
Setelah kejadian Tanaka yang tiba-tiba datang ke restoran untuk membawa Rey pergi, semua teman kerjanya menjadi mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya bahwa dia adalah adik kandung dari Kei Takahiro yang adalah pemilik dari restoran tempat mereka bekerja tersebut.
Sebagian besar reaksi dan sikap mereka berubah 180 derajat terhadap Rey. Kedua temannya, Anton dan Jeremy merasa marah padanya karena dia telah membohongi mereka. Walaupun mereka tidak mengatakan atau menunjukkannya, tetapi Rey tahu dan dapat merasakannya karena mereka yang selalu berusaha menghindar darinya dan menjauhinya. Tapi mau bagaimana lagi, Rey juga tidak bisa berbuat apa-apa dan juga tidak bisa marah pada Tanaka karena dia juga dalam keadaan panik dan terburu-buru pada waktu itu.
Sedangkan kakaknya, Kei, setelah sembuh dan telah keluar dari rumah sakit, sikapnya juga berubah. Kakaknya semakin perhatian padanya tetapi tidak dengan sikapnya yang suka mengatur dan bossy. Cara kakaknya menatap kepadanya juga berbeda. Tatapannya lebih sendu dan juga seperti ada kesedihan.
Seperti pagi ini saat mereka sedang sarapan bersama, kakaknya terus memandanginya. Bahkan kakaknya sudah siap dan menunggunya di ruang makan sambil mengamati dirinya yang sedang menyiapkan sarapan mereka.
"Ken, kamu tidak mau kakak antar saja ke restoran?" Tanya kakaknya.
"Tidak, Kak. Aku sudah besar dan bisa pergi sendiri. Biasanya aku juga begitu kan. Kakak kenapa? Mengapa sikap kakak berubah sejak keluar dari rumah sakit? Kakak, jujurlah padaku. Apa kakak sedang mengidap suatu penyakit yang parah?" tanya Rey jadi merasa sedikit takut dan khawatir karena sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah itu.
"Tidak Ken ... Kakak sehat dan baik-baik saja. Kamu janganlah takut dan mengkhawatirkanku. Lagian, kakak hanya sedang ingin saja mengantarmu berangkat kerja. Memang tidak boleh?"
"Baiklah, aku percaya pada kakak. Iya, boleh. Tapi aku nya tidak mau. Ya sudah, aku berangkat dulu ya."
Saat ini, Rey sedang berada di ruangan Pak Hadi untuk makan siang bersama. Namun mereka hanya berduaan saja di ruangan tersebut. Karena identitas dirinya sudah terbongkar, jadi Rey juga tidak berusaha untuk menutupinya lagi kalau dia dan atasannya itu memang telah kenal lama dan sangat dekat.
"Rey, bagaimana keadaan kakakmu? Apakah dia sudah membaik?"
"Iya, kakakku sudah sembuh, Paman. Dia hanya kelelahan dan butuh istirahat yang baik selama satu hari di rumah sakit."
"Syukurlah, Paman sangat khawatir sewaktu melihatmu panik dan langsung pergi begitu saja bersama asistennya."
"Iya, dan gara-gara Tanaka membuat kehebohan di hari itu sekarang mereka semua jadi mengetahui identitas diriku. Perlakuan dan tatapan mereka jadi berubah kepadaku. Sehingga aku menjadi kurang merasa nyaman ketika bekerja dengan mereka."
"Rey, abaikan saja tatapan dan perlakuan mereka yang berubah itu. Itu wajar bagi mereka sebagai reaksi atas keterkejutan mereka. Beri mereka waktu untuk mencerna dan menghadapi dirimu yang sebagai teman kerja mereka namun juga beridentitas sebagai adik dari bos mereka."
"Iya, Paman. Sepertinya waktu istirahat makan siang kita sudah habis."
"Ayo, kita keluar dan kembali bekerja." Rey mengangguk dan mereka berdua keluar ruangan dan berjalan ke area dapur untuk kembali bekerja.
Hari ini restoran sangat ramai dengan pengunjung yang datang untuk menikmati hidangan makan siang mereka di restoran The Hiro Cafe. Padahal hari ini adalah hari biasa dan bukan akhir pekan. Hal itu dikarenakan sepertinya sedang ada beberapa rombongan tamu penting yang datang.
Tiba-tiba terjadi keributan di bagian depan restoran yaitu di area meja tamu di bagian utama. Seorang pramusaji masuk ke area dapur untuk melaporkan keributan yang sedang terjadi tersebut dan meminta bantuan dari mereka untuk keluar mengurusnya.
"Bu Indah, ada seorang tamu wanita yang sedang mengamuk di depan. Bagaimana ini Bu? Dia bertanya dengan berteriak-teriak menanyakan siapa yang menyiapkan menu makanan yang dia pesan itu. Wanita itu memaksa ingin bertemu dengan koki yang memasakkan makanannya tersebut."
