
"Nak, aku tahu apa yang kamu dengar itu membuatmu semakin tidak menyukai mendiang kakekmu. Tapi asal kamu tahu kakekmu berbuat begitu terhadapmu karena dia tidak mau memisahkan dirimu dengan ibumu. Dia berpikir bahwa kamu terlahir lemah dan sakit-sakitan, dan mungkin hidupmu tidak dapat bertahan lama. Sehingga ia merasa tidak baik untuk memisahkanmu dengan ibumu. Kakekmu juga tidak mau merebut semuanya dari ibumu. Dia hanya mau anaknya kembali dan seorang cucu untuk menjadi penerusnya. Kakekmu tetap bertanggung jawab kepadamu, dia memberikan sejumlah uang yang besar untuk ibumu agar dapat melakukan pengobatan yang terbaik untukmu. "
"Mengapa dia harus memaksa memisahkan ayah dan ibuku?"
"Karena Ayahmu telah berani melawannya dan dengan diam-diam menikahi ibumu. Sedangkan Kakekmu itu seorang yang keras, dia tidak akan pernah mau mengubah keputusannya. Apalagi sebelumnya kakekmu juga telah membuat kesepakatan pernikahan dengan temannya. Tetapi ayahmu terus menolak kesepakatan pernikahan yang telah dibuatnya dan memilih untuk pergi jauh dari kakekmu dengan pergi ke Indonesia dan diam-diam menikahi ibumu.
Nak, jika saja mendiang Kakekmu bisa melihatmu dan mengenalmu. Dia pasti menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya kepadamu dan ibumu. Kini kamu telah tumbuh besar dan menjadi pria dewasa yang berkarakter baik, selain itu kamu juga tangguh dan gigih. Aku tadi juga telah melakukan kesalahan besar dengan menampar dan menghinamu. Aku tidak tahu kalau kamu adalah adik kandung dari Kei. Erika dan kakakmu tidak pernah menceritakannya pada kami."
"Maaf Paman, itu juga mungkin karena salahku. Karena selama ini aku melarang Erika untuk memberitahukannya kepada siapapun. Aku juga tidak mau kakakku mengumumkan identitas diriku kepada orang-orang."
Ayah Erika kembali menatap bingung dan penasaran kepadanya. Tetapi ia menyimpannya saja.
"Baiklah, sekarang biarkan aku juga mengobati bekas tamparanku pada pipimu. Aku tidak mau kakakmu melihat wajah adiknya yang tampan ini memerah dan ada jejak telapak tanganku yang tertinggal karena tamparanku yang sangat keras kepadamu."
"Terima kasih, Paman. Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan apapun pada kakakku tentang yang terjadi padaku di sini. Tapi Paman juga harus berjanji untuk tidak menceritakannya pada kakakku apa yang kulakukan padamu."
"Mengapa aku harus berjanji seperti itu?"
Rey kembali kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Itu ... karena mmm ..."
"Karena kamu tidak mau kakakmu tahu?" Rey hanya diam. "Tapi mengapa?"
"Maaf Paman, aku hanya tidak mau kalau kakakku menjadi sedih."
"Baiklah, aku mengerti. Sekarang aku ingin tahu, bagaimana ceritanya kamu bisa sampai tertimpa barang berat di tubuhmu saat kamu bekerja? Tadinya kupikir kamu mengalami kesulitan karena kamu seorang mantan gangster dan akan sulit bagimu untuk mendapat sebuah pekerjaan yang layak. Sampai kamu harus bekerja berat membanting tulang untuk mencari nafkah dan mendapat luka memar seperti ini dibahumu. Tapi kini aku tahu kamu adik Kei, jadi tidak mungkin kamu mengalami kesulitan karena sebuah pekerjaan. Dan, apakah kakakmu mengetahuinya? "
"Ya, dia tahu. Aku sudah menceritakannya dan itu cerita yang cukup panjang."
"Tidak apa, hari masih belum sore dan aku ingin mendengar ceritamu yang panjang itu. Ayo ceritakan padaku. Atau kalau tidak aku tidak akan mengijinkanmu membawa putriku pergi berkencan hari ini."
