maksud dari apa yang diperbuat Tuan Yoshiro terhadapnya. Tentu saja Rey tidak menyalahkan ataupun kecewa terhadap ayah angkatnya itu walaupun hubungan ayah dan anak mereka telah diputuskan. Apalagi melihat surat pembebasannya yang telah berada ditangan asisten kepercayaannya, pastinya surat itu sudah dipersiapkan oleh ayah angkatnya dari sebelum dia dan kakaknya datang untuk meminta pembebasan dirinya. Belum lagi isi dari surat tersebut yang sebenarnya memberi keringanan pada hukumannya dan juga memberinya perlindungan dari ancaman pembalasan dendam yang mungkin akan dilakukan oleh para seniornya.


Ternyata tadi diawal Tuan Yoshiro sengaja menolak untuk melepaskan dirinya karena dia ingin mengetahui apa yang dikehendaki oleh Rey dan seberapa besar kemauannya untuk terbebas. Untungnya tadi Rey memaksa dan berkeras meminta ayahnya membebaskan dirinya hingga bersedia dan berani mempertaruhkan nyawanya. Karena Rey tahu kalau Tuan Yoshiro tidak pernah bisa menentang atau menolaknya jika ia meminta sesuatu padanya, apalagi sampai berkeras dan memaksa.


Setelah Tuan Yoshiro keluar dari ruangan, Kei segera menghampiri adiknya. Dia tampak cemas, tegang, dan takut dengan apa yang akan adiknya hadapi. Saat ini Kei jadi mengetahui kalau adiknya itu memiliki hubungan yang begitu dekat dengan ayah angkatnya itu. Bahkan adiknya terlihat lebih memiliki ikatan perasaan yang lebih dalam kepada ayah angkatnya dibanding dirinya yang adalah kakak kandungnya namun masih dirasa asing bagi adiknya.


"Ken ... beritahu aku apa yang akan terjadi padamu setelah ini?" Rey bangun berdiri dengan dibantu oleh kakaknya.


"Kakak, jangan takut. Kakak tenang saja dan percayalah padaku. Aku pasti akan sanggup menghadapinya dan bertahan hingga akhir. Kurasa sebaiknya kakak pergi dulu dari sini dan tunggu aku di luar." Ucap Rey berusaha meyakinkan kakaknya dan membuatnya agar lebih merasa tenang. Tetapi Kei menolaknya.


"Tidak, Tuan Yoshiro tidak memerintahkanku untuk keluar dan dia juga tidak melarangku untuk tetap berada di sini. Jadi, apapun yang terjadi aku akan tetap disini bersamamu."


"Tetapi itu sudah ada peraturannya, orang luar tidak boleh ikut campur. Lagipula aku tidak mau kakak melihatku saat dieksekusi dan nantinya kakak akan ikut terlibat."


"Aku kakakmu Ken, bukan orang luar! Jangan selalu memperlakukan dan menganggapku sebagai orang asing!"


"Kakak ...!" raung Rey. "Jangan begitu ..."


Terdengar bunyi letusan yang berasal dari senapan api yang ditembakkan dengan peluru kosong sebagai tanda bahwa eksekusi sudah dimulai.


"Tuan Kei Takahiro, harap menyingkirlah dari adik anda. Karena proses eksekusi akan dimulai." ucap asisten kepercayaan Tuan Yoshiro. "Anda diperbolehkan untuk tetap berada di ruangan ini, tetapi anda harus berada berjauhan dari area pengeksekusian dan tidak boleh terlibat."


Proses eksekusi akan dimulai, Rey pun segera mempersiapkan dirinya untuk menerima setiap pukulan yang akan diberikan oleh sekitar 30an orang yang sudah hadir dan berada di ruangan tersebut. Sebagian dari mereka ada yang merupakan anak buahnya, termasuk dua anak buah kesayangannya, Ryota dan Sato. Sebagian lagi para seniornya yang mungkin membenci dan tidak menyukainya. Lalu sisanya, ia tidak mengenalnya.


Kemudian, satu persatu dari mereka berjalan menuju ke tempat Rey berdiri dan masing-masing memberinya sebuah pukulan. Orang pertama memulai pukulannya. Pukulan yang terasa biasa saja, setidaknya belum memberinya memar. Begitu juga yang kedua, ketiga, dst. Lalu, tiba giliran Ryo yang maju untuk memukulnya. Ryo sudah berlinangan airmata dan memanggilnya dengan terisak. "Bos ... Maafkan aku Bos."


"Tidak apa, jangan ragu dan pukul aku. Ingat pesanku padamu. Aku titipkan anak-anak padamu." Ryo lalu memberikan pukulannya. Tetapi ia tidak memukulnya melainkan hanya menempelkan pelan tongkat pemukul yang dipegangnya ke bahu Rey.


