Happiness For You

Happiness For You
31 Berjanji Untuk Tidak Pergi



Dokter telah selesai memeriksa keadaan Rey dan telah pulang dari Villa Alisha. Erika masih berada di dalam kamar Rey. Ia baru menyadari bahwa pada kamar Rey di villa ini juga terdapat lemari tempat penyimpanan beberapa perlatan medis yang cukup lengkap. Sama seperti kamar yang ada di rumahnya.


Hal itu membuat Erika bertanya-tanya, mengapa setiap kamar milik Rey selalu tersedia peralatan medis yang lengkap seperti itu. Sepertinya kamarnya bisa disulap dan dalam sekejap berubah menjadi kamar pasien yang ada di rumah sakit. Sehingga kalau Rey sedang sakit, ia tidak harus pergi ke rumah sakit. Erika memang telah mengetahui kalau pria itu tidak suka dan tidak mau pergi ke rumah sakit. Tetapi seseorang tidak akan sering sakit yang begitu parah hingga harus menyediakan peralatan medis sendiri di rumah. Kecuali jika dia memiliki suatu kondisi tubuh yang lemah atau penyakit tertentu sehingga membutuhkan tindakan medis dengan segera.


Saat sedang sibuk menganalisa tentang keadaan Rey, Erika mendengar suara Rey memanggil ibunya.


"Ibu ... " Rey masih dalam keadaan tak sadarkan diri dan dia sedang mengigau. "Ibu ... jangan pergi ... jangan tinggalkan aku ... ibu ...." Rey nampak gusar dan terus memanggil-manggil ibunya.


Erika memegangi kening Rey dan ternyata tubuh Rey mengalami demam lagi. Padahal tadi panasnya telah mereda setelah dokter memberinya suntikan namun ternyata itu tidak bertahan lama. Rey kembali mengigau dan tubuhnya mulai menggigil. Erika segera mengompresi dahinya.


Karena demam yang dialaminya cukup tinggi, membuat Rey mengalami halusinasi. Ia seperti melihat sosok ibunya yang sedang marah kepadanya karena perlakuan buruknya terhadap kakaknya yang menolak dan tak mau mengaku sebagai adiknya. Rey memanggil-manggil ibunya berusaha menahannya agar tidak pergi. Ia ingin menjelaskan kalau dirinya bukan tidak mau mengakui kakaknya, tetapi karena ia merasa takut. Ia takut kalau kakaknya juga akan mendonorkan tulang sumsum untuk dirinya agar ia dapat sembuh dari penyakitnya. Ia tidak mau kakaknya mengalami nasib yang sama seperti ibunya yang pergi meninggalkannya untuk selamanya setelah melakukan operasi pendonoran itu. Namun bayangan ibu dalam halusinasinya tidak mau mendengarkannya dan terus berjalan pergi meninggalkannya.


Erika telah mengompres Rey hingga beberapa kali tetapi panas tubuh Rey masih belum turun juga bahkan dirinya terlihat semakin melemah. Erika lalu mencoba untuk memberikan kehangatan dari suhu tubuhnya dengan memeluk tubuh Rey dan membungkus rapat tubuh mereka dengan selimut. Perlahan-lahan tubuh Rey tidak menggigil lagi dan panasnya pun berhasil menurun.


Kini, entah sudah berapa jam Erika duduk di samping Rey untuk menemaninya. Pandangannya tak pernah beralih darinya karena ia takut kalau Rey tiba-tiba mengalami demam tinggi lagi dan mengigau seperti tadi. Ia juga terus mengajak Rey berbicara.


"Maafkan aku Rey karena telah membuatmu marah dan tidak mempercayaimu." ucapnya dengan berurai air mata sambil mendekap jemari tangan Rey dan menciumnya. Erika sungguh menyesal dan merasa bersalah karena tidak menyadari kondisi Rey yang sedang kesakitan dan menahan sakitnya saat mereka bertengkar tadi.


Sebenarnya tubuh Rey sudah mengalami demam sejak ia bangun pagi ini dan ia juga sudah meminum obatnya. Tetapi kemudian kakaknya datang dan ketika Rey sedang bersama kakaknya, demamnya kambuh lagi dan bertambah parah seiring berlalunya waktu. Bahkan terkadang tubuhnya mengalami serangan rasa sakit yang tiba-tiba muncul. Tetapi rasa sakit yang menyerang di tubuh fisiknya itu tertutupi oleh rasa sakit yang ia rasakan dalam hatinya. Sehingga ketika akhirnya semua rasa sakit itu berkumpul menjadi satu dan menyerang dirinya secara terus-terusan, Rey pun tak kuat lagi untuk menahannya dan akhirnya dirinya tumbang.


Tiba-tiba, Erika merasakan jari tangan Rey bergerak. Perlahan Rey membuka matanya dengan sayu dan menatapnya.