Ayah Erika masih merasa penasaran pada Rey. Dia juga menjadi sangat menyukai Rey sehingga masih ingin mengobrol dengannya dan sekaligus memperdalam perkenalannya akan diri Rey.
"Hah?!" Reaksi Rey dalam kebingungannya. "Mm ... baiklah Paman." Pada akhirnya walau dengan enggan, Rey pun menceritakan keseluruhannya dan lebih detail dari apa yang ia ceritakan pada kakaknya. Reaksi ayah Erika juga sama seperti kakaknya.
"Tetapi kalau Paman jadi kamu, paman akan mau menerima tantangan mereka untuk berkelahi dan melawan kedua temanmu itu."
Rey sampai melongo mendengar reaksi ayah Erika itu.
"Haa ...?"
"Persaingan di dunia kerja memang tidak bisa dihindari. Jadi kita harus melakukan sebuah perlawanan untuk membuat mereka kapok dan tidak lagi berbuat seenaknya menindasmu." Rey lalu tertawa menertawakan ayah Erika yang sudah menjadi bapak tapi masih memiliki semangat dan kemarahan yang menggebu-gebu seperti anak muda
"Ternyata Paman sangat bersemangat dan masih berjiwa muda."
"Tentu saja! Apa kamu pikir aku sudah tua dan seperti kakek-kakek yang akan menasehatimu untuk mengalah dan bersabar dalam menghadapi mereka?" Tanya ayah Erika dengan sedikit kemarahannya.
"Ti-tidak Paman, bukan begitu maksudku ...." Jawab Rey buru-buru, ketakutan ayah Erika akan marah karena dirinya telah menertawakan dan mengatainya tua.
"Huahaha .... " Ayah Erika pun tertawa dengan suara yang membahana hingga terdengar sampai keluar ruangan dan juga terdengar oleh Erika dan ibunya yang sedang menanti mereka dengan cemas. Mereka berdua lalu saling pandang dengan bingung mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana. Lalu Erika pun memberanikan diri berjalan mendekat ke ruang kerja ayahnya dan berniat untuk menguping pembicaraan mereka.
"Nak, maafkan Paman karena telah salah menilaimu."
Rey menggelengkan kepalanya.
"Tidak Paman, jangan meminta maaf padaku. Karena aku sendiri bukan pria yang baik. Aku telah banyak menyakiti dan melukai perasaan putri kesayanganmu."
"Tidak Nak, aku tahu kamu tidak pernah berbuat jahat seperti menculik putriku. Kamu malah telah berkali-kali menyelamatkannya. Hanya keadaanmu lah yang menyebabkanmu melakukan apa yang kamu lakukan terhadap putriku. Asalkan kamu sudah menyadari kesalahanmu dan mau menebus kesalahanmu itu, itu sudah cukup. Masih ada banyak waktu bagimu untuk menebusnya dan biarkan waktu yang akan menyembuhkannya secara perlahan-lahan. Luka dihati anakku pasti bisa tersembuhkan.
Paman juga mengetahui hubungan pelik diantara kalian bertiga. Antara dirimu dan kakakmu. Kamu pasti merasa bersalah dengan kakakmu karena telah merebut Erika yang adalah kekasihnya. Juga kepada kami. Aku akui aku memang mengagumi kakakmu dan sangat menginginkan dirinya menjadi pasangan dan suami bagi putriku kelak.
Tetapi itu sebelum aku mengenalmu. Sekarang, aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Aku tidak tahu harus membela yang mana. Kakakmu atau dirimu, karena kalian berdua sama baiknya. Sehingga, aku serahkan saja pada putriku dengan siapa dia akan memilihnya. Sebagai ayahnya aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya dan berharap agar dia dapat berbahagia.
Tapi kamu pasti telah mengetahuinya siapakah yang telah dipilih oleh anakku.
Apa kamu tahu, selama ini anakku selalu murung dan bersedih. Tetapi belakangan ini dia mulai kembali ceria dan itu karena dirimu yang telah kembali padanya. Sekarang, aku telah memberi restuku pada kalian berdua. Jadi, janganlah merasa bersalah lagi kepada Erika. Gunakanlah kesempatan yang kamu miliki ini dan raihlah kebahagiaanmu bersama putriku."
