Happiness For You

Happiness For You
43 Merahasiakan Penyakitnya



Malam harinya Kei datang kembali ke rumah sakit untuk menjaga Erika yang sedang dirawat di ruang rawat inap dan masih belum juga sadar. Ini sudah hari kedua Erika dalam kondisi seperti itu. Padahal dokter yang memeriksakan keadaannya mengatakan bahwa kondisi Erika sudah stabil dan semua anggota tubuhnya juga dapat berfungsi dengan baik. Sehingga Erika seharusnya sudah bisa tersadarkan sejak kemarin. Sepertinya Erika sedang menunggu kedatangan seseorang untuk membangunkannya.


Ketika hari sudah berganti dan pagi telah tiba, Kei berganti giliran jaga dengan orangtua Erika. Sehingga sekarang waktunya ia untuk pulang ke rumahnya. Tetapi sebelum pulang, ia menyempatkan dirinya untuk kembali menjenguk Reyhan di ruang ICU. Namun sesampainya di sana, ruangan yang kemarin pagi ditempati oleh Reyhan itu telah kosong dan juga sudah dirapihkan. Dia nampak kaget dan menjadi agak panik karena terpikirkan suatu hal yang buruk yang mungkin telah terjadi pada Rey.


"Suster, dimanakah pasien yang kemarin dirawat di ruang ini?" tanya Kei pada suster jaga.


"Kemarin saat malam hari pasien sudah sadar sehingga pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap." jawab suster jaga.


Akhirnya Kei menjenguk Rey di ruang rawat inapnya. Sebelum masuk ke kamarnya, Kei sempat mengintip dulu ke dalam kamar melalui celah kaca yang ada di pintu. Di dalam kamar terlihat Rey sedang berbaring dan kondisinya terlihat sangat lemah dengan wajahnya yang tampak pucat. Ternyata Rey baru selesai menjalani kemoterapi sesi pertama nya. Melihat kondisi kesehatan Rey yang cukup parah, Kei jadi menyadari maksud perkataan Rey saat di Bandung waktu itu yang mengatakan kalau ia mengembalikan Erika padanya demi untuk kebaikan Erika sendiri.


Kei melihat Rey tiba-tiba terbangun dan muntah-muntah. Ia lalu membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah berada di dalam, Kei segera berjalan mendekati Rey dan membantu meredakan rasa tak nyaman yang Rey rasakan ketika sedang muntah-muntah dengan menggosokkan punggungnya secara pelan dan lembut. Disaat itu, Kei melihat ada beberapa helai rambut Rey yang rontok dan menempel dibajunya. Kei lalu mengambil sehelai rambut itu dengan tangan kirinya dan menggenggamnya.


Rey mengetahui bahwa ada seseorang yang telah masuk ke dalam kamarnya saat ia sedang muntah-muntah dan orang tersebut membantu membuatnya merasa lebih enakan dengan menggosok punggungnya secara lembut dan terasa menenangkan. Rey berpikir bahwa itu pastilah seorang perawat yang datang membantunya. Tetapi saat Rey menoleh ke orang tersebut, dirinya menjadi sangat terkejut mendapati bahwa orang itu adalah kakaknya. Dan saat ini kakaknya itu sedang menyodorkan selembar tisu untuknya sambil tersenyum padanya. Rey mengambil tisu tersebut dan mengelap mulutnya yang kotor terkena noda muntahannya.


"Terima kasih." ucap Rey pada kakaknya. Lalu Rey tidak meladeninya dengan kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya karena kepalanya terasa sedikit bergoyang dan tubuhnya juga terasa lemas. Rey juga dengan sengaja berbaring dengan posisi yang menghadap ke sisi yang membelakangi kakaknya sehingga hanya punggungnya saja yang bisa dilihat oleh kakaknya.


Melihat sikap Rey yang hanya mendiamkan dirinya dan berkesan menghindarinya, Kei tidak merasa marah atau tersinggung sedikitpun dan ia juga tetap ingin berada di dalam ruangan itu. Kei lalu menarik sebuah bangku tamu yang tersedia di dalam ruangan agar mendekat ke sisi samping ranjang tidur Rey dan menduduki bangku tersebut.


Kei lalu membuka pembicaraannya dengan berkata,


"Kamu tampak benar-benar sakit. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padamu di malam itu?"