Di belakangnya menyusul Sato. "Maafkan aku Bos." ucap Sato dan Rey mengangguk. Sama seperti Ryo, Sato juga hanya asal menempelkan tongkat pemukulnya di tubuh Rey. Dan para anak buah Rey lainnya melakukan hal yang sama. Rey pun merasa terharu dengan mereka yang masih memperlakukannya dengan baik dan masih mau menghormatinya sebagai bos mereka. Ia sampai merasa ingin menangis, tetapi ia harus menahan perasaan harunya itu agar tidak menjatuhkan airmatanya di saat seperti ini.


Kemudian, tibalah giliran bagi para senior yang membenci dan mendendam padanya. Tanpa ragu satu persatu dari mereka memberinya pukulan yang sangat keras dan kuat. Ada juga yang memberinya tendangan. Di saat ini, kondisi Rey sudah cukup mengkhawatirkan. Ia sampai tak kuat lagi untuk berdiri dan terjatuh. Lalu ia berusaha untuk bangun dan bertahan dengan posisi kakinya di bagian lutut yang ditekuknya seperti dalam posisi berlutut.


Untungnya mereka tidak memiliki persiapan, sehingga mereka tidak membawa perlengkapan atau senjata tajam yang bisa memberi rasa kesakitan lebih dari yang ia dapat saat ini. Tetapi ternyata ada salah seorang dari mereka yang membawanya dan terlihat sedang memegangi sebilah pisau belati yang tajam. Orang itu memainkannya dengan memutar-mutarkan belati tersebut dengan telapak tangannya sambil menunggu giliran dan wajahnya memperlihatkan aura penuh kebencian serta dendamnya terhadap Rey.


Kei yang daritadi berdiri di sisi kanan Rey, yang berada bersebrangan dengan orang tersebut, terus mengamatinya. Pria itu menyadari kalau Kei mengamati dirinya, ia lalu menatap tajam ke arahnya dan memberinya seringaian yang menyeramkan. Namun Kei tidak gentar dan terus memandanginya dengan tatapan marahnya.


Lalu, saat tiba gilirannya untuk maju, Kei langsung berlari menuju adiknya dan menarik tubuhnya dengan menggunakan tenaganya yang cukup besar agar adiknya bergeser ke sisinya dan ia bisa menggantikan posisi adiknya. Hingga Rey yang sedang kesakitan dan sudah cukup lemah, yang juga tidak siap akan tindakan kakaknya yang sangat cepat dan mendadak tersebut, terlempar dengan agak kencang dan dirinya langsung tersungkur jatuh ke bawah dengan kepala yang membentur lantai dengan cukup kencang dan langsung pingsan.


Sedangkan Kei, yang telah menggantikan posisi adiknya, mendapatkan tusukan pisau belati itu di tubuhnya dan pisau itu menancap dengan sangat dalam ke perutnya. Jika saja ia tidak menghadang pisau itu dengan tubuhnya, mungkin pisau itu telah menancap ke dada adiknya dan mengenai jantungnya. Darah merah segar langsung mengucur keluar dari perutnya dan ia merasa sangat kesakitan. Kei lalu menarik keluar pisau belati yang menancap diperutnya tersebut dengan sisa-sisa kekuatannya. Saat ditarik keluar, ternyata pisau yang tajam itu semakin menambah rasa sakitnya karena mata pisau itu melewati dan menyentuh lukanya dan makin memperbesar luka sobekan diperutnya. Darah yang keluar juga semakin deras karena tidak ada yang menahan lukanya lagi. Kei benar-benar merasa kesakitan, ia sampai tak kuat lagi untuk menahan rasa sakitnya dan terjatuh.


Tetapi Kei masih mengkhawatirkan kondisi adiknya, apalagi tadi ia sempat mendengar bunyi benturan yang cukup keras dari sisi adiknya. Ia lalu menoleh ke sisi samping kanannya dan melihat adiknya terbaring dalam keadaan pingsan. Kemudian dia membalik tubuhnya menjadi dalam keadaan tengkurap dan bergerak mendekati tubuh adiknya.


"Ken .... " panggilnya lirih ketika ia merasa sudah tak kuat lagi untuk bergerak dan bertahan.


Tak lama kemudian Rey kembali tersadar dan ia melihat kakaknya dalam keadaan terbaring diam dilantai dengan meninggalkan jejak darah dibelakang tubuhnya. Ia jadi tahu kalau sebelum pingsan, kakaknya masih sempat memaksakan dirinya untuk merangkak ke arahnya.