Rey tersenyum dengan penuh haru.
"Terima kasih, Paman."
Erika yang ikut mendengar pembicaraan mereka juga ikut terharu mendengarnya.
Ia lalu mengetuk pintu.
"Ayah apakah kalian sudah selesai? Ups!" Saat Erika mengintip ke dalam ruangan, ternyata Rey masih belum mengenakan atasannya. Ia langsung membalikkan mukanya dan menutup matanya. Rey buru-buru mengenakan atasannya.
"Kami sudah selesai. Kemarilah, putriku."
Erika berjalan menghampiri mereka, tetapi ia berjalan mendekat ke arah Rey dan menggelayutkan tubuhnya padanya.
"Rey, apakah kamu baik-baik saja? Ayah tidak memarahi dan tidak memukulimu lagi, kan?" Rey menggeleng padanya.
Ayah Erika membelalakkan matanya.
"Bisa jadi, kan seperti itu."
"Kalau begitu, ke sini kamu, menjauhlah darinya. Siapa yang mengijinkanmu untuk dekat-dekat dan berani begitu menempel dengannya didepanku? Bahkan tadi saja kamu berani untuk langsung memeluknya begitu keluar dari kamarmu."
"Ayah ...!" Erika terpaksa berjalan ke arah Ayahnya sambil merajuk marah. Rey diam-diam tertawa karenanya. Lalu ayah Erika kembali berpura-pura marah padanya.
"Ayah juga tidak mengijinkan kamu pergi berkencan dengannya." Ucap ayah sambil melirik sedikit pada Rey dan mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi Ayah masih belum memaafkannya?" Wajah Erika kembali terlihat sedih dan ingin menangis.
Rey merasa lucu melihat reaksi dan ekspresi Erika saat ini. Rey pun tertawa dan Ayah Erika juga ikut tertawa bersama dengannya. Erika langsung menyadari kalau ayahnya hanya sedang menggodanya saja. Ia lalu memberengutkan wajahnya, marah karena ditertawakan oleh mereka.
"Jadi sekarang kalian sudah menjadi akrab rupanya dan begitu kompak untuk menggoda dan menertawaiku."
"Jangan marah Erika, ayahmu hanya bercanda." ucap Rey.
"Aku tidak akan marah asalkan kalian beritahu aku apa saja yang sudah kalian bicarakan tadi hingga berjam-jam."
"Uhm kami tidak akan memberitahumu karena itu adalah rahasia kita berdua, sesama lelaki. Benar Rey?" Jawab Ayahnya.
"Iya, betul Paman."
"Ya sudah." Erika lalu memeluk Ayahnya. "Ayah, terima kasih ya. Aku senang sekali karena Ayah sudah mau memaafkan Rey dan memberi ijin pada kami."
"Ayah yang telah salah menilainya selama ini. Sekarang, Ayah telah mengenalnya dan mengetahui kalau dia adalah seorang anak yang baik."
"Paman ... terima kasih, Paman." Rey mengucapkan rasa terima kasihnya dan memberikan seulas senyuman yang sangat tulus padanya.
"Ada apa ini?" Ibu Erika ikut menyeruak masuk ke dalam untuk bergabung dengan mereka. Rey melihat sosok ibu Erika yang sangat keibuan. Ia menjadi teringat dengan mendiang ibunya yang telah sangat dirindukannya.
"Tante, bolehkah saya memelukmu?" Rey ingin bisa merasakan lagi kehangatan dan kelembutan dari pelukan seorang ibu.
Ibu Erika menatapnya dengan haru. "Tentu saja, Nak. Kemarilah." Ucapnya dengan tersenyum penuh kehangatan pada Rey.
Lalu Rey mendekatinya dan memeluknya.
"Anak baik ..."