"Menu makanan apa yang dipesannya itu?" tanya Bu Indah yang adalah wakil kepala koki. Biasanya untuk urusan tamu yang sedang melakukan komplain, maka Bu Indah lah yang akan turun tangan untuk bertugas menghadapi dan menanggapi tamu yang komplain tersebut.
"Japanese wagyu beef steak, Bu."
"Nak Reyhan, kamu yang bertugas memasak daging steak itu bukan?" Tanya Bu Indah langsung kepadanya.
"Iya benar, Bu. Itu saya yang menyiapkannya. Tetapi saya sudah menjamin bahwa steak nya dimasak sesuai dengan keinginan tamu dan juga memiliki citarasa yang sesuai standar restoran kita."
"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu untuk menghadapi tamu tersebut."
"Ta-tapi Bu, tamunya bilang hanya mau bertemu dengan koki yang memasaknya."
Bu Indah dan Paman Hadi menatap ke arah Rey secara bersamaan dan juga semua orang yang ada di area dapur yang memandanginya secara serempak.
"Apakah tamu itu adalah tamu penting yang datang bersama rombongan dan duduk di bagian meja utama?" Tanya Rey pada pramusaji. Rey mengetahuinya karena sebelum menyiapkan makanan, biasanya para koki akan mendapat informasi letak dan posisi meja tamu yang memesan. Selain itu mereka juga akan diberitahu kalau tamu yang memesan itu adalah tamu penting atau spesial di restoran mereka.
"Iya benar Pak. Tapi sepertinya tamu wanita itu cukup berbahaya. Karena rombongan yang makan bersamanya sebagian ada yang bertato dan bertampang sangar."
"Apa mereka sekelompok mafia?" Tanya Bu Indah mengeri.
"Sepertinya, karena penampakan mereka terlihat seperti itu."
Mafia? Adakah kelompok mafia yang lebih mengerikan dari kelompok ayah angkatku? Tanya Rey dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan keluar menemui wanita itu."
"Tidak Rey, kamu jangan keluar. Kamu masih baru dan belum berpengalaman dalam menghadapi tamu yang bermasalah seperti mereka. Apalagi tamu itu adalah tamu penting yang juga tidak biasa. Biar aku saja yang akan keluar untuk menghadapi mereka." Jawab Paman Hadi menahan badan untuk Rey.
"Paman tenang saja. Percayakan padaku, aku pasti bisa menangani tamu tersebut. Jadi biarkan aku pergi menemuinya. Lagipula wanita itu ingin bertemu dengan koki yang memasakkan menu makanannya yang adalah aku."
"Tapi Rey -"
Rey lalu berjalan keluar dengan diikuti oleh pramusaji yang berjalan di belakangnya.
Saat tiba di meja tamu tersebut, Rey melihat ada seorang wanita yang sedang duduk sendirian dengan wajah yang tertutup ponselnya karena wanita itu sedang berkaca menggunakan kamera depan yang terdapat pada ponselnya untuk merapihkan penampilannya.
"Permisi, Nona. Perkenalkan saya Reyhan Wiriawan, chef yang menyiapkan makanan yang anda pesan."
Wanita itu berhenti sejenak dari kegiatannya yang sedang memoles lipstiknya yang memudar. Namun wanita itu tidak menolehkan kepalanya sedikitpun dari ponsel yang menutupi wajahnya. Kemudian dia melanjutkan untuk merapihkan lipstiknya dengan jari-jari tangannya.
Rey melihat bahwa tamu wanita itu baru saja selesai makan dan sudah menghabiskan makanannya yang tersaji dipiring yang ada didepannya itu. Ia lalu terus mengamatinya dengan wajahnya yang terlihat sedikit kesal karena menunggu wanita itu yang terlihat sengaja memperlambat gerakannya seperti sengaja mau membuatnya menunggu.
Setelah wanita itu merasa penampilannya sudah oke, dia lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan tersenyum pada Rey.
"Hai Chef Reyhan Wiriawan."
Mata Rey membelalak dengan sangat besar ketika mendapati bahwa ternyata sosok wanita itu adalah seorang wanita yang sangat dikenalnya.
"Alice!" Panggil Rey dan ia langsung memperlihatkan seulas senyumannya dengan sangat lebar untuk mengekspresikan perasaan senangnya karena melihat sesosok wanita yang sangat dikenalnya yang sekarang sedang ada didepannya secara tak diduganya.
Ternyata tamu penting yang ribut-ribut di restoran mereka disaat siang dan sedang sangat ramai pengunjung begini adalah Alice. Pantas saja ia ngotot ingin bertemu dengan koki yang memasakkan makanan untuknya karena sebenarnya Alice sudah mengetahuinya dan ia sengaja melakukan keributan tersebut untuk memberi kejutan bagi Reyhan.