"Itu bukan urusanmu. Pergilah. Aku sudah melakukan sesuai dengan apa yang telah kita sepakati yaitu mengembalikan Erika padamu jadi kuharap kamu tidak lagi mengusikku." Jawab Rey masih dengan dalam keadaan berbaring dan memejamkan matanya.


"Tenang saja, aku tidak bermaksud untuk mengusikmu ...," Rey lalu melakukan gerakan kecil ditubuhnya dan membuka matanya sepertinya ia ingin bilang sesuatu. Tetapi Kei langsung menimpali ucapannya lagi, "aku juga bukan sedang ingin mengejek keadaanmu yang dalam kondisi menyedihkan itu."


"Aku tahu-" Awalnya Rey ingin mengatakan 'kamu mencemaskanku' karena Erika pernah memberitahunya kalau kakaknya mencemaskannya. Tetapi ia mengubah ucapannya menjadi "kamu bukan orang yang seperti itu. Ayah angkatku pernah memujimu didepanku dengan mengatakan bahwa kamu adalah seorang pria yang berpikir dewasa dan bijak. Dan seorang yang bijak tidak akan mengejek seseorang yang tampak menyedihkan walaupun orang itu adalah musuhnya."


"Ayah angkatmu? Apakah ibuku ...." Kei mengira kalau ibu kandungnya yang selama ini menjadi ibu angkat Rey telah menikah lagi dengan seorang pria yang kemudian menjadi ayah angkatnya.


Rey membalikkan badannya ke sisi yang menghadap ke arah Kei sehingga kini wajah mereka saling berhadapan. Lalu Rey menjawabnya dengan jawaban, "Tidak, bukan ... Maksudku Tuan Yoshiro."


"Ahh aku hampir melupakan kalau Tuan Yoshiro adalah ayah angkatmu. Mmm ... sepertinya ayah angkatmu itu sangat menyayangimu. Karena dia terlihat sangat membelamu dan juga selalu melindungimu."


Mendengar apa yang Kei katakan, Rey hanya menatapnya dalam diam dan tidak menanggapi omongannya. Sepertinya Kei telah mengenal karakter Rey yang dingin, tidak suka banyak bicara, dan sering mendiamkan omongan lawan bicaranya. Tetapi ia tidak memedulikannya dan tetap lanjut berbicara lagi kepadanya.


"Jadi, apakah kamu tidak penasaran dan tidak ingin tahu bagaimana keadaan Erika saat ini setelah ia mengalami kecelakaan di depan rumahmu karena ulah jahatmu yang sangat menyakiti hatinya itu?" tanya Kei langsung padanya tanpa basa basi.


Rey membesarkan matanya dan membuka mulutnya seakan ingin mempertanyakannya. Namun ia mengurungkan niatnya seketika dan melemparkan tatapan matanya jauh ke depan dengan ekspresi wajahnya yang tak terbaca.


"Tidakk ... Dia sudah tidak ada hubungannya lagi denganku." jawabnya.


"Benarkah? Jadi, kamu tidak akan peduli lagi padanya walaupun kondisinya saat ini sangat kritis dan mungkin lebih buruk daripada kondisimu?"


Hati Rey terasa perih ketika membayangkan tubuh Erika yang terbujur kaku dan pergi meninggalkannya akibat perbuatannya sendiri. "Aku ...," Rey berbicara dengan suara lirih dan agak tercekat karena tangis yang sedang berusaha ditahannya. Lalu airmatanya mulai merebak dan tiba-tiba dadanya terasa nyeri. "Argh .... " desah Rey kesakitan dan nafasnya menjadi pendek dan cepat karena dadanya terasa sesak.


Kei langsung bangkit berdiri dan memegangi bahu Rey.


"Apakah kamu baik-baik saja? Aku akan memanggil dokter-" Rey langsung mencegah Kei dengan memegangi tangannya dan memberinya sebuah gelengan.


Kei nampak kebingungan melihat Rey yang kesakitan dan seperti kesulitan bernafas.


"Kalau begitu minumlah dulu ... ini." Kebetulan Kei melihat di meja ada segelas air, ia lalu menyodorkan gelas tersebut pada Rey dan Rey meminumnya. Kei jadi merasa bersalah pada Rey. Dia tidak menyangka dan tidak bermaksud untuk membuat Rey merasa panik hingga kesakitan seperti itu akibat ucapannya yang ngawur.


"Maaf, aku tadi hanya berbicara melantur saja." ucap Kei mengakui kesalahannya. Rey langsung memelototinya dengan marah. Tetapi kemudian Rey menidurkan kembali kepalanya ke atas bantalnya dan Kei membantunya. Sekarang Rey dapat menghela nafasnya lega.


