
Makan malam romantis Rey dan Erika telah selesai. Mereka lalu melanjutkan untuk berbincang-bincang di taman sambil menikmati suasana indah dan romantis. Saat ini mereka sedang duduk bersandar di taman yang telah dilapisi karpet sehingga mereka bisa saling berdekatan dan mengobrol dengan santai.
"Terima kasih Rey, aku senang sekali dengan makan malam yang telah kamu persiapkan secara spesial untukku. Apakah kamu tidak merasa lelah karena tubuhmu kan belum pulih dengan benar dan kamu pasti bekerja seharian untuk mempersiapkan semua ini ...."
"Tidak, aku merasa sehat dan tubuhku sudah benar-benar pulih. Jangan khawatir." Seperti biasa, Rey membelai dan memainkan rambut Erika yang jatuh dan menjuntai di area bahunya.
"Darimanakah kamu mempelajari kemampuan memasakmu itu? Karena semua masakanmu itu memiliki cita rasa yang baik dan juga memiliki tampilan yang menarik."
"Aku pernah belajar di seni kuliner."
"Ooh ... Jadi kamu pernah berkuliah dan lulusan sarjana?"
"Hmm ... ya dan tidak."
Erika mengerutkan keningnya, merasa bingung.
"Apa maksudnya iya dan tidak?"
"Iya aku pernah berkuliah, tapi aku tidak mengikuti acara kelulusannya."
"Wow ..." Erika menatapnya takjub dan tak menyangka. "Aku tak tahu kalau seorang gangster seperti kamu memiliki latar belakang pendidikan yang baik ...."
"Ya, aku cukup beruntung. Ayah angkatku mau berbaik hati mengijinkan aku kuliah dan membiayainya."
"Apakah orang-orang tidak takut kepadamu dan ...,"
"Hahaha ... tentu saja tidak, aku menyembunyikan identitasku, lagipula saat itu aku masih remaja dan belum benar-benar berkecimpung di dalam dunia pergangsteran."
"Benar juga." jawab Erika dengan pipi yang memerah karena malu. "Tapi selama ini kamu jarang memasak, dan Ryota lah yang lebih sering datang ke rumahmu untuk memasak."
"Karena dia lebih suka memasak daripada diriku. Lagipula aku kan bosnya." Jawab Rey dengan mendelik kesal pada Erika.
"Haha ... iya iya Bos ...." Rey mencolek hidung Erika karena gemas dengannya.
"Sebenarnya Ryo sangat berbakat, tetapi sayang karena ada masalah keluarga dan kesulitan ekonomi, jadi ia tidak bisa melanjutkan belajarnya dan harus putus ditengah jalan."
"Apa kalian berkuliah di tempat yang sama dan saling bertemu di sana?"
"Heeh, tapi dia hanya bisa berkuliah selama satu tahun saja."
"Bagaimana denganmu? Apakah kamu mengikuti perkuliahanmu hingga akhir?" Rey mengangguk dan menjawab, "Ya." Erika lanjut bertanya, "Lalu mengapa kamu tidak mengikuti wisudanya sehingga kamu bisa memperoleh gelarnya?"
"Karena aku belajar hanya sebagai kegemaranku saja dan juga untuk memenuhi keperluan hidupku sehari-hari. Kamu tahu kan selama ini aku hidup sendiri dan aku lebih suka memakan makanan yang kusiapkan sendiri agar terjamin kualitas rasa dan kebersihan berdasarkan standarku."
Erika tahu, betapa rewel dan cerewetnya Rey soal menu makanannya. Selama tinggal untuk merawatnya, sudah berapa kali dirinya kena marah dan makanan yang dia sajikan ditolak dan dilempar secara kasar. Sehingga ia sekarang sudah tahu dan lebih teliti dalam menyiapkan bahan-bahan dan jenis makanan yang bisa Rey makan.