Alice bangun berdiri dari kursinya dan langsung memeluk Rey. Sampai hampir seluruh tamu yang hadir di sana melihat ke arah meja mereka.
"Rey, aku benar-benar merindukanmu."
Rey menerima pelukan tersebut dan membalas pelukannya juga. Mereka lalu saling melepas pelukan mereka. Rey tersenyum lagi kepada Alice dan berucap,
"Hmm ... seharusnya aku sudah bisa menduganya tadi. Seorang wanita mafia dan japanese wagyu steak. Aku tahu, itu kan makanan favoritmu. Tapi mengapa kamu sampai membuat keributan dan ingin bertemu dengan koki yang memasak makananmu itu? Apa kamu sudah mengetahuinya kalau koki itu adalah aku dan kamu sengaja untuk menggangguku yang sedang sibuk bekerja?"
"Aku membuat keributan? Siapa yang bilang? Apakah si pramusaji yang daritadi mengikuti di belakangmu itu?" Pramusaji itu semakin tertunduk mukanya dan tampak ketakutan.
"Alice, jangan menakutinya." Rey menegur Alice. "Tinggalkan kami dan kamu sudah boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu." Ucap Rey pada pramusaji itu. Lalu pramusaji itu pergi meninggalkan mereka. Sepertinya dia pergi ke area dapur untuk melaporkan kembali pada mereka mengenai situasi apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Karena tak lama kemudian, Bu Indah keluar untuk melihatnya dan ikut berdiri di samping Paman Hadi yang sudah daritadi berdiri di sana untuk mengamati Rey dari kejauhan sambil berjaga-jaga jika ada masalah yang terjadi dan membutuhkan bantuan darinya dengan segera.
"Sebenarnya aku tuh tadi hanya berbicara dengan suara agak kencang saja. Tidak sampai membuat keributan loh. Aku memang sudah tahu kalau koki yang membuatkan makanan yang dihidangkan untukku itu adalah kamu, jadi aku ingin bertemu denganmu agar aku bisa memujimu karena masakanmu itu sangatlah nikmat dan lezat." Selesai berbicara, Alice tersenyum dengan sumringah pada Rey dan terlihat sangat puas sekali dengan makanan yang dibuatkan Rey dan telah dihabiskan olehnya.
"Kamu ada-ada saja. Kamu tahu, kamu itu telah membuat kehebohan di tempatku bekerja dan setelah ini pastinya aku harus mempertanggungjawabkan kehebohan yang kamu buat itu pada atasanku."
"Ahh sudahlah, apa yang perlu kamu takuti, bosmu juga kakakmu ini."
"Ssttt ... jangan berbicara kencang-kencang. Memangnya kamu lagi ingin membuat pengumuman di sini?"
"Memang betul." Alice lalu berdiri lagi dan membuka mulutnya untuk berteriak. "Per -" tapi Rey dengan segera menutup rapat mulut Alice dengan tangannya. Alice lalu menurunkan tangan Rey yang menutup mulutnya dan tersenyum dengan sangat lebar.
"Takut amat ketahuan. Memangnya kenapa kamu ingin menutupi identitas dirimu?"
"Aku tidak mau banyak pengacau sepertimu yang datang menggangguku nantinya." Jawab Rey asal. "Ngomong-ngomong, kamu datang ke sini sama siapa?"
"Tuh ..." jawab Alice dengan menganggukan kepalanya ke atas ke arah depannya. Rey lalu membalikkan tubuhnya ke belakangnya untuk melihat orang yang ditunjuk oleh Alice tersebut.
"Bos ...!"
"Bos! Seru Ryo dan Sato hampir berbarengan.
Rey kembali merasakan keterkejutannya dan sangat senang karena bisa melihat dan bertemu kembali dengan kedua anak buahnya yang paling dekat dan sangat setia kepadanya.
"Ryota ... Satoshi ..." Rey memanggil dengan menyebutkan nama mereka satu persatu dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahnya. Kedua anak buahnya lalu menghampirinya dan satu persatu bergiliran memeluknya.
"Bos ... kami sangat merindukanmu Bos ..." isak Ryo.
"Benar Bos ... apakah mungkin bagi kita untuk bisa bersama dan menjadi anak buahmu lagi? Huhuhu ... " rengek Sato.
"Kalian ..." Rey merasa sangat terharu dan tidak bisa mengucapkan perkataannya. Dia lalu hanya memberikan senyuman penuh keharuannya dan dengan mata yang sedikit berair.
"Bos ..." panggil mereka lagi sambil berhamburan untuk kembali memeluknya secara berbarengan sehingga mereka berpelukan secara bertigaan di sisi kiri dan kanan Rey.
"Sudah ... sudah ... kalian seperti anak kecil saja memelukku seperti ini hahaha ..." Mereka masing-masing melepas pelukan mereka dan tertawa bersama-sama.
***