Kei juga kembali duduk di bangkunya.


"Aku tidak tahu kalau apa yang kuucapkan tadi akan membuatmu bereaksi berlebihan seperti itu. Tenang saja, sebenarnya kondisi Erika saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Dia telah menjalani operasinya dengan baik. Hanya saja, sampai sekarang dia masih belum juga sadar." Kei pun menceritakan keadaan Erika yang sebenarnya pada Rey. Tetapi Rey kembali merasa cemas dan khawatir ketika mendengar Erika belum juga sadar.


"Sesungguhnya kamu masih sangat peduli dan mengkhawatirkan Erika. Kupikir selama ini kamu hanya ingin mempermainkannya saja .... " sindir Kei. "Ahh ... bahkan di malam kejadian itu kamu sampai muntah darah setelah melihatnya pingsan dan kamu mengalami koma setelahnya." Kei kembali menatap Rey dengan dalam dan cukup lama hingga membuat Rey menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapannya itu. "Jadi, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu."


"Kamu tahu kalau aku mengalami koma setelahnya? Jadi ... apa itu kamu yang mengajakku berbicara saat aku dirawat di ruang ICU?" Rey bertanya dengan penasaran dan menatap kakaknya dengan perasaan haru.


"Jawablah dulu pertanyaanku." balas Kei sekaligus untuk mengelak menjawab apa yang Rey tanyakan padanya.


"Di malam itu tidak terjadi apa-apa dengan diriku, aku hanya shock saja melihat Erika pingsan akibat kecelakaan yang terjadi padanya di depan rumahku."


Mendengar jawaban Rey yang seolah masih terus berusaha ingin menutupi keadaannya darinya, cukup membuat Kei merasa kesal dan miris melihatnya.


"Hahaha ... Cih!" Kei mendengus padanya. "Kamu pikir aku orang bodoh dan buta sehingga tidak dapat melihatnya. Akan tetapi sebenarnya bukan itu maksud pertanyaanku, melainkan tentang aksi perselingkuhanmu itu. Lagipula kalau tentang kondisi kesehatanmu, aku sudah tahu karena aku sempat menanyakannya pada dokter pribadimu-"


"Maksudmu Dokter Steve ...??? Apa dia telah memberitahumu tentang penyakitku?!" Tatapan mata Rey menggelap, sepertinya ia tidak suka dan merasa marah karena Dokter Steve telah memberitahu kakaknya tentang penyakitnya. Bagi Rey, hal itu berarti bahwa Dokter Steve telah mengkhianati kepercayaannya dan sudah tidak bisa dipercaya lagi olehnya untuk menjaga rahasianya. Melihat tatapan Rey yang menggelap dan diliputi kemarahannya, Kei langsung menyadari apa yang sedang Rey pikirkan tentang Dokter Steve. Ia pun berusaha mengelak dan membela Dokter Steve.


"Hei ... hei ... tenangkan amarahmu itu. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Lagian, kamu pingsan didepan mataku saat itu dan kamu juga dibawa ke rumah sakit ini berbarengan dengan Erika. Tentu saja aku bisa mengetahui keadaanmu dengan bertanya pada pihak rumah sakit. Sedangkan Dokter Steve sangatlah menjaga privasimu, karena saat aku menanyakannya dia hanya mengatakan kalau dia tidak bisa memberitahuku karena hasil tes mu belum keluar. Jadi jangan marah padanya dan jangan juga menyalahkannya. Lagipula apa sih yang kamu takutkan kalau aku tahu penyakitmu? Apa kamu pikir aku ini orang yang sangat jahat sehingga aku akan mengambil keuntungan dari orang lemah dan sekarat sepertimu?" Kei menatapnya dengan tatapan kesal dan seperti menuntut jawaban darinya.


"Aku hanya tidak ingin dia mengetahuinya. Aku harap kamu bisa menjaga mulutmu untuk tetap diam dan tidak memberitahukannya."


"Dia siapa? Erika?" Tanya Kei. Rey membentuk garis dengan bibirnya. "Tenang saja, aku tidak bodoh. Dengan membuat Erika peduli dan iba kepadamu karena kamu yang sedang sekarat, itu berarti sama saja aku membawanya kembali ke pelukanmu." jawab Kei lagi.


"Bagus dan terima kasih untuk itu."


***