Rey memang memiliki beberapa pantangan makanan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tubuhnya yang sejak kecil bermasalah. Sehingga ia sudah terbiasa dengan pola makan sehatnya dan akan menyebabkan masalah bagi tubuhnya jika salah makan.
"Iya, aku tahu. Selama ini aku kan yang mengurusi makananmu. Dan aku tahu betapa cerewetnya kamu kalau soal itu." Rey mengangguk-angguk dengan tersenyum manis padanya.
Selama percakapan mereka ini, Erika mengamati dan menyadari bahwa Rey terlihat berbeda. Dia terlihat lebih santai dan juga aktif ketika diajak berbicara. Hampir semua pertanyaan Erika dijawab olehnya dan jawaban yang diberikan juga cukup panjang bukan jawaban singkat yang seperti biasanya. Juga tanpa ekspresi dingin ataupun kemarahan. Erika pun semakin merasa penasaran tentangnya dan ingin bertanya lebih banyak lagi.
Erika lalu menanyakan sesuatu hal yang lebih pribadi kepadanya,
"Rey, apakah keinginan atau mimpimu?" Rey menyipitkan matanya seperti sedang berpikir atas pertanyaan Erika.
"Tidak ada." jawabnya langsung dan singkat.
"Tapi, kamu memiliki kegemaran dan kamu juga berbakat terhadap hal yang kamu gemari itu. Mungkin saja kamu bisa menjadi seorang yang-"
"Erika, aku mengerti maksudmu. Tapi kamu tahu, untuk seorang sepertiku sebuah mimpi atau kesuksesan itu adalah hal yang tak mungkin. Mustahil bagiku."
"Iya, aku paham." jawab Erika dan ia terdiam sejenak. Lalu ada suatu pertanyaan yang ingin dia tanyakan lagi.
"Rey, kamu tahu hari ini aku sangat senang sekali karena kamu terlihat berbeda. Kamu mau lebih terbuka untukku dan bicaramu juga cukup banyak. Tidak seperti biasanya yang sering mendiamkan dan tidak mau menjawab pertanyaanku."
"Hmm ...." Rey memeluk tubuh Erika dan mencium pipinya. "Hari ini aku ingin memberimu perlakuan yang spesial dan berbeda."
"Kalau begitu, aku boleh bertanya apa saja kepadamu dan kamu akan menjawabnya?" Rey menghentikan kegiatannya yang sedang mencumbu leher Erika dan menatapnya dalam.
Erika memberikan mimik wajah untuk agak sedikit memaksanya.
"Baiklah, tapi bukan pertanyaan mengenai keluarga dan identitasku."
"Iya ... Yang ingin kutanyakan adalah ... mmm ... apakah mungkin bagimu untuk keluar dari pekerjaanmu dan hidup sebagai orang normal?"
Rey menatapnya sesaat, lalu menjawabnya,
"Saat aku mengambil pekerjaan ini dan setuju untuk bergabung dengan mereka, itu berarti aku sudah menyerahkan seluruh nyawa dan hidupku. Sehingga untuk keluar dan bebas dari mereka, itu artinya aku harus mengakhiri hidupku."
"Maaf Erika, telah membuatmu takut tapi itulah kenyataannya." Rey kembali memeluk Erika dan membawa wajahnya kedalam pelukannya untuk mengelus kepalanya dan menenangkannya. "Sudah, sebaiknya kita jangan membicarakan hal ini. Aku tidak mau kesenangan kita malam ini menjadi rusak karena hal ini. Ya?" Erika mengangguk. Tetapi wajahnya masih memperlihatkan rasa takut dan kesedihan. Sehingga Rey berpikir untuk menghiburnya.