"Kakak!" Rey langsung berusaha bangun untuk menghampiri kakaknya. Rey segera meraih dan membalikkan posisi tubuh kakaknya lalu membaringkan ke atas pangkuannya. Rey melihat bahwa di perut bawah kakaknya terdapat luka tusukan yang cukup dalam dan masih terus mengeluarkan darah. Ia pun berusaha menekan lukanya untuk menahan darahnya agar tidak terus keluar.


Para anak buah Rey yang masih ada di sana hanya bisa terdiam menyaksikannya tanpa melakukan apapun. Sedangkan senior yang melakukan penusukan itu dan beberapa temannya merasa cukup marah dengan tindakan Kei yang secara lancang telah ikut campur urusan mereka dengan menghadang tusukan tersebut. Ia merasa tidak puas dan masih ingin menusuk Rey dengan pisau tajamnya. Tetapi beberapa dari mereka mencegah dan memprotesnya sehingga terjadi bentrokan dan keributan. Akhirnya senior itu pun terpaksa mundur dan tidak melakukannya.


Proses pengeksekusian kembali dilanjutkan karena masih ada tiga orang lagi yang belum mendapat giliran. Mereka lalu melakukan pukulan demi pukulan kepada Rey dengan keadaannya yang masih dalam posisi berlutut sambil memangku tubuh kakaknya yang sedang terbaring pingsan. Mereka juga tampak tak berbelas kasih dan seperti tak punya hati, memukuli Rey dengan pukulan yang sangat keras dan dengan tenaga yang semaksimal mungkin. Walaupun Rey sudah tampak sangat lelah dan kesakitan. Itu merupakan pelampiasan atas dendam mereka dan juga karena penusukan yang gagal tadi.


Selain itu mereka juga sepertinya sangat menginginkan nyawa Rey berakhir ditangan mereka saat pengeksekusian ini. Tetapi Rey tetap berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan dalam keadaan sadar. Hingga akhirnya saat ia sudah mendapat tiga pukulan terakhirnya, Rey merasa sudah tidak kuat lagi. Ia lalu menggunakan tenaganya yang masih tersisa sedikit saja, membawa tubuh kakaknya dari pangkuannya untuk dibaringkan ke sampingnya dan menjatuhkan tubuhnya untuk terbaring pingsan di sebelah tubuh kakaknya.


Setelah itu, tidak ada satu orang pun yang berani mendekat atau menolongnya. Mereka hanya membiarkan kedua tubuh tersebut tergelatak di depan mereka karena mereka dilarang memberi bantuan apapun atau kalau tidak mereka sendiri akan terkena sanksi yang cukup berat. Anak buah Rey hanya bisa menangisi bos mereka yang sedang tergeletak diam dan tidak bergerak dengan tubuhnya yang penuh luka memar.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Alice datang menyeruak ke dalam ruangan dan langsung berteriak histeris saat melihat keadaan Rey dan kakaknya yang terbaring tak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh luka memar dan juga berdarah. Ia menangis dan berteriak-teriak meminta pertolongan dari mereka.


Tadi Alice telah diberitahukan oleh ayahnya bahwa Rey datang dan meminta pembebasan dirinya. Lalu ayahnya meminta sendiri padanya untuk datang ke ruang kerjanya menyelamatkan Rey setelah proses hukumannya selesai dijalankan. Jadi, jika Alice yang membantu itu tidak melanggar aturan. Karena Alice bukan bagian dari anggota mereka dan Alice juga memiliki hirarki yang lebih tinggi dibanding para angota karena status Alice yang adalah anak dari bos mereka. Para anggota senior yang memiliki dendam dan benci pada Rey juga tidak bisa melawan ataupun berbuat macam-macam kepadanya jika Alice membantu Rey dan kakaknya.


Tanpa menghentikan tangisannya, Alice kembali berteriak dengan marah dan ketakutan. Ia memerintahkan mereka untuk segera membantu membawa Rey dan kakaknya ke rumah sakit.


"Rey, bertahanlah! Rey ...!" teriaknya. "Mengapa kalian hanya diam saja dan tidak membantu mereka? Cepat, bawa mereka ke rumah sakit." Namun mereka hanya terdiam dan tidak melakukan apa yang Alice perintahkan karena mereka juga takut akan dieksekusi nantinya.


"**** ..." Teriak Alice mengumpat marah.


Akhirnya Alice terpikir untuk menelepon sendiri mobil ambulance untuk datang kemari.


Saat petugas ambulans membawa tubuh mereka menuju mobil ambulans, Tanaka yang daritadi menunggu di dalam mobil melihatnya dan mengikuti mobil ambulans yang akan mengantar mereka ke rumah sakit tersebut.


***