"Jangan menangis ...." ucap Rey dengan suara pelan dan lemah sambil mengusap air mata Erika yang bergulir.


"Iya ...." Jawab Erika sambil mengangguk dan tersenyum padanya. Kemudia mata Rey kembali terpejam.


"Badanmu masih lemah. Tidurlah." Bisik Erika sambil mengecup kening Rey. Rey tersenyum dan kembali tertidur.


Hari pun sudah larut malam. Mata Erika sudah sayu dan ia merasa mengantuk dan hampir tertidur. Akhirnya Erika tertidur dengan kepala bersandar di atas kasur disamping tubuh Rey.


***


Setelah beberapa hari, tubuh Rey berangsur-angsur membaik. Tetapi ia masih harus berbaring dan tidak boleh banyak bergerak.


"Terima kasih Erika, kamu telah merawat dan menjagaku selama aku sakit. Kupikir kamu akan benar-benar pergi saat itu ...." Ucap Rey pada Erika dengan mata yang berkilau karena airmatanya yang menggantung.


Erika ikut merasa haru ketika menatap mata Rey yang berkilauan. Erika dapat melihat di matanya terdapat ketulusan yang juga disertai dengan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam atas segala perbuatan buruk yang pernah diperbuat Rey terhadapnya.


Semua emosi yang Erika rasakan sebelumnya seperti perasaan marah, kekecewaan, sakit hati dan keraguannya pada Rey pun menjadi sirna dan terhapuskan. Dia tidak lagi menuntut sebuah penjelasan dari Rey karena sudah tidak lagi memerlukannya. Ia benar-benar ingin memaafkan dan melupakan perlakuan serta sikap buruk Rey padanya dulu. Dia tidak memedulikan itu semua karena seperti yang pernah ia ucapkan pada Rey, bahwa yang terpenting adalah moment saat ini. Dengan melihat Rey masih bisa bersamanya dan dalam keadaan sehat saja sudah cukup baginya untuk merasa senang dan mensyukurinya.


"Maafkan aku juga yang telah me-" Erika menahan mulut Rey dengan jari telunjuknya. Dengan lembut Rey menurunkan jari tersebut dan berkata, "Berjanjilah, jangan pernah pergi dariku ataupun mengucapkan kata-kata kalau kamu ingin pergi meninggalkanku ...." lanjut Rey. Saat mengucapkan kata-kata ini, Rey merasa dirinya sangatlah egois. Ia merasa takut dan tidak mau Erika pergi meninggalkannya sehingga ia meminta Erika berjanji untuk tidak pergi meninggalkannya tetapi dirinya sendiri tidak dapat berjanji untuk tidak melakukan hal itu pada Erika.


Erika memeluknya dari samping. Sambil menatapnya, Erika berkata, "Kamu juga. Jangan pernah pergi meninggalkanku." Rey tidak menjawabnya. Ia hanya membelai rambut Erika.


"Tetapi kamu masih memilikinya ...." gumam Rey pelan hampir seperti bisikan dengan tatapan matanya yang melayang jauh ke depan.


"Hah? Apa katamu?" tanya Erika.


Rey hanya menggeleng. "Tidak apa-apa." jawabnya.


"Apakah benar yang kamu katakan waktu itu di depannya?" tanya Rey.


"Apa itu?" Erika menatap Rey, menunggu jawabannya.


"Bahwa kamu mencintaiku ...." Rey balas menatapnya. Mata mereka saling bertemu.


Erika menundukkan kepalanya untuk bersembunyi karena merasa malu.


"Aku juga mencintaimu." Rey lalu menyentuh bibir Erika dengan lembut.


"Rey, sekarang giliranku untuk bertanya padamu. Apakah kamu benar-benar sakit?"


"Ya.." Rey mengangguk. "Seperti yang kamu lihat. Bukannya kamu yang telah merawatku? Mengapa masih menanyakannya?"


"Bukan itu, maksudku sakit yang benar-benar sakit ... mm ... seperti menderita suatu penyakit ...." Erika mengalami kesulitan untuk menanyakan apa yang ingin ia tanyakan.


Sebenarnya Rey tahu maksud pertanyaan Erika, tetapi ia sengaja membuat Erika kebingungan dengan jawaban yang ia berikan.


Rey kembali menggoda Erika untuk mengalihkan pertanyaan Erika.


"Kamu terlihat lucu saat sedang kebingungan." Rey membelai kepala Erika dan mengacak-acak rambutnya.


"Aaa ...." Erika menggoyang-goyangkan kepalanya karena kesal.


Rey menatap wajah Erika lama dan tersenyum padanya. "Jangan khawatir, dengan melihatmu aku akan selalu menjadi sehat dan kuat." Rey lalu membawa tubuh Erika ke dalam pelukannya. Erika pun tersenyum senang dalam pelukannya.


***