"Baiklah, aku akan memberitahumu apa impianku. Seandainya aku bisa hidup sebagai orang normal dan bukan sebagai gangster atau mafia maka aku ingin menjadi seorang chef profesional yang bekerja di sebuah restoran hotel bintang lima yang terkenal. Juga aku akan mengejar mimpiku dengan mengikuti perlombaan dan memperoleh setidaknya satu piala penghargaan." Erika terpana mendengar impian yang Rey sebutkan. Dirinya langsung membayangkan Rey yang berpakaian seperti seorang chef sedang menyajikan makanan ternikmat untuknya yang sedang menjadi tamu. Ia juga membayangkan Rey sedang berdiri dengan gagah di atas panggung dan tersenyum senang menerima piala penghargaan dari sebuah perlombaan yang telah dimenangkannya. Lalu Rey turun dari panggung dan menghampiri dirinya. Dengan sambil berlutut, Rey menyerahkan piala itu padanya sekaligus melamar dirinya di keramaian orang yang sedang menghadiri acara perlombaan tersebut.
Rey ikut tertawa melihat Erika yang tertawa-tawa sendiri dengan gembira karena sedang melamunkan sesuatu hal yang menyenangkan. Rey lalu menyentil dahi Erika pelan untuk membangunkannya dari lamunannya.
"Sekarang giliranku yang bertanya padamu. Bagaimana denganmu? Apakah kegemaranmu dan impianmu?" Erika sedikit berpikir. Karena selama ini ia hidup dengan sangat nyaman bagaikan tuan putri dengan semua keinginannya yang pasti terpenuhi. Jadi ia tidak memiliki suatu kegemaran atau mimpi yang spesifik. Lalu setelah berpikir sejenak, ia pun menemukan jawabannya.
"Hmm ... punyaku tidak ada yang spesial. Hobiku berbelanja dan mendengarkanmu berbicara yang banyak sambil mengamati matamu yang indah. Sedangkan mimpiku adalah menikah dan mempunyai anak yang banyak denganmu." jawab Erika dengan senyum yang mengembang di bibirnya dengan sangat lebar.
Rey tertawa mendengar jawaban Erika. "Sungguh kegemaran dan mimpi seorang nona muda cantik dari keluarga kaya raya." jawab Rey yang menyindir sambil menggodanya. "Hmm ... berbelanja sudah sering kamu lakukan secara online. Mendengarkan aku berbicara banyak? Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha untuk lebih banyak berbicara padamu. Kalau menikah denganku, kurasa itu mimpi yang masih lama akan terwujud. Tapi untuk mempunyai anak, apa kamu mau melakukannya sekarang juga denganku?" tanya Rey kembali menggodanya dan menindih tubuh Erika yang sudah berada di bawahnya.
"Argghhh ...!" Erika berteriak sambil tertawa kegelian karena Rey menggelitiknya. Erika mendorongnya dan berhasil melepaskan dirinya. Lalu mereka berdua kembali duduk ke posisi semula.
"Apakah kamu juga pernah bermimpi seperti itu saat bersama dengannya?" tanya Rey lagi pada Erika.
"Dengannya? siapa?" tanya Erika bingung.
"Kei Takahiro ...." sebut Rey.
"Rey, apa kamu cemburu dengannya? Mengapa tiba-tiba kamu mengingatnya dan bertanya seperti itu?"
"Tidak, aku hanya penasaran saja dan ingin tahu seberapa jauh dan seberapa dalam besarnya perasaanmu terhadapnya."
"Aku tidak mau menjawabnya."
"Bukankah aku mau menjawab semua pertanyaanmu, jadi kamu juga harus mau menjawabku."
"Tapi aku tidak mau membuatmu marah dan sedih ...."
"Tenang saja, aku tidak akan marah dan juga sedih. Karena aku tahu sekarang perasaanmu telah berubah dan kamu telah melupakannya. Tapi aku hanya penasaran saja. Kau tahu kan rasa penasaran akan sesuatu hal memang kadang suka muncul."
"Baiklah, tapi janji ya kamu tidak akan marah dan sedih." Rey mengangguk. "Iya, aku janji."