Akhirnya Rey dapat merasakan kembali pelukan yang hangat dan lembut seorang ibu yang telah sangat dia rindukan. Rey pun langsung terbawa suasana dan terisak memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Ibu ... " Ia mengucap sebutan 'ibu' dengan suara lirihnya yang bergetar. "Ibu aku merindukanmu, Ibu ...." Saat memeluk Ibu Erika, Rey seolah sedang meluapkan semua perasaan sedih dan rindunya hingga ia benar-benar menganggap wanita paruh baya bersosok ibu itu adalah ibunya sendiri. Karena selama ini Rey hanya bisa menemukan dan memiliki sosok ayah dalam hidupnya dan baru kali ini dia berkesempatan menemukan sesosok ibu.
"Anakku, Ibumu juga merindukanmu." Erika dan ayahnya saling memandang dengan terharu melihatnya. Erika pun ikut menangis.
Setelah selesai meluapkan emosi dan kesedihannya, Rey menjadi sadar dan merasa malu sendiri karena tadi ia menangis dan merengek seperti anak kecil. Apalagi ia melakukannya pada Ibu Erika dan di depan mereka pula.
"Ma-maaf, Tante. Aku tadi terlalu terbawa emosi dan perasaanku hingga aku menganggap kalau Tante adalah ... ibuku." Mata Rey kembali memancarkan kesedihannya ketika menyebut kata 'ibuku'.
"Tidak apa, Nak, Tante senang bisa membantumu melepas rasa rindumu pada ibumu. Jika kamu mau, kamu boleh memanggilku dengan sebutan Ibu." Rey mengangguk sambil tersenyum haru padanya.
"Terima kasih, Tante."
"Kamu juga boleh memanggil Paman dengan sebutan Ayah jika kamu mau." Rey pun memberi Ayah Erika seulas senyuman penuh harunya dan memberinya sebuah anggukan.
"Ayah, tapi Rey sudah memiliki dua ayah. Dia sudah kelebihan dan tidak memerlukannya lagi."
"Dua?" Tanya Rey bingung.
"Iya, ayah angkatmu dan Paman Hadi mu yang sekarang menjadi atasanmu."
"Mmm ... pasti kakakku yang memberitahumu."
"Ups, maafkan aku Kak Kei aku keceplosan. Lagian, kamu menghilang dariku selama beberapa hari tanpa kabar. Jadi aku khawatir dan menanyakannya pada kakakmu. Ternyata kamu malah membohongi dia dengan mengatakan kalau sepulang kerja kamu pergi dulu denganku makanya selalu pulang malam. Padahal itu pasti karena kamu sedang asik memasak dan bersenang-senang dengan paman Hadi di restoran."
"Jadi kakakku berpikir aku selalu pulang malam karena hal itu?" Rey tertawa karena merasa lucu.
"Yup. Kamu juga pernah bercerita padaku kalau dulu kecil kamu sangat senang jika kamu bisa bertemu dengan paman Hadi karena kamu bisa bermain dan belajar memasak dengannya."
"Tunggu ... Rey, sepertinya aku tahu, ini yang tadi kamu ceritakan padaku bukan. Tentang teman-teman kerjamu yang menindasmu dan membuatmu lembur."
"Ssttt, Paman jangan katakan dan jangan beritahu kakakku juga, ok?"
"Ohh, ok ok."
"Rey, jadi selama ini kamu harus bekerja sampai lembur? Bukan sedang menghabiskan waktumu dengan bersenang-senang bersama Paman Hadi? Ayah, ayo ceritakan padaku."
"Tidak ada cerita apapun, Erika. Hari sudah sore, kamu mau pergi berkencan denganku atau tidak? Kalau tidak mau, aku mau pulang saja."
"Ohh baiklah ... tunggu aku ..." Erika lalu berlari-lari kecil mengejar Rey yang sudah berjalan pergi meninggalkannya. "Ayah ceritakan padaku nanti saat aku pulang." Bisik Erika pelan ke ayahnya. Lalu ayahnya membuat kode ok dengan jarinya.
Lalu Erika dan Rey berpamitan pada orangtua Erika dan mereka pergi berkencan. Tetapi karena jadwal tiket nonton yang Rey beli sudah terlewat, jadi mereka mengubah rencana kencan mereka dengan makan sate dipinggir jalan saja dan melakukan kembali kencan mereka di hari esoknya.
***