"Sebenarnya hubunganku dengannya sudah cukup lama dan sudah cukup jauh melangkah. Jadi itu wajar kalau aku ... memimpikan itu dan sangat mengingingkan untuk bisa menikah dengannya dan menjadi pasangan hidupnya." Erika menatap ragu dan takut-takut kearah Rey. Tetapi wajah Rey saat ini sulit ditebak dan tak terbaca akan apa yang sedang dipikirkannya. "Rey ...?" Erika bertanya bingung.
"Lalu mengapa saat itu kamu menolak ikut pulang dengannya dan malah mengajaknya putus? Bukankah perasaanmu sudah mendalam terhadapnya?"
"Karena ia berselingkuh dariku ... dan aku benci diperlakukan seperti itu. Rey, kumohon cukup sampai sini dan jangan membicarakan ini lagi."
"Tapi, bagaimana kalau kenyataannya dia tidak pernah berselingkuh? Apakah perasaanmu padanya sudah benar-benar hilang?"
"Rey, cukup kubilang ... Aku tidak mau menjawabnya lagi."
"Mengapa? Apakah itu membuatmu sedih karena kembali teringat padanya?"
"Bukan itu ... Aku hanya tidak ingin menyakitimu, membicarakan tentang kisah masa laluku dan mantan kekasihku. Sama sepertimu yang mungkin juga keberatan untuk membicarakan tentang Alice didepanku."
"Alice? Dia berbeda dan dia tidak ada hubungannya denganku."
"Tapi aku tahu jaket dan sweater yang kamu berikan padaku saat perjalanan kita ke sini adalah miliknya ...." Rey tersentak menatapnya dan ia kembali terdiam dengan ekspresi dingin dan marahnya.
"Maaf Rey, aku tak bermaksud untuk merusak suasana saat ini."
"Tidak apa, maafkan aku juga yang telah mendesak dan memaksamu."
"Apa kamu benar-benar ingin mengetahui perasaanku padanya? Baiklah aku akan mengatakannya. Selama ini, aku sendiri tidak tahu. Pertanyaanmu tadi tidak pernah terlintas dalam benakku jadi aku tidak pernah memikirkannya. Tetapi, sebelum aku tahu ia berselingkuh dariku hubungan kami juga sudah agak meregang karena ia selalu sibuk sehingga sering melupakan dan membatalkan janji pertemuan kita."
"Apakah dia benar-benar seorang pebisnis yang selalu sibuk?"
Erika berpikir ternyata Rey bertanya tentang Kei adalah sebagai bentuk rasa kepeduliannya terhadap kakaknya. Sehingga dia berpikir untuk membicarakan hal yang baik tentangnya.
"Iya sepertinya begitu. Sebenarnya dia sudah sering menjelaskannya padaku kalau ia pun terpaksa melakukannya dan aku pun dapat memahaminya. Karena di usia yang masih sangat muda ia sudah harus menanggung beban sebagai pewaris tunggal yang mewariskan seluruh perusahaan dan bisnis keluarganya. Puluhan ribu nasib karyawan berada ditangannya. Kalau sampai ia melakukan kesalahan dan gagal dalam menjalankan bisnisnya, maka nasib mereka lah yang akan menjadi taruhannya. Dan dia seorang pria yang luar biasa, karena dia berhasil melakukan kewajibannya dengan baik."
"Sepertinya kamu sangat memuja dan mengaguminya."
"Secara jujur kukatakan itu benar. Dan aku yakin dia juga adalah seorang kakak yang sangat penyayang dan juga membanggakan."
"Hari sudah malam. Sebaiknya kita akhiri saja pembicaraan ini dan pergi tidur."
"Ya ... ya ... baiklah ...." Erika menjawab dengan mendelik kesal padanya. Tapi Rey tidak mempedulikannya.
"Besok siang kita akan kembali ke perkebunan. Dan keesokan paginya kita akan berangkat ke Jakarta." ucap Rey.
***